Misteri Jodoh (Janda Tapi Perawan )

Misteri Jodoh (Janda Tapi Perawan )
Season 2 Perasaan Rili tidak tenang


__ADS_3

Udara dingin menusuk sampai ke tulang. "Sayang, dingin banget." Ucap Rili dalam pelukan Yasir. Dia terus saja mendekatkan tubuhnya kepada suaminya itu, padahal tubuh mereka sudah menempel. Tapi, Rili masih terus mencari kehangatan dalam dekapan suaminya.


"Iya sayang, dari semalam Abang sudah matikan AC. Tapi, kenapa masih dingin sekali. Kita seperti tinggal di Benua Antartika saja." Ucap Yasir dengan suara berat, semakin mempererat pelukannya kepada Rili.


"Sewaktu bulan madu di Australia, saat itu lagi musim dingin. Tapi, tubuh ini bisa menghangatkan. Kenapa pagi ini tidak hangat lagi." Ucap Rili polos. Semakin mengeratkan dekapannya. Yasir terkejut mendengar ucapan istrinya itu. Dia jadi merasa suami tidak berguna, yang tidak bisa menghangatkan Istrinya.


"Tapi, tubuh Adek bisa menghangatkan Abang loh. Apalagi kalau sudah menempel seperti ini. Juga menempelkan ini." Yasir menempelkan bibirnya ke bagian yang disukai Rili. Rili hanya tersenyum dan begitu menikmati. Yasir suami yang lebih mengutamakan kepuasan istrinya.


Pagi ini Yasir lebih lama melakukan foreplay, sampai Rili minta ampun karena kenikmatan yang diberikan Yasir padanya sudah level over dosis.


"Sudah sayang, kita berendam air hangat saja." Ucapnya menyetop aksi Yasir dibagian bawahnya.


"Adek capek." Ucapnya menggerak-gerakkan tubuhnya. Agar Yasir menghentikan aksi yang sangat disukainya itu.


Yasir terduduk menatap lekat Rili. Rili langsung merapatkan pahanya.


"Capek, kenapa bisa capek?" tanya Yasir dengan heran. Istrinya itu tidak melakukan apa-apa. Yang dilakukannya hanya mengeluarkan suara-suara yang membuat Yasir semakin tersulut birahinya.


"Iya, entah ni sayang, bawaannya jadi cepat capek." Ucap Rili mendudukkan tubuhnya. Dan menarik lagi selimut sampai dadanya. Dia meerenggangkan otot-ototnya yang terasa pegal. Dengan menggerak-gerakkan badannya.


Yasir ikut mendudukkan tubuhnya disebelah Rili, Dia menarik tangan Rili dan menempatkannya ke sela*ngkangannya yang ditutupi boxer.


"Apa Adek gak kasihan kepadanya?" Ucap Yasir memelas, berharap Rili mau lagi melanjutkan aksinya.


"Entah ni, tiba-tiba gak mood." Jawabnya.


"Please sayang..!" Rili pun akhirnya menuruti keinginan suaminya itu. Tidak adil rasanya. Yasir sudah memberikan nya kenikmatan. Masak Dia tega melihat suaminya nelangsa.


Setelah selesai mandi dengan air hangat, tentunya saat mandi, Yasir selalu menggoda istrinya itu. Rili hanya sesekali menepis tangan nakal Yasir yang selalu ingin menyentuh bagian sensitifnya. Kalau sudah seperti itu, Rili hanya bisa melototkan matanya dan menunjukkan ekspresi kesal. Kalau tidak di stop, bisa-bisa waktu untuk sholat shubuh terlewat.


"Dek, Abang Rival meminta kita untuk hadir di pengajian tujuh hari kepergian Almarhum Pak Ali." Ucap Yasir, membantu mengeringkan rambut Rili dengan hairdryer.


Rili menatap Yasir dengan malas dari pantulan cermin. Dia merasa malas untuk ikut acara itu. Entah kenapa Dia merasa akan ada hal yang membuatnya tidak nyaman nantinya di acara itu.

__ADS_1


"Adek malas, pingin cepat pulang saja ke rumah kita di kota S." Ucap Rili. Dia mengganggap rumah yang sesungguhnya, hanya rumah mereka yang ada di kota S. Sedangkan rumah mereka yang ada di berbagai kota lainnya. Hanya rumah singgah.


"Ya sudah, kita pulang setelah Adek periksa kandungan dulu ya?" Yasir kini sudah selesai mengeringkan rambut Rili. Dia me daratkan wajahnya di ceruk leher Rili yang putih dan halus itu, sesekali menciumi nya.


Rili tersenyum menanggapi tingkah suami manjanya itu. "Adek Speksi nya setelah sampai di rumah saja." Tawar Rili, menggerakkan tangannya mengacak-acak rambut Yasir yang masih menempel di bahunya.


"Gak bisa, Abang khawatir denganmu dan anak-anak kita. Kenapa Adek tiba-tiba lesu dan tidak bersemangat. Dulu saja, baru-baru hamil energik dan genit. Kenapa sekarang jadi kebalikannya." Ucap Yasir, Dia sedikit bingung dengan keadaan istrinya yang hamil.


Setahu Dia saat hamil mudah istri gampang lelah dan tidak bergairah. Ini kenapa kehamilan yang menginjak lima bulan, menunjukkan gejala hamil muda.


"Baiklah, terserah kamu saja Yachay....!" ucap Rili, memutar tubuhnya yang duduk di kursi, sehingga kini Yasir dihadapinya setengah menunduk.


Rili langsung membelit pinggang Yasir dengan kedua tangannya. Memasrahkan kepalanya di dada Yasir yang bidang.


