
Yasir memasuki klinik. Dia begitu penasaran, kenapa mobilnya yang dibawa oleh Rival berada di parkiran klinik. Dia berjalan menuju bagian Apotik. Dia menyerahkan daftar obat yang akan dibelinya.
Dug....dug....dug... Dia memengangi jantungnya yang debarannya tak menentu itu.
"Ada apa lagi dengan diriku ini? Apa jantungku bermasalah?" gumam Yasir dalam hati. Dia duduk di bangku panjang Stainles yang terdapat di depan bagian Apotik dalam klinik tersebut. Dia menenangkan dirinya dengan menarik napas sedalam-dalamnya, kemudian menghembuskannya dengan pelan. Kegiatan itu dilakukannya berulang.
Sementara di ruang pemeriksaan, seorang
Perawat mengukur suhu tubuh Rili dengan termometer yang dijepit diketiak dan mengukur tekanan darahnya.
"Maaf ya Bu. Tolong kancing bajunya bagian atas dibuka satu. Saya akan memeriksa dada Ibu." Ucap Dokter yang ternyata bernama Boyke.
"Sepertinya tidak usah dibuka Dok, Stetoskopnya dimasukkan aja dari dalam bajunya." Ucap Rival dan memandang ke arah Dokter yang berada didekatnya. Posisi Rival saat ini dekat kaki Rili.
"Ehmmm... akan saya coba ya pak." Ucap Dokter itu dengan tersenyum. Dokter yang ramah itu tahu betul perasaan Rival, yang merasa cemburu melihat istrinya dipegang lelaki lain. Walau itu Dokter.
Dug....dug...dug.... detakan jantung Rili begitu keras dan cepat didengar oleh Dokter Boyke.
"Bu, Apa ibu merasa sesak bernapas?" tanya Dokter, sambil terus mendengar Kembali suara yang dikirim oleh stetoskop.
"Tidak Dok. Saya hanya merasa tidak bertenaga, sakit kepala dan badan pegal semua." Jawab Rili lesunya.
"Detakan jantung ibu tidak normal, cepat sekali detakannya. Lebih dari 100 kali detakan /menit. Sering begitu Bu?" tanya Dokter dengan ramah.
"Tidak Dok, paling kalau saya merasa takut dan cemas. Jantung saya baru dag dig dug."
"Kalau itu memang semua orang akan merasakan hal yang sama kalau sedang ketakutan dan cemas."
"Maaf ya Bu, tolong angkat sedikit bajunya. Saya akan memeriksa perut Ibu."
"Kenapa harus disingkap Dok, baju istri saya. Bisakan dimasukkan aja dari balik bajunya." Ucap Rival.
Dokter tidak mengacuhkan ucapan Rival. Dia meminta Rili kembali menyingkap bajunya sampai dibawa dadanya. Dokter itu nampak menekan-nekan perut Rili.
"Ibu, ada penyakit magh?"
"Gak Dok."
"Suara-suara yang dihasilkan saluran pencernaan ibu sudah tidak normal. Apa tadi Ibu melewatkan makan siang?"
"Iya Dok."
Dokter nampak melepas stetoskop dari kupingnya dan Dia berjalan menuju kursi meja kerjanya
"Bagaimana keadaan istri saya Dok?" tanya Rival dengan begitu khawatirnya. Dia nampak memijat-mijat kaki Rili yang masih berbaring.
"Istri anda tidak apa-apa. Istri anda Sepertinya kelelahan dan setres. Saat tubuh lelah dan setres, maka bakteri dan virus dengan cepat menyerang kita. Karena Imun tubuh menurun. Sepertinya Istri anda terserang virus influenza. Apa anda membebaninya dengan begitu banyak pekerjaan?" tanya Dokter sambil membuat resep obat untuk Rili.
"Tidak Dok."
"Syukurlah kalau begitu. Suhu tubuh istri anda sangat tinggi 39 derajat Celcius. Tekanan darahnya rendah 80/60. Makanya ibu merasa pusing dan tidak bertenaga.
" Ini resepnya, Bapak bisa tebus di apotik." Ucap Dokter dan memberi resep obat untuk Rili.
"Ada lagi yang mau ditanyakan pak?" tanya Dokter Boyke.
"Ooh.. tidak ada. Tapi, saya mau menumpang sholat. Dimana ya ruang sholatnya?" tanya Rival.
"Kalau mau sholat, Bapak sholat aja di Mesjid sebelah apotik ini."
"Ooohh iya pak. Ayo Dek, kita keluar." Ucap Rival Dia nampak menggendong Rili.
"Tunggu pak. Sebaiknya istrinya istirahat dulu diruang inap, sembari menunggu anda sholat. "Mitha, Ruang inap kosongkan?" tanya Dokter kepada perawatnya. "Iya Pak."
