
Abang tidak mengalihkan pembicaraan, tapi ucapanmu seperti lelucon saja. Pernikahan di kantor Polisi itu adalah sandiwara. Apa kamu tidak malu mengakui kamu istri Abang. Ingat ya, Abang sudah punya is…” Belum sempat Rival melanjutkan kata-katanya. Mely langsung menyambar bibir Rival, dengan ganasnya. Dia sampai memegangi kepala Rival agar tidak berontak.
Ciuman Mely benar-benar ingin menuntut, hingga Dia sampai menekan kepala Rival hingga kepala Rival mundur dan bersandar di headboard tempat tidur. Mely seolah candu untuk mencium bibir Rival yang kenyal. Rival yang tidak bisa bergerak bebas itu, karena memang kakinya masih sakit, tidak diam saja. Dia berontak mencoba menghentikan ciuman Mely. Tapi kedua tangan Mely yang merangkum wajah Rival dengan kuat membuatnya susah berontak. Bahkan Mely tidak memperdulikan ada suara pintu sedang dibuka.
Rival berusaha keras mendorong wajah Mely agar bibirnya dilepas. Mely pun akhirnya melepas pangutan bibirnya. Dia tersenyum puas melihat bibir Rival yang memerah karena aksi mesumnya itu. Sedangkan Rival sudah jantungan karena serangan Mely yang brutal itu disaksikan Mamanya Mely.
Jantung Rival berdetak cepat, keringat mulai muncul di keningnya disaat Mamanya Mely mendekat ke arah mereka. Sedangkan Mely menampilkan wajah biasa saja. Seolah kelakuan Dia itu tidak salah.
“Tante, ini bukan seperti yang tak tante lihat. Saya dan Mely, eehh maksudnya saya tidak ada niat untuk melecehkan Mely.” Rival merasa takut akan disalahkan, sehingga Dia langsung memberi pembelaan.
Mama Mely tersenyum kepada Rival. Ekspresi Mamanya Mely diluar perkiraan Rival. Dia berfikir Mamanya Mely akan memarahinya. Rival tidak tahu, bahwa Mamanya Mely sangat menginginkan Rival menjadi suami putrinya.
“Tidak apa-apa, Tante seneng koq. Kenapa Tante harus marah. Mely kan istrimu. Kamu tahu Nak Rival, tante sekarang bahagia sekali. Akhirnya dengan kamu di rumah ini. Mely jadi betah di rumah.” Ucap Tante Mely Dia mendudukkan bokongnya di sisi ranjang. Ucapan Tante Mely membuat Rival syok.
“Masalah apa lagi ini? Ya Allah.” Gumamnya dalam hati. Kenapa Mely jadi menyukainya, padahal saat ijab kabul di kantor polisi, Mely tidak suka mereka dinikahkan. Sedangkan mely wajahnya bersemu merah, mendengar ucapan Mamanya. Dia senang sekali, Dia berjanji akan jadi istri penurut dan akan membuat Rival melupakan istrinya.
“Jadi istri kedua Aku ridho Abang…” Teriak Mely dalam hati, sambil senyum-senyum melirik Rival. Rival hanya bisa memalingkan wajahnya dari dua wanita aneh menurutnya. Sudah tahu orang punya istri, malah putrinya masih disedorkan juga. Macem tidak ada pria lain di dunia ini. Begitulah pikiran Rival kira-kira.
“Sayang, mari keluar. Sepertinya Abang Rival mengantuk itu, habis minum obat.” Ucap Mama Mely. Dia merangkul Mely agar keluar dari kamar Rival. Saat Mely dan Mamanya diambang pintu mau keluar sempat-sempatnya Mely memberi kissbay kepada Rival dengan gaya centilnya. Tersenyum, mengedipkan mata, tapi Rival melihat lucunya. Akhirnya Dia tertawa dalam hati. Setelah pintu kamar ditutup. Rival merasa kesal, tapi Dia merasa terhibur juga. Dasar lelaki, walau hati berkata tidak, tapi hormonal kejantanannya bereaksi juga.
Setelah kepergian dua wanita aneh itu. Kini giliran Pak Ali yang masuk. Tentunya Pak Ali akan menanyakan keputusan Rival, tentang usulnya untuk menceraikan Rili.
Pak Ali langsung duduk di kursi yang tadi diduduki oleh Mely.
__ADS_1
“Bagaimana Nak, apa kamu sudah ambil keputusan?” tanya Pak Ali dengan mimik wajah yang serius menatap lekat wajah Rival. Rival lama terdiam, Dia sedang bimbang sekarang. Perkataan Pak Ali ada benarnya. Rili tidak mencintainya, saingannya pun sangat berat yaitu Yasir ditambah Ibu yang membesarkannya sudah memberi luka yang mendalam buat Rili. Apakah mengikuti saran Pak Ali adalah suatu keputusan yang tepat.
“Kenapa Ayah begitu peduli dengan hidupku, bahkan Ayah sudah ikut campur dalam urusan rumah tanggaku.” Rival menatap lekat wajah Pak Ali yang juga sedang menatapnya serius. Haruskah Pak Ali mengatakan kebenarannya. Bahwa Rival adalah putranya yang hilang 31 tahun yang lalu. Saat keluarga mereka melakukan piknik ke kampungnya Rival.
