Misteri Jodoh (Janda Tapi Perawan )

Misteri Jodoh (Janda Tapi Perawan )
Season 2 Memijatmu


__ADS_3

Pak Nainggolan yang mendengar penjelasan Rival tentang istrinya yang ngompol itu. Membuat nya jadi terharu. Berarti wanita ini begitu tertekannya sehingga terkencing-kencing pikirnya.


Sekilas Pak Nainggolan, menoleh ke belakang melihat Mely yang tidak sadarkan diri dan wajahnya pucat. "Matikan saja lampunya Pak Rival." Ucap Pak Nainggolan, Dia tidak tega melihat keadaan Mely.


Rival menggerakkan tangannya ke arah langit-langit mobil dan mematikan lampu mobil tersebut. Dengan mata berkaca-kaca, Rival masih terus saja menggosok-gosok tangannya ke tangan Mely yang dingin itu. Dia ingin menghangatkan tubuh Mely. Setidaknya tangannya.


Setelah menempuh perjalanan satu jam mereka sampai di Rumah sakit, waktu yang mereka tempuh jadi lebih lama, karena memang rute jalan yang mereka lewati jauh dari kata mulus.


Dengan cepat dua orang perawat datang membawa bed dorong. Rival dibantu perawat meletakkan tubuh Mely dengan hati-hati di atas bed. Begitu juga dengan Firman. Sedangkan Ucok, dibawa ke kantor Polisi. Dia akan ditangani tim medis kantor polisi tersebut. Karena memang luka si Ucok tidak parah.


Mely dan Firman dibawa ke ruang IGD. Sedangkan Rival dengan khawatirnya menunggu di luar. Pak Nainggolan pun bertolak lagi ke kantor polisi.


Saat hilir mudik di koridor ruang IGD. Ponsel Rival yang ada di tas selempang kecilnya berdering. Dengan cepat Dia mengangkatnya. Ada Ayah yang menghubungi nya. Menanyakan dimana mereka sekarang. Rival pun mengatakan bahwa Dia sudah berada di rumah sakit. dan Mely sedang ditangani tim medis.


Mamanya Mely yang tahu dimana lokasi Rumah sakit, dengan cepat memberi petunjuk kepada Pak Budi.


Kekhawatiran mendalam jelas terlihat di wajah wanita yang melahirkan Mely tersebut. Dia sungguh tidak bisa duduk dengan tenang di bangku mobil. Dia begitu gelisah, sambil memegangi wajahnya dan berusaha menenangkan dirinya yang jantungnya juga berdetak sangat cepat.


"Tenang Ma. Mely akan baik-baik saja. Dia putrimu yang kuat dan luar biasa." Ucap Pak Ali meraih tangan istrinya itu. Memberi ketenangan dan langsung merangkul tubuhnya.


"Iya Ayah, maafkan Mely yang selalu membuat Ayah khawatir." Ucap Mamanya Mely dengan terisak didalam dekapan suaminya itu.


"Tolong jangan pisahkan Mely dengan Rival. Mama tahu Mely tidak pantas untuk Rival. Tapi, izinkanlah Mely tetap bersama Rival." Ucap Mama Mely dengan masih terisak dalam dekapan suaminya itu.


"Mana mungkin Ayah akan memisahkan mereka. Ayah tadi hanya emosi saja, mengatakan itu. Lagian Rival tidak akan mau menceraikan Rival." Pak Ali mengelus pelan lengan istri yang dipelukannya.


"Tapi, Rival saja mau menceraikan istrinya." Mama Mely menoleh ke arah suaminya yang masih memeluknya.

__ADS_1


"Itu beda cerita. Jangan bahas itu lagi Ma. Apalagi didepan Rival. Mama mengerti.!" ucap Pak Ali dengan tegas. Istrinya itu mengangguk. Dia pun menghadiahi puncak kepala istrinya itu ciuman penuh kasih sayang.


🍁🍁🍁


Di rumah sakit, Mely yang sudah keluar dari ruang IGD, langsung dipindahkan ke ruang inap kelas VIP. Dia juga sudah sadar. Tapi keadaannya masih lemas. Dia bahkan tidak mau bicara. Tapi air mata terus saja mengalir dari sudut matanya dan menganak sungai. Rival sungguh tidak tega melihatnya.


"Jangan menangis lagi ya. Abang minta maaf!" ucap Rival dengan lembut, Dia duduk di kursi dekat ranjang tempat Mely berbaring. Mengenggam tangan kanan Mely dan mengelus kepala Mely. Dia masih merasa bersalah. Karena ucapannya yang terakhir yang membuat Mely marah dan menangis dan melarikan diri. Coba Dia tidak mengatakan bahwa Dia akan menerima harta kekayaan Pak Ali dan akan menendang Mely dari hidupnya. Mungkin mereka tidak akan bertengkar.


Mely tidak menjawab, Dia hanya menatap wajah Rival dengan sendunya, dengan air mata yang terus berderai.


Ceklek.


Pak Ali dan istrinya masuk. Mama Mely langsung berjalan cepat menuju ranjang tempat Mely berbaring.


