Misteri Jodoh (Janda Tapi Perawan )

Misteri Jodoh (Janda Tapi Perawan )
Season 2 Kenapa bisa kembar?


__ADS_3

"Jangan lupa ya Firman, carikan makanan yang Abang bilang tadi." Ucap Rival, sambil memeluk istrinya Mely di dalam mobil. Mereka duduk di jok belakang supir.


"Iya Bang." Jawab Firman dengan sedikit bingung. Dimana Dia akan mencari makanan yang diinginkan Abangnya itu malam-malam begini.


Saat ini mereka menuju pulang ke rumah, habis periksakan Mely ke Dokter obgyn.


Firman sudah dua kali memutari kota G. Mencari makanan yang diinginkan Rival. Tapi tidak dapat juga.


"Bang, makanan yang Abang inginkan kalau malam hari tidak ada. Dia banyak dijual pada pagi hari." Ucap Firman, matanya yang fokus ke jalanan, sekali-kali melirik penjual makanan di pinggir jalan.


"Begitukah? padahal Abang pinginnya makanan itu malam ini." Ucap Rival, menampilkan ekspresi wajah yang kecewa. Mely yang melihat wajah suaminya yang merenggut itu hanya bisa tersenyum. Rasakan gumam Mely dalam hati.


"Abang itu kena karma." Ucap Mely, menjawir dagu suaminya itu dengan gemas dan kemudian melepaskan nya.


"Karma? karma apa?" tanya Rival bingung. Mengecup bibir istrinya itu ala Spiderman. Karena saat ini memang Mely sedang mendongak melihat wajah Suaminya itu.


Mely sudah mengubah posisinya tiduran dan berbantalkan pahanya Rival.


"Ya kena karma dari anak Abang. Makanya Abang yang ngidam parah." Mely cekikikan, mengingat cerita Dokter tadi saat di ruang pemeriksaan. Katanya kalau suaminya ngidam. Itu karena anak yang dikandung, kesal kepada Ayahnya.


"Itu mitos." Kilah Rival.


"Yang bilang Dokter loh sayang. Masak itu mitos."


"Berati itu tadi Dokternya merangkap sebagai Mbah dukun." Ucap Rival gemes. Dia pun mencium kembali pipi Mely yang dirangkumnya. Yang membuat Firman yang menyetir ribut.


"Wooiiii.... woii. Ada orang... ada orang disini. Saya bukan obat nyamuk." Ucapnya dengan suara berat.


"Alahh... kamu jangan ngintip. Fokus aja menyetir." Ucap Rival, kembali mengelus- elus pipi istrinya itu dengangemes. Sungguh Dia sangat bahagia sekali.


"Jangan lupa Dek, singgah di rumah makan keluarga." Rival pun membantu Mely untuk tidur lebih nyaman di pahanya dengan mengambil bantal yang ada di jok paling belakang. Dia mengangkat sedikit kepala Mely, kemudian meletakkan bantal itu di pahanya dan Mely pun mendaratkan kepalanya itu dibatas bantal dengan tersenyum.


"Abang tidak percaya, disini ada dua anak kita." Ucap Rival tersenyum bahagia. Mengelus-elus pelan perut Mely. Mereka masih bersitatap.

__ADS_1


"Adek juga tidak percaya, bisa hamil anak kembar." Ucap Mely, kini tangannya bergerak ke atas, mengelus-elus pipi suaminya yang hampir ditumbuhi jambang. Sehingga disaat Mely menyentuh pipi itu, terasa kasar dan menusuk-nusuk.


"Sama, Abang juga tidak percaya. Ternyata Allah Maha Pemurah dan Maha Pengasih. Abang akan dapat dua anak sekaligus. Hore....!" teriaknya yang membuat Firman keberatan dengan tingkah Abangnya itu.


"Sudah mau punya anak. Tapi, kenapa jadi seperti anak-anak." Ucap Firman kesal. "Jadi gak beli udang dan soup nya?" tanya Firman, menghentikan mobil yang dikendarai nya di depan rumah makan keluarga.


"Jadi." Rival memberikan lima lembar uang anti air kepada adiknya itu. Firman pun turun dari dalam mobil, berjalan cepat ke dalam rumah makan keluarga. Meninggalkan Rival dan Mely di dalam mobil.


"Aauuwww.. aapaann sih?" Mely menepis tangan Rival yang mendarat di buah dadanya yang semakin padat dan besar itu. Ukuran bra Mely pun sudah naik satu nomor. Kalau Dia masih memakai Bra yang lama. Gundukannya jumlahnya akan bertambah menjadi enam. Karena disaat Dia memakai Bra lamanya. Maka dalam satu payudara jumlahnya akan menjadi tiga. Karena payudaranya meluber ke kanan dan ke kiri. Tidak bisa ditutupi oleh tempurung bra nya.


"Suka kali Abang megangnya. Padat dan kenyal, terus tangan Abang pun tidak cukup lagi menagkupnya. Aiishh.... pingin bergelayut manja disini." Ucap Rival genit, yang membuat Mely jengah dan menaikkan lubang hidungnya ke arah Rival.


"Adek apaan sih? jorok banget."


