Misteri Jodoh (Janda Tapi Perawan )

Misteri Jodoh (Janda Tapi Perawan )
Bercerita part 1


__ADS_3

"Aku bisa jalan sendiri." Ucap Rili, Dia membuang wajahnya. Dia sangat kesal kepada Yasir, karena sikap Yasir, yang seolah menganggap Rili bukan istri orang.


Yasir menuruni anak tangga, dengan sesekali melihat Rili yang mengekorinya. "Cepat jalannya sayang!" ucap Yasir, akhirnya Yasir menarik lengan Rili. Sehingga Rili sekarang berada disebelahnya.


Mama Yasir tersenyum dengan manis dan begitu bahagianya, melihat putranya dan Rili berjalan mendekat ke arahnya. Yang sedang duduk di sofa ruang keluarga. Dia pun beranjak dari tempat duduknya. Dan langsung berjalan cepat, untuk memeluk Rili yang tangannya digandeng Yasir. Sebenarnya dari tadi, Rili sudah berusaha keras, untuk melepas genggaman tangan Yasir. Tapi, Yasir malah semakin mengeratkan genggaman tangannya.


"Ya ampun, menantu Mommy makin cantik saja." Ucap Mamanya Yasir, Dia pun memeluk Rili dengan begitu hangatnya. Kemudian cipika-cipiki. Sikap Mamanya Yasir, membuat Rili tercengang dan membeku di tempat, dengan detakan jantung yang tidak teratur.


Melihat Rili diam seperti maneken. Akhirnya Mamanya Yasir, menuntun Rili untuk duduk di sofa. Tentunya mereka duduk bersebelahan. Sedangkan Yasir. Duduk di depan kedua wanita yang sangat dicintainya itu.


"Begitu Mommy, dapat kabar. Menantu Mommy berada di Rumah ini. Mommy langsung berangkat dari Jakarta. Dan Semalam, Mama langsung minta dianterin ke sini dari kota Medan." Ucap Mamanya Yasir. dengan begitu hebohnya. Dia selalu menggenggam tangan Rili.


Rili masih bersikap speechless. Dengan tanpa berkedip melihat ke wajah mamanya Yasir, yang masih nampak seperti umur 35 tahun.


"Yasir, Apa ada yang salah dengan Mama?" tanya Mama Yasir yang bernama Melati Tersebut.


"Tidak ma, Mama cantik."


"Tapi, kenapa menantu Mama ini diam saja?" tanya Mama Yasir, dengan raut wajah yang sedikit sedih.


"Dia terkejut, karena Mama tiba-tiba kemari." Ucap Yasir, dan menatap Rili dengan terseyum.


"Ini kening dan pelipis kenapa diperban?" Mama Yasir, menjulurkan tangannya hendak memeriksa luka Rili.


"Tidak apa-apa Tante. Hanya kejedut ke dinding." Ucap Rili, Dia meraih tangan Mamanya Yasir dengan lembut dan menggenggamnya.


"Kamu tidak main kekerasan kan Yasir?" Mama Yasir melotot ke arah Yasir.


"Tidak Ma. Mana mungkin Aku tega melukai wanita yang sangat ku cintai." Ucap Yasir. Ucapannya begitu tulus terdengar. Dia pun menghadiahi Rili dengan senyuman. Senyuman Yasir, tidak mendapat balasan.


"Iya, saking cintanya. Kamu menentang semuanya." Ucap Mama Yasir. Dia mengelus kepala Rili dengan lembut. Perlakuan Mamanya Yasir itu, membuat mata Rili berkaca-kaca. Jika benar mempunyai Ibu mertua yang baik seperti ini. Sungguh


sangat bahagia rasanya.


"Seandainya Bou, baik kepadaku. Tidak perlu seperti sikap Mamanya Abang Yasir ini. Sikapnya biasa saja. Aku mungkin akan sangat bahagia. Mungkin selamanya hidupku akan menderita. Mempunyai mertua yang sangat membenciku. Aku pun tidak bisa mencintai suamiku. Tapi, tidak mungkin Aku mengkhianatinya. Dia pria yang sangat baik." Gumam Rili dalam hati. Matanya kini meneteskan cairan bening. Yang membuat Mamanya Yasir terheran-heran.


"Ta..nte, sebenarnya Rili sudah menikah." Ucap Rili dengan gugup, Dia pun mencoba merilekskan dirinya dari detakan jantung yang sangat kencang. Dia langsung to the point. Dia tidak mau larut dalam masalah ini. Dia harus keluar dari rumah ini.


