
Mely yang kini duduk di sebelah Rival, menatap suaminya itu dengan tatapan jengah. Dia menempelkan punggung tangannya di kening suaminya itu. "Abang masih normalkan? tidak kesambet penghuni pohon polam ini kan?" tanya Mely, Dia sungguh tidak tahan melihat ekspresi wajah Suaminya itu, yang seolah-olah memang sangat ingin Dia memanjat pohon.
"Abang sehat Sayang. Mau ya, memanjat pohon kelapa itu." Rival menunjuk pohon kelapa yang ada dihadapan mereka. Tinggi pohon kelapa itu kira-kira 10 M. Mely mengikuti arah tangan Rival yang menunjuk pohon kelapa. Wajahnya mendongak, melihat ke atas pohon kelapa. Dengan mulut menganga dan mata membulat. Bisa-bisanya suaminya itu memintanya memanjat pohon kelapa.
"Gak mau aahh, kalau mau kelapa muda. Panjat aja sendiri." Ucap Mely kesal. Dia pun turun dari balai-balai tersebut. Yang langkahnya langsung dihentikan oleh Rival dengan memegang tangannya.
"Dek, Abang pingin banget Adek ambilkan kelapa itu langsung dari pokoknya." Rengek Rival dengan suara manjanya. Yang membuat Mely memutar lehernya dengan bola mata melotot, melihat wajah suaminya yang memelas itu. Sungguh Mely tidak tahan melihatnya. Ekspresi wajah suaminya itu sungguh memprihatinkan.
"Gak mau." Jawab Mely ketus, menghempaskan tangan suaminya itu. Dia pun meninggalkan Rival di balai-balai tersebut.
"Aneh, mana ada seorang istri disuruh manjat pohon kelapa. Kalau Aku sering mendaki gunung dan panjat tebing. Emangnya kenapa? itukan beda ceritanya. Mely menggerutu, Dia lebih baik tidur di kamar saja.
Saat Mely masuk ke rumah, melalui pintu belakang. Mely melihat Ibu mertuanya di dapur, sedang mengepak banyak karung.
"Apa itu Bou?" tanya Mely penasaran. Dia mendekat untuk melihat aktifitas yang dilakukan mertuanya.
"Karung." Jawab Ibu Rival singkat, dengan tersenyum. Sepertinya Ibunya Rival memang sudah berubah jadi mertua yang baik. Sikapnya sangat berbeda dengan sikapnya dulu kepada Rili. Kali ini Ibunya Rival lebih ramah, dan bicara pun lebih lembut.
"Banyak banget karungnya, untuk apa Bou?" tanya Mely lagi.
"Untuk tempat padi. Besok kita panen padi di sawah. Jadi Bou mau menyiapkan semua keperluan untuk besok.
"Apa? Bou masih bersawah?" Mely kaget mendengar ucapan Ibu mertuanya itu. Sudah tua, kenapa masih bersawah.
"Bou tidak seharusnya bekerja keras lagi. Sudah saatnya Bou menikmati sisa hidup ini dengan bersantai." Ucap Mely dengan penuh khawatirnya.
"Iya, Bou tahu itu. Tapi, Bou yang terbiasa sudah bekerja keras. Tidak bisa diam saja di rumah. Bou akan merasa lebih baik kalau bekerja. Keringat keluar." Ucap Ibu mertuanya. Dia pun mendudukkan bokongnya di lantai semen itu, setelah selesai mempacking persiapan panen besok.
__ADS_1
"Apa Abang Rival tidak mengirimkan uang kepada Bou? kenapa harus bekerja keras begini." Ucap Mely, Dia mulai kesal kepada suaminya itu. Bisa-bisanya Dia tidak peduli kepada keluarganya.
Ibunya Rival menghela napas berat. "Rival selalu membantu Ibu, bahkan dari kecil Dia sudah bekerja keras untuk keluarga ini." Ucap Ibu mertuanya dengan mata berkaca-kaca. Untuk kali ini, Ibunya Rival tidak mau bercerita banyak.
Praang.... takkk.....pang...
Terdengar suara gaduh di belakang rumah. Seperti suara sesuatu yang jatuh. Yang menyita perhatian Mely dan Mertuanya.
Dengan penasarannya Mely keluar dari rumah yang disusul oleh Ibu Mertuanya.
"Abang lagi ngapain itu?" tanya Mely yang kini lagi berdiri tak jauh dari Rival yang sedang memegang bambu yang panjang. Dengan mengaitkan sabit diujung bambu tersebut.
