Misteri Jodoh (Janda Tapi Perawan )

Misteri Jodoh (Janda Tapi Perawan )
Season 2 Anisah


__ADS_3

Pov Mely


Tepat pukul empat sore Aku sampai di kontrakan kami. Rasanya begitu melelahkan, ditambah Aku harus menahan rasa sakit di bagian bawahku, yang sudah ku rasakan sejak tadi pagi. Rasa sakitnya semakin terasa. Apakah Aku akan melahirkan hari ini? Tapi, tanda-tanda bayiku akan lahir tidak ada. Darah, lendir atau air tidak ada keluar dari kemalu*anku. Kata Bidan tempatku speksi, biasanya janin yang akan lahir mengeluarkan tanda-tanda seperti keluar darah, lendir atau air. Aku jadi bingung. Aku belum mengerti secara aku baru kali ini hamil.


"Nak, kamu sudah datang." Ucap Ayah yang baru keluar dari dapur. Menyamperiku duduk di kursi plastik di ruang tamu. Ayah membawa segelas air hangat. Ternyata ayah ingin minum sambil duduk di kursi.


"Iya Ayah." Ucapku lemah, karena memang Aku merasa capek sekali.


"Minumlah air ini!" titah Ayah dan menyodorkan gelas yang berisi air hangat kepadaku.


"Bukannya itu untuk Ayah." Jawabku dengan meringis, menahan sakit diperut bagian bawahku.


"Iya, tapi untuk kamu saja." Ucap Ayah memperhatikan detail diriku.


"Gara-gara Ayah kurang sehat, kamu jadinya yang bekerja, sudah keadaan kamu yang hamil besar. Ayah harusnya memaksa kamu pulang ke kota M. Tapi, lihatlah kamu menyiksa dirimu sendiri, dengan bertahan disini." Ucap Ayah dengan sedikit emosional dan mata berkaca-kaca.


Ayah Firman memang selalu mengusirku dan memintaku pulang, tapi Aku tidak mau. Aku takut, sekaligus malu. Aku takut dimarahi ayah Ali, Mama dan juga Aku takut diabaikan Mas Rival. Aku yakin, Dia senang Aku pergi dari hidupnya. Dia juga pasti sudah kembali kepada mantan istrinya. Sekarang Dia punya banyak uang. Tentu Dia bisa melakukan segala cara untuk bersama kembali dengan mantan istrinya itu.


Buktinya, Dia tidak mencariku. Memang, Aku sudah mengganti nomor ponselku. Mengganti nama panggilanku menjadi Anisah di kampung ini. Aku memang benar-benar ingin pergi darinya. Tapi, terkadang Aku merindukannya. Apakah karena Aku mengganti nama panggilanku, Dia tidak menemukanku? PD sekali diriku, mengharap dicarinya.


"Ayah, jam berapa kita berangkatnya?" tanyaku, mengalihkan pembicaraan Ayah yang ingin memintaku pulang ke kota M.


"Apa barang-barangmu sudah siap kamu kemasi?"


"Sudah Ayah, sejak bangun shubuh Aku sudah mengemasnya." Ucapku masih dengan ekspresi kecut, karena menahan sakit diperutku.


"Perlangkapan untuk cucu kakek juga sudah kamu siapkan?" tanyanya lagi dengan ekspresi sedih. Sepertinya Dia kasihan melihatku.


"Sudah Ayah." Jawabku tersenyum. Aku tahu Ayah kasihan kepadaku. Jangankan Ayah, Aku sendiri kasihan melihat keadaanku. Hamil tanpa didampingi suami. Hamil besar tapi harus bekerja untuk biaya hidup. Kehidupanku sekarang berubah 180 derajat saat Aku masih gadis. Yang hidup mewah dan makan enak terus.


"Sebaiknya kamu mandi dulu dan sholat. Setelah itu kita berangkat. Sebelum magrib kita harus sampai di pulau Tuk-tuk." Ucap Ayah dengan ekspresi wajah sedih.


"Iya Ayah." Aku pun berjalan menuju kamarku dengan memegangi perutku yang sakit. Mengambil handuk dan baju ganti. Keluar dari kamar dan berjalan menuju dapur, tempat kamar mandi kami berada.


