
Mely yang duduk dipinggir sungai, menekuk wajahnya. Suasana hati nya lagi buruk saat ini. Lagi-lagi Dia tidak bisa lolos ujian dari masa lalu Rival.
"Adek kenapa?" Rival memercikkan air yang mengenai wajah Mely yang lagi merengut itu.
Lamunan Mely pun buyar, karena wajahnya kena cipratan air. Dia menatap ke arah Rival yang dengan riangnya mandi di dalam sungai.
"Ayo sini mandi." Ucap Rival, Dia kembali mencipratkan air sungai itu kepada istrinya yang dari tadi tidak mau ikut mandi dengannya.
"Dinginnnn....!" ucapnya, sambil memegang tangannya yang bulu Roma nya merinding. Karena kena terpaan cuaca yang dingin.
"Kalau sudah mandi di dalam sini, tidak dingin. Malah segar banget. Ayo sini..!" Rival kembali membujuk Mely untuk ikut mandi. Tapi, Mely malah kita menggubris ajakan suami nya itu Yang membuat Rival mendekat ke arah Mely. Dia pun langsung membopong Mely menceburkannya ke dalam sungai.
Kemudian Rival bergabung dengan istrinya itu ke dalam sungai. Rival tertawa, melihat Mely yang sudah basah kuyup dengan cemberut. Rival yang sudah bisa membaca situasi, kalau istrinya itu sedang cemburu. Karena memang masalahnya Mely sejak mereka menikah, adalah itu-itu saja, yaitu Mely yang tidak bisa menerima status Rival.
Mely begitu kesalnya kepada Rival, karena menceburkan. Dia ingin meninggalkan Rival di dalam sungai tersebut. Tapi, dengan cepat Rival menarik tubuh Mely, dengan memegang pinggangnya sedikit kuat. Yang membuat Mely merasa sedikit sakit. Tapi, Dia tidak mempermasalahkan nya.
"Mau lari kemana? kenapa tidak mau mandi? kemarin katanya ingin tinggal di desa. Mandi di sungai dengan air yang sejuk dan udara yang bersih. Lah, sekarang kenapa jadi cemberut?" Rival meraih dagu Mely. Dia ingin menatap wajah istrinya itu. Yang dari tadi, seolah menghindar dari tatapan Rival.
"Mely berusaha melepas rengkuhan tangan Rival dari pinggangnya. "Lepasin Bang, Aku kedinginan ini." Ucapnya dengan bibir yang sudah bergetar. Mely memang benar-benar kedinginan.
"Baiklah, Abang ada cara agar Adek tidak kedinginan." Ucapnya dan langsung mencium bibir istrinya yang pucat dan sedikit membiru itu. Karena Mely memang benar-benar kedinginan.
Ciuman Rival yang tadinya biasa, akhirnya berubah jadi ciuman panas. Apalagi, kini tangan Rival sudah masuk menelusup kedalam baju tidur yang Mely kenakan. Tangan itu bergerak, ke tempat favoritnya. Yaitu dua gundukan yang kenyal dan sangat padat.
Tentu saja, perlakuan Rival itu membuat Mely jadi terbawa suasana. Akhirnya ciuman itupun semakin panas, karena keduanya saling membalas. Yang membuat suara decapan terdengar. Sehingga monyet-monyet yang ada di atas. Tepatnya di dahan bambu, ribut karena ulah pasangan itu yang tidak tahu tempat. Syukur tempat mandi mereka sekarang sudah di klaim Rival sebagai tempat pribadinya. Sehingga orang tidak pernah mandi ke tempat itu.
Sempat ada orang yang mengintip, ternodalah mata orang yang melihat kelakuan suami istri itu.
*
__ADS_1
*
*
Setelah selesai mandi, Rival mengajak Mely mencari jamur tanah, ke kebun mereka yang lokasi nya tidak jauh dari tempat mereka mandi.
"Jamur tanah itu seperti apa sih?" tanya Mely, mengekori Rival mencari jamur di bawah pohon-pohon karet.
"Ya seperti jamur pada umumnya. Warnanya putih, tapi cream-cream gitu." Ucap Rival, sambil fokus mencari keberadaan jamur yang dimaksudnya.
"Apa bentuknya seperti payung? atau seperti kuping?" tanya Mely lagi, yang membuat Rival, merasa istrinya ini sedang mengerjai atau benar-benar tidak tahu.
