
Sejak Rival dirawat di rumah Pak Ali. Mely jadi betah di rumah. Biasanya habis pulang dari kampus, pasti Dia keluyuran dengan teman-teman satu gengnya. Tapi, dua Minggu terakhir ini Dia selalu di rumah, walau tidak setiap jam berada di samping Rival.
Kejadian di saat Mely menabrak Rival, membuatnya sadar. Bahwa hidup itu tidak boleh dibuat hanya untuk hura-hura. Sebagai manusia, kita di dunia hanya merantau, kampung halaman kita adalah Akhirat. Jadi, kita harus banyak-banyak melakukan hal yang baik. Melaksanakan perintah NYA dan menjauhi larangan NYA. Itulah sebagian ceramah Rival kepada Mely, disaat Mely selesai menyetor hapalan surohnya. Rival juga mengajari Mely untuk melaksanakan sholat. Walau Rival mengajarinya masih dalam keadaan berbaring.
Anehnya Mely menurut saja apa yang disuruh Rival, hal itulah yang membuat Mamanya Mely senang dan Dia tidak akan memisahkan Mely dengan Rival.
Keesokan harinya Pak Ali pun pulang ke rumah, sebenarnya Pak Ali pergi ke kota G. Tempat tinggal Rival. Dia menemui orang tua yang membesarkan Rival.
Pak Ali juga membebaskan Ibunya Rival dari penjara. Dia juga menyelidiki kehidupan Rili dan Rival sejak menikah di kampung. Bahkan Pak Ali tahu, bahwa Rival belum menyentuh Rili. Ada rasa kasihan mendalam di hati Pak Ali mengetahui fakta, bahwa putranya begitu menderita mulai dari kecil sampai sekarang. Sehingga Dia pun mengambil keputusan yang salah, yang akhirnya Rival akan membencinya.
Ceklek... Nampak Pak Ali memasuki kamar Rival. Pria tua itu tersenyum ke arah Rival dan duduk di kursi yang ada di sisi ranjang.
"Bagaimana kabarmu nak?" tanya Pak Ali dengan terseyum, tangannya nampak memegang sebuah amplop.
"Alhamdulillah sudah lebih baik Ayah. Sepertinya Aku sudah bisa untuk berdiri." Ucap Rival dengan terseyum pula.
"Syukurlah, jangan dipaksain dulu. Tulangnya belum menyatu itu." Ucap Pak Ali dan kini Dia meletakkan amplop besar itu di dekat Rival dengan perasaan takut. Jantungnya berdebar, Dia sedang tidak percaya diri dengan apa yang akan dilakukannya.
"Apa itu Ayah?" tanya Rival dengan sedikit penasaran. Pak Ali meminta Rival memanggilnya Ayah. Walau sebenarnya Pak Ali belum memberitahu bahwa Rival adalah putranya.
"Berjanjilah untuk tenang dan sabar, karena ada hal yang ingin Ayah sampaikan yang bisa mengguncang hatimu." Ucapan Pak Ali benar-benar membuat Rival harap-harap cemas. Itu jelas terlihat dari mimik wajahnya yang begitu penasaran.
"Iya Ayah." Jawab Rival datar. Walau hatinya sedang menduga-duga.
Selama dua hari ini Ayah ke kota G. Ada rapat tentang perpanjangan perjanjian kerja sama dengan perusahaan Kurnia Group." Ucap Ayahnya tenang. Ucapan Ayahnya itu membuat Rival terkejut, itukan perusahaannya Yasir.
__ADS_1
"Setelah urusan Ayah selesai, Ayah mencari alamat Nak Rival dikampung. Ternyata dekat juga dengan perusahaan besar itu. Ayah berkunjung ke rumah orang tua mu nak." Ucap Pak Ali dengan mata berkaca-kaca. Dia sangat kasihan melihat putranya yang selama ini menurutnya menderita.
Mendengar ucapan Pak Ali membuat Rival antusias. Dia ingin mencoba duduk. Karena cerita Pak Ali benar-benar menggugahnya. Dia tidak sabar untuk mendengar kabar Ayahnya dan Ibunya yang sedang dipenjara.
"Ayah jadi tahu semua tentangmu. Ayah juga sudah bebaskan Ibu mu." Ucap Pak Ali dengan menahan sesak di dada. Dia tidak sanggup mengatakan bahwa Rival adalah putranya. Dia takut Rival salah paham. Padahal Rival belum sembuh total.
