
"Kamu kenapa Mel, tumben kamu mau ikutan Touring lagi? bukannya tiga bulan yang lalu kamu putusin untuk jadi istri yang baik." ucap Ary teman satu geng motornya nya Mely, Ary nampak menikmati rokok yang dihisapnya. Asapnya dihembuskannya ke udara berbentuk bola-bola. Mereka berdua sedang duduk di kursi teras Rumah Ary.
"Aku pikir gampang buatnya suka samaku. Tapi, nyatanya Aku terus yang nyodorin diri. Aku jadi malas. Aku mau balik lagi lah seperti dulu. Ikut main sama klen saja." Masih menikmati hisapan rokoknya.
Ari tertawa, Mely kesal lihat kawannya itu menertawakanya. "Aku pikir kamu berubah gara-gara Si Doni yang mau gerayangin kamu. Saat kita Hiking terakhir kali ke Gunung Sibayak. Tapi, ternyata karena kehadiran pria itu dalam hidupmu." Ary masih menertawakan Mely.
"Benar-benar sialan tu si Doni. Dipikir Aku ini wanita apaan. Walau liar-liar begini, Aku masih bisa jaga diri dan tidak mau sex bebas. Walau kita dulu sering nonton film blue. Ngomong-ngomong mengenai Doni. Nagaimana kabarnya sekarang?" ucapnya dengan perasaan sedih, Dia masih kepikiran Rival. Mely yang masih menikmati rokoknya, sambil memandangi bintang di langit.
"Dia sudah menikah, karena hamilin anak gadis tetangganya." Ary tertawa mengingat kejadian si Doni yang sempat sembunyi di rumahnya saat dikejar keluarga si perempuan.
"Dasar laki-laki, mau enaknya saja. Sudah buntung*in anak orang tidak mau tanggung jawab." Ucap Mely.
"Ini Aku bawain kopi buat kalian." Istri Ary meletakkan dua gelas kopi lekat di atas meja yang ada di teras tersebut.
"Terimakasih Kakak ku yang cantik. Tahu aja, kalau kita pingin ngopi." Jawab Mely, Dia menyeruput pelan kopi yang masih panas itu.
"Ya tahulah." ucap istri Ary, Dia menyayangkan sikap Mely yang tidak konsisten itu.
"Besok kak ikut Touring kan?" tanya Mely, kemudian perhatiannya kembali ke Tas Ranselnya yang masih tergeletak di lantai Teras rumah Ary. Ponsel di dalam Tas Mely dari tadi berbunyi terus. Tapi, Dia malas untuk mengangkatnya.
"Dari tadi ponsel mu bunyi terus, angkat lah. Siapa tahu penting." Ucap Ary, melihat ke arah Mely yang wajahnya tiba-tiba masam.
"Itu suamiku pasti yang menelpon. Aku lagi malas ngomong sama Dia. Aku juga lagi kesal." Mely kembali menyeruput kembali kopi pahitnya, tapi terasa nikmat di kerongkongannya.
"Kamu sudah menikah?" tanya istri Ary dengan kagetnya. Dia sampai memukul paha suaminya yang duduk di sebelahnya.
"Aduuhh sayang sakit tahu." Ringis Ary, tapi istrinya tidak memperdulikannya. Berita mengenai Mely yang sudah menikah lebih penting, dari pada paha Suami nya yang sudah memerah karena pukulan kerasnya.
"Sudah." Jawab Mely singkat. Entah kenapa Mely jadi kesal kepada Rival, gara-gara Rival menyebut nama Rili saat pelepasan tadi.
"Koq Aku tidak tahu?" Istri Ary masih tidak percaya.
"Kan sekarang kak sudah tahu. Aku sudah enam bulan menikah kak." Jelas Mely, kemudian disambung Ary.
"Dia menikah di kantor polisi sayang. panjang Dech ceritanya, dua malam pun tidak akan cukup waktunya untuk menceritakan kenapa Dia bisa menikah di kantor polisi." Jelas Ary, Dia menatap ke istrinya itu dengan lekat. Bahwa yang dikatakannya benar.
Mely hanya diam saja, kejadian di kantor polisi saat ijab kabul pun kembali terputar di memorinya. Tidak sangka, diawal Dia membenci pria itu. Tapi, akhirnya Dia menyukai karakter Rival yang dewasa, sabar saat Rival mengajarinya sholat dan mengaji.
