
Malam harinya.
Mely nampak menelungkupkan tubuhnya, sedangkan kedua kakinya dinaikkan ke atas dan bergoyang-goyang. Dia sedang melihat-lihat foto Rival di FB. Mely senyum-senyum sendiri, betapa Rival sangat mempesona.
Saking asyiknya menscrol dan melihat-lihat foto di album sosial medianya Rival. Dia tidak menyadari, kalau suaminya itu sudah terlentang disebelahnya.
"Kenapa tertawa-tawa sendiri?" tanya Rival sedikit heran, Dia melirik istrinya itu yang masih tidak mengalihkan pandangannya dari smartphone nya.
"Lagi lihatin foto cowok ganteng, saat rambutnya gondrong kriwil-kriwil seperti mie instan." Ucap Mely masih tersenyum-senyum tidak jelas. Dia juga membaca status-status Rival beberapa tahun yang lalu, yang lebay. Karena belum mendapatkan jodoh.
Pergi ke Solo, terus ke Belgia. Meskipun jomblo, aku tetap bahagia.
Mely yang tadinya senyum-senyum kini sudah mulai tertawa cekikan membaca status-status yang Rival bagikan beberapa tahun yang silam
KPK. Kapan Punya Kekasih.
Ketawa Mely makin keras, yang membuat Rival yang hendak memejamkan matanya terusik. Rival pun akhirnya bergerak dan memeluk istrinya yang lagi telungkup itu.
"Adek kenapa sih? tertawanya kenceng banget." Ucap Rival ikut melihat ponsel Mely yang ditertawakannya.
"Itukan foto Abang, Adek buka FB Abang ya?" ucap Rival mencium gemes pipi Mely, yang membuat Mely merasa geli. Apalagi Rival melanjutkan ciumannya ke telinga Mely.
"Iya, stop Bang. Bibir nya dikondisikan dulu. Lagi seru nih baca-baca status cowok gondrong yang tidak laku-laku." Ucap Mely masih tertawa. Rival yang disindir oleh Mely tidak merasa.
"Ini beneran Abang?" tanya Mely melirik suaminya yang kini sudah tidur miring berpangku insang di sebelah Mely. Rival mengangguk.
"Kren juga kalau rambut Abang di panjangin. Seperti mafia penuh cinta." Ucap Mely tangannya masih sibuk menggeser-menggeser layar ponselnya, untuk melihat semua foto Rival yang berlatar Negeri Arab itu. Kebanyakan Rival berfose dibawah pohon kurma, atau memegang tandanan buah kurma dan berfose bersama hewan berpunuk yaitu Unta.
__ADS_1
"Sudah, tidur yuk! jangan kepoin FB Abang lagi." Rival kembali memeluk Mely, sehingga kini posisi Mely sudah berubah menjadi membelakangi Rival dan Rival memeluk Mely dari belakang.
"Iya sebentar lagi. Lucu juga status-status Abang dulu di FB, galau banget." Ucap Mely masih setia kepoin FB suaminya itu.
"Eehhmmm...!" Rival malas menanggapi Mely yang sepertinya lagi kecanduan bermain FB.
"Aku sudah me like semua foto dan status-status Abang yang dari zaman baholak. Jadi, nanti kalau Aku ada buat status atau upload foto. Abang juga harus menghargainya ya, dengan like dan coment yang positif." Ucap Mely. Dia meletakkan ponselnya disebelahnya. Dia langsung berbalik dan membalas dekapan suaminya itu.
"Iya." Jawab Rival pelan. Dia sudah mau terbang ke alam mimpi. Mely yang belum kantuk itu, akhirnya menjahili suaminya itu dengan memilin-milin pu#ting Rival yang masih ditutupi kaos polos putih itu. Yang membuat Rival terlonjak kaget, Karena kegelian.
"Jangan usil, Abang kantuk ni." Rival menghentikan tangan istrinya yang nakal.
"Janji dulu, kalau Adek buat status atau upload foto, Abang harus mengapresiasi."
"Iya."
"Eehhmm...!"
"Koq jawabnya gitu sih?" Mely sewot. Dia kurang direspon.
"Terus mau jawab apa? besok Abang kasih id FB Abang. Kalau kamu buat status atau upload foto. Jika ingin FB Abang yang like dan coment. Adek online aja pakai FB Abang. Terus Adek like dan coment sendiri." Ucap Rival yang sudah sangat mekantuk itu.