"Abang itu yang jorok, pikirannya piktor (Pikiran kotor)." Jawab Mely tertawa kecil.


"Eehhmmm... Iya dech." Rival mengalah.


"Mana tas Adek?" tanya Rival, setelah Dia menghidupkan lampu di dalam mobil itu, matanya menyoroti setiap sudut mobil. Mencari keberadaan tas Istrinya itu.


"Mau lihat foto USG tadi." Ucap Rival terseyum.


"Ini di bawah." Mely menunjuk lantai dasar mobil, tasnya tergeletak di bawah.


"Adek koq letakkan di bawah sih?" protes Rival. Dia sedikit menunduk, untuk menjangkau tas istrinya. Sedangkan Mely masih betah tidur berbantalkan paha suaminya itu.


"Ya Ampun, tidak terasa kandungan Adek sudah 10 Minggu. Aduh senengnya. Sebentar lagi punya Baby kembar." Teriak Rival, yang kemudian teriakannya terhenti.


"Koq kita dapat bayi kembar?" tanya Rival dengan bingungnya. Gen siapa yang diturunkan kepadanya, kenapa Mely mengandung anak kembar.


"Si Mila kan anaknya kembar. Tentulah kita bisa juga dapat anak kembar. Si Mila kan saudara Abang?" ucap Mely, melihat heran ekspresi suaminya itu.


Mely belum tahu, kalau Rival bukan anak kandung keluarganya. Karena Rival belum menceritakan kepada Mely, bahwa Dia anak yang di dapat-dapat.

__ADS_1


"Oohh... mungkin juga." Ucapnya dengan ekspresi datar. Kemudian matanya berkaca-kaca, membaca keterangan yang ada di foto USG itu. Rival sebenarnya tidak mengerti maksud huruf dan kata yang ada di foto USG itu. Tapi, Dia memperhatikan jelas umur kandungan Mely. Dan juga tanggal lahirannya.


"Pantes ya sebulan terakhir ini, Adek minta terus, ternyata hormon Adek melonjak drastis karena ada dua jabang bayi kita disini." Ucap Rival yang Dia membuat teori sendiri.


"Apa semua wanita hamil seperti Adek ini ya?" tanya Mely dengan begitu penasaran nya.


"Sepertinya semua wanita hamil punya bawaannya masing-masing. Abang masih ingat, dulu saat merantau di Kota Batam. Tetangga kost an Abang yang pasangan suami istri yang baru nikah. Istrinya hamil parah banget ngidamnya. Tidak bisa makan, kalau ada nasi masuk ke mulutnya. Dia akan muntah. Dan semua terasa bau di indera penciumannya. Bahkan suami sendiri dikatakan bau." Rival terkekeh mengingat kisah tetangganya, yang istrinya tidak mau dekat dengan suaminya.


"Abang bersyukur sekali, Adek tidak seperti itu." Rival kembali mencium kening Mely yang masih tiduran di pangkuannya.


"Iya Bang. Adek juga bersyukur. Abang yang ngidam. Adek tidak mengalami morning sick seperti yang dikatakan Dokter tadi. Tapi, kata Pak Dokter tadi. Bisa saja Adek nanti ngidamnya di semester kedua kehamilan." Ucap Mely, Dia memegang tangan Rival yang masih setia mengelus perutnya.


"Iya sayang. Kalau pun itu terjadi. Abang akan tetap jadi suami siaga." Jawab Rival teesenyum.


"Tapi, kalau saat itu kita sama-sama ngidam bagaimana?" tanya Mely.


"Itu tidak usah kita pikirkan dulu. Kita pikirkan yang terjadi sekarang aja dulu ya sayang." Ucap Rival menghentikan aksinya mengelus-elus perut istrinya itu. Karena Adiknya si Firman sudah masuk ke dalam mobil.


"Ada soup iga sapi nya?" tanya Rival melihat ke arah Adiknya itu yang kini sudah melakukan mobil mereka.


"Ada bang." Jawab Firman singkat.


"Besok cariin makanan yang Abang inginkan ya?" pinta Rival kepada Adiknya itu.


"Iya, coba kita tidak panen besok. Pasti Sekar bisa buatkan makanan yang Abang inginkan itu." Jawab Firman, melirik Abangnya dari kaca spion, yang tidak henti-hentinya menatap wajah Mely di pangkuannya.


"Nama Adek Abang, sama dengan nama pria yang menolong Mely saat di Danau Toba ya?" ucap Mely sendu, Dia teringat kejadian saat Dia di Sandra.


"Iya ya Dek. Bapak itu namanya Bapak Firman juga. Sudah bagaimana kabarnya ya? terakhir Ayah cerita, Dia akan dibebaskan karena Ayah membantunya bebas dari jeratan hukum." Rival membelai pipi Mely yang menguap-nguap itu.


"Iya, Adek masih ingin berterima kasih kepadanya." Ucap Mely masih menguap.


"Adek tidurlah, nanti sesudah sampai Abang bangunkan." Rival membelai-belai kepala Mely. Istrinya itu pun akhirnya tertidur.

__ADS_1


TBC


Tinggalkan jejak dengan like coment vote ❤️😍


__ADS_2