
Setelah sarapan dengan romantisnya, dimana ada tontonan suap-suapan dan makan sepiring berdua serta minum dari gelas yang sama yang membuat Sari cemburu dan menggerutu dalam hati.
"Tiap hari saja begitu, makan dan minum dalam satu tempat. Biar kerjaaanku berkurang, biar piring yang kotor sedikit." Omel Sari di ruang loundry yang omelannya bisa didengar Bi Ina.
"Ada yang jealous ni ye?" Bi Ina, mengintip dari balik pintu ruang Loundry, Dia lagi memanas-manasi Adiknya itu.
"Apa sih kak? sudah tahu orang patah hati, malah di bully." Ucapnya sambil menyemprotkan banyak pengharum pakaian ke baju Mely yang digosoknya dengan begitu emosinya, sehingga terdengar suara benturan setrika dengan papan menyetrika tersebut.
"Hati-hati kamu jangan gara-gara cinta tidak kesampaian membuat setrikaan itu jadi rusak. Gajimu satu bulan tidak akan cukup mengganti setrikanya itu." Ucap Bi Ina kesal. Karena Adeknya tidak becus kerja. Dia pun meninggalkan Sari yang masih galau tersebut.
"Mereka kapan menikahnya ya? Aku jadi penasaran?" ucap Sari masih terus dengan emosinya melanjutkan kegiatannya menyetrika.
🍁🍁🍁
Rival akan mengantar Mely ke kampusnya. Dia tidak mau bawa mobil lagi. Dia pinginnya diantar dan dijemput oleh Rival. Entah kenapa setelah mengenal Rival, jiwa feminim dan manjanya Mely keluar. Sifat tomboi nya hilang sudah, Dia pun sangat heran dengan dirinya. Yang kini begitu mencintai suaminya itu.
Sepanjang perjalanan kedua bola mata Mely terus saja memandangi wajah Rival yang tersenyum dan salah tingkah, karena Mely menatapnya terus.
"Jangan dilihatin terus, nanti naksir." Ucap Rival terkekeh, matanya fokus melihat jalan di depannya.
"Emang sudah naksir koq, cinta malah. Klepek-klepek lagi." Ucap Mely dan langsung merangkul tangan Rival sebelah kiri. Sehingga Rival kini hanya menyetir dengan tangan kanannya.
"Jangan gini Dek, nanti kita kecelakaan loh." Ucap Rival dan berusaha melepas genggaman tangan Mely.
"Aku tu penasaran tahu sama Abang!" Ucap Mely masih menatap lekat Rival.
"Penasaran?" Rival menautkan kedua alisnya, karena Dia bingung dengan ucapan Mely.
"Iya, penasaran. Kenapa ya Aku itu suka banget sama Abang." Ucapnya dengan manja. Rival melirik ke arah Mely.
"Karena Abang ganteng kali makanya Adek suka." Ucap Rival dengan tersenyum, menyombongkan diri.
"Kalau ganteng sih lumayan, tapi banyak tuh teman Mely yang ganteng. Tapi Mely gak suka." Ucapnya sewot, Rival melirik ke arah Mely. Ada sedikit rasa tidak suka, disaat Mely mengatakan ada pria lain lebih ganteng darinya.
"Iya kah?" Rival berusaha melepas genggaman tangan Mely. Dan mimik wajah Rival berubah masam.
Mely heran melihat perubahan Rival, apa Dia marah karena Aku mengatakan Dia lumayan ganteng. Nanti kalau ku puji ganteng dan baik. Kupingnya jadi kembang lagi. Mely membathin.
__ADS_1
Ponsel Mely bergetar di dalam tas selempangnya yang kini berada di atas pahanya. Dia merogoh tas nya tersebut dan mengambil ponselnya. Ada nama Ary memanggil di layar ponsel itu.
Rival melirik Mely yang sedang mengangkat panggilan itu.
"Walaikumsalam salam...!" ucap Mely menjawab salam Ary.