"Adek mau menunggu Abang di ruang inap?" tanyanya sambil masih tetap menggendong Rili ala bridal style.
Dokter dan perawat saling pandang dan tersenyum melihat sikap Rival dalam memperlakukan istrinya.
"Lewat sini pak. Ruang inapnya ada dibelakang." Ucap perawat Mitha dan memandu Rival menuju Ruang inap.
__ADS_1
"Adek tunggu sebentar disini ya! Abang sholat dulu."
"Rili juga pingin sholat."
"Adek masih sakit. Sholatnya bisa adek qodha dilain waktu. Tunggu disini, selesai sholat Abang juga nanti cari makanan." Ucapnya sambil mengelus rambut Rili yang masih lepek itu.
Saat Rival keluar dari ruang inap, Dia tergesa-gesa berjalan, karena Dia takut waktu sholat akan habis.
Brugh..... Rival menabrak Yasir. "Maaf pak, saya sedang buru-buru." Ucap Rival dan langsung mengalihkan pandangannya kearah Yasir.
"Bos? Maaf Bos, Tidak sengaja."
"Tidak apa-apa. Siapa yang sakit?" tanya Yasir. Kini mereka nampak keluar dari klinik.
"Istri saya Dok."
"Oohh.. Sakit apa?"
"Hanya demam dan gejala flu."
"Bos mau kemana ini?"
"Mau sholat magrib ke Mesjid disebelah." Jawab Yasir.
"Sama, Saya juga mau sholat Bos." Ucap Rival sambil tersenyum kepada Bosnya yang baik hati itu.
"Bos ngapain ke apotik?"
"Mau nebus resep. Masak mau kencan?" jawab Yasir. Mereka pun akhirnya tertawa ringan sambil berjalan menuju Mesjid.
Setelah selesai sholat mereka nampak berjalan sama kembali menuju parkiran.
"Mana istrinya, kenapa ditinggal." Tanya Yasir yang kini sudah masuk ke dalam mobilnya.
"Di dalam Bos. Saya mau cari makanan dulu. Istri saya belum makan dari tadi siang." Ucap Rival dengan polosnya. Dia masih berdiri diantara kedua mobil milik Yasir.
"Oohh, Saya duluan ya bang. Titip salam sama istrinya. Semoga cepat sembuh." Ucap Yasir dan kemudian melajukan mobilnya.
Kini Rival pun melajukan mobil Yasir untuk mencari makanan.
Rival membawa begitu banyak makanan. Ya, tadi Dia singgah sebentar di mini market. Dia beli berbagai macam buah, roti, susu untuk tulang dan masih banyak jenis jajanan ringan lainnya.
Dia juga membeli nasi kotak dua bungkus dengan lauknya rendang daging. Selain itu Dia juga membeli 10 Potong ayam goreng. 2 porsi sup lembu.
Dia sengaja membeli banyak lauk. Agar besok pagi, Rili tidak perlu memasak.
"Banyak banget belanjaan Abang?" tanya Rili.
"Iya dek, Abang lagi punya banyak uang.Bos Abang baik banget. Dia memberikan Abang uang 25 juta." Ucap Rival dengan begitu senangnya. Matanya nampak berkaca-kaca. Seumur hidup Dia tidak pernah bisa kumpulkan uang sebanyak itu dalam sebulan.
"Ini semua berkat istri Abang. Yang selalu mendoakan suaminya agar banyak rezeki." Ucap Rival sambil menyuapi Rili dan sesekali mengelus pelan kepala Rili.
Rili diam saja. Dia mencoba menelan makanan yang disuapi Rival dengan susah. Karena mulutnya terasa pahit.
"Udah bang." Ucap Rili sambil menolak suapan dari tangan Rival.
"Sedikit lagi, biar kamu tidak masuk angin."
"Kalau dipaksa perutku jadi mual." Ucap Rili dengan menutup mulutnya Dia ingin muntah. Tapi, ditahannya.
"Baiklah, kalau begitu minum obatnya dulu." Rival menyodorkan 4 jenis obat tablet kepada Rili. Dia membantu Rili untuk duduk.
Rili sebenarnya sangat malas minum obat, tapi karena ingin celat sembuh. Dia memaksakan dirinya menelan sekaligus empat tablet obat tersebut.
"Kita nginap disini aja, bagaimana?" tanya Rival.
"Gak usah bang, Adek udah mendingan. Lagian pasti mahal biaya rawat inap." Ucap Rili.
"Uang Abang masih banyak dek." Jawab Rival dengan tersenyum sambil memakan nasinya. Dia kembali duduk di kursi dekat tempat tidur.
__ADS_1
"Mending uangnya digunakan untuk membuat kamar mandi." Ucap Rili.
"Ide bagus itu dek. Besok akan Abang beli bahan dan tanya tukang. Abang sih bisa jadi tukangnya. Tapi, Abang sudah punya kerjaan.
