
Indahnya pemandangan di sawah membuat pikiran Rili sedikit tenang, walau Dia masih membonceng Bou nya yang sangat menyebalkan itu.
"Turun di sini saja, ini sawah tempat kita mengais rezeki. Nanti sore jemput Bou lagi ya!" ucap ibu mertua Rili dengan mengibaskan tangannya memerintah Rili untuk pulang.
"Iya Bou," ucap Rili dengan gugup dan tersenyum.
Rili mengayuh sepeda batangnya. Setelah sedikit jauh dari sawah Ibu mertuanya, Rili berhenti dia memarkirkan sepedanya dipinggir jalan. Dia pun mendudukkan bokongnya di atas rumput-rumput yang ada dipinggir jalan.
Para petani menanam padi. Burung burung berkicau merdu. Rili menutup mata, membentangkan kedua tangan lebar, tenang, damai, sejuk, dan riang, bagai angin yang melayang di atas.
Hamparan hijau yang luas.Tetesan butiran embun yang sejuk. Menghias dan melekat
Kilau mutiara terbiaskan. Inilah suasana alam pagi di sawah. Matapun terasa manja oleh keindahan.Terpaku tak pernah lelah menatapnya membasuh kepenatan.
Udara sejuk mengisi rongga dada. Napas segar hati damai. Indahnya kedamaian ini.
Sambil menatap hamparan luas sawah yang menyejukkan mata, tak membuat hati Rili sejuk.
Kilas balik kisah hidupnya terlintas lagi. Dia tidak mengharapkan suami kaya raya. Dia hanya ingin punya kehidupan yang tentram dan penuh cinta dan kasih sayang.
Suaminya Rival harusnya masuk dalam kategorinya. Tapi, karena mendapati mertua yang membencinya, sehingga Dia enggan untuk membuka hati untuk Rival.
Mungkin kalau Ibu mertuanya baik dan menyanyangi, Dia pasti mudah menerima Rival dihatinya.
Air mata jatuh dipipi putihnya. Dia menangis dalam diam. Yasir pria yang sangat dicintainya meninggalkannya begitu saja, tanpa ada kabar.
Dia menikah dengan Pria yang tidak dicintainya dan punya mertua yang nauzubillah galaknya minta ampun.
Dia menyeka air matanya dengan tangannya. Tapi, air mata itu terus saja membanjiri wajahnya.
"Bu... Ibu...! Inikah kebahagian yang akan ku dapat apabila menikah dengan Abang Rival. Ibu bilang Aku akan bahagia. Aku tersiksa Bu!" gumamnya dalam hati.
Dalam kehidupan Rumah tangga selalu saja ada cobaaan. Kalau suami baik, maka kadang Ini mertua tidak baik, atau ipar. Atau sebaliknya. Kita dapat suami yang tidak bertanggung jawab, tapi punya mertua yang baik.
Suami baik, mertua baik, adik ipar semua baik. Bisa saja rezeki pas-pasan. Intinya semua harus disyukuri. Karena hidup ini tidak selamanya mulus.
Setelah merasa lega, maka Rili pulang ke rumah. Ya, jarak sawah ke Rumah hanya 2km.
Sampai Di rumah Rili berbaring di atas tempat tidur. Dia ingin menghubungi Ibunya.
Tut....Tut...Tut...
Panggilan pertama langsung tersambung.
"Assalamualaikum ma, Mama apa kabarnya?" ucap Rili dengan mata berkaca-kaca. Dia ingin menangis sejadi-jadinya. Mencurahkan semua rasa sakit yang dialaminya di kampung ini.
"Walaikumsalam...Ibu dan Ayah sehat nak. Kenapa dengan suaramu nak? kenapa seperti sedang menangis?" tanya Ibu Rili dengan begitu penasaran.
"Tidak apa-apa Ma. Rili kangen sama Mama dan Ayah, makanya Rili menangis." Ucap Rili. ya, Benar Dia merindukan orang tuanya. Tapi alasan Dia pertama menangis bukan karena merindukan orang tuanya, tapi karena mertuanya yang selalu membuat Rili jantungan.
"Sabar nak, kan hanya 3 Minggu disana. Ibu mertua dan Ayah mertuamu mana nak? Ibu ingin bicara. Apalagi sama Ibu mertuamu. Ibu kan belum pernah ngomong. Meraka pasti baik-baik samamu kan nak? seperti baiknya Nak Rival kan?" tanya Ibunya dengan beruntun dengan intonasi yang begitu senang.
Rili diam, Dia tidak menjawab pertanyaan Mamanya. Mana mungkin Dia bercerita kalau mertuanya seperti Mak lampir.
"Nak,"
"Oohh iiiiyaa Ma" ucap Rili dengan gugupnya.
"Mana mertuamu?"