"Dikelahiran sebelumnya, Aku berbuat baik apa ya? kenapa Allah memberikanku suami sebaik ini." Ucapnya dengan menitikkan air mata.


"Di kehidupan sebelumnya dan seterusnya, kita akan selalu bersama." Ucap Yasir, mengelus pelan rambut Rili. Dan menciumnya berkali-kali.


"Aku sempat berpikir Allah tidak adil kepadaku. Di umur 30 tahun belum menikah juga. Padahal kawan sekolah, kuliah sudah pada punya anak. Eehh, maaf bukan salah Allah Sih, salahku juga. Aku tu dulu menunggu-nunggu seorang pria yang bernama Andre. Jahat banget tu si Andre. Lama sekali munculnya." Ucapnya kesal dan memukul pinggang Yasir yang masih dipeluknya.


"Apaan sih, sebel deh." Rili melepas pelukannya. Dia berbalik menghadap cermin lagi.


"Bukannya kamu pernah bilang sama si Ryan itu. Bahwa kamu menyukai pria teman kantormu dulu. Kamu bilang pria itu baik, suka jahilin kamu. Tapi kamu menghindar?" Yasir masih melanjutkan mengolok-olok Rili.


"Sudah dech, jangan buat malu. Iya, iya Aku akui. Sejak lihat Abang Aku sudah suka. Puasss...." Ucapnya memalingkan wajahnya saat Yasir menatap wajah Rili. Dia kesal kepada Yasir. Dia pun bangkit dari duduknya, langsung ditahan Rival.


"Abang juga menyukai Rili dari dulu, mulai saat remaja sampai sekarang. Abang merasa Adek itu mempunyai sebuah magnet yang membuat Abang selalu ingin menempel dan mendekat terus." Yasir memeluk Rili dengan perasaan yang bahagai. Dia teringat lagi, kisah mereka saat pertama kali jumpa di pantai.


"Tapi, Adek itu kesel sama Abang. Kenapa sih harus menyamar jadi Ryan. Buat malu saja." Rili mencubit perut Yasir dengan gemesnya. Ternyata Yasir mengerjai Dia.


"Abang itu pingin dekat dengan Adek. Tapi, Adek itu setiap didekatin susah gitu. Pas saat kita pulang, Adek lagi bicara sama Bella. Abang nguping pembicaraan kalian. Adek bilang mau singgah ke warnet, mau chatingan. Sejak itu, Abang deketin Bella, nanyain Dia apa nama akun Adek. Ya karena pesona Abang yang membahana ini. Dia pun mengatakan semua tentang Adek. Abang bangga sekali dengarnya. Cinta pertama Abang adalah gadis polos dan lugu-lugu menghayutkan ternyata." Ucap Yasir dengan tertawa kecil, mengingat betapa polosnya istrinya itu. Didekatin cowok, malah digalakin.


Mereka kini duduk di kursi santai balkon kamar Hotel yang mereka tempati. Yasir merangkul Rili, sedangkan Rili memasrahkan kepalanya di bahu Yasir.

__ADS_1


"Yang tak kalah lucunya Abang rasa, disaat kita chatingan. Adek memuji-muji Abang gitu kepada Ryan, padahal kan Ryan itu Abang." Yasir tertawa, Rili cemberut.


"Sudah Aahhkkk... jangan bahas itu lagi, malu-maluin saja." Ucap Rili, bangkit dari duduknya. Menatap Yasir dengan ekspresi bete.


"Yuk sarapan, lapar nih." Ucapnya memegang perutnya yang sudah nampak membesar.


Yasir menarik lengan Rili, sehingga Rili terduduk dipangkuan Yasir. Dia pun langsung mengelus-elus perut Rili.


"Anak Ayah sudah lapar ya? mau makan cah kangkung lagi ya sayang? aduhh... anak Ayah seleranya endeso banget." Ucapnya selero yang membuat Rili kesal.


Dia bangkit dari pangkuan Yasir. "Gimana tidak endeso. Mamanya saja orang desa. Asal Abang tahu, walau Aku orang endeso. Aku tidak kolot, cara berpikir ku modern. Aku tidak katrok." Ucapnya cemberut, meronta ingin lepas dari pangkuan Yasir yang kini tangan Yasir sudah membelit tubuhnya kuat.


"Waduhh, ada yang tersinggung." Yasir menenggelamkan wajahnya di dada Rili dan menggesek-gesek nya. Yang membuat Rili makin kesal.


"Apaan sih...!" Mendorong kepala Yasir dari dadanya.


Pertengkaran mereka pun terhenti, disaat bunyi ponsel Yasir terdengar nyaring di nakas meja dekat tempat tidur.


"Siapa yang menelpon?" tanya Yasir.


"Mana Adek tahu." Berontak lepas dari rangkulan Yasir.


Rili yang meronta-ronta ingin lepas dari pangkuan Yasir, membuat Yasir gemes.


"Cium dulu baru dilepas." Ucapnya memoyongkan bibirnya. Rili mendorong bibir Yasir dengan kesal.


"Cepatin angkat telponnya. Sepertinya penting." Ucap Rili tertawa dalam hati. Ekspresi Yasir sangat lucu, saat minta dicium.


"Biarin saja, tak ada yang lebih penting dari kamu sayang." Ucap Yasir menatap Rili lekat.


"Gombal, sudah ahh lepas. Itu yang nelpon tidak mau berhenti." Masih Meronta-ronta ingin lepas dari pelukan Yasir.


"Sun dulu Abang bilang." Yasir ngotot.

__ADS_1


Dengan terpaksa Rili pun mencium bibir Yasir. Dan saat itu juga Yasir langsung menahan kepala Rili bagian belakang. Sehingga ciuman mereka semakin dalam.


"Sudah.... sudah.... "Rili mendorong kepala Yasir.


__ADS_2