
Sesampainya di Hotel, Yasir dan Rili bergegas memasuki Mushollah, waktu sholat Magrib sudah hampir habis. Mereka pun melaksanakan sholat dengan sendiri-sendiri.
"Adek tunggu di kamar ya, Abang akan masak cah kangkung spesial untuk Adek." Ucap Yasir, mengelus lembut punggung Rili, agar Rili menurut menunggunya di kamar hotel saja.
Rili menggoyang badannya, sebagai aksi protes, tidak mau menunggu di kamar.
"Adek ikut ke dapurnya, pingin lihat Abang memasak." Rengeknya dan langsung merangkul lengan kanan Yasir.
Yasir menghela napas kasar, Dia tidak mau Rili ikut ke dapur dan kena asap atau apalah.
"Baiklah sayang." Yasir menggandeng Rili menuju restoran Hotel.
"Aku ingin bertemu dengan Manager restorant ini." Ucap Yasir kepada seorang pria yang bertugas sebagai kasir.
"Keperluan apa Pak?" tanya penuh selidik.
Yasir memberi pelicin ke tangan pria tersebut. Dan Yasir langsung mengatakan maksud dan tujuannya.
Pria tersebut tersenyum, Dia dapat rezeki nomplok.
Sungguh uang bisa membuat semuanya jadi mulus dan bahagia. Jangan munafik, kita hidup di dunia butuh uang. Petugas kasir, berfikir realistis saja.
"Baiklah Pak, tunggu sebentar." Ucapnya dengan wajah sumringah. Dia meminta kawannya untuk menggantikannya sebentar, dan bergegas berjalan menuju ke dalam dapur.
Dia tidak perlu menjumpai manager restoran itu. Dia hanya perlu bicara kepada Kokinya.
"Pak, Ayo silahkan...!" Dengan perasaan berdebar-debar Yasir masuk ke dapur yang diikuti oleh Rili.
Dia takut, gagal dalam memasak cah kangkung dan akhirnya membuat Rili kecewa. Selama mereka menikah, Yasir belum pernah memasak. Walau sebenarnya Dia bisa juga memasak. Tapi, memasak telur ceplok dan dadar.
"Bapak bawa kangkung nya ya?" tanya Koki yang berjenis kelamin laki-laki, yang nampaknya masih muda dengan terseyum. Dia respect kepada Yasir, yang mau menuruti kemauan istrinya untuk memasak sendiri.
"Iya Dek."Jawab Yasir masih menatap koki. Mata Si Abang koki kini beralih menatap Rili yang ada disebelah Yasir.
"Baiklah Bang, mari kita mulai memasaknya." Koki mengeluarkan bumbu yang diperlukan untuk membuat cah kangkung.
Rili memperhatikan bumbu yang disiapkan. "Gak ada terasi ya Dek?" tanya Rili menatap koki berjenis kelamin laki-laki itu.
"Oh mau pakai terasi, ada Kak." Koki mengambil terasi dari tempat penyimpanan.
Rili diminta duduk oleh Yasir, meminta tenang menunggunya selesai memasak.
Yasir pun mulai menyiangi sayur kangkungnya. Yasir yang cerdas. Sudah paham, bagaimana cara memperkecil ukuran kangkung.
__ADS_1
Rili memperhatikan Yasir dengan bahagianya, saat memasak. Terkadang Yasir mengedipkan matanya kepada Rili. Disaat keduanya bersitatap. Yang membuat Rili salah tingkah.
Yasir mulai memasak sesuai dengan instruksi koki. Tak butuh lama, lima belas menit cah kangkung terasi pun siap santap.
Yasir membawa karya perdananya memasak cah kangkung untuk istrinya yang begitu dicintainya itu. hasil masakannya sudah berada dalam wadah kaca berbentuk love.
"Taaaraa... Cah kangkung Terasa penuh cinta siap santap." Ucap Yasir kepada Rili yang duduk manis di kursi tepatanya di sudut ruangan dapur.
Dia mendekatkan hasil eksperimen nya kedekat indera penciuman Rili.
"Aromanya menggiurkan.." Ucap Rili bertepuk tangan dengan riang gembiranya.
"Koq namanya cah kangkung terasa penuh cinta. Bukannya cah kangkung terasi?" tanya Rili, menatap masakan Yasir dengan mata berbinar-binar dan dengan bahagianya.
Mereka pun meninggalkan dapur menuju restorant. Pasangan itu memilih untuk duduk di lesehan yang ada di restoran itu. Yang view nya menghadap hamparan luas Danau Toba.
Sungguh suasana makan malam kali ini, jadi begitu menyenangkan buat Yasir. Karena wajah Rili nampak bling-bling melihat tampilan cah kangkung yang menggiurkan itu. Warna kangkungnya masih nampak hijau dan mengkilat.
"Sayang, jangan dimakan dulu. Makannya pakai nasi." Ucap Yasir menahan tangan kanan Rili yang hendak menyendok dengan garpu cah kangkung.
