
"Iya, Dia Bou. Dia Bou...Dia Bou...." Rili menitikkan air mata. Kejadian yang dialaminya satu tahun yang lalu masih membekas dihati.
"Jangan menangis lagi, Adek sayang anak kita kan? kata Dokternya Adek tidak boleh sedih. Nanti Anak kita ikut nangis lagi di dalam. Iya kan sayang...?!" Yasir kembali mengusap perut Rili yang sudah mulai nampak buncit.
"Kalau Adek tidak mau cerita, baiklah nanti Abang akan tanyakan kepada Ibu angkatnya Rival, atau kepada Mely." Ucap Yasir masih mengusap-usap perutnya Rili.
Mendengar ucapan suaminya itu, membuat Rili tidak tenang. Dia tidak mau ada lagi ada masalah. Karena nanti pasti ada perdebatan. Tidak perlu lagi, membuktikan siapa yang salah dan benar. Akan lebih baik masalah ini disembunyikan saja.
"Tadi itu Bou meminta maaf kepada Adek. Adek terharu sekali, akhirnya kami masih bisa bertemu tanpa disengaja dan akhirnya saling memaafkan. Saat itu juga, karena saking terharunya, Adek malah pingsan." Ucapnya dengan mata berkaca-kaca, tidak berani menatap mata Yasir. Rili bicara dengan tatapan kosong.
"Bener seperti itu? coba lihat Abang, tatap mata Abang?" Yasir merangkum wajah istrinya yang nampak pucat pasi dengan berurai air mata itu.
Rili menganggukkan kepalanya, "Iya sayang. Kesehatan Adek kan dari semalam lagi drop, makanya Adek pingsan." Jawabnya masih dengan menangis.
Yasir memeluk Rili dengan sangat lama dan menciumi puncak kepalanya. "Harus kuat ya sayang. Abang cinta banget sama Adek. Abang tidak akan bisa lihat Adek sedih dan drop begini. Kalau sudah bisa keluar. Kita tinggal dikota M, aja dulu ya? mau kan?" ucap Yasir lembut, Rili mengangguk.
"Jangan menangis lagi. Sebentar lagi Ayah dan Mama akan datang." Ucap Yasir dengan lembut penuh kasih dan sayang.
Tanpa mereka sadari, ada seorang pria dan seorang wanita, yang mendengar percakapan Rili dan Yasir dari balik pintu yang tidak tertutup sempurna itu. Yang tak lain adalah Rival dan Sekar yang serius menguping.
Rival semakin merasa bersalah, lagi-lagi Rili menutupi kejahatan Ibu Durjanna. Dia mengelus dadanya yang terasa sakit, karena dirinya selalu memberi luka kepada mantan istrinya itu.
Begitu juga dengan Sekar, Dia kasihan melihat mantan kakak iparnya itu. Dia tidak menyangka Ibunya sekejam itu padanya. Padahal Dimata Sekar, Rili sangat baik.
"Pak Rival, kenapa bengong disitu?" Febri yang ingin masuk ke ruang rawatnya Rili dibuat bingung dengan majikannya yang lama berdiri disitu. Karena dari ujung lorong, Febri melihat Rival dan Sekar berdiri di depan pintu kamar.
"Eehh... kamu Feb, ngagetin saja." Rival kembali mengelus dadanya, dan memundurkan tubuhnya. Dia seolah tidak berani lagi menjumpai Rili, Dia ingin pulang saja. Sedangkan Sekar, hanya bisa mengikuti pergerakan Abangnya itu.
__ADS_1
"Bapak mau kemana? bukannya ingin masuk?" Febri mencecar Rival dengan banyak pertanyaan. Sehingga Dia akhirnya, mengurungkan niatnya untuk pulang.
Febri mendorong handle pintu kamar, di tangannya ada dua tentengan plastik. Ternyata Dia membeli makanan.
Rival dan Sekar mengekori Febri, Dia seolah takut menampakkan wajahnya, dihadapan pasangan. suami istri itu. Dia sadar, Dia yang membuat pasangan ini menderita. Seandainya dulu Rival mau melepas Rili, saat Yasir memintanya di taman waktu itu. Mungkin wanita yang pernah menjadi istrinya itu, tidak akan semenderita ini.
"Siapa temanmu itu Feb?" tanya Yasir, Dia tidak melihat jelas wajah Rival dan seorang lagi wanita dibelakang tubuh Febri, padahal si Febri badannya tidak gemuk.
