
"Sakit Ma...!" ucap Mely lirih. Kedua tangannya mencengkram seprei bednya dengan kuat. Rival mengelus kepala Mely dan melap air mata istrinya itu. Sedangkan Mama Maryam yang yang juga ada disebelah Mely, bergegas mengambil kain panjang yang ada di tas tempat perlengkapan anaknya Mely.
"Pakai ini..!" titah Mama Maryam, menyodorkan kain panjang kepada Rival. Dia malu melihat menantunya itu, dimana auratnya nampak. Syukur baju Koko yang dikenakan Rival sedikit panjang dan pas menutupi bokongnya. Tapi, kalau Dia banyak bergerak, maka baju Koko nya itu akan tertarik ke atas dan nampaklah kolor hijaunya.
Dokter berkonsentrasi untuk mengeluarkan ari-ari dengan cara memasukkan tangan ke dalam rahim dimana sebelumnya, perawat telah memasang kateter di saluran kencingnya Mely dan Juga sudah diberi obat bius agar Mely tidak merasakan sakit. Tapi, nyatanya Mely masih merasakan sakit yang luar biasa.
"Sabar ya Sayang, Adek akan baik-baik saja." Ucap Rival masih membelai kepala Mely.
Mely yang masih kesal kepada suaminya itu, hanya diam saja. Dan menoleh ke arah Mama Maryam disebelahnya. Yang memberikan kekuatan dengan menggenggam tangannya.
"Sakit Ma...!" isaknya, Dokter pun akhirnya berhasil mengeluarkan plasentanya Mely.
"Huuffttt....!" ucap Dokter tersenyum. Dia pun meletakkan plasenta itu diatas baki. "Bersihkan Ibunya sus..!" titah Dokter.
Perawat pun mulai membersihkan darah yang ada dibawah tubuh Mely dan kem*aluannya. Kemudian perawat menjahit bagian bawahya Mely yang tadi sempat disayat.
Mely sudah tidak merasakan sakit lagi. Hanya saja bagian bawahnya yang dijahit masih terasa perih. Perawat melap semua darah yang menyebar sampai ke punggung Mely. Perawat hendak mengganti baju yang dikenakan Mely.
Mely melirik kedua anaknya yang diletakkan di atas box bayi dengan terseyum. Dia sudah tidak sabar untuk memeluk anak-anaknya itu. Sembilan bulan mengandung bayi kembar tidaklah mudah, ditambah Dia sedang setres karena sikap suaminya yang masih memikirkan mantannya. Dia juga harus bisa mencari nafkah disaat kandungannya sudah besar.
Rival mendekat dan mencium kening Mely. Tapi Mely tidak suka dengan sentuhan suaminya itu. Dia merasa sentuhan Rival adalah palsu.
"Kamu keluar dari sini." Ucap Mely kepada Rival. Dia kesal kepada suaminya itu dan Dia juga tidak mau Rival melihatnya berganti pakaian. Mely yang bersikap kasar kepada Rival. Hanya bisa diam dan mengelus dada. Rival pun menjauh dari Mely, Dia kemudian mendekati anak kembarnya yang sudah diletakkan di box bayi.
Rival akan meng adzani kedua anaknya yang berjenis kelamin laki-laki dan perempuan itu. Dengan berjalan cepat, Rival yang mengenakan baju Koko dan kain panjang itu masuk ke dalam kamar mandi. Dia mau berwudhu. Setelah itu Dia mulai mengangkat anak laki-laki nya dari box dengan perasaan bahagia.
Dia menghadap kiblat, Rival pun mengeluarkan suaranya yang merdu itu. Suara Rival yang pelan tapi syahdu saat azan ditelinga kanan anak laki-lakinya, membuat para perawat dan penghuni ruangan itu merinding dan merasa takjub dengan suara azan yang dikumandangkan Rival dengan volume rendah tapi sahdu dan mendayu-dayu.
Kemudian Rival qamat di telinga kiri bayi laki-laki nya. Tetap dengan suara yang sahdu dan merdu. Setelah itu Rival juga membacakan doa Surah Al Qadar sekali kemudian Al Ikhlas tiga kali.
Setelah selesai meng azani anak laki-laki nya. Rival pun melakukan hal yang sama kepada putrinya.
Saat meng azani anak perempuannya. Perawat memberikan anak laki-lakinya kepada Mely. Perawat meminta Mely untuk memeluk anaknya dan memberikan asi nya. Walau sebenarnya ASi Mely belum keluar.