"Iya, cepat makannya Bang. Kita pulang aja. Nanti Ibu mengkhawatirkan kita."
"Baiklah sayang, honey bunny swety, My darling I love you." Ucap Rival berseloroh dengan mimik wajah yang sangat lucu. Yang membuat Rili tersenyum.
πΌπΌπΌ
Kini Rili dan Rival sudah sampai di depan Rumah. Rival memarkir mobil Yasir di halaman samping. Seorang Ibu-ibu berusia sekitar 45 tahun nampak sedang menunggu mereka dibalai-balai. Ternyata Ibu itu adalah tukang pijat yang dihubungi Rival tadi saat mencari makanan. Ibu tersebut akan memijat Rili. Agar pegal-pegalnya hilang.
"Ayo masuk Bu." Ajak Rival.
"Buka aja semua pakaiannya nak, terus pakai sarung." Ucap Ibu tukang pijat kepada Rili setelah mereka nampak duduk diatasnya tikar di ruangan tengah.
"Iya dek, buka aja. Biar Ibu Komariah memijat semua badan Adek. Pijatannya enak."
"Pijatan nak Rival juga terkenal ampuh dan enak. Kenapa tidak nak Rival aja yang memijat istrinya." Ucap Ibu Komariah.
"Aduh Bu. Istri saya lagi sakit. Kalau Aku nanti yang memijat. Maka pijatannya menjalar ke tempat-tempat Danger. Nanti bukannya sembuh. Eehh... Badan istrinya jadi remuk semuanya jadinya." Ucapnya seloroh.
"Emang main smackdown, sampai remuk." Jawab Ibu Komariah dengan polosnya.
"Ya, kurang lebih seperti itulah Bu." Jawab Rival yang kini memang nampak berbaring di sebelah Rili.
Entah karena pijatannya yang enak atau memang Rili yang sangat mengantuk, akhirnya Dia pun tertidur.
"Nak...nak Rival. Ibu pulang ya?" Ucap Ibu Komariah sambil membangunkan Rival.
Ternyata pasangan suami istri itu sama-sama tertidur. Rival memberi upah kepada Ibu Komariah. Kemudian Dia menggendong tubuh Rili ke dalam kamar. Dia membenahi kain sarung yang dipakai Rili. Dia tidak berani melihat tubuh Rili berlama-lama, Dia takut lepas kontrol. Dia juga lelaki normal. Tentu punya nafsu.
Kemudian Dia melaksanakan sholat isya. Dan bergabung tidur disebelah Rili.
π»π»
π»π»
Empat hari kemudian tepatnya hari Senin. Rili nampak menyiapkan bekal Rival.
Sejak Rival punya uang, maka Dia memberikan Ibunya sebanyak 3 juta. Membeli bahan untuk membangun kamar mandi dan upah tukang habis sekitar 5 juta.
Selama 4 hari ini, Bounya Rili tidak marah-marah lagi kepada Rili, bahkan saat Rili sakit selama 3 hari. Bounya yang memasak. Walau kadang pulang kerja Rival membawa lauk.
Sedangkan untuk mencuci pakaian, kadang Rival yang mencucinya saat mandi atau BAB.
Rival juga sudah membeli kompor gas, Ricecooker, kulkas dan dispenser. Kalau kamar mandi selesai, maka airnya akan di Sanyo dari sungai saja. Karena apabila membuat sumur akan memakan biaya banyak. Jikalau air lancar maka Rival akan membeli mesin cuci.
Tapi, Bounya Rili kumat lagi di hari Selasa saat sebelum dapat waktu shubuh.
Rival yang terbangun jam empat pagi, akhirnya tidak bisa tidur lagi. Sehingga Dia memutuskan mempelajari file baru yang diberikan Yasir kepadanya di ruang tengah depan TV.
Ceklek.. Rili keluar dari kamar Dia mendekati Rival yang sedang telungkup sambil membaca-baca dokumen.
Ternyata saat Rili membuka pintu kamarnya. Bounya yang sudah bangun dikamar belakang, menguping pembicaraan Rili dan Rival.
"Iiisshhh aaachhh... iiss ahhh.. Ayolah bang, Adek sudah tidak tahan lagi.. iiiisss. eeummmm!"
Bou Rili yang mendengar suara desisan Rili dibuat geram di dalam kamar. Dia keluar cepat dari kamarnya berjalan menuju ruang tengah. Bruggghhhh... Ibu Rival membuka dan mendorong dengan kuat pintu penghubung dari ruang tengah ke dapur.
Bersambung...
Mohon beri like, coment positif. Rate bintang 5 dan jadikan novel ini sebagai favorit.
Jangan lupa VOTE nya kak, biar lebih semangat lagi authornya.
Author juga ada group. Silahkan gabung ke group ya kak.
Terima kasih
__ADS_1