"Sudah yuk tidur, sudah jam 11 malam. Besok kita harus berangkat pagi sekali. Dan titik kumpulnya besok di rumah ini sama teman kita lainnya." Ucap Ary sambil menguap-uap. Dia pun menggandeng tangan istrinya untuk masuk ke kamar. Sedangkan Mely masih duduk di teras, memandangi bulan yang sedang purnama.
Mata Mely berkaca-kaca, Mely teringat dengan ucapan Rival yang tanpa sadar menyebut nama Rili saat pelepasan. Dia menatap sendu langit yang dihiasi oleh kerlap-kerlip bintang. Puas menatap indahnya pemandangan di angkasa.
Mely masuk ke rumah Ary. Dia sering nginap di rumah ketua geng motornya ini. Bahkan Dia punya kamar khusus yang disediakan Ary.
Dengan lemasnya, Mely masuk ke kamar mandi. Mencuci wajahnya. Dia pun berbaring di ranjangnya, dengan menatap langit-langit kamar dan berdoa dalam hati Agar Rival bisa mencintainya. Karena Dia sudah terlalu mencintai Rival. Dia sangat benci dengan perasaannya ini. Mencintai sebelah pihak sangat menyakitkan. Apalagi kalau ego masih bermain. Sanggupkah Mely terus mencintai.
Kedua matanya yang berkaca menatap langit-langit kamar. Hatinya sakit, kejadian tadi siang terekam lagi di pikirannya.
"Rili.....Rili.....Sialan, bahkan pendengaranku merekam erangannya sangat bagus saat Dia menyebut nama mantan istrinya itu. Aku masih berusaha sabar dan tidak memprotes Dia menyebut nama mantan istrinya itu saat diriku ini memberi kepuasan padanya. Bahkan setelah makan siang, Aku masih ingin menampakkan kemesraan ku kepadanya. Tapi, Dia meninggalkanku begitu saja di kamar mandi dan langsung bekerja." Rili mendumel dalam hati. Kali ini Dia sudah berguling-guling di kasur yang hanya 4 kaki itu. Dia benci dengan dirinya yang Tiba-tiba saja bisa menyukai Rival.
"Aku pun mencoba menenangkan diriku untuk istirahat di kamar yang ada di ruangan itu. Dia tidak tahu apa mulut ku ini sampai kram, memainkan miliknya. Aku sangat lelah Eehh.... Dia malah meninggalkanku di kantor dan tidak membangunkan ku. Sedikitpun Dia tidak mengingatku, baik saat Dia sadar maupun saat Dia lagi terbang karena kenikmatan surga dunia." Ucap Mely kesal, Dia kembali memukul ranjang tempat Dia tidur. Kemudian Dia berguling-guling. Dia benci kepada suaminya itu, Dia benci dirinya yang menyukai suaminya itu.
__ADS_1
"Aku lakuin semuanya, agar kamu tertarik kepadaku. Aku berhias, padahal Aku tidak suka berhias. Aku pun mencoba memberi kepuasan padamu. Tapi, tetap kamu tidak merespon. Semuanya harus Aku yang mulai. Harus Aku duluan yang nyodorin bibir ini. Aaakkhhh... menyebalkan." Teriaknya lagi masih karasak-krusuk di atas tempat tidurnya. Seprei ranjangnya sudah berantakan.
Sementara Rival di rumah mereka sudah sangat panik. Dia sangat mengkhawatirkan istrinya itu. Kenapa telponnya tidak diangkat. Apa yang sebenarnya terjadi.
"Hari ini Dia sangat manis dan begitu menggoda. Bahkan Dia melakukan itu kepadaku." Rival membatin masih wara Wiri di beranda rumah mereka.
"Walau di awal aku merasa Dia terlalu berani dan berfikiran negatif, mungkin Dia sering seperti itu dulu sama pacarnya. Itu tidak ku permasalahkan. Itu cerita dulu, sekarang ya sekarang. Tapi, kemana Dia? Mely..... kamu kemana? kalau Aku ada salah, katakan. Jangan menghindar seperti ini." Ucap Rival dengan wajah kusut penuh ke khawatiran. Dia merasa menjadi suami yang gagal, yang tidak tahu keberadaan istrinya.
