
Saat asyik sarapan bersama. Muncullah Pak Nainggolan di ambang pintu.
"Pak Nainggolan," Rival langsung bangkit dari tempat duduknya berjalan cepat ke arah Pak Nainggolan dan menjabat tangan nya.
Rival mempersilahkan Pak Nainggolan masuk dan menawarkan sarapan bersama, senyuman selalu mengembang di bibir Rival.
"Bagaimana kelanjutan kasus ini Pak Nainggolan?" tanya Pak Ali, Dia pun sudah selesai sarapan.
"Kami sudah mengintrogasi penjahat yang bernama Si Ucok. Dari keterangannya, sama persis dengan cerita Abang Rival. Bahwa Dia adalah penjahat yang sama yang menyerang Nona Mely enam bulan yang lalu. Dia kabur dari penjara dan ingin balas dendam." Pak Ali tersenyum kepada Mely.
"Terus, bagaimana dengan Bos nya seperti nya mereka adalah komplotan penjahat besar. Mafia mungkin." Ujar Rival dengan antusias. Dia tidak mau keluarganya, suatu saat diserang lagi.
"Inilah yang sedang kami telusuri Abang Rival.
"Waahh kamu sudah sembuh Dek? nampak sudah bisa menggerakkan tangannya." Pak Nainggolan merasa senang, melihat Mely yang sudah segar lagi. Pak Nainggolan masih ingat, bagaimana tak berdaya nya Mely saat ditemukan di gubuk reot itu.
"Iya Pak, berkat suamiku yang pintar memijat." Ucap Mely tersenyum kepada Rival. Rival membalas tak kalah hangatnya senyuman istrinya itu.
"Waahhh... keahlian yang amazing. Bisa dibuat profesi sampingan itu Abang Rival." Ucap Pak Nainggolan dengan tertawa kecil, Dia sedang mengajak semua penghuni ruangan bergurau. Dia senang berkenalan dengan keluarga Pak Ali.
"Jangan dong Pak.!" ucap Mely tidak terima suaminya menambah profesi jadi tukang pijat. Dia tidak mau orang lain merasakan sentuhan suaminya itu. Dia cemburu.
"Emang kenapa Dek Mely?" Pak Nainggolan masih melanjutkan gurauannya.
"Ya Tidak mau saja, Dia nanti digoda cewek lain karena suka pijatannya." Ucap Mely sewot.
"Kan bisa memijat kaum Adam." Jawab Rival.
"Emang mau jadi tukang pijat?" Kedua bola mata Mely membulat menatap ke arah suaminya itu.
"Kalau tidak dapat pekerjaan yang bagus. Ya bisa jadi beralih jadi tukang pijat." Ucap Rival datar. Yang membuat Pak Ali menoleh ke arah Rival.
"Ayah akan berikan pekerjaan yang bagus." Pak Ali takut, Rival akan meninggalkannya. Sepertinya Dia harus mengatakan fakta sebenarnya, sebelum anaknya itu pergi lagi.
Saat semua sedang serius membahas penjahat yang bernama Ucok. Mely pun bertanya mengenai keadaan Firman.
"Bagaimana kondisi pria yang bernama Firman Pak?" tanya Mely penasaran.
__ADS_1
"Kondisinya lumayan parah. Bahkan tulang belakangnya ada yang patah." Jawab Pak Nainggolan. Dia menyeruput teh yang disodorkan Mamanya Mely.
Mendengar cerita Pak Nainggolan. Mamanya Mely terkejut, hingga gelas yang di tangannya terjatuh ke lantai dan pecah. Entah kenapa mendengar namanya Firman disebut. Perasaan Mamanya Mely jadi kacau dan tidak enak.
"Kamu kenapa sayang? tanganmu gemetaran, kamu sakit?" Ucap Pak Ali, Dia meletakkan punggung tangannya di dahi istrinya itu.
Istrinya itu menggeleng, dan meraih tangan suaminya dan meletakkannya di atas paha suaminya itu.
"Saya tidak apa-apa. Hanya lelah saja. Karena kurang istrirahat." Ucapnya, Dia mulai memunguti serpihan gelas yang pecah di dekat kakinya.
Pak Nainggolan merasa ada sesuatu antara penjahat yang bernama Firman dengan Mamanya Mely. Dia akan menyelidikinya.
Karena tidak fokus dan banyak yang dipikirkan, akhirnya jemari Mamanya Mely kena serpihan kaca. Dia pun mengaduh kesakitan. Rival dengan cepat memberesi gelas yang pecah
Sedangkan Pak Ali. Mengambil tisu, dan menekan jari telunjuk istrinya itu yang luka karena kena kaca.
"Hati-hati dong Sayang." Ucap Pak Ali. Dia masih berusaha menekan jari istrinya itu, agar darah berhenti keluar. Tapi, darah tidak mau berhenti keluar. Sehingga Pak Ali sedikit panik dan meminta Rival menekan bel untuk memanggil petugas medis.
