Misteri Jodoh (Janda Tapi Perawan )

Misteri Jodoh (Janda Tapi Perawan )
Season 2 Harus puding


__ADS_3

Dia menghentikan langkahnya tepat di depan kamar Mely dirawat inap. Karena, ponselnya terus saja berdering. Dia pun merogoh kantong celananya untuk mengambil ponsel itu.


"Walaikumsalam..!" jawab Rival, setelah sambungan terhubung. Dia sedang menjawab salam Beny. Orang yang disuruhnya untuk mengurus Rayati.


"Ok, Ok sudah mantap. Tambah satu pasal lagi. Dia mencuri dompetku." Ucap Rival, datar.


"Baiklah, Assalamualaikum...!" Kali ini Rival memutus percakapan. Dia lebih mementingkan urusannya dengan Mely sekarang.


Rival mendorong pintu kamar tempat Mely dirawat inap. Ternyata istrinya itu masih tertidur. Dokter sengaja memberi obat tidur, agar pasien bisa tenang. Dan tentunya perawat akan memeriksa tekanan darah dan denyut jantung Mely setiap dua jam sekali.


Seperti saat ini, ada seorang suster yang memeriksa Mely masih dalam keadaan tertidur.


Rival berdiri di sisi sebelah kiri bed, tepat dihadapan Perawat.


"Bagaimana keadaan istri saya Dek?" tanya Rival ramah kepada perawat berjenis kelamin perempuan itu.


Perawat itu menoleh ke arah Rival. Sudah dua hari pasiennya di Rumah Sakit. Baru kali ini Dia melihat Rival yang mengaku suami Mely.


"Tekanan darahnya sudah normal, tidak ada hal serius. Tinggal penyembuhan rahim Ibu Mely saja yang jadi prioritas. Semoga pendarahannya tidak terjadi lagi." Ucap Perawat yang nampak sudah senior itu. Perawat itu juga nampak ramah.


Rival mengelus kepala Mely. Menghadiahi ciuman di keningnya. Yang membuat penghuni kamar itu, merasa sedikit malu, Karena tingkah Rival yang sok romantis.


Mama Maryam dan Firman yang sedang duduk di sofa, hanya bisa melihat kelakuan Rival dengan tatapan datar. Setelah Mama Maryam melampiaskan kekesalan kepada Rival dengan memukul kepala Rival. Dia jadi merasa bersalah juga.


Ya begitulah kadang manusia, disaat kesal. Maka perilakunya bisa berubah jadi brutal. Karena emosi dan kesal dihati.


"Nanti kalau Ibu Mely terbangun. Kabari ya Pak." Ucap Perawat. Rival mengangguk pelan. Perawat pun keluar dari ruangan. Rival menarik kursi agar bisa duduk dekat bed Mely berbaring.


Dia memandangi wajah Mely yang pucat. Dia baru menyadari, bahwa Dia tidak bisa membahagiakan Mely, seperti perkataan Mama Maryam dan Firman.


Sepertinya memang, semua wanita yang menjadi istrinya tidak bahagia bersamanya. Mungkin itulah ujian hidup untuknya, setelah sekarang bergelimang harta.


Rival kembali meraih jari jemari Mely. Menciumi nya, menempelkan nya ke pipinya yang kini sudah mulai ditumbuhi bulu-bulu halus, karena Rival sudah lebih dari dua Minggu tidak bercukur.


Kalau Mely tersadar, tentu bulu-bulu yang akan menjadi jambang dan janggut itu akan terasa menyucuk-nyucuk apabila disentuh.


"Kamu jangan ganggu Dia. Biarkan Dia istirahat." Ucap Mama Maryam menatap tajam Rival.

__ADS_1


Rival menoleh ke arah Mama Maryam, kemudian membuang pandangannya. Tatapan Mama Maryam penuh kebencian yang membuat orang takut menatapnya.


Rival pun kembali mencium kening Mely. Berjalan menuju sofa di ruang rawat inap yang luas itu. Dia mendudukkan bokongnya dihadapan Mama Maryam.


