
Firman tidak tega mendengar teriakan Mely. Dia berusaha untuk bangkit, tapi usahanya tetap gagal. Karena tubuhnya sudah remuk. Tapi Dia tidak tinggal diam. Dia masih terus berusaha untuk menolong Mely. Dengan merayap di lantai tanah gubuk itu.
"Ucok.... berani kamu lakukan perbuatan keji itu. Kamu tidak akan ku maaf kan...!" teriak Firman, Dia semakin mempercepat gerakan merayap nya, sambil menahan rasa sakit disekujur tubuhnya. Entah kenapa Firman merasa sangat kasihan kepada Mely dan Dia sungguh tidak tega melihatnya.
Ucok tertawa, Dia berdiri masih di dekat tubuh Mely. "Apa yang bisa kamu lakukan untuk mencegahku, katakan?" ucap Ucok dengan bangganya, Dia menyepelekan Firman yang sudah tidak berdaya itu. Sementara Mely terus berusaha menjauh dari Ucok sambil menangis tersedu-sedu.
Melihat Mely bergerak menjauh dengan menggerakkan bokongnya. Ucok kembali tertawa. "Ini akan menjadi tontonan yang menarik untuk mu Firman." Ucap Ucok sambil mengencangkan tawa gila nya. Dia pun menarik kaki Mely yang masih terikat itu.
"Aku akan buka tali yang mengikat kaki mu ini sayang, agar kita bisa melakukannya dengan leluasa." Ucapnya menyeringai. Ucok benar-benar melepaskan kedua kaki Mely dari ikatan tali.
Saat ini Mely merasa hidupnya akan hancur. Pertolongan tidak kunjung datang. Seandainya tangan dan kakinya tidak diikat, Dia pasti bisa membela dirinya dari Penjahat kelamin dihadapannya.
"Abang Rival......!" teriaknya sekuat-kuatnya. Yang membuat Si Ucok semakin menertawakan Mely.
"Ayo teriak lebih kencang lagi." Ucok sudah melepas tali yang mengikat kaki Mely. Ucok dengan tidak sabaran by mengungkung tubuh Mely. Yang membuat Mely ingin muntah.
Sungguh si Ucok, sangat bau. Ucok yang sedikit bodoh itu. Karena telah dikuasai pikiran kotornya. Sehingga Dia melepaskan kaki Mely dari ikatannya. Dia tidak tahu perbuatannya itu, malah membuat Mely bisa melawannya.
Dengan sekuat tenaga Mely menerjang tubuh Ucok. Saat Dia melakukan itu, sungguh tangannya yang terkilir rasanya sangat menyakitkan.
Ucok terhempas dari atas tubuh Mely. Dia tepat berada disebelah Firman.
Puuk.... Firman yang dari tadi memegang balok ditangannya dengan cepat menimpuk kepala Ucok dengan balok itu, sehingga Ucok merasakan sakit yang luaraur biasa. Dia geram sekali dengan Firman.
"Kau...!" Ucok memegangi kepalanya yang berdarah. Dia berdiri, menarik kuat balok dari Firman. setelah balok berpindah tangan kepadanya. Dia memukul dengan kerasnya kepala Firman. Yang membuat Firman terkapar tidak sadarkan diri. Sementara Mely yang ingin kabur dengan menahan sakit yang luar biasa di persendian lengan atasnya. Tangannya langsung menarik tangan Mely yang berusaha kabur itu.
__ADS_1
Dengan sekuat tenaga, Ucok menghempaskan tubuh Mely. sehingga tangannya yang masih terikat ke belakang punggungnya semakin sakait saja terasa.
"Berani sekali kau," Ucok menarik paksa tank top Mely, hingga terkoyak. Dia pun mernerkam tubuh Mely dan terdengar suara tembakan di luar gubuk.
"Kalian sudah terkepung. Cepat serahkan diri kalian." Ucap Pak Nainggolan dengan bantuan pengeras suara toa.
Mely yang merasa mendapat pertolongan itu berteriak. "Tol..ong....tolong Aku." Ucap Mely dengan tubuh bergetar. Itu jelas terlihat dari suaranya yang terbata-bata dan ketakutan.
Brakk... pintu yang terbuat dari papan yang mumuk itu langsung terlepas dari Engselnya. Dan terjatuh dihadapan Ucok. Disaat Rival menendangnya dengan sangat kuat.
Melihat Rival berada di ambang pintu. Mely sangat senang, Dia berlari ke arah Rival dmgan menahan sakit ditangannya. Tapi, Ucok menarik tangan Mely yang terikat itu dengan kuat. Dia pun mengambil pisau silet dari saku celananya. Dia menempatkan pisau itu di leher Mely.