Aku mengguyur tubuhku dari ujung kepala Sampai ujung kakiku. Entah kenapa, Aku merasa sangat sedih hari ini. Tak terasa air mata jatuh dengan derasnya merembes bercampur dengan air yang ku guyur kan ke kepalaku dan mengalir membasahi tubuhku. Air mata bercampur dengan air untuk mandiku.

__ADS_1


Aku sudah mengambil keputusan untuk pergi dari hidupnya. Aku harus Istiqomah dengan keputusanku. Memang saat ini Aku selalu merindukannya. Merindukan sentuhan palsunya. Merindukan Dia mengelus perutku dan membaca ayat suci Al-Quran untuk bayinya. Tapi, Aku yakin seiring berjalannya waktu Aku pasti bisa melewati hidup tanpanya. Ini hanya masalah waktu.


Setelah mandi, Aku merasa lebih segar dan tubuhku terasa lebih ringan, walau perutku semakin sakit saja terasa, semakin berat dan terasa menyesak kebawah. Apakah Aku akan melahirkan? tapi belum ada tanda-tandanya. Harus kah Aku mendatangi Bu Bidan tempat ku Speksi? Aku sangat bingung.


Kalau mendengar pengalaman tetangga-tetangga, mereka bilang bisa merasakan sakit satu hari sampai dua hari. Ini Aku baru merasakannya dari tadi pagi. Berarti kemungkinan besar lahirnya besok. Kalau seperti cerita pengalaman Ibu-ibu tetanggaku.


Setelah mencoba tiduran sebentar, Aku keluar dari kamar. Menggerek koperku dan tas yang berisi pakaianku dan perlengkapan bayi kembar ku. Aku menghampiri Ayah di ruang tamu yang juga sudah siap dengan barang bawaannya.


"Ayah perhatikan wajahmu pucat, dan kamu seperti menahan rasa sakit. Apakah cucu Ayah akan lahir?" tanya Ayah memperhatikan dengan detail tubuhku.


Aku mendudukkan tubuhku di kursi plastik sebelah Ayah. "Entahlah Ayah, Aku memang merasakan sakit dibagian bawah perutku. Tapi masih bisa ku tahan." Jawabku dengan duduk bersandar di kursi plastik itu.


"Kalau cucu Ayah sudah waktunya lahir. Sebaiknya kita tunda saja keberangkatan kita. Dan sekarang kita ke Rumah Sakit." Tawar Ayah, memperhatikan dengan detail diriku yang meringis itu.


"Sepertinya belum Ayah. Mungkin besok ini lahir. Sebaiknya kita berangkat sekarang ini sudah hampir pukul lima sore. Aku masih bisa menahan sakitnya. Aku ingin melahirkan di pulau Tuk-tuk aja. Biar ada yang mengurusku dan juga ayah." Ucapku masih menahan rasa sakit di perutku. Ya, dua Minggu yang lalu, saat kami berkunjung ke pulau Tuk-tuk tempat saudara perempuan Ayah tinggal. Bibi itu memintaku, melahirkan di rumahnya saja. Katanya Dia akan mengurusku.


"Baiklah, kamu harus bilang kalau kamu sudah tidak tahan lagi. Kita harus ke Rumah sakit." Ucap Ayah, mengambil barangnya dan menarik koperku.


Sebelum berangkat, Aku pamit kepada tetanggaku dan menitipkan tambak kami yang ikannya tinggal sedikit lagi.


Ayah membawa tas ranselnya dan menggerek koperku. Sedangkan Aku menjinjing tas yang ukurannya sedang, di tas itu ada sebagian perlengkapan si kembar.


Tak butuh waktu lama menunggu, angkutan pun berhenti didepan kami. Aku duduk di kursi depan. karena kebetulan disitu kosong. Sedangkan Ayah duduk dibelakang. Angkutan pun melaju.


POV Author.


Yasir, Rili dan Mama Maryam sudah sampai di Rumah makan, dimana Yasir pernah melihat Mely. Sedangkan Rival yang pergi sendirian sudah kesasar di Parapat. Dia tidak bisa fokus lagi, karena sudah kalut memikirkan istrinya Mely. Sehingga Dia tidak bisa menemukan alamat rumah makan yang dikatakan Yasir melalui telepon itu.