"Sus, ASi ku belum ada." Ucap Mely dengan sedih, Dia menitikkan air mata melihat anak laki-laki nya yang ada di dekapannya.
"Iya Bu, itu hal yang wajar. Ibu jangan sedih dan setres. Kalau Ibu sedih dan setres. Maka produksi ASI ibu akan terhambat. Walau belum ada ASI nya sekarang, tidak apa-apa, bayi ibu mengisap pay*udaranya Ibu, itu malah bagus Bu. Untuk stimulus yang nantinya dapat meningkatkan hormon prolaktin." Terang suster, membantu Mely mendekatkan mulut bayinya ke Payud*aranya.
Rival mendekat kepada Mely. Mely melirik tidak suka kepada suaminya itu. Entah kenapa Dia jadi malu. Rival melihatnya saat menyusui. Sedangkan Mama Maryam, ikut membantu Mely dalam memudahkan menyusui anaknya, dimana ASI nya Mely belum ada.
"Apa itu Hormon prolaktin sus?" tanya Rival ramah, sambil menggendong anak perempuannya yang nampak tertidur itu. Tapi terkadang bersin.
__ADS_1
"Hormon prolaktin berfungsi untuk produksi ASI. Jika terus dirangsang dan distimulasi, maka semakin lama ASI-nya semakin banyak. Bapak harus baik-baik sama Ibu. Jangan buat Istri nya setres atau bersedih. Jika itu terjadi, produksi ASI-nya Ibu nanti lama keluarnya.
"Penting untuk Ibu meredakan stres saat memberikan stimulus saat menyusui. Sebab, rasa stres bisa menghambat kerja hormon oksitosin yang berperan penting dalam produksi ASI Pak. Jadi Bapak Ibu jangan ngambek lagi ya? Ini anak Bapak dan Ibu tampan dan sangat cantik. Semua organnya lengkap lagi. Lihat ini Pak." Suster mendekatkan catatan tentang bayi kembarnya.
Anak laki-laki beratnya 3kg dengan tinggi 50 cm dan anak perempuannya beratnya 2,8 kg dengan tinggi 49cm.
"Istri Bapak sungguh hebat, mengandung bayi kembar dengan berat badan bayinya sangat bagus." Ucap perawat tersenyum. Rival melirik Mely yang tengah serius menyusui Bayi nya walau tidak ada airnya.
Isapan Bayi itu sangat kuat, yang membuat hati Mely menghangat.
"Pak, Ibu bisa dibawah pulang setelah enam jam lagi ya Pak." Ucap perawat.
"Enam jam lagi? cepat banget sus? apa istriku sudah sehat dalam enam jam? kenapa harus pulang dari sini?" tanya Rival bingung dan heran. Cepat sekali Istri nya disuruh pulang. Bukannya istrinya harus dirawat lagi.
Rival kembali menatap Mely yang seolah enggan berinteraksi dengannya. Bahkan sebenarnya Mely ingin menggendong anak perempuannya. Tapi, Dia malu dan enggan memintanya kepada Rival.
"Prosedurnya sih seperti itu Pak. Kalau mau pulang. Ibu sudah bisa pulang setelah istirahat disini selama enam jam. Tapi, kalau Ibu mau dirawat inap. Ya tidak apa-apa?" ucap perawat, Dia mendekati Mely.
"Sebentar ya Bu." Perawat memeriksa perut Mely dan menekan-nekannya pelan. Sehingga busshhh... darah pun keluar banyak dari kemalu*annya. Dia pun merasakan sedikit nyeri bekas jahitan va*ginanya.
"Aauuwww... !" Mely meringis pelan, saat darah itu keluar banyak dari ke*maluannya.
"Sus, berikan yang terbaik untuk istri saya. Kami menginap saja disini sus. Pindahkan istriku ke ruang VIP sekarang." Ucap Rival penuh khawatirnya. Dia kembali menatap Mely dengan tatapan sendu.
"Sus, anak kami tetap bersama kami. Jangan dibawa ke ruang anak." Ucap Rival, Dia tidak mau anaknya diletakkan di ruang anak.
"Iya Pak, anak bapak sehat. Sudah bisa bersama ayah dan Ibunya." Jelas perawat.
Rival mendekat kepada Mely, "Sayang, anak-anak kita lucu-lucu sekali." Ucapnya dan mendudukkan bokongnya dibibir bed nya Mely.