Dia menghela nafas panjang, menyandarkan tubuhnya di sofa itu. Sudah tiga malam Dia tidak tertidur. Bahkan Rival merasa tubuhnya sakit semua. Dia juga sepertinya akan tumbang.


Bi Ida, menyajikan teh manis dan roti di atas meja.


"Nyonya, tuan minum dulu teh nya." Ucap Bi Ida, menatap satu persatu wajah majikannya.


"Iya Bi, terimakasih." Ucap Mama Maryam, Sedangkan Rival memilih diam dengan menutup matanya. Tubuhnya terasa sakit semua, mulai dari ujung kaki sampai kepala. Sepertinya Dia akan sakit.


Firman yang mulai menyeruput teh itu, memperhatikan Rival yang duduk bersandar dengan memejamkan matanya. Tapi, Dia tidak mau bertanya.


❤️❤️❤️


"Senyumanmu seindah embun pagi yang menyegarkan sayang." Yasir membelai pipi Rili yang ada didekapannya. Tentu saja Rili senang mendengarnya.


Yasir akhir-akhir ini selain selalu mengumbar kemesraan juga selalu memuji Rili. Dia akan membuat Rili selalu jatuh cinta kepadanya. Tidak boleh, istrinya itu mendapat perhatian dari orang lain.


"Ini mulut semakin manis saja. Mentang-mentang dikasih jatah juga." Ucap Rili mulai beranjak dari tempat tidur. Dia ingin membersihkan dirinya. Karena pergumulan pagi setelah sholat shubuh yang mereka lakukan, cukup menguras energi. Rili lapar, Dia harus makan, makanya Dia ingin cepat mandi.


"Lepas, Aku ingin bebas tanpa rangkulan." Ucap Rili kesal, tiap hari menempel kayak perangko, buat jengah juga. Sepertinya tanpa disentuh dan dipegang lebih asyik. dan bebas lepas


"Koq jadi galak, kenapa jadi tidak mau dipeluk? bosan? Adek bosan sama Abang?" tanya Yasir dengan raut wajah sedih. Sepertinya istrinya itu memang bosan dengan perlakuan Yasir yang menempel terus.


Rili yang sudah berdiri disisi Bed, sedangkan Yasir masih terduduk di tempat tidur langsung memeluk pinggang Rili. Membenamkan wajahnya di perut Rili yang buncit, menciumi perut itu dengan sayang.


"Anakku, kamu belum lahir saja. Mamamu sudah bosan sama Ayah. Bagaimana kalau kamu sudah lahir? bisa-bisa Ayah diabaikan selamanya." Ucap Yasir sedih, Rili yang mendengarnya ucapan suaminya dibuat jengah. Kenapa pula anaknya dicemburui.


Rili mengelus kepala Yasir. "Sayang, kalau ajak anak bicara itu harus, mengatakan kata-kata yang baik. Atau membacakan ayat-ayat suci Al-Qur'an. Jangan malah mengeluh, nanti anaknya lahir jadi pecundang. Mau...!" ketus Rili, diawal Dia bicara lembut. Tapi endingnya srigala ngamuk.


Yasir menengadahkan kepalanya. Istrinya itu, semakin galak saja sekarang. "Iya sayang." Ucapnya lemas, melepas tangannya yang membelit perut istrinya yang buncit.


Rili pun masuk ke kamar mandi, tentu saja disusul Yasir. Mereka pun mandi bareng. Tentu saja sentuhan-sentuhan lembut Yasir saat membantu Rili mandi. Membuatnya ingin lebih. Ditambah bagian-bahian sensitif Rili dimasa hamilnya sekarang sangat sensitif. Jadilah mereka melakukan nya sekali ronde di kamar mandi. Yasir sih, keseringan melakukannya satu ronde tapi tiap hari.


"Pagi ini kita pulang ke rumah kan sayang?" tanya Rili, mereka kini sedang sarapan di restoran Hotel.

__ADS_1


"Iya, tapi agak siang ya sayang. Abang masih ada kerjaan disini." Jawab Yasir, menyodorkan roti selai kacang campur coklat ke mulut Rili. Padahal Rili sedang makan nasi goreng. Rili pun membuka mulutnya.


