Misteri Jodoh (Janda Tapi Perawan )

Misteri Jodoh (Janda Tapi Perawan )
Season 2 orang tua Mely pulang


__ADS_3

"Aauuwww...!" pekik Mely karena terkejut. Tangannya langsung berpegangan ke badan Bed tempat Rival berbaring. Tapi, karena Dia tidak memegang badan Bed itu dengan kuat. Akhirnya Mely jatuh terduduk di lantai dengan kaki terbuka.


Karena pendaratan bokongnya yang tidak bagus, sehingga pinggangnya terasa sakit, yang menjalar ke perutnya. Dia langsung memegangi perutnya yang terasa sakit itu. Dia meringis kesakitan. Menatap suaminya, yang juga terkejut melihat nya jatuh.


Rival yang tidak sengaja mendorong Mely, tidak sanggup untuk membantu Mely bangkit. Karena Dia juga terkejut dengan apa yang dilakukannya. Sehingga Dia mematung, menatap istrinya itu yang mencoba untuk bangkit.


Sakitnya jatuh terduduk di lantai, tidak sebanding dengan sakitnya sikap dinginnya Rival kepadanya. Dengan berurai air mata, Mely berjalan pelan menuju kamar mandi. Dia ingin memeriksa organ repro*duksinya.


Di dalam kamar mandi Mely menangis tersedu-sedu, menyumpal mulutnya dengan telapak tangannya. Dia bahkan menggigit jemarinya, melampiaskan rasa sakit dan sesak yang dirasakannya di dalam dada nya.


Puas menangis, Mely pun memeriksa bagian bawahnya. Dia menghela napas lega. Tidak ada cairan atau darah yang keluar. "Mama sangat yakin, anak Mama anak yang kuat." Ucapnya lirih, masih berderai air mata sambil mengelus perutnya yang belum nampak membuncit itu.


Tok tok tok...


Suara ketukan pintu kamar mandi bersamaan terdengar dengan suara Rival yang memanggil-manggil Istrinya itu. Sesaat Mely enggan keluar, Dia masih ingin menenangkan dirinya. Tapi, Rival yang tidak sabaran itu selalu menggedor-gedor pintu kamar mandi. Membuat Mely membuka pintu kamar mandi itu. Setelah Dia membasuh wajahnya di wastafel dan melapnya dengan handuk kecil yang tergantung di dekat wastafel.


"Adek tidak kenapa-kenapa kan? anak kit.... eehh... maksud Abang, mereka baik-baik saja kan? Adek baik-baik saja kan?" ucap Rival berdiri dengan tubuh bergetar, karena merasa bersalah dan ketakutan. Bahkan bibir Rival juga ikut bergetar saat bicara.


"Anak kita baik-baik saja." Ucap Mely datar, dan berjalan meminggir meninggalkan Rival yang masih mematung di ambang pintu kamar mandi itu.


Mely membaringkan tubuhnya di bed yang ada di ruang itu. Bed itu khusus untuk keluarga pasien. Dia baru merasa sakit disekujur tubuhnya. Mungkin karena, Dia kurang istrirahat. Sepertinya memang Suaminya itu sedang tidak baik-baik saja. Lebih baik Dia istirahat, agar kesehatannya juga tidak terganggu.


Rival berjalan dengan pelannya, menuju bed nya. Tanpa harus menanyakan kembali keadaan istrinya itu. Dia takut banyak bertanya kepada Mely. Karena sudah jelas, bahwa sebenarnya Mely sudah sangat kesal.


Pasangan suami istri itu, terlelap hingga Dokter dan perawat masuk ke ruangan mereka untuk memeriksa Rival di pagi hari. Rival yang biasanya akan terbangun disaat waktu shubuh tiba, nyatanya tidak terbangun. Karena, Dia kembali tidur setelah bersiteru dengan Istri nya itu, menjelang waktu shubuh tiba.


"Abang,..."


"Abang Rival.....,!" seorang perawat membangunkan Rival dengan menepuk pelan lengannya.

__ADS_1


Rival mencoba membuka kedua kelopak matanya yang terasa sangat berat, karena mekantuk.


"Iya Dok," ucap nya dengan tatapan nanar kepada Pak Dokter dan Perawat yang bediri di sebelahnya.


"Kita cek dulu ya kesehatan Abang." Ucap Dokter ramah. Perawat pun mulai memeriksa tekanan darah dan suhu tubuh nya Rival.


"Bagus Dok." Ucap Perawat berjenis kelamin wanita. Menoleh ke arah Dokter Fahri, kemudian mengalihkan pandangan nya ke arah Rival dengan tersenyum.


"Abang lakukan kan, yang saya katakan semalam?" ucap Dokter Fahri menatap lekat ke wajah Rival yang pucat. Rival mengangguk.