"Ayah ke kebun Bu, dan Ibu mertua ke sawah?" jawab Rili cepat.
"Nak Rival mana nak?"
"Abang Rival sudah pergi kerja Ma." Jawab Rili yang masih dalam keadaan berbaring di atas tempat tidurnya.
"Ya ampun, menantu mama rajin benar. Baru dua hari menikah udah langsung bekerja. Mama yakin nak, Nak Rival pasti bisa membahagiakanmu." Ucap mamanya Rili dengan tersenyum. Walau tidak nampak senyuman mamanya itu, jelas sekali dari suara mamanya Rili, kalau saat ini mamanya senyum-senyum saat bertelepon dengan putrinya.
Rili diam saja mendengar ucapan Mama nya itu. Seandainya Mamanya tahu bagaimana penderitaan Rili, reaksi Mama Rili bagaimana ya? Mungkin mamanya akan merasa bersalah karena memaksa Rili menikah dengan Rival.
"Oh ya nak, semalamkan Mama bertelepon dengan Nak Rival. Apa ada sesuatu yang dikatakan Nak Rival?"
__ADS_1
"Gak ada ma."
"Ooohhh syukurlah. Selamat....Selamat
...!" ucap Mamanya dengan mengelus dada.
"Emang ada apa Ma? koq mama nampak takut gitu?" tanya Rili.
"Gak apa-apa nak, oh ya Mama matikan Telpon ya. Mama lupa ada janji dengan Tante Mirna. Mama mau ke rumahnya jam 11."
"Kamu baik-baik disana ya, pandai-pandai ambil hati mertuamu. Ibu tutup, Assalamualaikum..!" Mama Rili langsung mematikan Telponnya. sedangkan Rili dibuat tercengang dengan sikap mamanya yang seolah-olah menutupi sesuatu.
Setelah bertelepon dengan Mama nya, Rili masih berbaring telentang di atas tempat tidurnya. Dia menatap langit-langit kamarnya yang berwarna putih.
Tok....tok...tok...
Suara orang yang begitu ramai terdengar dari luar. Suaranya seperti anak-anak gadis yang jumlahnya lebih dari satu.
"Assalamualaikum.... kak! Kak..... Kak Rili....
assalamualaikum...!" Suara itu terdengar sangat mengganggu karena yang mengucap salam itu berteriak-teriak.
Rili keluar dari kamar dan membuka pintu depan. Betapa terkejutnya Dia mendapati ada 10 orang anak gadis sekitar umur 14-16 tahun sedang berdiri di depan Rumah dengan saling bersenggol-senggolan.
"Ada apa dek?" tanya Rili dengan begitu ramahnya. Dia memberikan senyuman yang begitu manis yang membuat anak gadis kampung tersebut tercengang.
"Ya ampun,... Istri Abang Rival cantik banget, Tinggi langsing, putih, matanya agak sedikit sipit gitu. Seperti artis Korea yang kita tonton di rumah si Rani itu kan?" ucap gadis yang belum Rili ketahui namanya.
"Iya," jawab teman lainnya dengan serentak.
"Kak kami masuk ya?"
"Oohh iya.. ayok masuk!" ucap Rili.
Anak-anak gadis itu nampak sedang mencari-mencari sesuatu.
"Duduk aja dulu, kenapa kalian mondar-mandir?" tanya Rili.
"Kamar kakak mana?" ucap salah satu anak gadis.
"Kamu mau mengambil make up kakak. Kami mau memakainya."
"Emang kalian mau kemana? koq mau ber make up. Ini baru jam 11. Emang kalian tidak sekolah?" tanya Rili kepada 10 anak gadis tersebut yang kini sudah nampak duduk di lantai di ruang keluarga Rumah Rival.
"Kami udah pulang kak, pulang cepat karena ujian Semester."
"Oohh!" jawab Rili.
"Ambilkan make up kakak. Kalau gak nanti kami obrak Abrik kamar kakak loh!"
"Kamu namanya siapa?" tanya Rili.
"Namaku Rina."
"Baiklah Rina, tunggu kalian disini. Akan kak ambilkan." Ucap Rili dan masuk ke kamarnya mengambil perlengkapan make up nya.
Begitulah kebiasaan dikampung Rival, jika ada pengantin baru. Maka anak gadis dikampung setempat, akan datang mendatangi pengantin wanita dan menghabiskan make up nya.
Rili memberikan alat make up nya.
Anak gadis yang berjumlah 10 tersebut dibuat bingung. karena mereka melihat makeup Rili bagus. Beda sekali dengan make up pengantin lainnya yang pernah datang dikampung itu.
Karena kebiasaan gadis kampung harus memakai make up pengantin baru, maka biasanya keluarga pengantin pria akan membelikan make up yang murah dan diberikan kepada gadis-gadis yang datang untuk make up.