Rival melirik jam dinding yang bertengger di dinding ruang tamu, waktu sudah menunjukkan pukul 00.00 Wib. Rival bangkit dari duduknya, Dia kembali berjalan menuju teras rumah. Berharap Mely sudah kembali. Tapi, lagi-lagi yang ditunggu tak kunjung datang.
Dengan perasaan sedih, was-was, takut dan penuh ke khawatiran Rival masuk ke dalam kamar Mely. Dia memutuskan tidur di kamar tersebut. Jadi jikalau Mely pulang, Dia mengetahuinya.
Dia membaringkan tubuhnya di ranjang Mely yang empuk dan sangat wangi itu. Wangi tubuh Mely melekat di bantal, yang membuat Rival semakin merindukan wanita itu.
Ya begitulah pada dasarnya manusia, kalau sudah tiada baru terasa.
Rival menelungkupkan tubuhnya, membenamkan wajah tampannya di bantal Mely. Dia sangat menyukai aroma bantal yang ada di ranjang itu. Tanpa Rival sadari akhirnya Dia tertidur.
🏵️🏵️🏵️🏵️
Satu Minggu sudah, Mely tidak ada kabarnya. Selama satu Minggu ini, hidup Rival tidak tenang. Dia selalu kepikiran Mely. Kenapa Mely menghilang bak ditelan bumi. Dia sudah mencari Mely selama satu Minggu ini. Menanyakan Mely ke teman-teman kampusnya. Mencari Mely ke tempat organisasi yang diikutinya. Tapi, semuanya mengatakan tidak mengetahui keberadaan Mely.
Apa maksud mu melakukan ini? Kamu di mana? Ayah dan Ibu dua hari lagi akan pulang, kalau kamu tidak pulang Sampai besok pagi. Maka, Aku akan melaporkan dirimu ke kantor polisi. Dengan kasus orang hilang. Rival mengirimkan pesan itu. "Moga Dia membacanya." Ucap Rival, Dia pun mencoba mengistirahatkan tubuhnya di ranjang Mely. Ya selama satu Minggu ini Rival selalu tidur di kamar Mely.
Mely dan geng motornya sudah kembali ke kota M. Setelah Touring selama 3 hari. Sesampainya di kota M. Dia memutuskan beristirahat di rumah Ary, Selama 4 hari ini Dia bertapa di rumah Ary. Dia tidak keluar dari pekarangan rumah Ary. Bahkan Dia banyak belajar memasak dan belajar menjadi istri yang baik dari istrinya Ary.
Ary dan istrinya, Selalu meminta Mely untuk pulang. Tapi Mely menolak dengan alasan, masih sakit hati. Kalau Dia pulang, dalam kondisi hati yang masih kacau. Dia pasti akan bertengkar dengan suaminya itu. Makanya Dia memohon kepada Ary dan istrinya. Agar Dia tetap boleh di rumah itu, sampai hatinya benar-benar siap berhadapan dengan Rival.
Mely pun membaringkan tubuhnya dengan pikiran tidak tenang. Dia memikirkan jikalau besok bertemu dengan suaminya itu. Apakah akan terjadi pertempuran atau perang dingin.
Tidak mau larut dalam pikiran sendiri, akhirnya Mely memutuskan untuk tidur saja. Dia pun membaca Doa tidur dan berusaha tenang, agar bisa terlelap.
***
Suara Adzan berkumandang. Mely terbangun, Dia berjalan menuju kamar mandi. Dia akan menunaikan sholat Shubuh, karena Dia sudah tidak halangan lagi. Setelah sholat shubuh, Dia keluar dari kamarnya. Menyamperin istri Ary di dapur, yang juga baru sampai di dapur karena baru selesai sholat shubuh.
"Kamu mau kemana sudah menyandang ransel?" tanya Istri Ary, Dia memperhatikan Mely dengan seksama, Dia sampai menghentikan kegiatannya untuk menyayur.
"Aku mau pamit pulang kak. Terimakasih banyak sudah mau jadi pengganti Mamaku selama satu Minggu ini. Maaf banget sudah merepotkan." Ucap Mely tersenyum, Dia langsung memeluk istri Ary.
"Sarapan dulu baru pulang?" ucap istri Ary. Mereka pun melepas pelukannya.
"Aku sarapan di rumah saja. Lagian Aku sudah kangen masakan suamiku." Ucap Mely dengan wajah sumringah, Dia teringat Rival yang begitu lihainya memasak. tiba-tiba saja Dia. sangat merindukan suaminya itu. Ternyata Dia hanya bisa menahan dirinya hanya satu Minggu.