Rival pun akhirnya, keluar dari persembunyiannya dari tubuh Febri. Yang disusul oleh Sekar. Mereka tersenyum dan melangkah pelan mendekat ke bed tempat Rili berbaring.
"Bagaimana keadaannya Yasir?" tanya Rival, Dia enggan bertanya kepada Rili. Dia tidak sanggup melihat wajah Rili yang sembab dan pucat.
"Alhamdulillah, semuanya baik-baik saja bang." Jawab Yasir dengan terseyum. Dia menatap Rili, sedangkan Rili, menatap Sekar dihadapannya.
"Oohh... Syukurlah. Dek cepat sembuh ya, maaf gara-gara permintaan Abang. Membuat kamu jadi begini." Ucapnya dengan sedih, kali ini Rili pun menoleh ke arah Rival. Dia tersenyum. Dia tidak mungkin ikut kesal kepada Rival, yang memaksanya harus menjumpai istrinya yang tidak bisa dibilangin itu.
"Iya Bang." Jawabnya singkat dan padat. Tidak perlu lagi banyak cerita. Takut nanti ngelantur dan jadi curhat.
Apalagi kalau kita curhat kepada orang yang tidak bisa dipercaya. Bisa-bisa curhatan kita jadi bahan ledekan.
"Kak, Aku rindu sekali sama kak." Sekar mendekat, Yasir menjauhkan sedikit tubuhnya. Agar Sekar lebih mudah untuk memeluk mantan kakak iparnya itu.
"Sama, kak juga Rindu. Rindu Mandi bareng sama kamu di sungai." Ucapnya dengan perasaan bergemuruh. Rili merasa hatinya sedang diobrak-abrik. Bertemu dengan keluarga yang membuat hidupnya sempat hancur. Sekarang kembali hancur lagi.
Mereka pun mengurai pelukannya. Dan kembali melempar senyum.
Febri meletakkan makanan yang dibelinya di meja dekat bednya Rili.
__ADS_1
"Maaf Pak Yasir, Aku kurang tahu alamat disini. Jadi Aku hanya belikan nasi Padang yang kebetulan di depan Rumah sakit ini penjualnya.
Restoran yang bapak bilang tadi, Aku tidak tahu tempatnya di mana." Ucap Febri sedikit enggan. Karena Dia tidak bisa memenuhi permintaan Yasir.
"Tidak apa-apa Dek." Jawab Yasir.
"Adek pingin makan nasi padang itu sekarang." Pinta Rili, entah kenapa Dia jadi pingin sekali melahap nasi Padang itu.
"Tentu sayang." Yasir pun mulai membuka bungkusan yang berisikan tiga kotak nasi padang. "kita disini kan sudah ada lima?Koq beli tiga Dek?" tanya Yasir. Melirik Febri.
"Maaf Pak, saya tidak tahu kalau Bapak Rival dan Adik ini akan datang." Ucap Mely.
"Kami tidak lapar Yasir. Kami izin pamit ya." Ucap Rival, Dia mendekati Yasir. Melihat Rival mendekat. Yasir meletakkan makanan yang dikotak itu ke atas meja.
Rival pun memeluk Yasir. " Maaf, gara-gara permintaanku. Riki jadi drop." Ucapnya pelan saat berpelukan.
"Iya Bang." Ucap Yasir.
"Semoga kita sehat semua nya." Rival mengurai pelukannya.
Mereka bertiga pun pamit dari ruangan itu, dan di pintu mereka bertemu dengan orang tuanya Yasir.
Manusia yang berpapasan itu hanya melempar senyuman ramah satu sama lainnya.
Sesampainya di mobil Rival. Dia tidak langsung melajukan mobilnya. Dia melirik Sekar, dari kaca spion. Saat ini Sekar dan Febri duduk di kursi belakang supir.
"Ceritakan apa yang terjadi di kamar kakak iparmu tadi Sekar?" tanya Yasir dengan raut wajah sedih. Dia sudah tahu, kalau Ibu Durjanna memarahi Rili. Tapi, Ia ingin penjelasan dari Sekar, Adiknya yang pada saat kejadian, berada di lokasi.
__ADS_1
"Seperti yang dikatakan Ibu. Begitulah yang sebenarnya. Kami masuk ke kamar, Kak Mely sedang menangis. Saat itu, Ibu marah kepada kak Rili. Mungkin Ibu beranggapan Kak Rili yang membuat kak Mely menangis." Jawabnya dengan perasaan takut.
Rival geram, Dia memukul setir dan berdecak kesal.