Misteri Jodoh (Janda Tapi Perawan )

Misteri Jodoh (Janda Tapi Perawan )
Pria munafik muncul


__ADS_3

Setelah kepergian Yasir, Rili sibuk membersihkan semua sudut ruangan di rumah itu. Dia juga memasak kue bolu pisang.


Dulu sewaktu menjadi pacar Yasir selama sebulan sebelum Yasir menghilang. Rili sering membawa kue bolu pisang ke kantor mereka dan Yasir sangat menyukai Bolu pisang masakan Rili.


Bersih-bersih sudah, mandipun sudah selesai. Akhirnya Rili memutuskan untuk mempacking pakaiannya dan Yasir.


Dert...Dert...Dert ....


Getaran ponsel Rili, terdengar begitu keras di meja riasnya. Dia menghentikan aktivitasnya beres-beres dan mempacking baju dan barang penting miliknya ke dalam koper.


Satu jam yang lalu, Yasir menghubunginya, meminta Rili mempacking pakaian dan barang penting miliknya. Rili tidak menanyakan kenapa Dia disuruh Yasir mempacking pakaian dan barang-barang penting miliknya. Rili saat ini patuh dan taat saja kepada perintah Yasir. Mungkin Yasir akan mengajaknya pindah ke rumah yang dulu ditempati Yasir saat lajang dan bekerja menjadi PNS.


Rili bergerak menuju meja riasnya, dengan perasaan senang dan bahagia.


"Baru juga menelpon sudah nelpon lagi." Ucapnya dengan tersenyum. Satu harian ini Yasir sudah 10 kali menelponnya. Bahkan Disaat Rapat pun Yasir tidak mematikan panggilannya dengan Rili. Sehingga Dia bisa mendengar suara Yasir yang tegas dan nada keras itu. Rili baru tahu, suaminya itu ternyata galak. Tapi, kepada dirinya, Yasir selalu lembut bahkan tergolong penurut.


Senyum di wajah Rili akhirnya berubah menjadi kegelisahan. Pasalnya yang menghubungi Dia kali ini bukan Yasir, tapi private number. Getaran ponsel itu tidak pernah berhenti.


Haruskah Rili mengangkatnya? tapi, untuk apa? kenapa Rival akhir-akhir ini selalu menghubunginya.


Dengan perasaan was-was dan takut. Rili meraih ponselnya dengan tangan gemetar. Dia mencoba menenangkan dirinya dengan menarik napas panjang dan dalam. Dia berdoa dalam hati, agar pembicaraannya dengan Rival tidak akan mempengaruhi perasaannya dan mengungkit luka lama yang sudah dilupakannya.


Teeett... panggilan terhubung.


"Assalamualaikum....!" Rili tambah terkejut, karena kali ini Dia mendengar suara wanita dari sambungan telepon. Bukan suara Rival.


"Waaa... laikumsaaalam...!" Rili menjawabnya dengan sedikit gugup dan ragu. Kira-kira siapa lagi orang yang menghubunginya. Kenapa akhir-akhir ini banyak ang menghubunginya no pribadi.


"Kalau boleh tahu ini dengan siapa?" tanya Rili dengan was-was. Tangannya masih memegangi dadanya yang berdetak cepat itu.


Orang yang menelpon Rili bukannya menjawab, Dia malah menangis yang membuat Rili keheranan.


"Aa...ku sangat mencintai suamiku. Aku sedang mengandung benih cinta kami." Ucap wanita yang menghubungi Rili dengan terisak. Yang membuat Rili kebingungan, sedih karena terpengaruh dengan suara tangisan wanita yang menghubunginya dan juga ingin tertawa.


Ibu ini pasti salah sambung pikir Rili.


"Iya Bu. Jangan menangis lagi. Ingat kandungan Ibu jangan setres ya Bu." Walau Rili tidak mengenal wanita yang menghubunginya. Tapi, Dia akhirnya bisa bersikap tenang. Karena bukan Rival yang menghubunginya.


"Iya, Aku juga tahu. Aku tidak boleh setres. Tapi, Aku seperti ini gara-gara anda." Ucapan wanita itu membuat Rili tambah bingung. Kenapa pula Dia yang disalahkan.

__ADS_1


"Maaf Bu, sepertinya anda salah sambung."


Merasa tidak ada gunanya melayani wanita hamil yang menelponnya. Rili pun mematikan ponselnya tanpa salam.


"Ada-ada saja." Ucap Rili, Dia berniat melanjutkan kegiatannya mempacking pakaian. Waktu yang dibutuhkannya setengah jam lagi. Karena jam 5 sore, Yasir akan datang.


Baru hendak memasukkan pakaian ke koper. Ponsel Rili berdering lagi. Dia mendekati meja riasnya. Dia sangat mengharap bukan salah sambung lagi.