"Lagi pingin makan ini saja gak pakai nasi." Ucapnya merajuk, karena Yasir menghentikan niatnya untuk langsung melahap cah kangkung.
"Permisi.... !" pelayan Restoran yang berjumlah empat orang membawa Makanan lainnya yang dipesan oleh Yasir. Kebanyakan menu yang dibawa pelayan adalah dari olahan ikan air tawar.
Sesaat selera makan Rili jadi hilang, karena melihat pindang ikan gabus dalam wadah kaca. Dia paling anti ikan gabus dan ikan lele. Dia geli dengan lendirnya.
"Sayang, kenapa ada menu ikan gabus?" tanya Rili, mulai menutup hidungnya dengan tangannya. Rili sangat anti dengan ikan itu. Bau nya sangat tidak disukainya.
Yasir baru tahu kalau Rili tidak suka ikan tersebut. Selama ini Yasir hanya mengetahui kalau Rili tidak suka ikan pari saja.
"Ini ikan sangat bagus dikonsumsi Ibu hamil sayang. Ini ikan banyak proteinnya." Terang Yasir.
"Jauhkan sayang..!" seru Rili, Dia pun sudah tidak bisa menahan lagi perutnya yang terasa di aduk-aduk.
Yasir sudah mulai panik melihat Rili yang ingin muntah. Keringat sudah muncul dikening Rili.
Rili bangkit dari lesehan, muntahnya sudah tidak bisa ditahannya lagi. Dia harus ke kamar mandi.
Baru turun dari lesehan, Rili sudah muntah-muntah. Yasir langsung membantu istrinya itu menuntaskan muntahannya. Alhasil Cah Kangkung terasi tidak jadi disantap.
❤️❤️❤️
Dikediaman Rival, Dia nampak sedang menyuapi istrinya yang masih belum memaafkannya. Sesekali Rival jahil. Disaat Dia ingin memasukkan makanan ke mulut Mely. Saat itu juga sendok berpindah ke mulutnya. Sehingga Mely kesal.
__ADS_1
Sedangkan si Kembar sudah terlelap.
"Apa Ayah masih di Australia?" kenapa tidak pernah Mely nampak?" tanyanya dengan sedih, menatap Rival yang seolah tidak ingin menatapnya.
"Adek mau buah apa? anggur, lengkeng atau kiwi?" tawar Rival, menatap buah yang ada di atas nampan. Dia sudah menyingkirkan piring bekas makannya Mely dan memberikan air minum kepada Mely.
"Kiwi." Jawabnya sendu. Kenapa suaminya itu tidak menjawab pertanyaannya.
"Aku ingin bicara sama Ayah, Apa Dia begitu membenciku. Sampai saat ini Aku tidak melihatnya." Ucap Mely dan kini sudah menitikkan air mata.
Mely sadar, ya keputusannya untuk menghilang. Adalah keputusan yang salah. Karena keputusan yang diambilnya dengan emosi, akhirya membuatnya menderita selama hamil tua.
"Rival menyeka air mata Mely dengan jemarinya. Dia pun merapikan rambut Mely dengan menyisipkannya ke balik daun telinga Mely.
"Kenapa Adek semakin cantik?" ucap Rival, masih ingin menyembunyikan fakta tentang Ayah Ali yang sudah meninggal.
"Mas kenapa sih? dari tadi selalu mengalihkan topik pembicaraan." Cebik Mely cemberut.
"Lahh, memang Adek semakin cantik." Goda Rival.
"Tadi bicaranya sudah pakai tutur Mas. Berarti Mas sudah dimaafkan dong?" tanya Rival, masih menggoda Mely.
"Belum, dan tidak akan pernah. Setelah sehat, Aku ingin pergi dari rumah ini. Kita lebih baik pisah aja. Untuk apa disini tapi tidak dianggap dan tidak pernah dicintai." Ucapnya menangis. Menepis tangan Rival yang hendak memeluknya.
Rival tidak boleh terpancing dengan kata-kata frustasinya Mely. Mely wajar marah kepadanya.
"Jangan pernah ada niat pergi dari rumah ini ya Dek. Ingat anak kita, Mas tidak mau anak kita mengalami seperti yang Mas rasakan waktu kecil. Tidak bersama dengan orang tuanya." Ucapnya mengibah dengan mata berkaca-kaca.
"Mas akan sabar, menunggu Adek memaafkan Mas. Tapi, jangan larang Mas perhatian kepada Adek." Ucapnya Lagi, meraih dagu Mely yang membuang mukanya.
"Sudah dech, jangan buat Aku lemah begini. Sekarang Adek tanya, Ayah dimana? dari tadi Mas tidak mau menjawab pertanyaanku?" Mely Kembali menangis.
Rival meraih Mely dalam pelukannya, "Biarkan Mas memelukmu ya?" Menghembuskan napas lemah.
"Ayah sudah berpulang ke Rahmatullah."
TBC
Mampir ke Novelku lainnya
❤️ Dipaksa menikah Pariban
❤️Guru Disabilitas Itu Suamiku
__ADS_1