
"Saudari Mely, kami sengaja mengatakannya terakhir. karena, kali ini ujian dalam mempertahan karya ilmiah anda belum bisa dinyatakan lulus. Anda gagal dalam mempertahankan Skripsi anda." Ucap Dewan penguji dengan tegas.
Duarrr....
Mely sangat terkejut mendengar hasil yang dibacakan dewan penguji. Ini tidak mungkin, karena saat sidang berlangsung. Mely melakukan nya dengan sangat baik. Dia menguasai apa yang ditulisnya. Walau ada satu Dosen Penguji yang membantah hasil penelitian nya. Tapi, Dia bisa meyakinkan dan menjelaskan hasil penelitiannya tersebut. tentunya saat itu Dosen pembimbing skripsinya ikut berpartisipasi.
"Apa...? Bapak pasti berbohong. Saat ujian tadi, saya bisa menjawab semua pertanyaan Bapak-bapak. Kenapa saya tidak lulus?" ucapnya dengan mata berkaca-kaca. Mely tidak percaya dengan ucapan dewan penguji. Tapi, apa daya, ternyata semua dewan penguji ternyata memberikan nilai D kepada nya.
Dengan perasaan sedih, benci dan kesal. Mely keluar dari ruangan dengan tidak semangat nya. Matanya yang berkabut kini sudah menggenang dengan air mata.
Benar sudah yang dikatakan Ayahnya bahwa Dia jadi manusia tidak berguna. Ujian skripsi saja tidak lulus. Pantas saja Ayahnya menyerahkan semua harta mereka kepada Rival. Orang asing yang hadir dalam kehidupan mereka.
Mely kembali melap air mata. Dia keluar dari ruangan itu dengan perasaan sedih. Dia merasa hidupnya sudah tamat, lose...!
"Bagaimana hasilnya?" tanya satu angkatan mereka, yang selalu kepo mengenai nilai mahasiswa yang baru saja ujian skripsi.
Mely diam, dalam posisi berdiri belum merespon ucapan kawan-kawannya tersebut. Dia masih syok dan tidak percaya dengan hasil yang didengar dari dewan juri.
"Hei Mely, bagaimana hasilnya. Dapat nilai apa? A,B,C atau D?" tanya temannya Linda.
"Aku dapat nilai D. Aku tidak lulus." Jawabnya lemas. Dia pun mendudukkan bokongnya di pinggir koridor ruangan tempat sidang skripsi itu diadakan.
"Apa...?" ucap Linda kaget dengan nada suara yang tinggi. Sehingga mahasiswa lain yang masih berdiri bergerombol atau duduk di sisi koridor maupun yang duduk di taman depan ruangan sidang itu sontak melihat kearah Mely dan Linda.
"Kamu tidak lulus?" tanya Linda, masih dengan ekspresi terkejut nya dan nada suara meninggi.
Mely melotot ke arah Linda. Dia merasa Linda hendak mempermalukan nya dengan berteriak-teriak.
"Sekalian saja kamu pakai toa, ngomong nya keras banget." Ucap Mely kesal, menatap Linda yang berdiri disebelahnya. Dengan mata melotot.
Mely pun mengusap wajahnya kasar. Memijat-mijat pelipis dan keningnya yang terasa begitu sakit. Dia harus menenangkan dirinya. Akhirnya Dia pun memilih untuk pergi ke taman yang ada di pekarangan fakultas mereka.
__ADS_1
Sepanjang perjalanan menuju taman, berita tentang dirinya yang tidak lulus ujian skripsi dengan cepat beredar. Sehingga Dia pun mendengar suara sumbang, yang mengatakan bahwa Dia memang cocoknya dapat nilai D. Secara Dia kan mahasiswa yang terkenal malas ke kampus dan suka menentang Dosen.
Mely tidak menanggapi ucapan orang tentang dirinya yang dinilai buruk. Memang pada kenyataannya Dia tidak beres orangnya. Untuk apa mendebat kenyataan.
Saat Mely berjalan dengan lemasnya, tiba-tiba saja, Dia merasa tangannya ditahan seseorang dari belakang. Dengan malas tanpa menoleh siapa yang menahannya. Mely menghempaskan tangan tersebut. Sehingga tangan itu pun lepas dan mengatung di udara.
"Mely...!" ucap Pria yang menahan tangan Mely. Dia kenal betul suara itu. Siapa lagi kalau bukan suaminya. Tumben sekali suaminya itu datang ke kampus padahal Mely tidak ada menghubunginya untuk dijemput.
Dengan cepat Mely melap air matanya yang kini sudah menganak sungai di sudut matanya. Dia tidak percaya diri, untuk bertemu dengan pria yang memanggil namanya itu dengan berderai air mata.
Mely tidak berani berbalik badan, sehingga pria yang memanggilnya itu kini sudah berada dihadapannya.
"Kamu menangis?" Rival menatap intens wajah istrinya itu, yang menunduk, berusaha menyembunyikan wajahnya yang sembab. Tidak mendapatkan jawaban dari istrinya. Rival yakin ada yang tidak beres.
Dia meraih dagu Mely, sehingga Rival bisa menatap dengan jelas wajah sedih dan kesal serta putus asa yang tersirat di wajah cantik istrinya tersebut.