Rival sebenarnya sudah membelinya, tapi tadi pagi Dia lupa memberikannya Karena insiden tidak enak saat makan pagi.
"Koq begini bedaknya kak. Ini pasti mahal ya?" tanya Rina.
Rili diam saja. Entah kenapa kedatangan gadis-gadis itu membuat Dia sedikit bahagia. Dia merasa anak-anak gadis itu seperti sebuah hiburan.
"Kalian tidak bisa menggunakannya ya?" tanya Rili dengan tersenyum.
"Iya kak." Jawab mereka dengan serentak.
__ADS_1
"Baiklah, kakak akan make over kalian." Ucap Rili dengan begitu semangat.
" Apa itu make over?"
"Nanti kalian juga pasti tahu. Sini siapa yang duluan kak make over?" tanya Rili dengan tersenyum.
"Aku kak. Aku kak!" semuanya berebut minta duluan di make up.
Setelah hampir Dua jam, maka wajah-wajah anak gadis kampung yang tadinya kusam, sekarang nampak glowy karena make up Rili memang yang kwalitas bagus.
"Ya ampun kak, kami tidak mengenal wajah kami lagi." Ucap anak-anak gadis tersebut.
"Iya, kalian memang cantik-cantik." Ucap Rili ramah.
Ting....
Satu SMS masuk ke handphone Rili. Dia membukanya. Ternyata suaminya mengirimnya SMS.
"Jangan lupa makan dan sholat ya Dek!"
"Iya Bang!" balas Rili cepat.
"Kak, kami senang banget kenal sama kak. Kita jadi teman ya kak. Kak tidak usah sungkan meminta tolong sama kami ya!" ucap Rina.
Rili mengacungkan jempolnya.
"Kami pamit ya kak, Assalamualaikum!" ucap mereka secara bersamaan dengan hebohnya saat berjalan memuji hasil make up di wajah mereka masing-masing.
Setelah anak-anak gadis kampung tersebut pulang, Rili pergi berwudhu ke kamar mandi umum. Kemudian Dia sholat di Mesjid. Setelah sholat Dia makan sendirian di dapur.
Setelah makan, Dia mencuci piring kotor, beres-beres rumah. Dan dia akan nongkrong di bale-bale, untuk menunggu tukang along-along datang. Dia ingin belanja. Rencananya Dia akan memasak ayam semur, ikan sambal dan tumis kangkung.
Tapi, Rili teringat Windi. Jadi Dia masuk lagi ke kamar dan melakukan panggilan suara dengan sahabatnya itu. Karena masih waktu istirahat Windi pasti mengangkat telponnya. Benar saja baru satu kali panggilan teleponpun tersambung.
"Rili.... pa kabar mu?" ucap Windi begitu hebohnya.
"Bukannya ucap salam dulu, kamu koq histeris gitu." Ucap Rili ketus.
"Eehhmmmm... yang udah belah duren, koq jadi cepat marah." Ucap Windi.
"Baiklah... Assalamualaikum Rili?" ucap Windi nampak mengolok-olok Rili.
"Walaikumsalam Windi sahabatku yang baik hati. Aku sangat merindukanmu?" Ucap Rili gemes.
"Kamu kenapa tidak pernah hubungi aku? Telpon kek, SMS kek?" tanya Rili dengan nada cemberut.
"Hahahaha.... Mana berani Aku gangguin pengantin baru. Nanti pas kalian lagi asyik, aku nelpon mengganggu lagi." Ucap Windi ketawa.
"Mana ada begitu ya!" ucap Rili.
"Maksudnya,maksudmu kalian belum kuda-kudaan?" tanya Windi kepo.
"Itu pertanyaan apaan coba? Ya kalau sudah menikah pasti udahlah." Jawab Rili bohong.
"Ooohhh... ku pikir belum jebol." Ucap Windi.
Rili diam saja. Dia malas bahas Masalah malam pertama.
"Apa Cincin dan gelangnya sudah kamu berikan kepada Abang Yusuf?" tanya Rili dengan sedikit hati-hati.
"Oohh itu, Iya. Aku sudah memberikan langsung kepada Orangnya?" jawab Windi.
"Apa? Orangnya? Apa maksudnya kamu berikan cincin dan gelangnya langsung kepada Abang Yasir?
"Apa Dia datang mencariku? benar kamu sudah ketemu dengannya? Kalian bicara apa saja? Apa Abang Yasir menanyakan banyak hal kepadamu tentang diriku?" Ucap Rili dengan beruntun.
Windi gelagapan mendengar pertanyaan Rili.
Bersambung..
Mohon beri like, coment positif, vote, rate bintang 5 dan jadikan novel ini sebagai favorit.
Author akan sangat senang dan semangat menulis jika dapat Vote.
__ADS_1
Terima kasih