Misteri Jodoh (Janda Tapi Perawan )

Misteri Jodoh (Janda Tapi Perawan )
Season 2 Maryam


__ADS_3

Rival masih menuntun Mely berjalan, Dia masih belum yakin kalau istrinya itu kuat untuk melangkah. Sedangkan Pak Ali dan istrinya nampak bergandengan di koridor berjalan mendahului Rival dan Mely menuju parkiran. Sedangkan Sari dan Pak Budi, menentang semua barang bawaan.


"Sayang, kita kan belum menjenguk Pak Firman?" ucap Mely menghentikan langkah Rival.


"Iya, tadi Aku sudah tanyain ke Mama. Tapi, kata Mama kita tidak usah menjenguknya." Ucap Rival dan kembali menuntun Mely untuk melangkah.


"Padahal Aku ingin berterima kasih kepadanya." Ucap Mely, akhirnya Dia pun melangkahkan kakinya yang di tuntun suami nya itu.


Saat itu juga seorang pasien yang berbaring di bed dorong, melintas dihadapan Pak Ali dan istrinya yang sedang didorong oleh dua perawat. Mamanya Mely langsung memalingkan wajahnya, menghindari tatapan mata pasien yang tertuju kepadanya.


Mamanya Mely berharap, pria itu tidak melihat dan mengenalinya. Jelas saja, pria itu pun akhirnya diam saja, saat Dia seolah melihat wanita yang dikenalnya.


Pasien yang sedang didorong di bed dorong itu berhenti, tepat disebelah Pak Ali dan istrinya. Yang kebetulan Dokter memanggil perawat yang mendorong pasien itu.


"Apa ini pasien yang akan dioperasi setengah jam lagi?" tanya Dokter pria yang ternyata Dokter Ortopedi.


"Iya Dok. Namanya Pak Firman." Ucap Salah seorang perawat yang berjenis kelamin laki-laki.


Pak Ali yang mendengar nama Firman disebut, Dia pun menoleh ke arah Firman yang masih lemas dan menahan rasa sakit itu yang berada di atas bed dorong.


Dia merasa ini kebetulan sekali, karena dari tadi Dia mengajak istrinya itu untuk berkunjung ke ruangan Firman di rawat. Tapi, istrinya itu tidak mau dan banyak memberi alasan penolakan.


"Ma, tunggu Ma. Ayah mau bicara sebentar dengan Pak Firman." Ucap Pak Ali menarik kuat lengan istrinya yang membuang muka hendak meninggalkan tempat itu. Karena Pak Ali menarik lengan istrinya dengan kuat sehingga, Mamanya Mely sekarang berada tepat dihadapan Firman.


Deg...


Firman terkejut melihat sosok wanita yang berdiri dihadapannya dengan mencoba memalingkan wajahnya. Kedua matanya melotot penuh, dengan bibirnya yang hendak bicara.


"Dek, sebentar ya. Aku hanya ingin berterima kasih kepada Pak Firman." Ucap Pak Ali ramah, kepada kedua perawat.


"Iya Pak, jangan lama-lama." Jawab perawat.

__ADS_1


"Terimakasih Pak Firman. Sudah mau menolong putri saya." Pak Ali menatap Pak Firman, yang pandangan matanya tertuju ke arah istrinya yang berusaha menyembunyikan wajahnya dengan menunduk.


"Oh, ini istri saya. Mamanya Mely." Pak Ali meraih wajah istrinya itu dan mengarahkannya ke arah Firman. Mau tidak mau, akhirnya Mamanya Mely mengikuti pergerakan tangan suaminya itu. Sebenarnya Mamanya Mely ingin lari saja dari tempat itu. Tapi Pak Ali malah menahannya.


Kedua pasang mata itu saling tatap dengan penuh tanda tanya dan penasaran. Dimana Mama Mely merasa masalah yang rumit akan ditimbulkan pria yang ada dihadapannya.


"Ma, Ayo berterima kasih. Jangan malah pelototan." Ucap Pak Ali terseyum kepada Firman. Yang ekspresi wajah nya tak kalah kaget dan bingung dari Mama nya Mely.


Mamanya Mely tidak bergeming. Dia sedang tidak konsentrasi karena terlalu banyak hal yang mengisi pikirannya. Sehingga Dia tidak mendengar ucapan suaminya itu.


"Ma..!" ucap Pak Ali, yang membuat istrinya terlonjak kaget. Dia sampai memegangi dadanya.


"Ayo Ma, ucapkan terima kasih." Desak Pak Ali.


Dengan dada yang terasa sesak dan detakan jantung yang berdenyut tidak beraturan itu akhirnya Mama nya Mely buka suara. Tapi tidak melihat ke arah Firman.


