
Rili....!" Pria itu berteriak histeris sambil memeluk erat tubuh Rili.
"Apa yang terjadi kepadamu? Ya Allah, ini sangat menyakitkan." Ucap Yasir dengan panik dan begitu khawatirnya terhadap wanita yang sangat dicintainya tersebut.
Dia menggendong tubuh Rili, tangan kanannya berusaha membuka pintu mobil, Yasir mendudukkan Rili di jok sebelah kemudi. Dia mengatur jok tersebut dengan mendorong kebelakang dan meluruskan sandaran jok. Sehingga tubuh Rili telentang, tak lupa, Dia memasang seat belt. Setelah merasa Rili sudah dalam posisi aman, Diapun turun lagi dari dalam mobilnya, untuk mengambil koper Rili.
Yasir melemparkan koper Rili di jok belakang. Dia sudah sangat panik, Dia sangat mengkhawatirkan Rili.
Dengan tubuh basah kuyup, Dia menstarter mobilnya. Dia pun menghidupkan lampu mobil. "Kamu pasti akan baik-baik saja. Jangan sampai terjadi sesuatu kepadamu. Aku akan membuat perhitungan dengan suamimu itu." Ucap Yasir, sambil membelai pelan pipi Rili. Dia melihat jelas kening dan kepala Rili yang terluka.
Dia melajukan mobilnya. Dan mencoba menghubungi Rival. Dia ingin Rival menghubungi Dokter yang pernah dimintainya sebagai Dokter keluarga.
Sudah 3x Dia mencoba menghubungi No Rival. Tapi, selalu sibuk. Dia melihat ke arah Rili. "Dek Rili.... Rili.... Sayang...!" Yasir berusaha membangunkan Rili dengan memanggil-manggil namanya. Tapi, Rili tidak ada respon.
Yasir kembali menghubungi Rival dan kali ini tersambung.
"Assalamualaikum... !"
"Cepat hubungi Dokter untuk datang ke rumah, sekarang juga." Perintah Yasir tanpa menjawab salam dari Rival.
"Iii..ya Bos."
"Bilang sama Dokternya membawa semua peralatan medisnya." Ucap Yasir dengan suara keras dan tegas.
"Baik Bos." panggilan pun terputus.
Ternyata Rival selalu mencoba menghubungi no Rili, yang selalu berada diluar jangkauan. Sehingga disaat Yasir menghubunginya selalu sibuk.
Rival begitu sangat mengkhawatirkan istrinya itu, sebab sejak siang sampai malam ini. Sudah lebih dari 100x Dia menghubungi no ponsel Rili.
Yasir memacu mobilnya dengan cepat. Ya, belum selesai acara Party atas kesuksesannya. Yasir meminta izin untuk pulang. Dengan alasan merasa kurang enak badan. Padahal Dia ingin mendatangi kampung tempat Dia menemukan Rili tadi siang.
Baru melaju 10 menit hujanpun turun. Padahal niat Yasir di awal akan bertamu atau bertanya seandainya masih ada rumah yang terbuka malam itu. Maka Dia akan menanyakan tentang Rili, siapa tahu ada yang kenal. Ternyata pintu warga tertutup semua. Dia tidak menyangka, kalau Dia menemukan Rili dalam kondisi yang sangat mengenaskan.
Teett....teeet...teett.....
Dengan tidak sabaran Yasir mengklakson, agar satpamnya cepat membukakan pagar.
"Pak, kalau ada yang datang ke rumah. cepat suruh masuk. Itu Dokter yang saya suruh datang." Ucap Yasir.
Dia membopong tubuh Rili, masuk ke dalam rumah. Dia membawa Rili ke kamarnya dan meletakkan tubuh Rili yang basah di ranjang empuknya.
Dia turun kebawah dan mencari kedua pembantunya. Tetapi Dia tidak menemukannya. Dia berlari cepat keluar rumah dan berteriak memanggil pak satpam.
__ADS_1
"Pak Budi, Mana Bibi Siti dan putrinya Murti?" tanya Yasir dengan panik.
"I..tu... itu tuan, mereka tadi sore pamit pulang kampung. Karena katanya suaminya sakit" Jawab pak satpam dengan takutnya. Karena Dia melihat Bos nya saat ini sangat emosional.
"Turunkan Koper yang didalam mobil." Perintah Yasir.
Dia kembali lagi ke kamarnya. Dia melihat wajah Rili sudah sangat pucat. "Bagaimana ini. Siapa yang akan mengganti pakaian Rili yang basah?" Ucap Yasir panik.
"Kenapa Dokternya lama sekali datang?"
Dia Kembali menghubungi Rival. "Berikan No ponsel Dokter itu!" ucap Yasir.
"Dokternya sudah jalan Bos. Mungkin sudah sampai itu. Bos, Apakah penyakit anda kambuh?" tanya Rival.
Yasir tidak menjawab, karena mendengar ketukan pintu. Diapun mematikan panggilannya terhadap Rival.
"Masuk..!" Ucap Yasir.
Seorang Dokter laki-laki muda, nampak memasuki kamar Yasir.
"Bagaimana ini, kenapa Dokternya laki-laki. Dasar Rival tidak bisa diharapkan." Gumam Yasir dalam hati.
"Mana pasiennya Pak?" tanya Dokter yang bernama Fadli.
