
Kini Rival sudah sampai di tempat kerjanya. Yaitu di sebuah pasar tradisional. Dia memarkirkan motornya di depan Rumah makan yang berfungsi juga sebagai tempat mangkal petugas pengutipan retribusi pasar.
Di pasar ini, petugas untuk mengutip retribusi pasar ada dua orang. Yaitu Rival dan gadis yang bernama Rayati.
Rayati sangat menyukai Rival, tapi Rival hanya mengganggap Rayati sebagai teman kerja saja.
Rival dan Rayati akan berbagi tempat kerjanya, sehingga pengutipan retribusinya cepat selesai.
Pedagang kecil, biasanya kena pungutan Rp. 2000. Sedangkan Ruko Rp.5000/minggunya. Ya, memang pasar ini adalah jenis pasar mingguan.
Rival yang memang punya sifat baik, terkadang tidak memungut uang pajaknya ke pedagang nenek/kakek atau pedagang kecil yang sudah tua. Hal itu sering membuat Rayati marah. Dimana Rayati merasa uang yang terkumpul menjadi sedikit.
Padahal Rival selalu mengatakan, komisi kelebihan setoran tidak usah diberikan kepadanya kalau Rayati keberatan, Rival menggratiskan pungutan ke pedagang lansia.
Setiap minggunya, mereka harus menyetor uang sebanyak Rp.200.000. Seumpama Rival dan Rayati dapat mengumpulkan Rp.300.000. Maka Rp.100.000 yang menjadi sisa setoran. akan menjadi milik Rival dan Rayati.
Kini Rival dan Rayati nampak menghitung uang yang mereka pungut di Rumah makan tempat mereka mangkal. Rival dan Rayati duduk berhadapan yang dibatasi meja makan.
"Waahhh... lumayan pendapatan hari ini bang. Kita mengumpulkan Rp.350.000." Ucap Rayati senang sambil mengibas-ngibaskan uang tersebut.
"Iya." Jawab Rival malas.
"Tadi Aku ketemu Ibu. Dia cerita istri Abang malas dan tukang tidur." Ucap Rayati tersenyum dan melihat wajah Rival.
Rival menghela napasnya kasar. Dia malas melayani Rayati yang sok baik dan merasa sempurna itu. "Jadi apa hubungannya denganmu." Ucap Rival ketus dan berjalan menuju steleng.
Rival melihat menu yang ada di steleng.
"Dek, Abang makan ya. Lauknya ikan pakcak, terus minumnya teh manis panas." Ucap Rival pada pelayan Rumah makan.
"Ok bang, Kak Rayati mau makan apa?" tanya pelayan Rumah makan yang berjenis kelamin perempuan itu.
"Rendang dan sayur rebus aja, jangan lupa petai dan sambal terasinya juga." Ucap Rayati dengan suara kuat.
Rival kembali duduk di bangku panjang yang terdapat di Rumah makan tersebut.
"Hai bro.... pengantin baru!" tiba-tiba teman Rival di pasar itu menegurnya.
"Waahhh.... nampak sekali kamu yang begadang itu ya? mata merah, dan juga kamu nampak kelelahan." Ucap si uccok petugas parkir.
Rayati yang mendengarnya dibuat panas. Dia pindah dari meja tersebut.
Rival pun tidak terlalu menanggapi guruan kawan-kawannya. Sehingga mereka berhenti menggoda Rival tentang malam pertama.
"Itu tuh cintamu merajuk, Dia pergi mengasingkan diri." Ucap uccok dan tangannya bergerak ke arah Rayati.
"Biarin saja." Ucap Rival malas.
Pesanan Rival pun datang, Dia mengajak si Uccok makan bersama. Akhirnya si Uccok memesan makannya.
Setelah makan, Rival pergi ke Musholla yang terdapat di pasar tersebut. Setalah Dia melaksankan sholat Dzuhur. Dia membaringkan tubuhnya di dalam Mushollah.