"Te..rimakasih." Ucapnya dengan gugup dan takut. Itu jelas terdengar dari suara Mamanya Mely yang bergetar.


Pak Ali dan Mely terkejut mendengar ucapan Firman yang menyebut nama Mamanya Mely. Mely pun yang sudah berada di lorong itu. Akhirnya bicara.


"Terimakasih ya Pak Firman. Sudah menolongku. Moga Bapak lekas sembuh." Ucap Mely tersenyum. Firman pun menoleh ke arah Mely dengan mata berkaca-kaca dan mengangguk.


"Baiklah Pak Bu, kami bawa pasien dulu." Ucap seorang perawat pria. Disaat Firman ingin bicara. Dengan cepat perawat tersebut mendorong tubuh Firman yang terbaring di bed dorong.


Sepeninggalan Firman. Wajah Mamanya Mely pucat dan mengeluarkan bintik-bintik air di keningnya, Dia juga merasa kakinya sulit digerakkan.


"Kamu kenapa sayang?" tanya Pak Ali dengan khawatirnya.


"Sepertinya Mama sakit Ayah. Ayo kita bawa ke dalam untuk diperiksa." Ucap Rival.


"Tidak, tidak. Mama baik-baik saja. Mama ingin kita cepat pulang." Ucapnya dengan mencoba berjalan mendahului suami dan anak-anaknya. Yang disusul oleh Pak Ali dengan cepat. Begitu juga dengan Rival dan Mely.

__ADS_1


🌻🌻🌻


Mereka telah tiba di penginapan di Kota Parapat. Sesampainya di Hotel tersebut, mereka masuk ke kamar masing-masing. Semuanya memilih untuk beristirahat, setelah mereka makan malam di restoran. Padahal waktu baru menunjukkan pukul delapan malam.


Rival memijat kembali tangan Mely yang terkilir dan kemudian memijat tubuh Mely, yang membuat Mely rileks dan tertidur. Melihat Mely tertidur dengan pulasnya. Dia pun mengompres wajah Mely yang bengkak, kemudian menciumnya lembut.


Dia juga merasa sangat lelah dan ingin mengistirahatkan tubuh dan pikirannya, benar saja tak butuh lama Rival pun terlelap di sebelah Mely.


Sedangkan di kamar Pak Ali dan istrinya. Mamanya Mely nampak tidak tenang, Dia sama sekali tidak bisa tidur. Dia grasak-grusuk di atas ranjang empuknya yang membuat Pak Ali terganggu.


"Kenapa belum tidur sayang?" Pak Ali langsung mendekap tubuh istrinya itu dengan posesifnya. Dan menghadiahi beberapa kecupan di wajah istrinya itu. Yang membuat Mamanya Mely memasrahkan tubuhnya di dekapan suaminya itu.


"Tidurlah, jangan terlalu memikirkan Penjahat itu. Untuk kali ini Ayah akan mengurusnya sampai tuntas, sehingga mereka tidak akan mengganggu keluarga kita lagi." Ucap Pak Ali, masih memeluk istrinya itu.


"Iya Ayah. Mama memikirkan itu. Mama takut, mereka datang lagi balas dendam ke rumah kita." Ucap Mamanya Mely. Dia pun membalas perlakuan suaminya itu yang sudah melu*mat bibir tipisnya yang kenyal dan lembut itu.


"Tenang saja Sayang. Sesampainya di rumah, kita akan tambah penjaga di rumah." Tangan Pak Ali mulai bergerilya. Yang aksinya dihentikan istrinya itu.


"Koq tangan Ayah di cegat?" Pak Ali nampak kesal. Yang membuat istrinya itu tertawa kecil.


"Tidak apa-apa."


"Oh ya sayang, kenapa ya penjahat yang bernama Firman, tadi seperti menyebut namamu. Dia pun selalu menatap wajah ini. Yang membuat Ayah jadi cemburu." Ucap Pak Ali, mengelus pelan pipi istrinya itu.


"Mana ada, Ayah salah dengar mungkin." Mamanya Mely mulai panik dan takut, Dia malas membahas Firman.


"Ayah mendengarnya sangat jelas, walau Dia mengucapkannya terbata-bata. Apa Dia mengenal Adek ya?" Pak Ali mulai penasaran.


"Mana mungkin Dia mengenal Adek sayang." Mamanya Mely mulai mengalihkan perhatian dan arah pembicaraan mereka dengan memberi sentuhan-sentuhan liar dan lembut yang membuat Pak Ali begitu senang dan bahagia. Bagaimana tidak senang, Dia punya istri yang cantik dan masih tergolong muda. Usia mereka terpaut 20 tahun.


.TBC

__ADS_1


Mohon tinggalkan jejak dengan like coment positif dan Vote 🙏❤️🤗


__ADS_2