Misteri Jodoh (Janda Tapi Perawan )

Misteri Jodoh (Janda Tapi Perawan )
Season 2 Siapa Firman?


__ADS_3

Rival keluar dari toilet tersebut. Mely yang di dalam bingung dan kesusahan untuk membuang air seninya itu yang sejak tadi ditahannya. Tangannya masih sakit untuk digerakkan. Jadi, Dia kesusahan untuk menaikkan sarung yang membungkus tubuhnya.


"Gimana ini? Aku tidak mungkin kencing, kalau sarungnya tidak dinaikkan ke atas. Bisa kena pipis ini sarung." Ucapnya Pelan di kamar mandi. Dia segan untuk memanggil suaminya itu. Karena Dia yang memintanya keluar.


"Dek, sudah boleh Abang masuk?" ucap Rival lembut dan kepala didekatkannya ke daun pintu kamar mandi. Mely terkejut mendengar ucapan Rival.


"Belum boleh Bang." Ucap Mely dengan menahan pipisnya yang sudah di ujung saluran kemihnya. Sepertinya Mely sudah tidak bisa menahannya lagi. Tapi, Dia yang masih sadar itu. Tidak mau pipis tidak sesuai dengan aturan.


"Abang masuk ya. Abang juga ingin pipis." Rival langsung menekan handle pintu toilet. Dia tidak mau menunggu persetujuan istrinya itu lagi. Lagian untuk apa Mely malu dan menyuruhnya keluar. Padahal lebih dari itu mereka sudah melihatnya.


Melihat Rival masuk, Mely sedikit terkejut, tapi senang. Pasalnya Dia tidak menurunkan harga diriinya lagi dengan meminta Rival agar masuk kembali ke dalam kamar mandi. Karena Rival masuk sendiri.


"Adek sudah selesai buang air seni nya?" Ucap Rival terseyum yang melihat istrinya itu masih berdiri, dengan sedikit merapatkan pahanya untuk menahan pipisnya agar jangan keluar.


Mely menggeleng. "Kenapa belum pipis?" tanya Rival bingung. Dia mendekati istrinya itu dan memperhatikan wajah Mely yang aneh karena menahan pipisnya.


"Aku tidak bisa menarik sarung ini ke atas." Ucap Mely dengan sedikit malu.


"Dasar bocah aneh, sok-sok malu. Padahal selalu malu-maluin". Rival membathin.


"Ya udah Adek jongkok, biar angkat sedikit sarungnya." Mely enggan melakukannya. Entah kenapa Dia jadi malu melihat suaminya itu.


"Ayo jongkok sayang." Rival akhirnya memegang pinggang Mely menuntunnya jongkok. Kemudian menarik sedikit ke atas kain sarung yang dipakai Mely. Dengan malu-malu Mely pun membuang hadast kecilnya itu.


"Koq terdengar suara seperti menggoreng dan aroma jengkol yang dibakar dan gosong?" ucap Rival tersenyum jahil, yang membuat Mely mendengus kesal. Gimana tidak seperti menggoreng. Air seni Mely deras sekali keluar. Karena kandung kemihnya sudah full.


"Abang becanda, jangan marah-marah lagi dan ngambekan." Rival menimba air dengan gayung dan menyiramkannya, yang membuat sarung Mely sedikit basah.


"Kan jadi basah. Abang tidak becus cebokin nya." Mely cemberut.


"Koq salahin Abang. Adek koq yang gak mau membuka itunya dengan lebar. Ya basah lah." Ucap Rival santai. Dia membantu Mely berdiri

__ADS_1


Kemudian Dia sedikit menjauh dari Mely dan membuang hadast kecilnya juga.


"Adek pakai baju saja." Rival berjalan menuju lemari. Setelah Dia mendudukkan tubuh Mely di atas bed. Dia membantu Mely memakai setelan baju piyama batik setelan celana pendek dan lengan pendek yang bertuliskan Lake Toba. Tentunya Mely tidak memakai dalaman. Karena pakaian mereka masih di Kota Parapat. Baju yang Mely pakai adalah, baju yang dibeli di pasar tomok. Saat itu Mamanya Mely berbelanja banyak.


Tak lama kemudian orang tua Mely datang dengan membawa makanan. Yaitu sup daging sapi.


Rival Menyuapi Mely dengan lembut dan sayangnya, yang membuat Pak Ali dan istrinya terharu. Pak Ali sangat bersyukur anaknya itu tumbuh dengan karakter yang begitu baik. Dan sangat tampan.


"Makan yang banyak Mely." Ucap Pak Ali, Dia pun beranjak menuju ranjang yang ada di ruang itu. Ranjang itu khusus untuk keluarga yang menjaga pasien. Sedangkan Mamanya Mely masih duduk di bibir ranjang. Dia ingin mendengar cerita yang dialami putrinya itu.


"Mama sangat senang dan sangat bersyukur. Putri Mama selamat juga." Mamanya Mely mengambil air putih dan menyodorkannya kepada putrinya itu.


