Misteri Jodoh (Janda Tapi Perawan )

Misteri Jodoh (Janda Tapi Perawan )
Season 2 Abang serius


__ADS_3

Rival memijat lembut bahu Mely persendian antara tulang lengan atas dan bahunya. Dia mengembalikan posisi tulang lengan atas Mely.


"Sayang, apa pijatan Rival tidak sakit kamu rasa?" tanya Mamanya Mely dengan herannya. Kenapa putrinya itu tidak merasakan sakit. Padahal tadi saat Mamanya ingin memeluknya. Mely sudah mengasuh kesakitan.


Mely menoleh ke arah Mamanya yang pertanyaannya menurutnya aneh. Yang namanya terkilir ya sakit. "Sakit lah Ma, tapi tidak sesakit tadi. Mungkin obat pereda nyerinya sudah bereaksi." Ucap Mely tersenyum. Baru ini Dia mau bicara, setelah setengah jam Dia masuk ke ruang inap.


"Oohh.... kirain kamu tidak merasa sakit karena dipijat oleh Rival." Mama Mely melihat ke arah Rival yang tersenyum.


"Ma, Mely lapar banget." Ucap Mely.


"Oh Iya sayang. Ayah dan Mama akan cari makanan." Mama Mely meletakkan baju yang dibawanya dari penginapan ke lemari yang ada di ruangan inap itu. Dia pun dan Pak Ali keluar kamar, menuju parkiran.


Sepeninggalan orang tuanya Mely. Suasana canggung jelas terlihat diantara keduanya. Untuk kali ini Mely tidak berani menatap suaminya itu. Pandangannya tertunduk, dengan bibirnya melengkung sempurna membentuk senyuman yang indah yang bisa dilihat Rival. Walau Mely menunduk.


"Kalau sakit dibilang ya Dek." Ucap Rival masih dengan hati bahagia memijat bahu Mely itu. Mely Mengangguk.

__ADS_1


"Kenapa menunduk terus? tidak mau melihat wajah Abang?" tanya nya dengan tersenyum. Entah kenapa malam ini Rival melihat Mely begitu menggemaskan. Dia merasa tingkah Mely aneh tapi lucu.


"Bukan begitu, Aku malu pada diri sendiri. Mely kira Abang tidak peduli lagi sama Mely.". Ucapnya sendu, Dia pun menoleh ke arah Rival yang ada dihadapannya. Masih memijat bahu Mely.


"Jangan bahas lagi yang berlalu. Perlu Adek ketahui. Abang tidak main-main dengan hubungan kita. Jadi, untuk kedepannya Marilah saling terbuka." Ucap Rival, tangannya kembali memijat bahu Mely. Saat Dia


serius memijat bahu istrinya itu. Mely pun merinding.


"Kenapa Kamu Dek?" tanya Rival penasaran. karena tubuh Mely bergetar.


"Sepi.? Rival heran, Dia Sampai menaikkan kedua alisnya. Kemudian kedua bibir mungilnya tersenyum


"Iya Bang. Sepi alias sesak pipis." Ucapnya Pelan, Dia malu mengatakannya. Mely teringat kejadian tadi, disaat Disaat Dia mengompol.


"Oohh,!" Rival menyibak selimut yang menutupi tubuh Mely yang kedinginan itu. Dia pun menempatkan satu lengannya di bawah paha Mely dan satu tangan lagi melingkar di punggung Mely.

__ADS_1


"Abang mau apa?" ucap Mely dengan malu-malu. Padahal Dia mengerti maksud dari tindakan Rival itu.


"Mau menggendong Adek." Rival pun langsung membopong tubuh Mely ke kamar mandi. Dia mengabaikan ucapan Mely yang minta diturunkan.


"Tidak mau Abang gendong?" Rival menatap lekat wajah Mely di depan pintu kamar mandi.


"Mau.., mau banget. Tapi, sebenarnya Adek masih bisa berjalan." Ucapnya dengan wajah bersemu merah.


"Kalau Adek jalan sendiri. Nanti tangannya susah sembuh." Ucap Rival, Dia pun menurunkan tubuh Mely.


"Koq masih diam mematung?" Rival dibuat heran dengan Mely yang tidak melakukan pergerakan itu.


"Abang keluar dulu." Ucap Mely dengan menggerakkan wajahnya ke arah pintu. Berharap Rival mengerti dan keluar dari kamar.


"Kenapa rupanya kalau Abang disini?" tanya Rival sok tidak mengerti maksud Mely.

__ADS_1


"Mely malu, untuk itu Abang tunggu Mely diluar saja." Ucap Mely malu.


__ADS_2