Rival hanya menatap istrinya itu dengan wajah kesal. Dia malas berbicara dengan Mely. Penolakan Mely yang tidak mau memanjat pohon kelapa, membuatnya merajuk dan malas melihat istrinya itu.
Tanpa menggubris ucapan istrinya, Rival kini berusaha mengambil buah kalapa dengan galah.
"Mengambil kelapa muda Bu." Jawabnya Singkat, Dia kini menghentikan aksinya mengambil kelapa. Karena lehernya sudah kram, kelamaan melihat ke atas pokok kelapa.
"Kenapa kamu mengambilnya pakai gala. Biasanya juga kamu yang memanjat kelapa kita ini." Ucap Ibunya heran, melihat kelakuan aneh anaknya itu.
"Iya Bu. Kalau Rival bisa memanjatnya, untuk apa Rival capek-capek menggalanya. Mana tidak dapat-dapat lagi." Ucapnya dengan menghembus napas kasar. Dia merasa sudah capek dan putus asa. Karena kelapa yang diinginkannya tidak kunjung dapat.
Mely yang masih berdiri, di tempat itu hanya bisa melongok melihat sikap suaminya yang tiba-tiba cuek dan dingin kepada nya. Apa karena Dia tidak mau memanjat pohon kelapa yang diminta suaminya, sehingga sikap Rival berubah drastis.
Rival Kembali berusaha Menggala kelapa muda yang sangat diinginkannya. Tapi, lagi-lagi Rival tidak berhasil mendapatkan nya. Rasa kecewa dan frustrasi jelas terlihat di wajah Rival, karena keinginannya tidak dapat.
"Ibu akan minta si Firman, untuk mengambilkannya untukmu. Tidak usah kamu ambilnya pakai gala lagi. Itu terlalu tinggi. Lehermu bisa skait nantinya kelamaan mendongak." Ucap Ibunya meninggalkan pasangan suami istri itu.
__ADS_1
Mely menatap lekat Suaminya yang mendiamkannya. "Kenapa Dia? apa Dia marah karena Aku tidak mau memanjat pohon kelapa?" Mely membathin, menilik ke arah suaminya yang kini tak mau melihatnya.
"Abang kenapa tidak menjawab pertanyaan ku?" ucap Mely menarik lengan Rival, agar berbalik dan menoleh ke arahnya.
Rival pun berbalik badan, Dia melihat istrinya itu dengan tatapan malas. "Pertanyaan yang mana?" ucap Rival dingin. Kembali membelakangi Mely.
Mely geram, bisa-bisanya suaminya itu bersikap cuek begitu.
"Tadikan Adek tanya. Abang lagi ngapain?" ucap Mely mulai terpancing. Kenapa pula Rival jadi cemberut dan bersikap dingin kepadanya.
"Emang mata Adek terletak di mana? di depan kan? Adek bisa lihat kan Abang mau ngapain tadi. Sudah jelas dari tadi Abang mintain diambilin buah kelapa muda. Tapi, Adek tidak mau." Ucap Rival malas. Dia pun menjatuhkan gala nya yang sangat panjang itu dengan keras, yang menimbulkan suara.
Ucapan Rival yang tidak biasanya itu, membuat hati Mely sakit. Dia menatap lebih kesal lagi Suaminya itu, yang kini malah memilih duduk di balai-balai, dan mengabaikan istrinya itu yang kini matanya sudah berkaca-kaca.
Mely berbalik Dia sangat kesal kepada suaminya itu. Saat berjalan ingin masuk ke dalam rumah. Mely berpapasan dengan Bou nya dan Firman.
Melihat Kakak iparnya menitikkan air mata, membuat perhatian Firman tersita.
"Kak menangis?" ucap Firman, Mely tidak menjawab dan langsung masuk ke dalam rumah, berjalan cepat menuju kamar nya.
"Firman, ambilkan kelapa muda sama Abang. Kamu ambil yang bagus. Yang kelapanya masih lunak." Ucap Rival masih dengan nada kesal, karena keinginannya belum terwujud untuk memakan kelapa muda.
"Iya Bang." Firman pun mulai memanjat pohon kelapa. Dia pun menjatuhkan satu tandan kelapa muda.
Melihat kelapa muda tergeletak di tanah, membuat wajah Rival sumringah. Akhirnya keinginannya terwujud juga. Walau Dia merasa belum puas sekali. Karena Dia ingin Mely yang memanjat nya. Tapi, setidaknya kelapa muda sudah ada di depan mata.
TBC
__ADS_1
Tinggalkan jejak dengan like coment vote ❤️🤗🙏