Misteri Jodoh (Janda Tapi Perawan )

Misteri Jodoh (Janda Tapi Perawan )
Mengikhlaskanmu


__ADS_3

Hari berganti hari, masa berganti masa detik berganti detik. Hidup adalah sebuah ketidak pastian, namun perpindahan adalah suatu hal yang pasti. Cobaan datang mendera bertubi tubi, entah itu nikmat atau musibah. Semua adalah sepaket ujian yang telah Allah siapkan untuk kita sebagai fitrah kita manusia.


Satu Minggu sudah berlalu. Suasana di rumah itu tidak hangat lagi. Hubungan Rili dan Rival pun, tidak seperti pasangan suami istri. Malah seperti, hubungan saudara. Tidak ada kontak fisik, walau mereka tidur seranjang.


Rival lebih banyak diam. Dalam diamnya, Dia berfikir keras, mencari solusi atas masalah dalam rumah tangganya. Kadang ada niat dihatinya, untuk menceraikan Rili. Disaat niat itu datang. Sungguh hatinya terasa sakit. Bagaimana mungkin, Dia sanggup memberikan istrinya kepada orang lain. Padahal Dia juga sangat mendambakan seorang istri. Dia bukan malaikat, yang punya hati sebaik itu.


Selama seminggu ini Rival menyibukkan dirinya, membantu Ayah mertuanya ke ladang. Dia juga mencari pekerjaan. Ya, Dia mau tinggal di kampung Rili, agar keutuhan rumah tangganya terjaga.


"Abang jadi pulang hari ini?" ucap Rili, yang nampak duduk di kursi meja makan, setelah mereka sarapan pagi.


"Iya Dek. Adek tidak takutkan tinggal di rumah sendirian." Ucap Rival, yang juga duduk di kursi sebelah Kanan Rili. Orang tua Rili kembali pulang ke kampung semalam. Karena, ada urusan yang harus diselesaikan.


Rili menggeleng. "Aku akan menyiapkan pakaian yang akan Abang bawa." Rili masuk ke kamar untuk mempacking pakaian suaminya. Rival pulang ke kampungnya. Karena, hari Senin besok. Kasus penganiyaan yang dilakukan Ibunya, sudah masuk ke persidangan.


🧚🧚🧚


Tok..tok...tok...


Rili yang mendengar suara pintu diketuk, Dia segera menghentikan kegiatannya menyetrika. Kemudian matanya melirik jam dinding yang sudah menunjukkan pukul 5 sore


"Assalamualaikum....!" suara ketukan kembali terdengar.


"Itukan suara Windi." Rili dengan cepat berjalan, untuk membuka pintu.


"Masuklah,"


"Abang Rival mana?" tanya Windi, setelah Dia, mendudukkan bokongnya di Ambal lembut, yang digelar Rili di ruang keluarga depan Tv.


"Pulang ke kampung, urus ibu. Semoga Ibu tidak dapat hukuman yang berat." Ucap Rili, Dia pun mendudukkan bokongnya dihadapan Windi.


"Semoga Mertuamu, dapat hukuman yang setimpal." Ucap Windi kesal, "Sudah dibuat babak belur, masih aja kasihan sama mertua gilanya itu." Windi menggerutu dalam hati.


"Ini undangan untuk kamu."


Rili melihat, undangan yang diberikan Windi. "Minggu depan resepsinya?" tanya Rili.


"Iya. Aku juga sudah mengurus kepindahan ku, ke kota P."


"Kamu akan pindah, kenapa?"

__ADS_1


"Mau ikut Abang Ucup. Tadinya Dia minta Aku pensiun dini saja. Tapi, Aku tidak mau."


Rili meninggalkan Windi, Dia berjalan menuju dapur untuk menyunguhkan minuman untuk Windi.


"Apa keputusanmu?" Ucap Windi, Diapun meneguk minuman yang disuguhkan Rili. Yaitu sirup Merk Kurnia dicampur potongan es batu.


"Mungkin ini sudah takdirku. Menikah dengan pria yang tidak ku cintai." Rili sedih, tapi dia harus tegar.


"Baiklah, kalau itu keputusanmu. Abang Yasir, akan ke Australia. Kalau kamu menerimanya. Dia akan mengajakmu ikut bersamanya. Tapi, kalau kamu masih tetap ingin bersama Abang Rival. Kabulkanlah permintaan Abang Yasir sekali ini saja."


"Permintaan apa?" Mata Rili sudah mulai berkaca-kaca.


"Dia ingin bertemu denganmu, untuk terakhir kalinya."


"Aaa..ku..Aku... tidak berani lagi bertemu dengannya. Aku tidak sanggup." Air mata langsung membanjiri pipi putihnya. Permintaan Yasir itu, seolah membuat Rili tidak bisa menghirup oksigen disekitarnya. Sungguh, Dia tidak bisa meredam, jantungnya yang tiba-tiba berdetak dengan cepat itu. Mendengar nama Yasir. Akan membuat Rili kembali sedih.


"Kalau kamu tidak mau bertemu dengannya. Itu akan semakin membuatnya sakit hati. Begitu banyak pengorbanan yang dilakukannya. Untuk mengabulkan permintaan bertemu dengannya pun kamu tidak mau. Kamu sungguh tega kepadanya." Windi melongos kesal.


"Bagaimana mungkin, Aku menjumpainya. Padahal Aku sudah bersuami. Aku tidak mau, ada gosip-gosip tentang diriku nantinya."


"Baiklah. Di hari pernikahanku Abang Yasir datang. Kalian harus bicara. Aku pamit ya, masih banyak urusan, jaga dirimu. Windi memeluk Rili dan mengelus punggungnya.


