Misteri Jodoh (Janda Tapi Perawan )

Misteri Jodoh (Janda Tapi Perawan )
Dia harus datang


__ADS_3

"Kamu....!" Ucap Windi dengan nada yang keras.


"Ngapain kamu disini?" ucap Windi sambil menunjukkan Yusuf.


Yusuf tidak menjawab pertanyaan Windi, Dia santai saja. Bahkan Dia merasa tingkah Windi seperti suatu hiburan buatnya.


Windi melihat dan menghitung jumlah orang yang berada di ruang makan tersebut.


Dia menutup mulutnya, Dia ingin berteriak. Dia tidak percaya dengan apa yang dilihatnya di depan matanya sekarang. Otaknya sudah connect sekarang. Dia baru sadar bahwa Yusuf adalah pria yang dijodohkan untuknya.


"Apa ini semua? tidak mungkin kan ma, pa. Dia yang akan dijodohkan buat Windi?" ucapnya dengan sedikit emosi dan kesal.


Mama Windi, terkejut melihat sikap putrinya yang kurang sopan itu. Tapi, mama Windi nampak masih bisa mengatur suasana hatinya. Kemudian mama Windi berdiri mendekat ke arah putrinya yang masih berdiri tak jauh dari meja makan yang terdapat di ruang makan tersebut.


"Memang Dia nak. Kamu duduk dulu ya sayang," ucap mamanya dan menuntun putrinya untuk duduk disebelah kanannya dan kemudian mama Windi berbisik kepada putrinya tersebut.


"Jangan buat malu keluarga kita, kamu harus sopan!" ucap mamanya geram sambil mengertakkan giginya.


Windi, yang paham betul dengan kemarahan mamanya karena tingkah spontannya. Akhirnya diam dengan wajah yang sangat kesal dan cemberut.


Mama Yusuf yang melihat sikap Windi yang sepertinya membenci putranya, akhirnya permisi kepada kedua orang tua Windi. Dia ingin mengintrogasi putranya. Akhirnya mama Yusuf mengajak putranya itu keluar menuju taman di halaman samping rumah Windi.


Mama Yusuf dan Yusuf nampak berdiri menghadap taman.


"Cerita pada mama? apa kalian sudah saling kenal?" tanya mama Yusuf dengan hebohnya sambil memegang lengan putranya tersebut.


Yusuf diam saja, Dia bingung harus mengatakan apa sama mamanya tersebut.


"Baiklah kalau kamu tidak mau cerita, pokoknya kamu harus bisa membuat Dia menyukaimu dan setuju dengan perjodohan ini. Mama lihat dari cara Windi tadi ngomong


sepertinya Dia sangat membencimu." Ucap mama Yusuf tegas dan pergi meninggalkan Yusuf di taman.


Yusuf nampak mengekori mamanya masuk kembali ke ruang makan tersebut.


"Ma, pa. Minta izin sebentar. Bolehkah saya ngomong berdua dengan adek Windi?" Ucap Yusuf dengan sopannya.


"Ooohhh silahkan nak." Ucap mama Windi dan melihat ke arah suaminya. Dia juga seolah memerintahkan suaminya dengan mimik wajahnya agar suaminya juga menyetujui pertemuan Empat mata antara Yusuf dan Windi.


Yusuf menatap Windi, Yusuf kemudian berjalan ke arah belakang rumah Windi.


"Bicara disini saja." Ucap Windi ketus.


Kini Windi nampak memilih tempat mereka bicara, di taman belakang Rumah. Karena, Windi tidak mau pembicaraan mereka ada yang mengupingnya.


"Ada apa kamu ajak saya untuk ngomong empat mata?" tanya Windi kesal dan mendaratkan bokongnya di ayunan besi yang terdapat di taman belakang rumah mereka.


Yusuf yang hanya berdiri dan memegang salah tiang penyangga besi itu hanya diam saja.


Melihat Yusuf diam saja membuat Windi kesal.


"Aku tidak mau dijodohkan denganmu!" ucap Windi tegas.


Duarr.....