"Ooohh... Iya, lusa ya? baiklah Aku tanyakan suamiku dulu, apa Aku boleh ikut dengan kalian." Ucap Mely Dia melirik Rival yang konsentrasi menyetir.
"Walaikumsalam..!" panggilan pun berakhir. Rival tidak tertarik untuk menanyakannya. Dia fokus menyetir.
"Esok lusa kita ikut trekking yuk Bang?" ucap Mely, setelah Ia menyimpan ponselnya di tas selempangnya.
"Kemana?" tanya Rival kurang semangat. Mana mungkin Dia mau Trekking, kakinya saja bisa berjalan sudah syukur.
"Ke Danau Toba. Kita akan obrak abrik Danau Toba." Ucap Mely dengan sangat antusias. Matanya nampak berbinar, membayangkan keindahan Danau Toba. Sekalian saja kita MP di dalam kemah." Ucapnya terkikik, Dia membayangkan mereka melakukan itu.
"Dasar mesum," ucap Rival.
"Mesum dengan suami sendirikan berpahala." Ucapnya. Rival melihat ke arah Mely dengan geleng-geleng kepala. "Apa enaknya melakukan itu di dalam kemah? kalau Tiba-tiba datang angin kencang kemahnya terbang bagaimana?" Ucap Rival dengan mengulum bibirnya.
"Terus kita ditemani nyamuk-nyamuk nakal. Setelah melakukannya tubuh jadi bentol-bentol." Ucap Rival dan menghentikan mobilnya di parkiran Fakultas Mely.
"Turunlah, Abang sudah telat ini." Ucap Rival. Dia menatap ke arah Mely. Dengan perasaan geli, karena tingkah Mely yang sudah memonyongkan bibirnya.
"Sun dulu, biar semangat menjalani aktifitas hari ini." Ucap Mely, Dia kembali memonyongkan bibirnya sambil menutup matanya. Rival ingin tertawa melihat ekspresi wajah Mely.
"Ayo cepetan, katanya sudah telat." Ucap Mely masih menutup kedua matanya.
"Baiklah," Ucap Rival, Dia meletakkan jari telunjuk dibibir Mely, yang membuat Mely membuka matanya dan langsung melotot kepada Rival yang kini masih dihadapannya.
Mely sangat kesal dengan suaminya yang jaim itu, dengan cepat Dia menarik tengkuk suaminya itu dan langsung menerkam bibir kenyalnya Rival dengan brutalnya, yang membuat Rival melototkan matanya.
Merasa suaminya itu kehabisan oksigen, Mely pun melepas pang*utannya. Rival seperti orang bodoh, karena mendapat serangan mendadak itu. Dan Mely tertawa dalam hati melihat reaksi Rival.
"Persiapkan dirimu nanti malam sayang, jangan capek-capek kerjanya." Ucap Mely, Dia meraup bibir Rival dengan jemarinya. "Eemmeuuacchh!" ucapnya, Dia pun turun dari mobil Rival dengan senyum bahagianya. Sedangkan Rival menggoyang-goyang kepalanya, guna untuk menyadarkan dirinya.
Setelah kesadarannya terkumpul penuh, Dia pun melajukan mobilnya menuju kantornya.
__ADS_1
Wajah Mely berseri-seri saat menjumpai Dosen pembimbingnya. Senyuman tak pernah lepas dari bibirnya. Konsentrasi buyar, Dosen pembimbing yang mencomentari perbaikan skripsinya pun hanya dijawabnya dengan anggukan, tanpa mencerna dengan baik apa yang dikatakan Dosennya itu.
Setelah selesai urusan di kampusnya, Mely duduk dengan teman kampusnya di bangku beton di taman yang ada di area Fakultasnya itu. Dia mengambil ponselnya dari tas selempangnya. Dia mengutak-atik ponsel tersebut dan mengirimkan pesan kepada Rival.