"Syukurlah, akhirnya kamu sadar juga. Dari kemarin-kemarin kakak sudah menasehatimu. Kalau ada masalah jangan kabur. Dibicarakan baik-baik. Kamu kabur begini, bisa membuat masalah baru." Ucap istri Ari, Dia menyiangi sayurnya, kemudian mengukur kelapa dengan kukuran mesin.
Mendengar ucapan istri temannya itu, membuat nyali Mely jadi ciut. Dia tidak mau dimarahi atau bertengkar dengan suaminya itu.
"Aku jadi takut untuk pulang." Ucapnya dengan memegangi keningnya, Dia merasa kepalanya sedikit sakit.
"Kenapa jadi takut?" selidik istri Ary. Dia pun sudah selesai mengukur kelapa dan kini memeras santannya.
__ADS_1
"Aku takut Dia marah, atau Dia sudah meninggalkanku." Ucapnya dengan sedih, Dia pun menarik kursi yang terbuat dari papan. Dia pun mendudukkan bokongnya.
Istri Ari menghentikan kegiatan memeras santannya. Dia mencuci tangannya di atas wastafel.
"Dia tidak akan marah itu. Kalau Dia marah, kamu ancam saja tidak dikasih jatah selama satu bulan." Ucap istri Ary tertawa. kini Dia nampak menyalakan kompor, Dia akan mulai memasak.
Mely melototkan matanya mendengar ucapan istri temannya itu. Dia ingin menertawakan dirinya. Mau memberi hukuman tidak bisa disentuh selama sebulan? itu sama saja Aku yang rugi. Mely membathin. Pasalnya malah Rival seolah tidak ingin menyentuhnya.
"Mana Abang Ary, Aku ingin pamit." Ucap Mely dengan ramahnya.
"Biasalah Abang mu itu sedang sholat di Masjid. Sebentar lagi pulang itu." Istri Ary nampak sibuk memasak.
"Iya kak Aku keluarkan motorku dulu ya." Ucap Mely, Dia pun keluar menuju motornya yang parkir di garasi.
Setelah sampai di garasi, Mely berulang kali menghidupkan motornya. Tapi tidak kunjung menyala. Ary yang sudah pulang dari Mesjid, melihat Mely di garasi sedang menaiki motornya.
"Sudah mau pulang Mel?" berjalan mendekat ke arah Mely.
"Iya Bang, tapi motor ku buat ulah." Ucapnya Dia pun turun dari motornya.
"Sini Abang periksa." Akhirnya Ary pun mencoba membantunya. Tetap tidak bisa juga menyala.
Mely mengumpat, Dia sampai menendang ban motornya itu.
"Sabar Bu." Ucap Ary, Dia masih berusaha menghidupkan motor Mely.
"Emang Abang tahu penyebab ini motor tidak mau nyala?" Ucap Mely dengan serius nya. Dia sampai memperhatikan detail Ary yang mengotak-atik motornya. Tapi, tetap juga tidak bisa menyala.
"Gak tahu Abang. Sepertinya rusak parah."
"Aku pulangnya pakai apa ini? mana Aku harus sampai sebelum matahari terbit." Ucapnya sedih kepada Ary.
"Kamu bisa jalan kaki. Rumahmu dari sini kan tidak jauh." Ledek Ary.
"Enak aja bilang tidak jauh. Jauh lah, ada 4 km itu dari sini." Mely kesal. Ary tertawa.
"Anterin dong, Aku tidak mau jalan kaki."
Mely menampakkan wajah puppy eyes.
Ary pun mengalah, Dia masuk ke dalam rumahnya, pamit kepada istrinya itu.
Kini Ari nampak melajukan motornya dengan pelan dan Mely diboncengan.
"Kamu itu, lain kali jangan lari dari rumah ya. Berdosa. " Ucap Ary masih melajukan motornya dengan pelan, Karena cuaca shubuh ini sangat dingin.
"Iya." Ucapnya cepat, saat Dia melihat Rival sudah berdiri tak jauh dari hadapan Mereka. Penampilan Rival sangat rapi dengan baju Koko dan sarung, serta memakai peci.
TBC.
Hargai karya author dengan like, coment positif dan Vote.
__ADS_1