Yasir, Rili dan Mama Maryam langsung tancap gas menyusul Rival. Rili bahkan sempat menangis membayangkan kondisi Mely yang menurutnya memprihatinkan. Dia mengelus perutnya sepanjang perjalanan. Ya Rili sedang hamil empat bulan saat ini. Lucunya Rili malah mengalami morning sick dikehamilannya di semester kedua.


Walau sedang hamil dan sedang ngidam. Dia yang ngotot meminta Yasir agar menyusul Rival ke Parapat untuk ikut mencari Mely. Rili yang punya hati baik itu, merasa kasihan kepada Mely. Rili masih mengingat kejadian empat bulan yang lalu, disaat Dia mendapat telepon dari seorang wanita yang menangis dan mengaku sedang hamil, yang diyakininya adalah Mely.


"Kak, maaf mau tanya. Alamat wanita yang datang kesini seminggu lalu dengan penampilan kucel itu dimana ya?" tanya Yasir kepada kasir Rumah makan. Wanita yang ditanya oleh Yasir bingung Karena tidak mengerti maksud dari pertanyaan Yasir.


"Maksud Abang apa? Maaf saya kurang mengerti dengan orang yang Abang maksud." Jawabnya bingung dan bergidik bahu.

__ADS_1


Yasir mengacak rambutnya, Dia tidak tahu lagi bagaimana menjelaskannya. Sedangkan Rili yang hampir mabuk itu, memilih duduk di kursi rumah makan tersebut dan memesan teh manis panas.


Mama Maryam lebih kalut lagi. Dia antara bingung dan berfikir keras. Kalau Mely disini. Apakah Dia bersama Firman?


"Apa wanita ini pernah datang kesini?" Mama Maryam menunjukkan foto Mely. Melihat seperti ada keramaian di meja kasir. Maka sebagian pelayan rumah makan yang tidak sedang bekerja berhamburan menuju meja kasir.


"Wanita yang bertugas sebagai kasir tersebut memperhatikan dengan detail foto Mely yang diberikan oleh Mama Maryam. Tapi, karena foto yang ditunjukkan Mama Maryam adalah foto Mely yang masih kurus dan cantik. Jadi penjaga kasir itu mengatakan tidak pernah melihatnya.


"Coba lihat lagi lebih detail Dek. Ini fotonya masih gadis. Wanita yang sedang kami cari adalah wanita yang sedang hamil besar." Ucap Mama Maryam. Menjelaskan dengan detail kondisi Mely.


Sesaat wanita yang bertugas sebagai kasir itu berfikir dan kemudian melirik, kawannya yang berdiri disebelahnya.


"Wajahnya mirip Anisah ya?"


"Iya, iya namanya Anisah." Ucap Mama Maryam semangat.


"Nama lengkapnya Mely Anisah Ajib. Biasa dipanggil Mely. Mungkin disini Dia memakai nama panggilan Anisah." Terang Mama Maryam lagi. Dia merasa senang dan bahagia, setidaknya Mely jelas ada di kota ini. Sesaat Dia merutuki kebodohannya. Kenapa Dia dari dulu tidak berfikiran untuk mencarinya disini.


"Oohhh ini kak Anisah. Dia baru saja pulang dari sini mengantar pesanan. Tapi Dia katanya hari ini terakhir mengatar pesanan. Karena Dia akan ke Pulau Tuk-tuk ke kampung Ayahnya untuk melahirkan."


"Ayo Nak Yasir, kita cari di pelabuhan saja." Mama Maryam langsung memotong ucapan petugas kasir tersebut.


"Apa kita ke rumah nya dulu Ma."


Yasir melirik petugas kasir. "Adek tahu alamatnya?" tanya Yasir.


"Iya tahu."


"Tolong tuliskan.!" pinta Yasir dengan tidak sabarannya.


Petugas kasir itu menuliskan alamatnya Mely, di kertas bon.


"Mama cepat telpon Rival. Suruh Dia mencari Mely ke pelabuhan. Kita langsung cek ke rumahnya dulu." Ucap Yasir sambil berjalan menghampiri Rili yang setengah teler, sedang menikmati teh manis panasnya.


"Sayang, kita berangkat sekarang. Nanti disambung lagi minum teh nya." Ucap Yasir, meletakkan uang pecahan 100 ribu di meja makan tempat Rili minum teh manis panas.

__ADS_1


__ADS_2