Dia mencium kening putrinya itu dengan sayang, dan memperhatikan pipi sebelah kanan Mely yang bengkak dan memar itu. Bahkan bibir Mely pecah.


"Kenapa sayang, kenapa. .., mana yang sakit, kenapa kamu mengaduh kesakitan?" ucap Mama Mely memeriksa tubuh putrinya itu. Yang hanya ditutupi oleh kain sarung kemudian selimut sampai dada. Hingga Hanya kepala Mely yang nampak.


"Tangan Mely keduanya terkilir Ma." Ucap Rival sedih, Dia kembali menatap wajah Mely yang bengkak itu.


"Apa? sudah dipijat. Ayah, cepat hubungi Dokter. Mely harus ditangani dengan baik. Bila perlu kita bawa Dia sekarang ke Kota M. Disana Rumah sakitnya lebih bagus." Mama Mely semakin panik saja. Dia memeriksa lengan atas Mely yang nampak sedikit bengkak dan merah. Setelah itu Dia memegang lengan Suami nya yang berdiri di sebelah nya. Dia mengibah kepada Pak Ali.


"Tenang Ma. Kalau itu yang terbaik. Ayah akan mengurusnya. Kita akan pulang malam ini." Pak Ali ingin meninggalkan ruangan. Tapi ditahan Rival, dengan memegang lengan Pak Ali.


"Tidak perlu Ayah. Hanya terkilir. Tadi tukang urut sudah dihubungi oleh perawat. Tapi, kalau Ayah dan Mama percaya, Rival bisa memijat." Rival mengatakannya dengan merendah diri. Dia takut mengatakan dirinya bisa memijat dan tidak dipercayai.


"Kalau Nak Rival benar bisa memijat. Nak Rival saja yang memijat Mely. Tidak usah dipanggil orang lain lagi. Apalagi tukang pijatnya seorang laki-laki." Pak Ali begitu senang mendengar Rival pandai memijat. Ternyata keahlian kakeknya Rival turun ke anak nya itu.

__ADS_1


Dengan mata berkaca-kaca, Pak Ali langsung memeluk Rival. Yang membuat Rival tercengang. Begitu juga dengan Mely dan Mamanya.


"Terimakasih Tuhan...!" ucap Pak Ali menitikkan air matanya. Tingkah Pak Ali semakin membuat Rival bingung.


"Pak, saya bukan Tuhan. Saya Rival." Ucap Rival dengan sedikit tersenyum simpul. Dan dengan nada bergurau. Ucapan Rival ternyata membuat Mely akhirnya tersenyum.


"Bagiku, kamu seperti Tuhan ku, yang selalu menyelamatkanku dan menuntunku ke jalan yang benar. Kedatanganmu dalam hidupku, adalah hidayah." Gumam Mely dalam hati. Dia masih memandangi Rival yang dipeluk Ayahnya itu.


"Ayo Nak, pijat istrimu. Nanti kalau datang tukang pijatnya kita kasih aja upahnya walau Dia tidak memijat Mely." Ucap Pak Ali. Dia mengelus kepala Mely dengan sayang.


"Semoga setelah ini. Kamu berubah jadi lebih dewasa ya Nak. Hargai suamimu." Pak Ali tersenyum, Mely mengangguk.


Mamanya Mely membantu putrinya itu duduk. Rival pun memulai memijat Tangan Mely bagian atas. Yang terlebih dulu berdoa.


"Dek, Mama, untuk memijat saya selalu menggunakan air liur. Rival harap Mama jangan merasa jijik atau merasa saya sedang meludahi. Memang begitulah cara saya memijat. Insyaallah dalam dua hari tangan Mely sudah bisa digerakkan." Ucap Rival dengan hati-hati yang membuat Mamanya Mely heran dan bertanya-tanya. Apa air liur bisa jadi obat. Air liur kan biasanya bau.


"Terserah Rival deh, yang penting Mely sembuh." Ucap Mamanya dengan sedikit merasa jijik. Mamanya Mely memang kelewat pembersihnya sejak jadi orang kaya. Padahal saat miskin dan tinggal di kampung. Taik kerbau tiap hari dipegangnya alias kerbau B2.


"Kamu keberatan Mely, Rival memijatnya menggunakan air liurnya sebagai pelumas?" tanya Mama Mely menatap putrinya yang tersenyum aneh itu.


Mely menggeleng. Mana mungkin Dia jijik dengan air liur Rival yang menyentuh kulitnya. Air liur Rival saja selalu disedotnya. Entahlah, Dia merasa air liur Rival wangi dan manis. Tidak bau sedikitpun. Bahkan susu kental yang dikeluarkan Rival pernah dirasakannya.


Rival mulai memijat Mely yang senyam-senyum itu. Mamanya Mely heran melihat ekspresi putrinya itu yang diam seribu bahasa. Tapi, bibir tersenyum simpul.


TBC


Hargai karya Author dengan like, coment positif dan Vote ya kak 🙏🤗😍

__ADS_1


__ADS_2