Yusuf yang mendengar kalimat penolakan perjodohan ini dibuat terkejut dan takut. Tiba-tiba jantungnya berdetak sangat cepat. Rasa tidak percaya diri dan perasaaan akan mengecewakan mamanya, semakin menambah kepanikan Yusuf. Nampak sekali dari bahasa tubuhnya yang tiba-tiba lemas dan tidak tenang.


"Ku mohon, jangan lakukan itu!" ucap Yusuf.

__ADS_1


"Kamu pembohong!" ucap Windi kesal dan sedikit mencondongkan wajahnya ke arah Yusuf yang masih setia berdiri disamping ayunan besi tempat Windi duduk.


"Aku tidak pernah membohongimu," ucap Yusuf dengan bergerak sedikit guna bisa melihat jelas wajah Windi.


"Sejak kapan kamu mengetahui bahwa aku ini wanita yang akan dijodohkan denganmu?" tanya Windi. Dia nampak mengayunkan tubuhnya di ayunan besi itu.


"Tiga Minggu yang lalu." Ucap Yusuf dan mendaratkan bokongnya diayunan besi itu, sehingga Windi dan Yusuf Sekarang berhadap-hadapan.


Saat Yusuf mendaratkan bokongnya diayunan itu, ayunan itu nampak bergoyang.


"Makanya dua Minggu yang lalu aku ke rumah ini, tapi kamu tidak mau keluar kamar. Kamu memang tidak punya sopan, tidak menghargai tamu yang datang bersilaturahmi." Ucap Yusuf kesal dan mengayunkan ayunan itu secara cepat dan kuat sehingga Windi yang sedang lengah tidak bisa menyeimbangkan tubuhnya, dan malah terjatuh dipelukan Yusuf.


Badan Windi yang jatuh dipelukan Yusuf sedangkan kakinya masih memijak di lantai ayunan besi membuat ayunan itu semakin berayun karena Windi yang tidak mau diam saat terjatuh dipelukan Yusuf.


Yusuf diam saja, Dia malah menikmati moment lucu itu. Aroma tubuh Windi yang wangi lavender, sangat menyejukkan buat Yusuf.


"Kamu, lepasin tanganku, kamu kesempatan dalam kesusahan orang!" ucap Windi kesal.


Akhirnya Windi memilih turun dari ayunan tersebut dan hendak pergi meninggalkan Yusuf. Tetapi, langkahnya dihentikan Yusuf.


"Apa yang harus saya lakukan agar kamu mau melanjutkan perjodohan ini!" ucap Yusuf yang juga ikut turun dari ayunan besi tersebut.


Windi diam tidak menjawab pertanyaan Yusuf.


"Maukah kamu membantuku? ku mohon terimalah perjodohan ini." Ucap Yusuf serius sambil menatap punggung Windi yang hendak meninggalkannya.


"Kalau kamu tidak mau menerima perjodohan ini, maka saya akan dikeluarkan dari daftar KK. Yang otomatis saya akan dikeluarkan dari daftar pewaris. Terus ibu saya juga akan sedih karena Dia sudah sangat menyukaimu." Ucap Yusuf.


Windi yang mendengar pernyataan Yusuf tersebut dibuat terkejut dan heran.


"Ku mohon, untuk dua bulan ini, berpura-pura lah menerima perjodohan ini. Setidaknya selamatkan aku dalam dua bulan ini." Ucap Yusuf dengan sedikit mengibah.


"Aku tidak mau!" ucap Windi.


"Kamu ingin apa dariku? aku akan memberinya.


"Benarkah?"


"Iya,"


Tiba-tiba Windi teringat dengan Yasir.


"Baiklah, ceritakan semua tentang Yasir kepadaku!" ucap Windi tegas dan berbalik menghadap Yusuf.


"Untuk apamu info tentang Bos Yasir?" tanya Yusuf bingung.


"Jangan banyak tanya, kalau kamu ingin kita berpura-pura menerima perjodohan ini. Ceritakan cepat mengenai Yasir selama 5 bulan terkahir ini." Ucap Windi masih dalam posisi berdiri menghadap Yusuf.