"Saya periksa dulu ya pak!" Dokter heran melihat pasiennya yang basah kuyup.
"Pak, kenapa pakaiannya belum diganti. Kelamaan basah, kondisi pasien bisa semakin parah. Tolong diganti dulu baju istrinya pak. Biar saya keluar sebentar." Ucap Dokter Fadli, Diapun keluar dari kamar Yasir.
"Bagaimana ini, haruskah Aku yang mengganti pakaiannya, tapi tidak mungkin juga Dokter itu. Aku...Aku tidak berani. Mengingat dan membayangkan Rili saja, Juniorku selalu on. Apalagi kalau Aku melihat tubuh indahnya. Aku pasti tidak akan tahan." Ucap Yasir sambil mondar-mandir.
Tok...tok...tok...
"Pak Yasir, apa saya sudah bisa masuk untuk memeriksa pasien?" tanya Dokter dari balik pintu.
"Belummmm.... tunggu...!" Jawab Yasir dengan panik dan nervouse.
"Aku ada ide, Aku matikan saja lampunya." Rival mematikan lampu, Dia pun meraba-raba jalan untuk sampai ke ranjang.
"Bodoh sekali Aku, kenapa tadi Aku tidak pakai remote saja mematikan lampunya. Ini saya jadi meraba-meraba." Ucap Yasir sambil berdecak. Dia merutuki tingkah bodohnya. Kini Dia sudah duduk di ranjang dekat tubuh Rili.
Dia kembali meraba-raba letak Rili. Ya, Dia sudah menyentuh kepala Rili. Tangannya turun pelan melewati wajah Rili.
Seerrr........ Darahnya berdesir sangat kuat. Dug...dug ..... dug.... Jantungnya kembali bermasalah. Tangan Yasir gemetar, disaat Dia sudah menggapai kancing piyama Rili berbahan satin lengan pendek, celana panjang.
__ADS_1
Dia mulai membuka kancing piyama Rili, masih dengan tangan yang bergetar. "Satu, dua, tiga, empat, lima." Ucapnya, Akhirnya kancing baju sukses terbuka.
"Pak, Apa saya sudah bisa masuk?" tanya Dokter, yang membuat Rival terkejut.
Dia memegangi dadanya.
"Tunggu sebentar, nanti saya panggil kalau sudah selesai." Teriak Yasir.
"Istri anda harus cepat diperiksa pak!" jawab Dokter.
Yasir tidak menjawab. Benar kata Dokter Dia harus cepat menyelesaikan aksi membuka baju ini.
Diapun melorotkan celana tidur Rili. Tangganya kembali bergetar, Disaat Telapak tangannya tanpa sengaja menyentuh paha Rili yang halus saat hendak melepas celana dalam Rili. "Ooohhh Tuhan, Tolong Aku. Tuntun tanganku ke tempat yang tepat, agar Aku tidak salah dalam meraba." Ucap Yasir dengan tubuh bergetar.
Diapun sukses membuka celana dalam Rili. Dengan cepat Dia mendudukkan Rili, dimana Rili bersandar di dadanya bidangnya yang polos. Karena tadi Yasir sudah membuka bajunya, tapi belum sempat memakai baju ganti. Diapun melepas baju Rili.
Sisa satu tugas lagi, melepas Bra Rili. Karena Dia memang tidak punya pengalaman dalam hal Bra. Diapun bingung, bagaimana cara melepas Bra.
Akhirnya kedua tali Bra Rili dikeluarkannya dari lengan Rili. Sehingga menyembulkan kedua payu*dara Rili yang montok itu, dan bersentuhan dengan dadanya. Dada Rili masih hangat, walau tubuhnya kedinginan.
Dug...dug...dug.... Dada Rili yang bersentuhan dengan dadanya sukses membuat Yasir jantungan dan menyulut birahinya.
"Ya Allah, ... Dia masih istri orang. Tolong Aku, Aku tidak ingin melakukan kesalahan sewaktu kami di pulau." Gumam Yasir dalam hati.
"Pak lama sekali, ini sudah ada 10 menit. Aku takut pasien mengalami Hipotermia. Itu bisa berbahaya pak. Karena pasien bisa mengalami kegagalan sistem pernapasan, sistem sirkulasi (jantung), dan kematian." Ucap Dokter dengan suara keras dari balik pintu kamar. Dia mulai kesal melihat Yasir.
Yasir, menurunkan tangannya untuk menarik Bra Rili, tapi tidak bisa. "Kenapa masih terkunci?" Ucapnya dengan panik dan panas dingin. "Bagaimana cara membukanya. Mana gelap lagi."
"Pak.. cepatlah.!"
"Iya, baiklah." Ucap Yasir. Dia belum melepas Bra Rili dari tubuhnya. Dia membaringkan pelan tubuh Rili dalam kondisi kamar yang gelap. Dia pun meraba jalannya untuk menghidupkan lampunya.
Takkkk... lampu kamarpun hidup. Dia melihat ke arah Rili
"Ooohhh... tidak...!" Ucapnya sambil berlari menuju ranjang, untuk menutupi tubuh Rili dengan selimut.
Bersambung
Mohon beri like, coment positif. Rate bintang 5 dan jadikan novel ini sebagai favorit.
Jangan lupa VOTE nya kak!
Author juga ada group. Silahkan gabung ke group ya kak.
__ADS_1
Terima kasih