Dia teringat Istrinya. Tangannya dengan cepat mengambil handponenya dari tas selempang warna coklat miliknya.
__ADS_1
Dia membuka kunci handpone dan mencari kontak Rili. Dia pun melakukan panggilan. Tapi ternyata no Rili sedang sibuk. Rival menunggu 10 menit, dan mencoba menghubungi no Rili kembali, tapi no Rili masih sibuk juga.
"Dia lagi menelpon siapa ya? udah 20 menit, tapi masih. sibuk juga." Ucap Rival dan Dia pun akhirnya tertidur di Mushollah setelah melaksanakan sholat Dzuhur.
🌻🌻🌻
Rili tertidur setelah bertelepon dengan Windi, selesai menelpon Windi, Rili menelpon Mamanya.
Saat bertelepon dengan Windi, Rili sangat kesal dengan temannya itu. Karena dari penjelasan Windi. Cincin dan gelang pemberian dari Yasir. Windi kembalikan ke Yusuf. Padahal kemarin dari cara Windi bicara, Dia mengembalikan cincin dan gelangnya langsung kepada Yasir. Rili yakin sepertinya Windi menyembunyikan sesuatu.
Mamanya juga sikpanya sangat aneh, saat bertelepon tadi. Mamanya bertanya, apa ada orang yang datang menemuinya. "Emang siapa yang sedang mencariku." Gumam Rili dalam hati.
Rili terbangun, Dia melihat jam di handphone nya. Ternyata sudah pukul 16.00 Wib. Ternyata Dia tertidur selama dua jam.
Dia keluar dari kamar, Rumah sepi.
"Apa Bou belum pulang dari tempat hajatan ya?" gumam Rili dalam hati.
Ya, tadi sejak pukul 11 siang, Bounya mengatakan bahwa Dia akan ke kampung sebelah, untuk menghadiri hajatan sunatan. Rili sempat diajak Bounya. Tapi, Rili menolak dengan alasan sakit kepala.
Dia sengaja menolaknya, karena kalau bersama-bersama dengan Bounya, Dia takut dipermalukan dikhalayak ramai.
Setelah sholat Ashar Rili langsung memasak, Dia akan memasak ikan sambal dan sayur bening. Dimana tadi Bounya beli ikan saat di pasar.
Saat sedang asyiknya menggoreng ikan, Rili mendengar suara panggilan handphonenya yang berada di kamar. Dia dengan cepat berlari untuk mengambilnya.
Ternyata suaminya sedang menelepon.
"Assalamualaikum dek?"
"Lagi ngapain dek?"
"Lagi masak bang."
"Ooohhh... Ibu kemana dek?"
"Ibu ke tempat hajatan sunatan."
"Ooohhh..... !
"Dek, malam ini Abang telat pulangnya ya? Soalnya Abang dan rombongan tim kerja Abang di pasar Ini akan melayat ke Kota PSP. Orang tua Bos Abang meninggal." Ucap Rival.
"Oohh iya bang. Hati-hati di jalan." Ucap Rili.
"Iya dek, Assalamualaikum...!" Ucap Rival dengan suara lembut.
"Walaikum salam...!" Ucap Rili dan meletakkan handponenya di atas meja makan.
Kota PSP adalah kota yang terdapat di tengah tempat tinggal Rival dan Rili.
Kalau kita berkendara dari kota Sibo*lga, maka setelah dua jam perjalanan maka sampailah di kota PSP dan dari kota PSP membutuhkan waktu sekitar 2 jam lagi agar sampai di kota GT, tempat Rival tinggal.
Waktu sudah menunjukkan pukul 21.00 Wib, tapi Rival tak kunjung pulang. Setelah selesai makan malam tadi, kedua mertua Rili meninggalkan Rumah dan bertandang tidur di Rumah Mila putrinya. Sehingga saat ini hanya Rili seorang di rumah tersebut. Dia sangat ketakutan.