Berani bergerak, ku gorok lehernya." Ucok semakin mendekatkan pisau tersebut ke leher Mely. Dia frustasi sekali. Kenapa aksinya selalu gagal.
Mely yang sudah sangat ketakutan itu, tidak henti-hentinya menangis. Tubuhnya bergetar hebat. Rival hendak melangkah, tapi Ucok semakin mendekatkan pisau ke leher Mely, dengan melangkah menjauhi Rival.
"Air apa ini?" Ucap Ucok, merasakan air hangat membasahi paha sampai betisnya. Saat itu juga si Ucok lengah. Sehingga Pak Polisi yang sudah mengepung tempat itu dari belakang. Langsung memukul kepala Ucok dengan balok dengan keras. Ucok tumbang, begitu juga dengan Mely yang tubuhnya langsung ditangkap Rival, Mely pingsan Dia pun sudah kencing di celana.
Jelas saja, sejak dari tadi Mely kebelet pipis. Dia selalu mencoba menahannya. Disaat merasa nyawanya terancam. Tanpa sadar Dia pun kencing di celana. Apalagi hawa di tempat itu sangat dingin.
Polisi langsung mengamankan Si Ucok, dan memapah Firman untuk turun ke bawah. Sedangkan Mely yang masih dalam dekapan Rival dalam keadaan pingsan. Langsung dihadiahi Rival dengan ciuman di wajah Mely Yang sangat pucat dan suhu tubuhnya sangat dingin. Dia merasa bersalah kepada istrinya itu. Mely yang bau Pesing pun tidak dipermasalahkannya.
"Pak Rival, Ayo berangkat." Ucap Pak Polisi yang membuat Rival tersadar. Dengan mata berkaca-kaca, Dia melepas ikatan tangan Mely. Dia melihat pergelangan tangan Mely sudah lecet, bahkan mengeluarkan darah.
"Maafkan Abang, yang tidak bisa menjagamu." Ucap Rival dengan begitu sedihnya. Dia merasa dadanya sesak, melihat keadaan Mely yang dres nya sudah terlelas dari tubuhnya.
__ADS_1
Rival menutupi tubuh Mely bagian atas dengan jaketnya. Dia pun membopong Mely menuruni perbukitan, karena mobil mereka sekarang berada di bawah.
Pak Polisi sudah sampai di bawah dan memasuki mobil. Sedangkan mobil Ucok, dikenderai oleh pihak berwajib.
Rival meletakkan pelan tubuh Mely yang bau Pesing itu. di bangku mobil di belakang jok Pak Supir. Dia pun duduk masih dengan perasaan tidak tenang, karena Mely pingsan. Dia mengangkat kepala Mely dan menempatkannya di atas pahanya.
Mobil pun melaju, Rival langsung menghubungi Ayahnya mengatakan Mely sudah ketemu. Dia juga mengatakan agar membawakan pakaian untuk Mely.
"Pak Rival bagaimana keadaan istri anda?" tanya Pak Polisi Nainggolan, yang duduk disebelah Pak Supir.
"Sepertinya memprihatinkan. Tolong Pak bawakan kami ke Rumah Sakit." Ucap Rival dengan tidak tenangnya.
"Baiklah Pak Rival." Jawab Pak Nainggolan. Tiba-tiba saja Pak Nainggolan mencium bau Pesing yang menyengat.
"Pantas bau nya sangat Pesing, ternyata kita sekarang melintasi perkebunan jengkol." Ucap Pak Nainggolan dengan sedikit perasaan tidak nyaman. Dia sampai menutup hidung nya dengan sapu tangannya.
Ya Pak Nainggolan tidak mengetahui kalau Mely kencing di celana. Tapi Pak Polisi yang duduk di jok belakang, mengetahui kejadian Mely yang kencing di celana itu.
"Maaf Pak Nainggolan, sepertinya bau Pesing itu berasal dari dalam mobil ini
Bukan dari luar." Ucap Rival dengan sedih dan sedikit malu. Dia kasihan kepada istrinya itu. Mely saking takutnya, sampai tidak bisa menyetel kran pengeluaran air seninya.
"Apa?" ucap Pak Nainggolan kaget. Rival diam dan memandangi wajah Mely yang masih pucat.
"Sedangkan Polisi yang berada di jok paling belakang ingin tertawa. Tapi Dia takut dosa.
__ADS_1
Like, coment, Vote ya kak 🙏🤗😍