"Abang kenapa datang kemari?" Mely mengalihkan topik pembicaraan, Dia pun melanjutkan kembali langkahnya ke taman yang sudah dekat di hadapannya.
"Abang mau ajak Adek makan siang bersama. Mau merayakan moment Adek selesai ujian sidang Skripsi." Ucap Rival, menatap Mely yang duduk di sebelahnya. Mereka duduk di kursi semen berbentuk memanjang, di bawah pohon Ketapang.
"Tidak usah dirayakan, Adek tidak lulus ujiannya." Jawabnya sedih melihat lurus ke atas, berusaha menahan air mata yang sudah mengenang itu. Agar tidak terjatuh.
Rival terkejut mendengar ucapan istrinya itu. Dia tidak percaya, bahwa Mely tidak lulus. Rival yang melihat istrinya begitu sedihnya. Dia pun meraih tangan Mely, menggenggamnya. Sehingga mau tidak mau Mely, berbalik menghadap suaminya itu.
"Dia ingin memberi dukungan kepada Mely, agar jangan terlalu bersedih. "Sudah jangan bersedih," ucap Rival menggenggam lembut tangan Mely dan tersenyum. "Kan masih bisa diulang, nanti lebih semangat lagi belajarnya." Rival memandangi wajah Mely yang sedih dan menampilkan wajah terkejut juga.
Mely sedikit heran, kenapa suaminya itu tidak kecewa kepadanya. Padahal Mely mewanti-wanti hal itu. Disaat dia mengatakan tidak lulus. Maka Rival akan kecewa.
Mely yang masih tercengang itu dikejutkan oleh suara teman satu kelasnya yang bernama Linda, yang memanggil namanya dengan keras dari jarak dua meter sambil berjalan cepat menuju tempat Mely dan Rival duduk.
Mely melihat ke arah Linda yang menghampirinya. Sedangkan Linda yang berjalan menuju ke arah mereka, langsung melenggokkan tubuhnya dengan lemah gemulai, setelah Dia melihat Rival duduk disebelahnya Mely.
__ADS_1
"Ada apa?" tanya Mely dengan malasnya. Rasa kesalnya bertambah saja. Melihat Linda yang selalu menatap Rival.
"Kamu dipanggil Bapak Anton. Disuruh ke ruang sidang." Ucap Linda dengan tersenyum kepada Rival. Dia dengan centilnya menyapa Rival. "Hai.... Ganteng..!" Ucap Linda tersenyum genit. Rival menampilkan ekspresi wajah skeptis.
"Siapa Pak Anton Dek?" tanya Rival membuang muka dari tatapan mata jelalatan Linda.
"Dosen penguji saya Sayang. Yuk temanin Adek ke ruangan." Ucap Mely. Dia sangat penasaran kenapa dirinya dipanggil lagi ke ruang sidang.
Rival mengangguk, tapi Dia merasa enggan untuk masuk ke ruangan sidang itu nantinya.
"Ayok sayang, jangan dekat-dekat dengan Linda." Mely menarik tangan Rival, agar mengikuti langkahnya ke ruang sidang. Dia tidak mau meninggalkan Rival bersama dengan Linda temannya yang genit itu.
Mely merasa heran dengan teman-teman nya yang tidak percaya, bahwa Rival itu adalah suaminya. Karena disaat teman-teman menanyakan bukti bahwa mereka sudah menikah, Mely tidak bisa membuktikannya. Pasalnya mereka belum mengurus buku nikah. Bahkan teman-teman Mely yang meminta bukti berupa foto pernikahan pun, Mely tidak bisa memberikannya.
"Aduuhh itu cowok tampang sekali, penampilannya biasa saja, tapi bisa memikat mata dan hati jikalau melihatnya." Ucap Linda dengan wajah mesumnya. Dia nampak membasahi bibirnya dengan lidahnya.
Kini Mely sudah berada dihadapan Pak Anton, sedangkan Rival menunggu di luar, tepatnya di dekat pintu. Dia hanya bisa melihat Mely dari luar.
"Ini, terimalah." Ucap Pak Anton dengan wajah datar. Mely meraih amplop coklat itu dari tangan Pak Anton dengan ekspresi wajah tak kalah datar. Karena Dia sudah malas melihat ketiga Dosen Pengujinya itu, yang tega memberikan nya nilai D. Padahal Dia merasa bisa menguasai tulisan yang dibuatnya.
"Bukalah." Pak Anton, masih menampilkan wajah datarnya, begitu juga kedua dosen penguji lainnya.
Tanpa bertanya, Mely langsung membuka amplop tersebut. Membuka lipatan kertas berwarna putih yang ada di amplop itu.
Dengan malas nya Mely mulai membaca tulisan yang ada di kertas itu. Seketika matanya melotot, jantungnya bergemuruh karena keterkejutannya membaca isi dalam amplop itu
Selamat anda lulus ujian skripsi, dengan nilai A.
Begitulah isi surat yang Mely Pegang saat ini. Mely melihat ketiga Dosen paruh baya didepannya dengan tidak percaya. Bisa-bisanya dosen yang sudah bau tanah itu mengerjainya. Dasar umur saja yang sudah tua, tapi kelakuan masih kayak anak ABEGE.
"Selamat Mely, anda kena kerjai!" ucap ketiga Dosen Penguji itu serentak.
__ADS_1
Dulu istilah prank belum ada.
TBC