Benar saja, yang menghubunginya adalah Yasir. Senyum merekah terlukis di wajah cantiknya Rili.


Teeet.... Panggilan pun masuk.


"Eemmuuahh... itu yang pertama kali di dengar Rili dari mulut Yasir. Bukannya ucap salam.


Rili tersenyum wajahnya memerah bak tomat matang. Mungkin Kalau Yasir melihat tingkah Rili. Dia pasti akan memakan Rili kali ini.


"Abang kangen banget. Baru berpisah 8 jam. Rasanya sudah seperti satu abad." Ucap Yasir dari lubuk hati paling dalam. Benar Dia memang sangat merindukan Rili.


Tapi, lebai dech.


"Sama, Adek juga kangen." Jawaban Rili membuat Yasir senang dan tersenyum.


Lebai amat sich.


"Iya sayang," ucap Rili dengan senyam-senyum.


"Cium dulu dong!" Yasir mulai gila meminta Rili mencium handpone.


Rili juga ikut gila mencium ponselnya. Kelakuan mereka berdua, membuat mereka saling tertawa. Dan panggilan pun berakhir.


Saat ini Rili sedang senyam-senyum sendiri, hatinya begitu bahagia. Dia pun selesai mempacking pakaian dirinya dan Pakaiab Yasir.


Dug....dug....dug.... Detakan jantung Rili tiba-tiba saja berdetak cepat dan kuat. Debaran itu terjadi, karena Dia mendengar suara mobil berhenti di depan pagar rumahnya.


Entah kenapa, membayangkan Yasir datang. Membuat Dia nervouse.


"Baru juga lima menit sudah sampai. Maksudnya tadi menelpon apa coba?" ucap Rili. Dia langsung berdiri di depan cermin. Dia memperhatikan penampilannya. Dia merapikan rambutnya dengan menyisirnya dengan cepat. Dia menyemprotkan parfum ke leher, ketiak dan punggung tangannya.


Dia melakukan itu, karena Dia ingin selalu wangi berada dalam pelukan Yasir. Karena Yasir akan menciumi leher dan punggung tangannya.

__ADS_1


Dia keluar kamar dengan begitu bahagianya, Senyum indah merekah. Debaran jantung seolah menemani langkahnya.


Tok....tok...tok...


Suara ketukan pintu, membuat Rili senang sekaligus bingung.


kenapa Dia mesti ketuk pintu. Ucap salam dan langsung masuk aja kan bisa.


Tok...tok....tok....


Suara ketukan itu terdengar semakin cepat, seperti orang yang datang, tidak sabar agar pintu terbuka.


"Iya, sabar." Ucap Rili Dia berjalan cepat menuju pintu depan rumah.


Ceklek......


Bola mata Rili hampir keluar dari tempatnya, melihat pria yang berdiri dihadapannya. Penampilan pria yang dihadapannya berubah 💯, menjadiadi lebih bersih, rapi dan tambah tampan.


Tubuhnya Rili tiba-tiba terasa lemas dan kaku. Debaran jantung yang sedari tadi, Selalu berdetak cepat. Kini detakannya semakin cepat saja. Rasanya Rili terkena serangan jantung.


Kenapa Pria yang mencampakkannya tiba-tiba datang, dengan penampilan berbeda. Untuk apa pria munafik itu muncul lagi? Setalah 12 kali purnama, kedatangan pria yang dihadapannya ini seolah sebuah ancaman buatnya.


Suasana sore yang masih terang, karena memang cuaca sangat cerah. Seolah berubah menjadi gerhana matahari buat Rili. Seketika gelap dan mencekam.


Peristiwa-peristiwa selama menjalani biduk rumah tangga dengan pria yang dihadapannya terekam seketika. Sakitnya masih ada, sehingga Dia trauma untuk berjumpa dengan pria itu.


Pria yang sekarang dihadapannya memang baik, tapi sikapnya yang tiba-tiba menggugat cerai Rili dan putus kontak selama satu tahun, membuat penilaian Rili berubah. Sosok mantan suami yang dianggapnya baik dan Sholeh. Kini berganti menjadi pria tidak bertanggung jawab dan munafik.


Dia sungguh tidak mau melihat pria itu. Apalagi sekarang Dia sudah bahagia bersama Yasir. Dia tidak mau kedatangan Rival, akan membuat masalah.


Haruskah Rili mengusirnya cepat. Karena Yasir akan datang.?


TBC.


Tetap dukung novel ini dengan memberi like, coment, rate 🌟 5 dan jadikan favorit ya kakak. Agar setiap aku up ada notifikasinya.


Aku tetap harapkan Votenya. Terserah mau vote di cerita ini atau Novel satunya lagi yang berjudul PARIBAN I HATE YOU.


Terimakasih

__ADS_1


__ADS_2