__ADS_1
Mertua Rili tidak marah-marah kepadanya hari ini, karena tadi setelah pulang dari pasar. Rili langsung memberikan uang sebanyak Rp. 200.000 kepada Bounya tersebut. Uang itu adalah upah Rival mendodos. Yang selesai makan pagi tadi Rival berikan kepada Rili. Dan tanpa Rival tahu, uang itu Rili berikan lagi kepada Bounya.
Rili sangat ketakutan di dalam kamar, karena suara petir yang menggelegar sangat kuat hingga membuat rumah Rival bergoyang terutama bagian atap rumah. Takkkk.. listrik pun padam disambut dengan hujanya yang sangat deras.
Rili meraba ponselnya yang diletakkannya tidak jauh dari tempat Dia berbaring. Dia menghidupkan senter handphonenya.
Dia merasa tubuhnya ditetesi air saat dia berbaring di tengah tempat tidurnya. Ternyata atap di kamar itu bocor. Rili menggeser tubuhnya ke sebelah kiri sisi ranjang, lama Dia terdiam dalam keadaan berbaring dipinggir sebelah kiri ranjang itu dan menyaksikan air yang tadinya menetes kini sudah berubah jadi pancuran.
Akhirnya otaknya yang tadi sempat lemot, berfungsi kembali. Dengan perasaan takut dan dada yang berdebar-debar. Dia keluar kamar menuju dapur untuk mengambil ember. Hanya dengan berbekal senter handphonenya Dia sampai juga di dapur.
Prang..... prang....tleng...tlenng.... teng....!
"Apa.. apa itu? Astaghfirullah.... !" Rili sangat terkejut, rasanya jantungnya lepas dari tempatnya saat itu, tetapi kembali lagi. Dia ngos-ngosan dikegelapan malam.
Meong.... meong...
Ternyata kucing menjatuhkan Periuk yang tergantung di dinding dekat jendela.
"Ya Allah.... Lindungi Hambamu ini!" ucap Rili sambil mengambil ember. Dia berjalan cepat menuju kamar. Dalam hati Dia tidak henti-hentinya membaca Ayat kursi serta suroh Al-Ikhlas.
Sesampai di kamar Rili langsung mengunci kamarnya. Dia takut ada perampok masuk ke rumah.
Dia meletakkan ember plastik warna hitam tersebut di atas tempat tidur yang atapnya bocor, ternyata kasur tempat tidurnya Rili sudah hampir setengahnya sudah basah.
Dia berbaring, menghadap ember yang digunakannya untuk menampung air yg jatuh dari atap rumah.
Dia melihat tetes demi tetes jatuh ke dalam ember plastik warna hitam itu. Ya, hujan sudah lumayan reda. Tak terasa air mata jatuh dipipinya. Dia sensitif dan sedikit emosional malam ini.
Dia tidak menyesali menikah dengan pria miskin, karena Dia pun bukan orang kaya. Yang membuat Dia sedih adalah perasaannya yang tidak bisa melupakan Yasir. Apalagi dua hari ini, dipikirannya hanya Yasir dan Yasir.
Terdengar suara handphone Rili bergetar yang membuyarkan lamunannya. Dia meraih handponenya yang di letakkannya tak jauh dari jangkauan tangannya.
Ternyata suaminya yang menelpon.
"Assalamualaikum dek?" terdengar suara Rival dari ujung sana dengan tidak jelas, mungkin karena hujan makanya sinyal jadi jelek.
"Walaikum salam..! jawab Rili dengan suara sedikit terisak-isak. Dia memang sedang ketakutan sekali.
"Adek kenapa menangis?"
"Aku takut bang, disini hujan dan mati lampu." Ucapnya masih menangis.
Duarrr...... terdengar suara petir yang sangat keras.
Rili yang sedang bertelepon akhirnya diam tanpa suara.
Bersambung..
Mohon beri like, coment positif. Rate bintang 5 dan jadikan novel ini sebagai favorit.
Jangan lupa VOTE nya kak, biar lebih semangat lagi authornya.
Terima kasih
__ADS_1