Kenapa pula malam ini harus bahas dunia Maya yang tidak penting itu.
"Sudah mau tidur nih? kita gak bercocok tanam dulu. Ini malam Jumat loh Bang." Ucap Mely manja, Dia pun berusaha membangkitkan gairah suaminya dengan sentuhan sensualnya. Sehingga Rival yang sudah mekantuk, akhirnya melek juga. Apalagi Mely langsung melancarkan aksinya di area selangk*angan Rival. Akhirnya pergumulan panas pun terjadi.
❤️❤️❤️
__ADS_1
Dua Bulan Kemudian
"Banyak banget Dek barang bawaannya. Biasanya Adek tidak suka bawa barang banyak jika bepergian." Ucap Rival, melihat begitu banyaknya barang yang dikemasi oleh pembantu mereka ke dalam koper.
"Iya, oleh-oleh buat Ibu mertua dan saudara Abang." Ucap Mely membantu ART mereka mempacking barang-barang mulai dari pakaian, sepatu, sendal dan tas. Belum juga oleh-oleh makanan ringan dan kue Bika yang sudah siap di packing sebanyak 50 loyang.
Setelah berunding, akhirnya mereka hari ini akan pulang ke kampungnya Rival di Kota G. Inilah saatnya Rival dan Mely bisa meluangkan waktunya.
Mely yang sudah wisuda dua minggu yang lalu, selalu merengek kepada Rival untuk ditemani mendaki Gunung Sibayak. Entahlah gejolak untuk mendaki gunung atau berkemah semakin membuncah dihatinya.
Rival bener-bener tidak ingin melakukan permintaan Mely itu. Karena Dia sangat sibuk. Begitu banyaknya pekerjaan yang harus ditangani oleh Rival. Apalagi mereka sudah membuka cabang usaha mereka di kota G.
Sehingga Rival menawarkan kepada Mely untuk pulang kampung saja. Apalagi Rival juga sangat rindu kepada keluarga di kampung. Dia juga bisa mengunjungi usaha mereka yang baru di Kota itu.
Awalnya Mely menolak, karena Dia ingin naik gunung. Tapi, Rival pun akhirnya bisa meyakinkan Mely. Bahwa Dia akan mengajak istrinya itu ke suatu tempat yang indah di kampungnya. Perjalanan menuju air terjun, yang belum dijamah manusia.
"Kita istirahat dulu ya Dek. Ini sudah larut malam. Biar Bi Ani saja besok shubuh-shubuh yang mempacking nya lagi." Ucap Rival menguap sambil membaringkan tubuhnya di ranjang empuk mereka. Penampilan Rival mau tidur tidak berubah, masih lebih sering mengenakan sarung dan kaos polos.
"Abang kenapa sih, sebulan terakhir ini gampang lelah. Terus suka muntah lagi." Ucap Mely penuh dengan khawatirnya. Dia pun memijat-mijat punggung Rival yang masih ditutupi kaosnya itu. Walau Rival tidak pernah meminta dipijat, Mely selalu berinisiatif memijat suaminya itu. Walau akhirnya pijatan Mely merambat ke bagian-bagian terlarang yang membuat birahi Rival tersulut.
"Abang masuk angin ini." Mely masih memijat punggung dan perut Rival. Tentunya kalau Mely sudah memijat-mijat perut Rival, Mely pun akan mendudukkan tubuhnya di atas perut Rival. Kemudian Mely akan memijat dada Rival yang bidang. Tentunya Dia selalu memainkan Pu#ting Rival yang dihiasi bulu-bulu halus itu.
"Sudah sayang, turun...!" seru Rival meminta istrinya itu turun dari perut sixpack nya. Dia berniat tidur, beda lagi dengan Mely malah ingin bercocok tanam dengan suaminya.
"Adek pingin," Ucapnya genit, belum mau turun dari perut Rival. Kening Rival menyergit, matanya dibuka satu untuk melihat ekspresi wajah istrinya yang menggoda di atas Tubuhnya.
"Apa Adek tidak bosan, tadi pagi juga bercocok tanam. Siang tadi juga Adek datang ke kantor minta itu dan sekarang pingin lagi?" ucap Rival malas, Dia sungguh heran dengan tingkah istrinya itu sebulan ini. Seolah tidak ada bosannya. Bahkan sikap Mely juga semakin manja saja.
__ADS_1
TBC