"Lihat tuh, acara yang semalam masih berlanjut, tadi malam itu acara pembukaan." Yasir menunjuk para peserta seminar, yang berjalan ke arah Restoran. Tentu saja ada teman-temannya disitu. Para peserta itu ingin sarapan juga ternyata.


Yasir yang ramah itu, malah melambaikan tangannya kepada teman-teman nya itu. Tentu saja Ibu mawar dan yang lainnya semangat untuk bergabung di Meja mereka yang memang masih bisa menampung empat orang lagi.


Bella yang sudah di mop Yasir tadi malam, setelah insiden, kaki Rili disandungnya tidak berani ikut nimbrung. Karena Yasir mengancam, akan membuat hidup Bella menderita, apabila masih mengusik kehidupan nya dan istrinya.


"Konsep Hotel mu ini bagus banget Yasir. Tamu yang menginap pasti betah disini." Puji Ibu Mawar, disela-sela mereka sarapan.


Yasir hanya tersenyum menanggapinya. Dia melanjutkan sarapannya. Dengan makan telor mata sapi yang kuningnya setengah matang. Jumlah telornya ada sepuluh.


"Namanya juga Hotel baru buka. Ya pasti diawal-awal baguslah." Ruslan menanggapi ucapan Bu Mawar.


"Gak juga, memang desain Hotel milik Yasir mantep-mantep koq. Buat mata betah. Desain modern di kombinasikan dengan adat setempat." Jawab Bu mawar. Tapi setelah itu perhatiannya beralih kepada makanan Yasir. Dimana disatu piring menumpuk telor mata sapi dan dipiring lainnya ada roti tawar.


"Kamu puding? banyak betul makan telornya." Tanya Bu mawar. Matanya melotot melihat apa yang ada dihadapan Yasir.


"Ya puding lah, lagian Aku suka makan telor. Tapi telor ayam kampung. Kalau gak puding, mana bisa aku tiap malam layani istriku." Ucap Yasir tersenyum kecil. Yang membuat Rili melotot kepada Yasir.


Semua penghuni meja makan itu, menatap kepada Rili. Yang bisa dilakukan Rili hanya tersenyum.


"Dia ini maniak. Aaaaawww---!" ucap Yasir, menampilkan eskpresi harimau siap menerkam mangsa.


"Eehhmmmm.... Aku tidak percaya, tapi kalau kamu yang maniak, baru Aku percaya." Ucap Bu mawar. Bu Rita hanya tersenyum mendengar percakapan temannya itu. Sarapan kali ini sungguh nikmat. Jadi Dia tidak tertarik untuk bicara. Sedangkan Ruslan mulai jengah.


"Eeehh eehh bahas begituan di stop dulu. Ada nih perjaka yang panas dengarnya." Ucap Bu Mawar, menatap Ruslan yang sedang menggigit ayam goreng ke mulutnya.


"Emang benar masih perjaka?" kali ini Bu Rita ikutan nimbrung. Secara Dia sudah kenyang.


"Mau coba?" ucap Ruslan sewot.


"Iiihhh kamu gak sopan ngomong nya sama orang tua." Ketus Bu Rita. Dia pun bangkit dari duduknya. Menuju meja tempat buah dihidang.


"Yang sopan harusnya kalian." Ruslaln pun meminum juice jeruknya. Meninggalkan meja makan itu dengan cepat. Menyesal Dia satu meja dengan Rili. Secara Dia masih ada rasa dengan wanita itu.


Sarapan pun selesai, Yasir pamit kepada Rili untuk masuk ke ruang kerjanya. Rili yang tidak mau diajak ke ruang kerjanya Yasir. Lebih memilih duduk di restoran itu. Karena restorant itu menyunguhkan pemandangan yang luar biasa indahnya. Karena Hotel milik Yasir berada di dataran tinggi.

__ADS_1


Saat itu juga ponsel Rili yang berada di tas nya berdering. Dia dengan cepat merogohnya.


Kedua bola matanya melotot sempurna melihat nama kontak yang menghubunginya.


__ADS_2