Rival melirik Mely yang ikut menunduk di sebelah nya. "Katanya suka alam bebas, sering naik gunung. Hiking, treking berkemah. Tapi, masak jamur tanah tidak kenal." Ucap Rival.
"Memang tidak kenal." Jawab Mely cepat.
"Ini sih namanya jamur bulan." Ucap Mely membantu Rival mengambil koloni jamur yang kebetulan mereka mendapatkan tumpukan jamur yang banyak.
"Abang sudah tidak sabar untuk menyantapnya." Ucap Rival dengan mata berbinar-binar. Sungguh Dia merasa seperti mendapatkan tumpukan emas saja.
"Adek perhatikan tingkah Abang aneh deh sebulan terakhir ini. Makanannya juga milih-milih. Ikan tidak suka, telor tidak suka. Padahal itu dulu lauk kesukaan Abang." Ucap Mely sambil berjalan beriringan menuju rumah mereka.
"Entahlah, Abang pun juga merasa seperti itu. Abang merasa seperti orang hamil saja." Ucap Rival, menuntun Mely berjalan di tanjakan.
"Kapan ya Adek hamilnya, koq tanda-tanda orang hamil tidak Adek rasakan." Ucap Mely sedih. Mereka kini sudah sampai di halaman belakang rumah mereka.
"Apa jangan-jangan Adek sudah hamil? Adek kan belum Menstruasi," ucapan Rival itu membuat Mely terperangah.
Refleks Dia memegangi perutnya dan mengelus-elusnya. "Tidak mungkin, Adek tidak merasakan tanda-tanda kehamilan." Ucapnya menatap sendu suaminya itu.
__ADS_1
"Iya juga sich." Ucap Rival, Dia pun mengajak istrinya itu masuk ke dalam rumah melalui pintu belakang.
Sesampainya di dapur. Sekar nampak sedang menghidang makanan untuk mereka santap pagi ini.
"Mana Ibu?" tanya Rival mengambil panci yang tergantung di dinding dapur mereka. Dia pun langsung memasukkan jamur itu ke panci tersebut, memasukkan bumbu berupa irisan bawang, bawang putih, lengkuas, jahe dan serei. Dia pun langsung merebusnya.
"Apa enak, hanya direbus?" ucap Mely kurang selera melihat masakan Rival yang jamurnya hanya direbus.
"Biasanya enak." Ucap Rival sambil menunggu jamurnya matang. Sedangkan Mely langsung meninggalkan Rival di dapur. Dia masuk ke kamar. Dia ingin memoles wajahnya dengan make up sewajarnya.
Mereka sekeluarga pun akhirnya makan bersama, Rival makan dengan lahapnya sampai tambah dua kali, berkat jamur yang dimasaknya itu. Begitu juga dengan Mely. Ternyata jamur masakan Rival sangat enak, gurih dan segar. Apalagi jamur itu ditetesi air perasan jeruk nipis.
Setelah selesai makan, Mely pun memberikan buah tangannya kepada semua anggota keluarga barunya itu.
Ayahnya Rival mendapat baju Koko, sarung dan sendal. Ibunya Rival mendapat gamis brokat yang sangat mewah, tas dan sendal. Sekar mendapatkan banyak blouse dan celana joger serta gamis yang sangat cocok dikenakan ke kampus. Mely juga memberikan tas dan sepatu kepada Sekar. Sedangkan untuk Mila dan keluarganya mendapatkan hal yang sama dengan ibunya.
Acara bagi-bagi ole-ole pun selesai. Kini Rival dan Mely memilih bersantai di balai-balai yang ada dibelakang rumah mereka, tepatnya di bawah pohon buah polam.
Mely yang tiduran di paha Rival, dibuat terperanjat dengan ucapan suaminya itu. Yang menginginkan meminum air kelapa muda. Tapi, kelapa mudanya harus diambil sendiri oleh istrinya itu dari pokok kelapa.
"Abang gila ya? masak meminta istrinya memanjat pohon kelapa." Ucap Mely dengan mata melotot. Dia pun bangkit dari tidur-tidur an dari paha suaminya itu, dengan perasaan sedikit kesal.
"Mau ya memanjatnya untuk Abang. Masak Adek tidak bisa memanjat pohon kelapa. Tapi
gunung dan panjat tebing Adek bisa." Ucap Rival memelas, sungguh Dia ingin sekali melihat istrinya itu memanjat pohon.
TBC
Tinggalkan jejak dengan like coment positif dan Vote bunga, kopi dan rekomendasi ya say.😀🙏❤️
__ADS_1