"Iya Ma, Kami sudah menikah. Tapi masih menikah siri." Ucap Yasir cepat menimpali ucapan Rili. Matanya melotot ke arah Rili, yang membuat Rili ketakutan.


"Iya, Mama juga pasti mikirnya seperti itu. Kamu pasti tidak tahan untuk jauh darinya, bahkan satu detik pun. Iya kan? makanya kamu menikahinya Siri. Karena tidak sanggup menunggu seminggu lagi untuk urusan administrasinya kan Anakku yang genit?" Ucap Mama Yasir, Dia pun bergerak dari tempat duduknya dan mencubit perut Yasir. Yang membuat Yasir, mengaduh kesakitan. Tapi, dibarengin suara tertawa Yasir yang renyah.


Rili sangat kesal mendengar ucapan Yasir. Rili merasa Yasir, Tidak menghargainya.


"Tante.." Mama Yasir menoleh ke arah Rili, karena Dia merasa dipanggil oleh Rili.


"Jangan panggil Tante. Panggil Mommy aja ya?" Ucap Mama Yasir. Dia pun kembali mendudukkan bokongnya disebelah Rili.


"Jadi kapan nikah resmi dan resepsinya?"


"Tan....te... eehhh....Mommy.... Aku sudah menikah dengan pria."


"Eehhhh... bentar sayang. Ada telpon dari Ayah. Mommy, angkat dulu."


"Walaikumsalam Sayang. Apa? Ayah sudah ke kota PSP? jam 9? Baiklah sayang. Adinda akan menyusul kesana." Ucap Mamanya Yasir dan langsung memasukkan ponselnya ke tas mewahnya merk keresek.


"Yasir, Mama langsung berangkat ke kota PSP. Teryata Ayah meminta Mama untuk menemaninya menemui rekan bisnis. Padahal semalam kata Ayah. Dia dua hari di kota Medan. Lah sekarang, sudah di kota PSP. Tahu gitu mending Mama ikut Ayah berangkat tadi malam."


"Mungkin Ayah menyusul mama, setelah Mama berangkat. Kita sarapan dulu ma." Ajak Yasir.


"Tidak usah. Ayah mu mendesak. Mama sarapan bersama Ayahmu saja." Ucap Mama Yasir. Dia kemudian memeluk Rili dan mencium puncak kepalanya.


"Mama berangkat dulu ya. Kalau urusan Ayah cepat selesai. Maka dua hari lagi Kami akan kesini." Mamanya Yasir pun pergi meninggalkan rumah Yasir. Dimana Yasir dan Rili mengantarkan Mamanya sampai ke luar rumah.


"Aku harus pergi dari sini. Aku tidak mau menambah dosa, Aku tidak mau kumpul kebo denganmu. Tolong, antarkan Aku ke rumah Mama. Kalau tidak, kemana Abang singkarkan pakaian dan tas ku?" ucap Rili kesal. Dan menepis lengan Yasir yang hendak merangkul bahunya Rili, saat mereka berjalan dari teras rumah.

__ADS_1


"Kamu tidak boleh pergi dari rumah ini." Ucap Yasir dengan tegas, setelah Rili menepis tangannya.


"Apa maksud ucapanmu itu Abang Yasir? Apa mau mu?" Mata Rili sudah mulai panas. Dia sangat kesal dengan Yasir, yang suka-suka hatinya saja.


"Mau ku hanya kamu. Kamu selalu disisiku. Kita hidup bersama sampai ajal menjemput." Yasir mendekat ke arah Rili, dan mencoba untuk merangkul Rili.


"Ayo .. kita sarapan dulu. Kalau yang sejengkal ini sudah terisi. Artinya kalau perut sudah kenyang, pikiran tenang, hatipun jadi senang." Yasir menjengkal perutnya. Kemudian menggaret Rili untuk duduk dikursi meja makan.


Bi Siti sudah memasak nasi goreng, telor mata sapi, dan Ayam goreng kalasan.


"Maaf tuan, Bibi baru sempat masak ini saja." Ucap Bi Siti, Dia membawakan susu dalam gelas besar dan meletakkannya di hadapan Rili.


Yasir menganggukan kepalanya. "Ayo, dimakan sarapannya sayang."