"Kenapa Ayah begitu baik kepadaku?" Rival juga ikut meneteskan air mata.
"Karena kamu juga baik." Ucap Pak Ali.
"Bagaimana keadaan Ayah saya di kampung Ayah?" ucap Rival dengan sendunya. Karena ponselnya hilang, Dia juga tidak hapal no hape keluarganya di kampung. Sehingga Dia tidak pernah menghubungi nya.
"Ayahmu sudah mulai baikan, tapi namanya sudah tua, nampak tidak bertenaga lagi." Jawab Pak Ali. Rival mengangguk, Dia merasa bersalah tidak bisa merawat Ayahnya.
"Bertemu." Ucap Pak Ali. Padahal yang datang saat rapat adalah Ayahnya Yasir. Yasir kan sudah di Australia. Rival mikirnya Yasir pasti sering berjumpa dengan Rili.
"Ooohh...!" ucap Rival. Jawaban Rival semakin menambah keyakinan Pak Ali, bahwa Rival tahu bahwa istrinya ada main dengan Yasir. Karena detektif yang disuruh Pak Ali mencari informasi mengenai Rili. Mengatakan bahwa Rili dan seorang pria memasuki Hotel. Dimana pria itu adalah pemilik Hotel yaitu Yasir.
Jadi Pak Ali menyimpulkan rumah tangga Rival tidak beres. Sehingga Dia akan memisahkan Rili dan Rival. Dia akan menjauhkan anaknya dari kehidupan yang membuatnya menderita. Punya istri, tapi tidak mencintainya untuk apa dilanjutkan pernikahan seperti itu. Begitulah kira-kira pemikiran Pak Ali.
"Nak, i...ni ada berkas yang harus kamu tanda tangani." Ucap Pak Ali dengan sedikit gugup. Karena Dia tahu yang dilakukannya ini adalah salah.
"Apa ini Ayah?" tanya Rival dengan penasaran.
"Bukalah Nak, baca bagus-bagus dan tenangkan hatimu." Ucap Pak Ali mewanti-wanti, Rival agar tenang.
__ADS_1
Rival pun membuka amplop itu dengan debaran jantung yang cepat. Hatinya bilang, isi amplop ini akan memporak porandakan hatinya.
Tangan Rival bergetar membaca isi dokumen-dokumen itu semua. Matanya melotot penuh membaca semua tulisan yang ada di atas kertas itu.
"Apa maksudnya ini Ayah?" ucap Rival dengan mata berkaca-kaca. Dia meletakkan dokumen itu disebelah Pak Ali.
"Maaf Nak, kalau Ayah lancang. Ayah hanya membantumu keluar dari masalah yang tidak bisa kamu pecahkan sendiri." Pak Ali menghentikan ucapannya. Dia melihat Rival tidak terima dengan isi surat itu semua.
"Aku tidak mau menceraikannya Ayah. Aku sangat mencintainya." Ucap Rival, air mata nampak keluar dari sudut matanya, dan air mata itu sampai membasahi telinganya, saking banyaknya.
"Ayah sudah menyelidiki semuanya tentangmu Nak. Bahkan, Ayah sudah tahu bahwa kamu bukan anak orang tuamu yang di kampung. Ayah juga tahu, istrimu tidak menginginkan menikah denganmu. Karena istrimu mencintai orang lain." Ucap Pak Ali, Dia juga ikut menangis tanpa isakan. Dia sangat kasihan melihat putranya yang ternyata begitu menderita. Dia harus mengeluarkan Rival dari penderitaan itu.
"Tapi, Aku mencintainya Ayah." Ucap Rival dan Dia mulai menyeka matanya, air matanya sudah mulai mengganggu penglihatannya.
Pak Ali menggenggam tangan Rival. "Untuk apa mempertahankan wanita yang tidak mencintai kita. Itu rasanya pasti sangat menyakitkan. Kamu harus bisa melupakannya. Lagian kamu sekarang dalam kondisi yang tidak sehat. Belum tentu Dia mau menerima mu dengan kondisi seperti ini. Sainganmu berat Nak." Ucapan Pak Ali benar-benar menusuk ke jantung. Yang dikatakan Pak Ali memang benar adanya. Tapi, Rival masih mau bersama Rili.
"Aku tidak mau menceraikannya." Rival melempar berkas yang tergeletak di
sebelahnya. Kalakuan Rival yang ekstrim itu membuat Pak Ali syok.
TBC.
Mampir juga ke novel ku yang berjudul
Dipaksa menikahi Pariban
__ADS_1