"Iya Ma. Ini semua karena pria yang bernama Fir...man." Ucap Mely dengan sedikit ragu. Karena Dia kurang yakin penjahat yang bersama si Ucok namanya Firman.


"Fi..Firman...?" tanya Mama Mely dengan raut wajah bingung dan terkejut. Tiba-tiba saja wajah Mamanya Mely pucat pasi.


"Mama kenapa?" tanya Rival, karena melihat ekspresi wajah Ibu Mertuanya itu berubah drastis.


"Iya, Abang pun penasaran. Kenapa penjahat itu , Adek bilang menolongmu. Padahal Dia juga Abang lihat terkapar." Rival meletakkan piring bekas makam Mely dibatas meja dengan kulkas. Dia pun kembali bergabung dengan Mely dan mertuanya.


"Iya. Mama juga heran. Koq bisa penjahat jadi menolongmu?" Mama Mely menatap lekat putrinya itu. Sungguh cerita Mely sangat membuatnya penasaran. Bahkan sekarang sudah pukul dua dini hari. Dia masih terus mendesak Mely untuk istirahat. Padahal Mely sudah menguap-nguap. Karena, Dia sudah mengantuk. Mungkin efek obat.


"Penjahat yang namanya Firman itu. Tidak setuju dengan kelakuan si Ucok yang ingin menodai Mely ma." Mely menangis, Dia mengingat kejadian tadi. Dimana si Ucok yang menjijikkan itu, ingin menggagahinya.


"Jangan menangis lagi sayang. Kamu sudah aman. Ucap Rival melap air mata Mely yang membasahi pipinya dengan jemarinya.


Sedangkan Mamanya Mely, wajahnya semakin pucat pasi. Seolah Dia sedang takut.


"Bagaimana ciri-ciri penjahat yang bernama Firman itu Nak?" tanya Mama Mely dengan tidak sabarannya. Dia sampai menyentuh lengan Mely yang membuat Mely merasa sakit.


"Mama kenapa? sepertinya Mama penasaran sekali dengan Abang yang bernama Firman itu." Ucap Rival membaca ekspresi wajah Ibu mertuanya itu yang bingung dan penasaran.

__ADS_1


"Tidak apa-apa. Mama hanya penasaran saja. Seperti apa Dia yang penjahat tapi malah mau menyelamatkan Mely." Mama Mely mencoba menjawab setenang nya.


"Iya, koq bisa gitu ya Dek?" Rival juga penasaran. Rival belum mendapat penjelasan dari Pak Polisi. Jadi Dia belum tahu kronologis motif penculikan Mely.


"Penjahat yang namanya Firman itu, tidak suka melakukan tindak asusila. Sehingga Dia berbeda pendapat dengan penjahat yang namanya si Ucok. Mereka bertengkar hebat Bu. Disaat si Ucok berusaha melakukan itu kepadaku." Air mata Mely Kembali membasahi pipinya. Rival sangat tidak tega melihat istrinya itu.


"Ya sudah jangan diceritakan lagi. Kalau buat Adek sedih. Adek tidurlah." Rival membantu Mely berbaring. Dia menutup tubuh istrinya itu dengan selimut sampai dadanya.


Mama Mely yang masih penasaran, malah masih mengajak Mely bercerita.


"Ciri-ciri nya bagaimana Nak? tadi kamu gak jawab pertanyaan Mama itu." Desak Mamanya Mely.


"Mama kenapa penasaran sekali?" Rival kembali bertanya. Mama Mely hanya diam menjawab ucapan menantunya itu. Masih dengan wajah bingung dan khawatirnya.


"Tadi Rival lihat sekilas, ciri-ciri nya orangnya Tegap tinggi, ada tahi lalat di dagunya. Matanya agak sipit, hidung mancung. Usianya sekitaran 40 tahunan gitu." Ucap Rival, Dia memang sempat melihat Firman yang terlentang di atas ubin itu.


"Iya Ma. Ciri-cirinya pas dengan yang dikatakan Abang Rival. Penjahat yang bernama Firman itu, tampan." Ucap Mely jujur. Yang membuat Rival menoleh ke arah Mely. Sepertinya Rival tidak senang mendengar Mely memuji pria lain dihadapannya.


Raut wajah Mely berubah drastis mendengar ucapan putri dan menantu nya itu. Matanya berkaca-kaca. Dengan cepat Dia menutup mulutnya. Dia ingin menangis.


"Mama kenapa?" tanya Rival dengan memegang bahu mertuanya itu.


"Mama ke kamar mandi dulu. Sepertinya Mama masuk angin." Ucapnya dengan ketakutan, Dia berjalan pelan menuju kamar mandi, menatap sekilas Pak Ali yang sudah tertidur, kemudian melanjutkan langkahnya ke kamar mandi.


Di kamar mandi, Mamanya Mely menangis sejadi-jadinya, sambil menyumpal mulutnya, agar tidak terdengar keluar.


"Apa itu kamu?" Mama Mely bersandar di dinding kamar mandi masih menangis tersedu-sedu.


TBC


Mohon beri like coment positif dan Vote

__ADS_1


__ADS_2