
"Kamu jangan gila, buang jauh-jauh perasaanmu itu. Kakak tidak mau ya kehilangan pekerjaan gara-gara kamu." Bi Siti begitu kesal dengan adiknya yang tidak tahu diri itu. Kalau tadi yang ditaksirnya lajang, Bi Siti tidak akan mempermasalahkannya. Tapi, ini Dia menyukai suami majikannya. Dia tidak akan pernah membiarkan Adiknya merusak rumah tangga Nona mudanya. Dia akan meminta Mama Maryam memecat Siti dan menyuruhnya pulang ke kampung.
"Aku tidak gila kak. Kalau Aku jadi istrinya Abang Rival. Kakak akan senang Aku buat. Kita tidak perlu jadi pembantu lagi." Ucapnya bermimpi memandang langit yang penuh dengan bintang. Dengan menengadahkan kedua tangannya seolah Dia sedang meminta kepada Sang Pencipta.
"Mimpi jangan ketinggian, nanti jatuh baru kamu tahu rasa." Ucap Bi Siti kesal. Dia pergi meninggalkan Sari yang masih mengkhayal itu.
Pak Ali dan istrinya nampak berbincang sambil memakan daging hasil panggangan Rival. Mereka memuji masakan Rival yang begitu enak itu. Sedangkan Mely dengan manjanya selalu minta disuapin suaminya itu. Yang membuat Pak Ali geleng-geleng kepala dengan tingkah Mely.
Setelah acara Barbeque selesai. Semuanya memasuki kamarnya masing-masing. Pak Ali dan Mama Maryam akan menginap di rumah baru Rival dan Mely ini. Sedangkan para ART lama mereka seperti Bi Siti, putrinya dan Sari sudah pulang ke rumah Pak Ali di antarkan oleh supir.
Tadinya Sari akan bekerja di rumah Baru Rival, tapi karena Bi Siti sudah mengetahui isi hati Adiknya. Dia pun tidak memperbolehkannya. Sehingga ART di rumah baru Rival dan Mely semuanya orang baru. Yang jumlahnya 10 orang. Kesepuluh pembantu itu sudah punya tugas masing-masing.
❤️❤️❤️
Rival merangkak pelan di atas ranjang dengan tersenyum simpul. Sedangkan Mely sudah dari tadi menunggu suaminya itu untuk tidur. Tapi, karena Rival lama sekali naik ke atas ranjang. Mely pun mengambil laptopnya dari meja belajarnya. Ya, semua barang Mely sudah dipindahkan ke kamarnya.
Mely yang sedang duduk bersila dengan menatap lurus ke monitor di depannya, dikejutkan dengan tingkah Rival yang mendaratkan kepalanya di paha Mely sebelah kiri.
Mely yang mendapat perlakuan manja dari suaminya itu, dibuat senang tidak terkira. Hatinya berbunga-bunga, kupu-kupu beterbangan di kepalanya. Hatinya bersorak riang gembira. Tapi, Dia menampilkan ekspresi wajah datar, seolah tidak memperdulikan Rival yang kini sedang memandangi wajahnya yang pura-pura serius itu.
"Dek, serius amat." Ucap Rival lembut yang membuat darah Mely berdesir.
__ADS_1
"Eeehhmmm...!" Mely sok jaim. Hatinya sedang bahagia. Dia ingin melihat apa lagi yang akan dilakukan suaminya itu. Jikalau Dia pura-pura tidak peduli. Karena selama ini, Mely terus yang bersikap manja kepada Rival.
"Kalau Abang bisa bantu, pasti Abang bantuin. Tapi sepertinya Abang tidak ahli dalam membuat tulisan karya ilmiah." Ucap Rival, Dia masih setia memandangi wajah Mely yang semakin cantik jikalau dilihat dari bawah. Hidung Mely yang mancung, adalah daya tarik Mely.
"Apa pendapat Abang mengenai Sari?" ucap Mely, Dia pun mematikan laptopnya. Dan menatap suaminya.
"Sari?" tanya Rival bingung.
"Iya. Sari yang mau jadi istri kedua Abang." Jawab Mely malas, Dia mengangkat kepala Rival dari pahanya. Sehingga kini Rival berbaring di ranjang. Sedangkan Mely turun dari ranjang untuk menyimpan laptopnya.
