Misteri Jodoh (Janda Tapi Perawan )

Misteri Jodoh (Janda Tapi Perawan )
Season 2 Tidak mau Gila


__ADS_3

"Dek, sebenarnya... " Tiba-tiba saja Rival ingin muntah lagi. Dia belum sanggup untuk mengatakannya. Tapi, Dia tidak bisa memendam ini semua.


"Muntahkan disini saja Mas." Ucap Mely yang kini berurai air mata. Hatinya begitu sakit melihat keadaan suaminya itu. Kenapa ada-ada saja masalah yang harus mereka lewati. Baru juga tiga hari merasakan hidup tanpa beban dan romantisnya. Tapi, sekarang suaminya itu seolah enggan bersamanya.


Rival pun muntah-muntah di atas tempat tidur itu, tapi tetap muntahnya tidak tuntas. Mely pun menghubungi supirnya. "Pak Budi cepat ke atas, bawa teman Bapak. Security atau siapa pun." Ucapnya panik dalam sambungan telpon.


Mely kembali ke kamar mandi, mengambil handuk dan membasahinya sedikit. Dia pun berlari cepat menghampiri Rival, Dia kembali melap keringat yang bercucuran keluar dari pori-pori kulit Rival.


Pak Budi dan Pak Security kini sudah berada di dalam kamar. "Pak, kita bawa Mas Rival ke rumah sakit." Titah Mely, Dia pun turun dari ranjang, mengambil pakaian ganti yang memang selalu ada di lemari di kamar ruang kerja nya Rival.


Pak Budi membantu Mely memakaikan pakaian kepada suaminya itu. Kecemasan dan bingung, sangat terlihat jelas di wajahnya Mely.


Pak Budi dan Pak Security memapah tubuh Rival keluar dari ruang kerjanya Rival menuju lift khusus para Bos.


Sepanjang perjalanan menuju Rumah Sakit. Mely tak pernah melepas dekapannya kepada suaminya itu. Walau Rival yang didekap sudah merasa tidak nyaman. Tapi, Dia berusaha untuk tenang. Karena jika Dia memikirkan, bahwa Mely adalah Adiknya. Maka Dia akan Kembali muntah-muntah.


Sesampainya di Rumah Sakit, Rival langsung dibawa ke ruang IGD. Karena, kondisi Rival memang nampak memprihatinkan. Mely tidak tenang, saat menunggu Rival diperiksa.


"Aku harus menghubungi Mama." Ucapnya yang kini sudah mulai menenangkan diri. Di kursi tunggu panjang Stainles yang ada di koridor rumah sakit.


"Berkali-kali Mely mencoba menghubungi ponsel kedua orang tuanya. Tapi satu pun tidak ada yang bisa dihubungi. "Apa kena rooming?" ucapnya sedikit kesal, teleponnya tidak tersambung. "Aku kirim pesan saja. Siapa tahu Mama bisa pulang. Kalau pun Ayah sibuk." Ucapnya lagi, Mely pun mulai mengetik pesan. Tapi, belum juga Dia selesai mengetik pesan. Dokter memanggilnya.


"Begini Dek, sebenarnya kondisi Abang Rival saat diperiksa semua dalam keadaan baik-baik saja. Semuanya normal. Tapi, saya bisa mendiagnosa Abang Rival ada gejala gangguan Psikomatik." Ucap Dokter Fahri sedikit cemas, yang juga Dokter keluarga mereka.

__ADS_1


"Apa itu maksudnya Dok?" tanya Mely tak kalah khawatir nya, Dia begitu mencemaskan Rival.


"Sepertinya Abang Rival sekarang sedang mengalami tekanan berat, seperti tekanan bathin. Yang menimbulkan kecemasan berlebihan, panik, ketakutan dan setres. Jika ini tidak segera diatasi. Kemungkinan Abang Rival bisa gila." Ucap Dokter Fahri dengan sedikit ragu menekankan kata gila.


Mely dibuat syok dengan pernyataan Dokter Fahri. Kenapa pula suaminya itu, berubah drastis dalam satu hari. Kemarin mereka masih begitu bahagia nya di kampung. Rival nampak begitu mencintai nya. Karena Dia mengandung.


"Kami akan pindahkan Abang Rival ke ruang rawat inap. Kalau dua hari ini Abang Rival tidak ada perubahan. Maka kita harus mendatangkan Dokter psikiater untuknya. Untuk sementara, kita beri obat penenang." Jelas Dokter Fahri. Menepuk pelan bahu Mely, dan meninggalkan Mely dalam keadaan begitu terkejutnya. Ada apa dengan suaminya, kenapa jadi tertekan bathin. Masalah serius apa yang mengganggu pikirannya.


