
Di dalam cinta, keheningan lebih berarti daripada percakapan, sebab cinta awalnya bukan kata, melainkan rasa.
Sesampainya Rival di ruang rawatnya. Ternyata, sudah ada sepasang manusia yang menjadi tamunya.
Dia terkejut melihat tamunya itu. Dia benar-benar lupa, siapa sebenarnya tamunya itu.
Rival tersenyum kepada tamunya itu, walau Dia belum bisa menyapanya. Karena kondisinya harus diperiksa oleh Dokter. disaat Dia melewati sepasang manusia yang sedang duduk di sofa itu. Ya ruangan yang Rival tempati fasilitasnya lengkap.
"Maaf Pak, Bu. Pasien harus diperiksa. Jadi Bapak Ibu, mohon bersabar ya sebentar. Agar bisa menyapa Pak Rival." Ucap perawat ramah. Saat itu Dokterpun masuk untuk memeriksa Rival.
Pasangan yang menjenguk Rival pun akhirnya duduk manis di sofa. Memperhatikan Rival yang sedang diperiksa Dokter. Sesekali pasangan itu saling pandang, heran, kenapa keluarga Rival tidak ada yang jagain.
"Bapak harus banyak istrirahat dan jangan banyak pikiran." Ucap Dokter sambil menepuk bahu Rival dengan pelan. Dokter pun keluar ruangan, sedangkan Perawat yang menjaga Rival, mengupas buah buah pear untuk Rival.
"Yusuf, Windi." Ucap Rival dengan tersenyum. Setelah dirinya sedikit tenang, baru Dia mengingat pasangan yang menjenguknya. Jelas Rival kenal Yusuf, pria itu lah yang datang membuat keributan, disaat hari pernikahannya dengan Rili. Sedangkan Windi, sahabatnya Rili. Yang selalu bicara pedas dengannya, saat meminta dirinya untuk menceraikan Rili.
Rival sedikit tidak mengingat wajah Windi. Karena Windi saat ini bobot tubuhnya turun drastis. Karena penyakit yang dialaminya.
"Maaf, Aku tadi sempat lupa. Habis tidak percaya saja, kalau kalian datang menjengukku." Ucap Rival tersenyum dan merasa masih berharga sebagai manusia, pasalnya mertua dan istrinya, malah tidak ingin melihatnya. Itu pemikiran Rival saat ini. Masalah yang datang membuat Mely dan Mama Maryam membencinya. Dia harus sadar itu.
Dia kini sudah duduk di atas bed nya. Sedangkan Yusuf dan Windi, sudah berada disisi kanan bed nya Rival.
"Iya, saya maklum koq Bang. Namanya orang sakit. Ya bisa kurang fokus." Jawab Yusuf ramah.
Windi pun meletakkan buah tangan mereka di atas meja dekat kulkas.
"Kalian kenapa bisa tahu saya dirawat disini?" tanya Rival bingung.
__ADS_1
"Tadi saat berobat disini. Windi melihat Abang." Ucap Yusuf tersenyum. Dia pun memijat-mijat pelan pundak Rival.
"Abang sakit apa?" tanya Windi penasaran.
"Kata Dokternya penyakit Tifus." Ucap Rival lirih.
"OHH... Harus banyak istirahat Bang, biar cepat sembuh. Tifus bahaya juga loh." Ucap Windi, yang ucapannya terhenti, disaat Yusuf memegang jemarinya, saat tangannya mengatung di udara. Dasar ya istrinya itu selalu bicara pedes yang bisa membuat orang down.
"Iya, saya tahu. Makanya dirawat terpisah biar fokus pada penyembuhan." Ucap Rival ramah menatap Yusuf dan Windi.
"Dirawat terpisah?" tanya Windi bingung. Maksudnya apa?
"Iya, istri saya juga di rumah sakit ini, pendarahan setelah melahirkan. Karena tadi Aku sakit menampilkan gejala seperti influenza. Jadi akan lebih baik, Aku dirawatnya terpisah. Takut menular kepada yang lain. Padahal Aku pinginnya satu ruangan dengan istriku." Jelas Rival dengan ekspresi wajah sedih.
Rival tidak tahu, sesuatu yang buruk akan terjadi. Karena Mama Maryam, sengaja agar Rival jangan berkomunikasi dengan Mely.
Hening....
Perawat pun menyodorkan buah pear yang sudah dipotong-poting itu kepada Rival yang berada di atas piring kaca kecil. Dengan malasnya Rival meraihnya, memasukkannya ke mulut nya yang air liurnya masih terasa pahit, mulut kaku dan tenggorokan sakit. Tapi, karena ingin cepat sembuh. Dia harus memaksa makanan masuk ke mulutnya, menahan rasa sakit saat menelan.