Mely melirik Rival sekilas dan kemudian matanya berpindah kepada anak perempuan mereka.
"Ma, Aku lapar.!" Ucap Mely menatap sendu Mamanya yang sangat dirindukannya itu.
Hati Rival sangat sakit diabaikan oleh istrinya itu. "Adek lapar? mau makan apa sayang? Biar Mas belikan." Ucap Rival, mencoba meredam rasa kesal dan sakit hatinya. Dari tadi istrinya itu seolah tidak menganggapnya ada.
Tiba-tiba saja pasangan suami istri Yasir dan Rili masuk ke dalam.
Mely menoleh kepada pasangan dihadapannya. Dia melihat Rili tersenyum kepadanya dan mendekat. "Selamat ya Dek Mely." Ucap Rili, Memeluknya sekilas. Kemudian Rili mencium anaknya Mely.
"Iii..ya.. Kak..!" jawab Mely ragu dan masih penasaran. Kenapa mantan istrinya Rival ramah begini? terus laki-laki itukan yang pernah dilihatnya di Australia saat acara resepsi pernikahan mereka.
__ADS_1
Mely melihat Yasir mendekat kepada Rival.
"Anak Abang cantik banget. Nanti semoga berjodoh dengan anakku dech.!" ucap Yasir spontan. Anak belum lahir, sudah dijodohkan segala.
Rival tersenyum, "Iya cantik, seperti Mamanya." Rival menoleh kepada MeLy. Mely dibuat salah tingkah karena Suaminya itu memujinya didepan banyak orang.
"Ayah dimana?" tanya Mely, karena tidak melihat Ayahnya masuk keruangan.
"Ayah mu sudah ditangani Dokter dan sekarang sudah dirawat inap sayang." Ucap Mama Maryam sedih.
"Iya, tadi barusan kami dari ruangannya. Pak Firman sudah sadar." Jelas Yasir. Dia memanggil Rili agar mendekat kepadanya.
Rili pun menghampiri Yasir dan Rival.
"Berikan putrimu kepada istriku. Dia ingin menggendong menantu nya." Canda Yasir dan tersenyum.
Dengan terseyum pula Rival memberikan Putrinya kepada Rili. Kemudian Dia mendekati Mely yang masih menyusui anak laki-laki nya.
"Anak Ayah," ucap Rival mencium bayinya. Kemudian Dia mencuri satu kecupan dari pipi nya Mely. Mama Maryam yang melihatnya dibuat bahagia. Semoga anak-anak nya Kembali rukun. Sedangkan Mely ingin marah, tapi sebenarnya Dia menyukai Rival menciumnya.
Melihat Rili ternyata bersama pria lain bukan suaminya. Hati Mely sedikit legah. Walau Dia masih kesal kepada suaminya itu.
"Sayang, mau makan apa?" ucap Rival lembut dan menatap sendu wajah Mely. Tatapan yang dilayangkan Rival tatapan penuh api cinta.
Mely diam, Dia masih kesal sekaligus malu. "Mau makan sup daging sapi.!" ucapnya lemah, dan memandangi anaknya.
"Baiklah, Abang akan cari makanan untuk kita." Ucapnya dan berniat pergi. Tapi Yasir menegurnya.
"Mau kemana Bang dengan pakaian begitu?" Yasir tertawa renyah. Semua orang menoleh kepada Rival. Dia pun jadi malu dan tersenyum kecut.
"Mau belikan makanan untuk kita." Jawab Rival.
"Sudah Abang disini saja. Biar Aku yang cari makanannya." Ucap Yasir, Dia berdiri dari duduknya dan mencium sekilas kening Rili, yang membuat Rili malu.
"Kakak Mely tadi mau makan sup ya? terus Tante mau makan apa?" tanya Yasir kepada Mama Maryam.
"Tante mau makan apa aja mau. Asalkan enak dan gratis." Jawab nya tersenyum, Dia berjalan mendekat kepada Rili. Meminta cucu perempuan nya itu dari Rili untuk disusui oleh Mely.
"Ok dech.." Ucap Yasir.
"Aku ikut...!" pinta Rili.
__ADS_1
Akhirnya pasangan suami istri itu, keluar dari ruangan persalinan dan perawat pun masuk Kembali Ke ruang itu. Guna menginformasikan ruang inap yang akan ditempati oleh Mely.