"Mana mungkin kami bertemu dihari pernikahanmu. Aku akan mengabarinya, kalau hatiku sudah tenang." Ucapnya dengan sendu, setelah Dia melerai pelukannya dari Windi.


Di kota G, masih diwaktu yang sama. Seorang pria tampan nampak sedang menikmati indahnya taman. Taman tersebut adalah, tempat rekreasi masyarakat sekitar. Dimana ditengah taman terdapat kolam ikan yang luas. Dan di dalam kolam tersebut banyak terdapat ikan-ikan Mas yang besar-besar.


Pria itu yang tak lain Yasir, Dia duduk di bangku panjang yang terbuat dari besi, di bawah pohon Mangga yang rindang. Berbagai jenis bunga menghiasi sekelilingnya. Yang membuat suasana hatinya sedikit membaik, karena aroma bunga yang wangi masuk ke rongga hidungnya.


"Eehhmmmm.." Suara bariton membuyarkan lamunan Yasir. Dia pun menoleh ke sebelah kirinya. Mencari asal suara.


"Abang Rival duduklah." Yasir menggeser sedikit bokongnya. Rival pun akhirnya mendudukkan bokongnya di sebelah Yasir.


Yasir akhirnya menghubungi Rival, Dia ingin membicarakan banyak hal. Tidak disangka, Rival pun mengiyakan ajakan Yasir untuk bertemu. Dimana Dia pun kebetulan sedang datang ke kota G. Karena, kasus penganiyaan yang dilakukan Ibunya akan disidangkan besok pagi.


"Bagaimana kabarnya Rili?" ucap Yasir dengan tenang, matanya menatap lurus kedepan. Melihat indahnya taman yang penuh dengan bunga berwarna-warni.


"Baik." Jawab Rival tak kalah tenangnya.


"Kalau Aku boleh meminta. Kembalikanlah Dia kepadaku!" Yasir, memutar kepalanya menghadap Rival. Disaat mengatakan itu. Dug... Dug...Dug... Jantungnya kembali Maraton. Karena, sudah jelas. Rival akan menjawab tidak.

__ADS_1


Hening.....


"Kalau kamu dalam posisiku, apakah kamu akan memberikan istrimu sendiri kepada orang lain?" ucap Rival, Dia memutar kepalanya, menghindari kontak mata dengan Yasir.


"Tidak." Yasir masih menatap wajah Rival yang tampak hanya dari samping.


"Jadi, Aku tidak perlu menjawab permintaanmu. Jawabannya sudah kamu tahu." Rival berusaha menenangkan dirinya. Sungguh, pertemuan ini adalah pertemuan yang amat menyakitkan. Tapi, sebagai pria dewasa. Dia harus menghadapi ini semua biar jelas.


"Haruskah Aku merampasnya?"


Rival memutar lehernya, sehingga matanya bersitatap kembali dengan Yasir. Ucapan Yasir, sungguh membuatnya takut. Bagaimana pun. Dalam segala hal, Yasir pasti menang. Ditambah Rili juga mencintai Yasir. Hanya satu senjata yang dimiliki oleh Rival, yaitu status suami.


"Kamu punya segalanya. Kamu bisa mendapatkan banyak wanita yang lebih cantik dari Dia." Ucap Rival dengan menahan sesak di dadanya. Sungguh, suasana sejuk di taman, membuat kedua pria itu kepanasan.


"Aku akan memberikan semua yang kumiliki. Kembalikan Dia kepadaku. Kalau Abang membuat tolak ukurnya dari harta." Ucap Yasir dengan sedikit emosi.


"Aku sangat mencintainya, Dia istriku." Rival mengalihkan pandangannya dari Yasir.


"Aku sudah 16 tahun mencintainya."


"Dia istriku!" emosi Rival, akhirnya terpancing. Suaranya sungguh sangat keras, hingga sebagian pengunjung taman, menoleh ke arah mereka. Rival pun berdiri dan hendak pergi meninggalkan taman.


"Dia tidak mencintaimu!" Wajah Yasir, merah padam. Dia tidak menyangka, mulutnya bisa berkata seperti itu.


"Harusnya Aku tidak menyelamatkanmu di malam itu." Hidupnya dirimu, mengancam kehidupanku." Ucap Rival dengan perasan tidak enak. Lidahnya keluh mengeluarkan kalimat sekasar itu. Hatinya sakit, kapan dilema ini berakhir.


Yasir yang mendengar ucapan Rival, yang kasar itu kesusahan menelan ludahnya. Dia tidak menyangka, Rival yang menurutnya baik, tega mengatakan kalimat itu.


Yasir pun beranjak dari duduknya dan berdiri di belakang Rival, yang hendak meninggalkannya di tempat itu.


"Jaga Dia untukku. Jangan biarkan ada yang melukainya lagi. Dia wanita yang sangat baik. Dia rela mengorbankan dirinya sendiri. Agar suaminya tidak terluka. Ku mohon bahagiakan Dia!" ucap Yasir, hatinya begitu sakit mengatakan itu. Rasanya seperti sembilu berbisa menyayat hati. Sakit dan perih di rongga dada.


Rival tidak menyahuti ucapan Yasir. Dia pergi meninggalkan Yasir, tanpa menoleh kebelakang. Sementara Yasir kembali mendudukkan bokongnya di bangku yang Dia duduki tadi.


Ikhlas terhadap takdir yang telah digariskan Tuhan, setelah usaha yang maksimal. Harapan besar yang kandas, belum tentu sungguh-sungguh kandas.


Sabar Yasir, moga dengan keikhlasanmu. Berbuah manis. Kecup sayang buat Abang Yasir dari Author. 😘😍


like, coment dan vote ya kakak2 cantik.

__ADS_1


Cerita Rili sudah akan berakhir. Mohon tetap beri vote.


Terimakasih


__ADS_2