"Aku bingung, denganmu. Apakah info Bos Yasir sebegitu pentingnya, hingga kamu mau mengorbankan dirimu." Ucap Yusuf bingung sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Cepat ceritakan Aku tidak punya waktu lagi." Ucap Windi.


"Untuk apamu info itu?" tanya Yusuf masih dalam keadaan bingung.


"Satu bulan yang lalu pun kalian menanyakannya bersama Rili." Ucap Yusuf keceplosan.


"Apa kamu begitu mengenal Rili?" tanya Windi.

__ADS_1


"Aku baru mengenalnya sebulan yang lalu saat bersamamu di Hotel bos Yasir. Tapi, aku mengetahui cerita Dia dan Bos Yasir."


"Kalau Abang ingin perjodohan ini berlanjut, ceritakan semua mengenai Abang Yasir. Dimana Dia sekarang? Apakah Dia sudah menikah sehingga Dia tidak pernah mau bertemu dengan Rili? Dia itu memang pria pengecut, tapi anehnya Rili sangat mencintainya." Ucap Windi kesal.


Kini Windi nampak mendudukkan tubuhnya di tempat duduk yang terbuat dari semen yang terdapat di taman tersebut, menghadap kolam ikan koi.


Yusuf juga mendudukkan tubuhnya disebelah kanan Windi dengan menjaga jarak sekitar setengah meter.


"Tolong ceritakan Bang?" ucap Windi dan menghadap ke arah Yusuf.


Kalau ada maunya baru memanggil Abang? ucap Yusuf dalam hati.


"Cepat ceritakan!" desak Windi.


" Benar ya dek, kalau Abang ceritakan kamu mau menerima perjodohan ini." Ucap Yusuf.


"Iya,"


"Soalnya Abang sudah berjanji kepada Ayah Bos Yasir agar tidak membocorkan keadaan Bos Yasir sekarang." Ucap Yusuf.


"Cepat ceritakan, ini menyangkut kebahagian, hidup dan matinya Rili. Aku tidak mau dia nantinya menjadi mayat hidup." Ucap Windi kesal. Yusuf sepertinya membuang waktu saja.


"Ceritakan!" Ucap Windi.


Akhirnya Yusuf menceritakan semua yang diketahuinya tentang Yasir. Yasir yang tidak menemui Rili, tapi pria itu sangat merindukan Rili dan keadaan Yasir setelah acara Ulang Tahun perusahaan mereka.


Windi yang mendengar ceritanya Yusuf dibuat shock, Dia menutup mulutnya dengan tangannya karena tidak percaya dengan cerita Yusuf. Mata Windi, berkaca-kaca. Dia menahan tangisnya.


"Ayo temani aku ke rumah Rili, Dia akan menikah sekitar pukul 10 pagi. ini masih pukul 09.10 Wib, masih ada waktu untuk menggagalkannya." Ucap Windi.


"Atau Abang hubungi Abang Yasir!" Ucap Windi dengan cepat melangkah keluar. Dia langsung mengambil kontak mobilnya yang terdapat digantungan kunci diruang keluarga.


Yusuf nampak berlari mengikuti Windi yang juga berlari ke bagasi untuk mengambil mobilnya. Yusuf sebenarnya bingung, tapi Dia menurut saja dengan perintah Windi.


Orang tua Windi dan Yusuf dibuat tercengang melihat tingkah anak-anaknya tersebut.


"Ada apa dengan mereka?" ucap mama Yusuf.


"Tidak tahu kak," ucap mama Windi.


"Windi...... Mau kemana kalian terburu-buru seperti itu?" ucap mamanya dengan sedikit berteriak.


Tapi Windi tidak sempat lagi menjawab pertanyaan Mamanya.


"Ayo masuk cepetan bang!' ucap Windi.


Orang tua mereka nampak keluar rumah menyaksikan Windi dan Yusuf meninggalkan rumah tersebut dengan ngebut.


"Tolong hubungi Abang Yasir, bagaimana pun ceritanya Dia harus tahu."


"Iya, tapi...!


Bersambung..


Mohon beri like, coment, vote dan jadikan novel ini sebagai favorit.


Terima kasih.

__ADS_1


__ADS_2