Mendengar suara orang bicara, akhirnya pun Mely terbangun. Dia cepat-cepat turun dari Bed dan menghampiri Rival yang diperiksa oleh Dokter.


"Bagaimana keadaan suami saya Dok?" ucapnya penuh ke khawatiran, berdiri di dekat bed Rival. Tepatnya di kaki Rival. Dia pun menatap suaminya itu. Yang kini menatap Dokter.


"Abang Rival sudah baikan, seperti yang saya bilang tadi ya Abang Rival. Jangan banyak pikiran, rileks aja." Ucap Dokter menatap Rival kemudian beralih menatap Mely.


"Syukurlah," ucap Mely masih menatap Rival yang seolah enggan menatapnya.


"Ada dua Dek Mely. Kebetulan Dokter senior ada hari ini. Apa Adek Mely sedang mengandung?" tanya Dokter Fahri, menatap ke arah perutnya Mely.


"Iya Dok, saya ingin periksa kan kandungan. Tadi shubuh saya terjatuh." Ucapnya menoleh ke arah Rival dengan mata berkaca-kaca. Rival menunduk, tidak berani menatap istrinya itu. Yang seolah, menyalahkannya.


Perawat yang berjenis kelamin wanita yang menemani Dokter Fahri, berjalan mendekat ke arah Mely.


"Iya Dek, harus diperiksa. Takutnya kandunganmu kenapa-kenapa." Ucap Perawat itu, memegang bahu Mely yang sudah menitikkan air mata. Entah kenapa Dia jadi gampang menangis. Apa mungkin karena mengandung, atau karena sikap Rival yang dingin kepadanya.


"Iya Sus." Jawabnya lirih melap air Matanya dengan jemarinya.


"Pak Rival harus cepat sembuh, buang pikiran yang bisa merusak kesehatan. Bapak harus jadi suami siaga. Istri Bapak lagi hamil muda loh." Perawat perempuan itu, mendekat ke arah Rival yang masih Terbaring.

__ADS_1


"Iya Sus." Jawab Rival singkat. Dia mengutuk dirinya sendiri, yang telah mendorong istrinya yang tidak tahu apa-apa. Tidak seharusnya Dia bersikap dingin kepada Mely. Tapi, Dia tidak bisa kontak fisik dengan Adiknya sendiri.


"Jam delapan Ibu sudah bisa mendaftar." Ucap perawat tersenyum dan mereka pun meninggalkan ruangan itu.


Sepeninggalan nya Dokter dan perawat yang ramah itu. Suasana di kamar inap itu sedang mode hening. Keduanya sibuk dengan pikirannya masing-masing.


Hingga pintu ruangan itu diketok dari luar.


"Non Mely.... Ini Winda." Ucap Pembantu mereka, dan langsung nyelonong masuk.


"Iya Winda, apa kamu bawa semua yang saya katakan semalam?" tanya Meli menatap ART nya yang membawa tas yang berisi pakaian.


"Iya Non, ini semua keperluan Non dan Tuan muda." Ucapnya sopan, meletakkan tas itu di atas Bed tempat Mely tiduran.


Rival hanya melirik istrinya itu. Mengetahui Mely adalah saudaranya. Dia jadi merasa tidak nyaman sekali berkomunikasi dengan Mely.


"Winda, kamu dan Pak Budi belikan kita sarapan ya?" ucapnya memberi uang pecahan seratus ribu. Yang diambilnya dari dompetnya.


"Iya Non. Non, tadi nyonya besar menelpon ke rumah. Menanyakan tentang Non Mely. Katanya no ponsel Non Mely tidak bisa dihubungi." Ucap Winda, mengeluarkan pakaian Rival, untuk berganti.


"Iya sepertinya ponsel ku kehabisan daya baterai." Ucapnya mencari ponselnya di tas jinjingnya. Dia pun menemukan nya , benar saja ponselnya sudah padam.


"Apa kata Mama?" tanya Mely yang ikut, membantu Winda mengambil pakaian nya dari tas.


"Hanya menanyakan tentang Non, karena ponsel Non tidak bisa dihubungi. Jadi Aku bilang saja Non dan Tuan Rival di rumah sakit." Ucapnya menatap ke arah tuannya itu, yang sebenarnya sedang menguping pembicaraan istrinya itu.


"Lalu?" Mely juga kini menatap Rival, yang seolah kikuk melihatnya.


"Nyonya begitu khawatirnya. Pagi ini katanya mereka akan pulang ke Indonesia." Ucap Winda, Dia kini memasukkan tas dan pakaian Majikannya itu ke lemari yang ada di ruang itu.

__ADS_1


"Syukurlah Mama dan Ayah pulang juga." Ucapnya menghela napas dalam, mendudukkan tubuhnya di sisi bed. Dia menatap Rival yang kini membuang wajahnya ke luar jendela.


__ADS_2