Suamiku, tidak usah jemput istrimu ini. Aku mau pulang cepat naik Tadi saja. Pesan pun terkirim dan laporan diterima pun muncul.
Ok. Begitulah isi balasan SMS dari Rival. Mely sebenarnya kesal, masak jawabnya sesingkat itu. Tapi, Dia tidak mempermasalahkannya. Hubungan mereka sudah membaik, Mely sadar. Dia lah memang yang harus extra keras mengambil hati suaminya itu.
Jam dua siang Mely sudah sampai di rumahnya. Dia langsung masuk ke kamar Rival. Dia melemparkan tubuhnya yang ramping itu di atas ranjang Rival. Dia pun menghela napas dalam, sambil menautkan kedua tangannya di atas perutnya, kedua matanya menatap langit-langit kamar, sambil berfikir keras. Apa yang harus dilakukannya agar saat mereka melakukan itu. Bisa sukses dan lancar.
"Aku tidak mau pakai make up lagi. Aku tidak bisa melakukannya. Baiklah, Aku ke salon saja, untuk memanjakan tubuhku." Gumamnya. " Tapi, Aku harus memindahkan barang-barang Abang Rival dulu ke kamarku." Ucapnya, Dia pun memanggil Sari untuk membantunya mempacking pakaian Rival yang tidak banyak itu.
Sari pun nongol di ambang pintu kamar Rival dengan cemberut. Dia tidak menyangka, bahwa Nona Mudanya dan Rival adalah suami istri. Kalau dari awal Dia tahu, tentunya Dia tidak akan terluka begini.
"Ada apa Non Mely?" ucap Sari dengan wajah lesu, berjalan ke arah Mely yang kini sudah duduk di atas ranjang Rival.
"Bantuin Aku kak, memindahkan pakaian Abang Rival ke kamarku." Ucap Mely, kini Dia membuka lemari tempat pakaian Rival di tata.
Sari pun mengeluarkan pakaian Rival, dan menempatkannya di atas ranjang, kemudian Dia bergerak menuju ruang Loundry untuk mengambil keranjang kain.
Mely tertarik untuk memeriksa tas ransel yang ada dibagian bawah lemari tersebut. Dia meraih tas ransel tersebut, membawanya ke atas ranjang. Dia membuka resleting nya. Memeriksa isi ransel tersebut. Tas itu sebenarnya nampak kosong, tapi kalau di goyang, tas itu mengeluarkan bunyi seperti benda yang saling bertabrakan.
Mely mengeluarkan isi tas itu satu persatu. Isinya adalah sisir kecil yang sudah nampak jelek, dan sebuah kotak yang terbuat plastik. Mely membuka kotak itu dan mendapati sebuah foto wanita cantik yang tentunya bukan dirinya. Melihat foto itu, membuat dada Mely terasa sesak. Matanya berkabut, Dia cemburu. Ternyata suaminya itu masih menyimpan foto mantan istrinya.
"Mantan istrimu memang sangat cantik, wajahnya meneduhkan. Pantas saja kamu sudah melupakannya." Ucap Mely, tak terasa cairan bening jatuh dari sudut mata Mely tepat difoto Rili Tersebut. Mely kembali memasukkan foto itu ke dalam kotak. Dia dengan cepat menyeka air matanya, disaat Sari menegurnya.
"Non, apa ini semua saya bawa ke kamar Non?" Ucap Sari, Dia berusaha melihat wajah majikannya itu, yang Mely tutupi dengan menunduk.
"Iya." Jawab Mely. Dia kemudian memperhatikan isi kotak itu dengan seksama. Dia melihat kalung di kotak itu juga.
"Kalung?" ucapnya pelan, Sari melihat ke arah Mely yang memegang kalung itu.
"Aku seperti pernah melihat kalung seperti ini." Ucapnya dengan penuh tanda tanya dan rasa penasaran.
TBC.
Like, coment dan vote ya kak. 🙏😍🤗
__ADS_1