31 tahun yang lalu Pak Ali, istrinya dan Rival anak satu-satunya sedang berpiknik ke sebuah air terjun yang ada di kota G. Rival dan Pak Ali sedang menikmati sejuknya mandi dibawah air terjun, tanpa pengunjung ketahui ternyata di atas gunung sedang terjadi hujan lebat. Sehingga terjadilah banjir. Padahal cuaca disekitar sedang cerah. Saat itulah Rival hanyut dan tak terselamatkan. Pencairan pun dilakukan sampai berminggu-minggu. Tapi, jasad Rival tidak ketemu. Jadi disimpulkan pihak SARS Rival telah tewas dan tubuhnya hancur terbentur.
Kedua mata Pak Ali berkaca-kaca mengingat kejadian itu. Dia yang sudah mengikhlaskan bahwa putranya sudah tiada itu, tapi kini nyatanya berada dihadapannya.
“Sejujurnya ayah memikirkan Mely. Dia banyak berubah setelah mengenal kamu Nak. Jadi, keegoisan seorang Ayah berkata untuk kebahagiaan dan kebaikan putrinya. Ayah ingin, kamu serius dengan Mely. Tanpa ada ikatan lagi dengan istrimu.”
Rival memejamkan mata mendengar ucapan pria dihadapannya. Beginikah orang kaya, sesuka hatinya saja mau mengatur hidup orang lain. Tapi, Rival saat ini memang tidak berdaya. Kakinya yang belum bisa digerakkan, keadaan ini membuatnya lemah dan tidak bisa berbuat banyak. Haruskah Dia melepaskan Rili sat ini. Karena memang Rili tidak mencintainya.
“Nak Rival, akan lebih baik kamu yang duluan menceraikan Rili, sebelum Dia mengguggat kamu. Kamu sudah tiga bulan menelantarkannya. Biarkan Dia kembali kepada cintanya, dan kamu juga akan dapat gantinya. Kamu lihat Mely. Sepertinya Dia sangat menyukaimu.”Ucapan Pak Ali benar-benar bukan ucapan seorang orang tua yang bijak dipendengaran Rival. Walau memang kenyataanya benar semua.
Rival tidak menjawab lagi perkataan pria tua asing yang ikut campur dalam urusan rumah tangganya itu. Dia menatap lurus kedepan, dan tidak melihat ke arah Pak Ali. Perasaan Rival benar-benar kacau sat ini. Kalau Dia melepas Rili, mampukah Dia mencintai Mely. Secara Mely adalah wanita yang karakternya sama sekali tidak disukai Rival. Rival suka wanita yang berkarakter seperti Rili. Sopan, sabar dan baik.
Sementara Mely dan Mamanya yang sedang berada di dapur, menyiapkan makan malam sedang berbincang-bincang. Mereka membahas Rival.
“Mama tidak menyangka, kamu secepat itu suka sama Abang Rival?” Ucap Mama Mely yang sedang menyicipi kuah sup daging lembu.
“Entahlah Ma, Aku kagum sama Dia. Orangnya dewasa banget, sabar lagi. Sepertinya asyik punya suami seperti itu. Bisa di atur dan penurut.” Ucap Mely cekikikan yang sedang duduk dengan kaki menggantung di atas wastafel dapur.
“Kalau kamu sikapnya masih seperti ini, mana mau Dia samamu. Dudukmu saja tidak pada tempatnya. Sana kamu pindah duduk di kursi.” Mama Mely memang tidak tahu lagi bagaimana cara mendidik putrinya itu.
__ADS_1
“Satu lagi, kamu jangan salah menyimpulkan sikap Abang Rival. Dia baik belum tentu Dia mau kamu setir. Belum juga jadi bini, udah mau mendominasi.” Mama Mely benar-benar tidak percaya dengan cara berfikir putrinya itu.
“Dia belum suka denganmu. Jangan harap Dia akan mau menuruti keinginanmu sepeerti yang kamu lakukan kepada Ayahmu.” Mely hanya manggut-manggut mendengar ocehan Mamanya itu.
“Eehhmmm… sop nya enak banget ni Ma, seger dan gurih. Aku antar ke kamar Abang Rival ya?” pintanya dengan memelas.
“Terserah, tapi siapkan hatimu. Jika Dia mengabaikanmu ya Nak?!!! Ayo semangat…!” Mama Mely sampai mengangkat tangannya memberi semangat pada putrinya itu dengan tersenyum.
Lima menit kemudian Mely keluar dari kamar Rival dengan mata berkaca-kaca sambil memegangi sop yang dibawanya. Dia meletakkan sop itu di atas meja makan dengan kasar, hingga kuah sop muncrat membasahi taplak meja makan.
“Koq sedih?” tanya Mama Mely dengan penasarannya.
“Aku diusir Ma…!” ucap Mely dengan ehitu kesalnya sambil mengencangkan tangisannya, sehingga Ayahnya yang baru keluar dari kamar begitu penasaran, kenapa putrinya itu menangis.
“Ada apa Ma? Kenapa Mely menangis?” Pak Ali nampak begitu mengkhawatirkan putrinya itu.
“Mely kena usir Rival dari kamar Ayah.” Ucap Mely, Dia memeluk Ayahnya sambil melap air mata dan ingusnya di baju Ayahnya itu.
“Kamu itu kualat Mely. Belum juga jadi istri, kamu sudah membayangkan untuk menyetir Rival.” Ucap Mama Mely sambil tertawa puas. Dia merasa tingkah putrinya itu sangat lucu.
“Sudah kamu berdoa saja malam ini. Semoga abang Rivalmu, membuka hatinya untukmu. Kamu sudah bisa sholat kan?” Mely mengangguk masih memeluk ayahnya.
TBC.
__ADS_1
Mampir ke novelku yang lagi hangat dn seru yang berjudul
Dipaksa Menikahi PAriban