Proses pemindahan Rival ke ruang inap pun sudah selesai. Tentunya Rival di rawat di ruang VIP. Karena efek obat yang diberikan kepada Rival, Dia masih lelap dalam tidurnya.


Mely melihat jam yang bertengger di dinding kamar tersebut. Ternyata sudah pukul dua dini hari. Dan Dia belum bisa tertidur. Yang dilakukannya hanya memandangi raut wajah Rival yang tertidur dengan tenangnya.


"Kenapa jadi seperti ini. Kamu kenapa Mas?" ucapnya terduduk di kursi, dekat bed Rival berbaring, sambil menggenggam tangan Rival. Dia mengelus tangan itu dengan lembut. Dan mengangkatnya, menempelkannya di pipinya yang putih. Air mata terus saja membanjiri pipinya, juga mengenai tangan Rival yang masih menempel di pipinya Mely.


Baru juga tidur sebentar Mely merasakan tangannya yang masih menggenggam tangan Rival ada pergerakan. Rival seolah menarik tangannya.


Mely pun dengan cepat terbangun dan mengangkat wajahnya. Benar saja, Rival sudah bangun dari tidurnya yang lelap. Melihat Mely terbangun, Rival menghentikan aksinya melepas genggaman Mely.


"Mas sudah bangun? Mas lapar? Mely ambilkan makanan ya?" ucapnya dengan penuh kekhawatiran dan rasa cemas yang luar biasa.


"Tidak, Abang tidak lapar." Ucap Rival lemah, mungkin efek obat masih terasa. Sehingga Rival bisa tenang. Walau Mely disampingnya sekarang. Dia pun mengingat kata Dokter saat Dia di ruang IGD.


Bapak harus bisa menguasai emosi Bapak. Tenang kan pikiran. Kalau Bapak tidak mau jadi orang gila.

__ADS_1


Ucapan Dokter itu sangat ekstrim. Dan sangat mengena dihati Rival, yang membuat Rival, tidak mau itu terjadi padanya.


Dia pun berusaha rileks, memasrahkan semuanya kepada Sang Khalik. Dia juga akan mencoba tenang mendapat sentuhan dari Mely.


Kalau hari ini hasil test DNA nya keluar. Dia akan mengatakan nya kepada Mely. Agar masalah ini tidak berlarut-larut.


"Adek kenapa tidak tidur? lihatlah matamu sudah memerah." Ucap Rival, berusaha tenang. Menganggap Mely sebagai saudarinya yang harus dijaga dan disayanginya, layaknya Sekar dan Mila. Tak terasa air mata Rival menetes.


"Adek tidak bisa tidur. Adek sangat mengkhawatirkan mu Mas." Ucapnya sendu, kembali meraih tangan Rival. Yang membuat Rival tidak nyaman dengan sentuhan istrinya itu. Yang ternyata Adiknya.


"Abang tidak apa-apa." Ucapnya berusaha melepas genggaman tangan Mely.


"Mas kenapa sih? Mas banyak berubah dalam satu hari ini. Tutur sapanya juga jadi berubah jadi Abang. Bukannya kemarin pinginnya dipanggil Mas?" Mely pun melepas tangan Rival dari genggamannya. Memperhatikan raut wajah Rival yang begitu tertekan dan banyak pikiran.


"Kata Dokter Fahri, Mas tertekan bathin dan mengalami kecemasan berlebihan. Mas memikirkan apa?" Mely menilik ke arah Rival.


Rival membuang wajahnya ke arah jendela. Menghindari tatapan istrinya itu.


"Mas kenapa sih? kenapa jadi dingin." Ucap Mely mulai terisak. Dia sangat sedih dicueki suaminya itu. Dia pun meraih wajah suaminya itu. Sehingga kini, mereka bersitatap dengan durasi yang lama. Mely pun tidak bisa membendung kegundahan dihatinya lagi. Karena kondisi dan sikap Rival yang seperti menghindarinya.


Dengan cepat Mely memeluk Rival yang masih terbaring. Dia menangis sejadi-jadinya saat memeluk suaminya itu. Tapi, Rival sama sekali tidak membalas pelukan itu. Dan Mely semakin merasakan perubahan suaminya itu yang seolah tidak menginginkan nya.


Mely geram, Dia melonggarkan dekapannya, sehingga wajah keduanya kini hanya berjarak 3 cm. Dengan cepat, Mely mel*umat Bibir Rival yang kering dan pucat itu. Tindakan Mely membuat Rival Kembali tertekan.

__ADS_1


Mely Adiknya, tidak boleh lagi ada kontak fisik diantara mereka. Sehingga Rival mendorong keras tubuh Mely. Saking kerasnya Mely hendak tersungkur. Karena Dia tidak ada persiapan akan mendapat perlakuan kasar dari suaminya.


__ADS_2