"Kenapa membahas itu? apa Adek mau Dia jadi istri kedua Abang?" tanya Rival mengikuti perkataan Mely. Rival ingin tahu, bagaimana reaksi istrinya itu. Apakah marah mencak-mencak atau kembali diam sok tidak butuh.
Bibir Mely tersenyum, tapi hatinya kesal mendengar ucapan suaminya itu. Tapi, Dia harus tenang, Dia tidak boleh terpancing dengan ucapan Rival. Dia juga harus menahan lidahnya yang tidak bertulang itu, agar tidak mengeluarkan kata-kata yang bisa menyakiti hati suaminya.
"Mungkin Adek mau dimadu, makanya menanyakan itu?" ucap Rival masih terlentang menatap langit-langit kamar mereka yang didekor sangat indah.
"Siapa juga yang mau dimadu." Ucap Mely membelakangi Rival. Dengan perasaan sedih. Kenapa suaminya itu seolah ingin menikah lagi.
"Rumah ini terlalu besar untuk kita tempati." Ucap Rival, Dia mengalihkan topik pembicaraan. Dia tahu istrinya itu sudah kesal.
Mely diam tidak menanggapi ucapan suaminya itu. Dia sedang intropeksi diri. Kenapa Ayahnya sekarang begitu membencinya.
__ADS_1
"Sayang, kamu sudah tidur ya?" tanya Rival melirik istrinya yang membelakanginya itu. Yang diajak bicara masih diam.
Merasa tidak direspon. Rival pun mendekatkan tubuhnya kepada Mely. Tapi Mely, masih tidak bergeming. Sehingga dengan pelan tapi pasti, Rival melingkarkan tangannya di pinggang Mely. Yang membuat Mely terlonjak kaget.
Rival yang memeluk Mely dari belakang, mengendus-endus rambut Mely yang wangi. Yang membuat bulu Roma Mely meremang. Mely pun tidak tahan lagi, Dia berbalik. Sehingga mereka bisa bersitatap.
Mereka lama saling pandang. Yang membuat jantung Mely seketika bermasalah, detakannya jadi semakin cepat dan kuat. Rival pun merasakan hal yang sama, sehingga kini keduanya bahkan bingung hendak melakukan apa.
"Apa Abang akan menikah lagi?" tanya Mely menatap lekat kedua bola mata Rival. Menanyakan hal yang tidak penting, yang nantinya akan membuat hatinya kesal sendiri.
"Tergantung." Jawab Rival dengan polosnya. Dia tidak tahu, jawabannya itu akan membuat Mely berang. Oalah Mely, ada-ada saja dirimu, menanyakan hal yang tidak kamu ingin ketahui.
"Maksudnya?" Mely bingung.
"Kalau istri Abang meninggalkan Abang, ya terpaksa Abang akan cari pasangan lagi. " Rival mengelus pelan pipi Mely dan membelai kepala nya.
"Selain alasan itu, apa Abang masih ada niat menambah istri?" tanya Mely menatap Rival dengan mata berkaca-kaca.
"Tidak, untuk saat ini. Abang tidak ada kepikiran untuk menambah dan mengurangi istri Abang." Jawab Rival tersenyum kecil. Yang membuat Mely memukul pelan bahu Rival.
Rival menangkap tangan yang memukul bahunya itu. Dia pun mencium punggung tangan Mely yang halus dan putih itu. Rival menatap Mely dengan tatapan mendamba. Bibir yang mencium punggung tangan itu bergerak, kini sudah berpindah ke kening Mely.
__ADS_1
Dengan lembut, bibir Rival kini sudah mengabsen semua organ yang ada di wajah Mely. Yang membuat Mely malu, tapi ingin lebih. Sehingga bibir mereka kini saling berpangutan dengan gejolak nafsu yang sangat membara.
Pemanasan pun berlanjut, dengan tidak sabaran nya. Mely melepas kain yang menutup tubuh suaminya yang sangat menggoda. Rival juga melakukan hal yang sama. Dia dengan cepat membuat Mely polos dihadapannya yang membuat Rival langsung mendekap istrinya itu. Dia sangat suka merasakan gunung kembar Mely yang hangat bersentuhan dengan dadanya. Sehingga acara bercocok tanam pun mereka lakukan di kamar baru itu. Sampai dua ronde.