Windi mencolek Yusuf yang berdiri disebelah, pertanda agar mereka cabut dari tempat itu.
"Cepat sembuh ya Abang Rival. Kami pamit dulu." Ucap Yusuf ramah, kembali mengelus lengan Rival pelan.
"Kirim salam sama istri Abang. Aku doakan semua penyakit jauh dari keluarga Abang. Agar bisa berkumpul dengan si kecil." Timpal Windi dengan ramahnya.
Rival menatap suami istri itu, "Terimakasih banyak, sudah mau menjenguk. Saya Doa kan juga kebahagiaan menyertai kalian." Rival mengulurkan tangannya, Dia ingin berjabat tangan dengan Yusuf.
__ADS_1
Dengan senang hati Yusuf menjabat tangan Rival, begitu juga dengan Windi. Mereka pun keluar dari kamar itu dengan perasaan bertanya-tanya.
"Ada yang tidak beres pasti, dengan Abang Rival dan istrinya." Ucap Windi, saat mereka berjalan beriringan di koridor rumah sakit.
"Jangan soudzon." Ucap Yusuf tegas, mempercepat langkahnya. Dia sudah sangat lelah sekali. Dia ingin cepat sampai di penginapan dan tidur.
"Abang kenapa sih? dari tadi sejak bertemu dengan Rili dan Abang Yasir. Bawaannya jadi bete gitu dan seperti kesal samaku?" ucap Windi yang mempertanyakan sikap Yusuf yang tiba-tiba dingin kepadanya. Windi yakin, ada yang dipikirkan suaminya itu.
"Saya lelah," ucapnya berbalik menghadap Windi. "Manusia juga ada batas kesabarannya. Saya manusia biasa, yang perasaannya bisa tiba-tiba sedih dan putus asa. Jadi, Adek tidak usah heran. Saya manusia biasa!" Ucap Yusuf penuh penekanan yang membuat Windi bingung. Ada apa dengan suaminya yang selalu bersikap manis dan ceria kepadanya. Kenapa Dia jadi sensitif?
"Yang bilang Abang itu, manusia luar biasa siapa?" Windi ingin membuat arah pembicaraan mereka jangan serius. Dia sedikit menampilkan ekspresi wajah lucu.
"Tidak lucu." Ucap Yusuf. Menarik handle pintu kemudi mobilnya. Yang disusul oleh Windi, dengan begitu banyak pertanyaan di hatinya, ada apa dengan suaminya itu.
Sepeninggalannya Yusuf dan Windi. Rival yang diminta Perawat untuk tidur. Nyatanya tidak bisa tidur juga. Dia memikirkan ucapan Tante Murni. Dan merasa bersalah sebagai suami, yang lalai dalam menjaga istrinya saat hamil.
"Aku, yang salah. Menyia-nyiakan istri yang begitu mencintaiku dan malah masih memikirkan masa laluku dengan Rili. Harusnya Aku tidak menjumpai Rili saat mengetahui, Dia tidak menikah dengan Yasir setelah ku tinggalkan. Harusnya, Aku tidak menyalahkannya. Saat dirinya membelah diri, karena Rili pingsan waktu bertemu dengan Ibu." Rival membathin, berteriak dalam hati, menyadari semua kekhilafannya. Dia sampai memukul kasur bed nya tempat berbaring. Karena begitu kesalnya dengan diri sendiri. Yang salah dalam bertindak.
"Aku suami yang jahat, Aku suami yang ceroboh. Gara-gara diriku, nyawa Mely terancam saat melahirkan anak-anak ku. Maafkan Aku, Ya Tuhan--- Bantu Aku keluar dari masalah ini. Ampunkan dosaku.!" Ucap Rival dalam hati, meremas-remas jemarinya yang terasa kaku yang saling bertaut.
Dalam kesendirian dan keheningan malam ini, ternyata membuat Rival jadi melankolis. Tidak biasanya Dia banyak berfikir dan lebih bertindak.
Tak terasa air mata menetes di pipinya yang sudah mulai ditumbuhi jambang. Dia sedih, tidak bisa membayangkan kalau istrinya itu tidak memaafkannya. Semoga besok, Dia masih diperbolehkan Perawat untuk keluar mengunjungi istrinya itu. Dia akan memohon-mohon kepada Mely. Agar di maafkan.
TBC
Tinggalkan jejak dengan like dan vote ya kak. Gak maksa sih. 🙏❤️🤭 Tapi, Berharap.😊🤗😇
__ADS_1