Kebetulan sekali, Pak Dokter dan satu perawat sedang menuju ruang rawat inap Mely.
Ceklek ...
"Waahh, Pak Nainggolan ada disini." Ucap Pak Dokter. sedangkan perawat menuntun Mely berjalan menuju Bed. Dokter akan memeriksa keadaanya.
Rival dengan sigap dan setia menemani Mely yang sedang diperiksa itu. Pak Dokter mulai memeriksa keadaan Mely setelah membaca historis nya Mely.
"Bagaimana Dok?" tanya Rival penuh khawatirnya.
Pak Dokter tersenyum. "Semuanya normal, Istri anda ini hebat sekali. Anda dengar juga kan Istri anda bilang tangannya sudah berkurang drastis nyerinya bahkan sudah bisa digerakkan." Ucap Dokter.
"Kalau begitu, apa kami bisa keluar hari ini Dok?" tanya Mamanya Mely dengan tidak sabaran nya. Dia tidak mau berlama-lama di Rumah sakit itu. Apalagi jikalau bertemu dengan Firman. Dia tidak mau kehidupannya jadi bermasalah, karena kemunculan pria itu.
"Siang ini sudah bisa pulang." Pak Dokter tersenyum.
"Dok pasien atas nama Firman, tolong ditangani dengan baik. Aku yang akan menanggung semua biayanya." Ucap Pak Ali. Saat Dia melihat Pak Dokter ingin meninggalkan ruangan itu.
Pak Dokter menoleh ke arah Pak Nainggolan.
__ADS_1
"Pak Ali, Firman itu tanggung jawab kami. Tapi, kalau Bapak ingin menanggung semua biayanya. Kami dengan senang hati menerima tawaran Bapak." Ucap Pak Nainggolan melihat kesemua orang di ruangan itu.
"Apa Pak Firman akan dihukum juga?" tanya Mely dari atas Bed. Dia kini sudah duduk dan bersandar di atas Dash board Bed nya.
"Semua yang melakukan kejahatan akan mendapatkan hukuman." Jawab Pak Ali tegas.
"Tapi, Dia juga menyelamatkan ku Pak." Bela Mely. Dia tidak mau Pak Firman dihukum.
"Tapi, Dia kena kasus penculikan. Dia tetap diproses, tapi mungkin hukumannya berbeda dengan Firman." Jawab Pak Ali.
"Baiklah, saya permisi dulu." Ucap Pak Dokter. Dan meninggalkan ruangan itu.
Mamanya Mely mendengar dengan seksama penjelasan Pak Nainggolan. Dia terdiam, tiba-tiba saja matanya berkaca-kaca. Dia menoleh ke langit-langit ruangan. Agar cairan bening itu tidak jadi keluar dari mata indahnya.
"Abang sebelum kita pulang. Aku ingin bertemu dengannya." Ucap Mely memegang lengan Suami nya itu.
"Iya, nanti kita jenguk Pak Firman." Jawab Rival mengelus pelan puncak kepala Mely yang membuat Mely merasa disayang.
Dia pun teringat dengan janjinya dengan Sang Khalik. Jikalau Dia selamat, maka Dia akan Taubat dan berbaik sangka kepada suaminya itu.
Setelah mengurus semua biaya administrasi. Rival masuk lagi ke kamar Mely. Dia melihat Ibu mertuanya sedang beres-beres karena mereka akan pulang siang ini. Mely keluar dari kamar mandi dengan berjalan penuh kehati-hatian.
"Rival bantuin Mely berganti baju." Ucap Ibu mertuanya. Kemudian Mamanya Mely masuk ke kamar mandi untuk bersihkan tubuhnya dan tentunya Dia akan berpakaian di dalam.
"Iya Ma." Jawab Rival dan meraih pakaian yang diletakkan Mamanya Mely di atas bed.
"Adek bisa sendiri koq bang." Ucap Mely malu-malu. Saat Rival mulai membuka kancing piyama Mely.
Rival tersenyum. "Iya, biar cepat aja selesai." Rival sudah membuka semua kancing piyama Mely, yang membuat Mely bingung sekaligus tersenyum. Pasalnya saat ini Rival menutup kedua matanya saat Dia melepas piyama yang menutup tubuh Mely itu.
Sambil Menutup mata Rival membantu Mely berpakaian, sehingga kini Mely sudah nampak rapi dan anngun, dengan dres warna peach yang dibeli Mamanya di pasar Tomok.
Rival pun membuka matanya, memperhatikan wajah Mely yang bersemu merah, karena malu.
"Kalau kamu bertingkah polos begini, Abang sangat menyukainya." Ucap Rival, Mely pun menyodorkan keningnya mengharap Rival mendaratkan satu kecupan disana. Benar saja Rival melakukannya. Yang membuat Mely merasa banyak kupu-kupu beterbangan di kepalanya.
TBC.
__ADS_1
Tinggalkan jejak dengan like coment positif dan Vote 🙏🤗😍