"Aku bukan sayangmu," jawab Rili ketus. Dia pun memasukkan satu sendok nasi goreng ke mulutnya dan membuang wajahnya kesamping.


"Ayo makan lebih banyak cinta!" ucap Yasir dengan tersenyum. Dia sangat menyukai ekspresi wajah Rili yang cemberut itu. Gemesin banget.


Rili diam saja. Dia kehabisan kata-kata untuk melawani Yasir. Yang muka tembok itu.


"Susunya harus diminum habis ya dek!"


"Aku alergi minum susu. Aku intoleransi laktosa." Ucap Rili cepat dan tidak menatap Yasir.


"Oh ya, Abang koq baru tahu. Adek Intoleransi Laktosa. Nanti kalau Adek, hamil anak kita. Berarti adek tidak bisa minum susu. Tapi, jangan khawatir. Nanti Adek minum susu kedelai saja."


"Stop....stop... omong kosong ini semua." Ucap Rili dengan intonasi tinggi. Dia meletakkan sendok di piringnya dengan kuat, sehingga terdengar suara benturan sendok dengan piring kaca, tempat Dia makan.


Rili meninggalkan meja makan dan berlari menuju kamar. Rili tidak henti-hentinya terisak, Dia pun akhirnya di dekat jendela kamar Yasir. Dia menatap ke luar jendela, dengan menangis.


Dia sedang meratapi nasibnya yang begitu menyedihkan dan rumit itu.


Yasir yang menyusulnya ke kamar, kini Dia sudah berdiri dibelakang Rili. Dia memegang kedua pundak Rili.


Rili berpindah tempat, Dia mendudukkan tubuhnya di sisi ranjang. Yasir mengikuti setiap pergerakan Rili. Kini Yasir pun mendudukkan bokongnya disebelah Kiri Rili.


"Kenapa fotoku sewaktu remaja, ada di ruang kerja Abang? Apakah Andre dan Yasir adalah orang yang sama?" tanya Rili, Dia pun memutar tubuhnya ke arah Yasir.


Yasir menatap lekat kedua mata Rili. "Kamu cari jawabannya di mata Abang." Ucap Yasir, Dia sekarang berusaha menenangkan dirinya. Dia merasa trauma untuk menceritakannya.


Yasir meraih tangan kanan Rili, Dia meletakkannya di dadanya yang bidang.


"Coba rasakan detakan jantung ini. Setiap detakannya selalu ada namamu. Bahkan di alam bawah sadar Abang. Kamu selalu ada." Ucap Yasir.


"Tolong bang, jangan berbelit-belit. Langsung jawab aja. Apakah Andre Dermawan, Yasir Kurnia dan Ryan perdana, adalah orang yang sama? ucap Rili, tangan kanannya yang berada di dada bidang Yasir. Merasakan semakin kencang degupan jantung Yasir.


Yasir tidak mau membahas masa lalunya yang begitu menyakitkan itu. Karena Apabila Dia kembali menceritakannya. Dia akan merasa lemas, tubuhnya akan panas dingin. Tapi, apa mau dikata. Semuanya memang harus diungkap, agar tidak ada kesalahpahaman.


Yasir menurunkan tubuhnya terduduk dilantai. Sedangkan punggungnya bersandar di badan tempat tidurnya. Kaki kanannya ditekuk, dimana kedua tangannya saling bertautan menempel ditempurung lututnya. Sedangkan kaki Kirinya berseloncor. Yasir pun mulai bercerita.


"16 tahun yang lalu, disaat kami sekeluarga. Ayah, bunda dan Abang, berlibur ke kota Sibolga. Di kota itu Ayah baru membeli sebuah Hotel. Abang, yang sedang bosan merasa di kamar, akhirnya keluar berjalan-jalan dipinggir pantai. Abang melihat gadis remaja yang begitu imut dan memprihatinkan sedang menangis, sambil memuguti dagangannya yang jatuh. Kamu masih ingat Kejadian itu?" ucap Yasir. Dia mendongak ke atas untuk melihat Rili yang masih duduk di pinggir tempat tidur.


Saat Yasir mendongak ke arah Rili. Jelas sudah mata Yasir sudah berkaca-kaca. Rilipun akhirnya mendudukkan tubuhnya disebelah Yasir. Diatas lantai marmer yang mengkilap.


"Saat itu, Abang sangat menyukainya. Wajahnya begitu polos. Dengan pakaian yang digunakannya dibagian kaos oblongnya itu sudah ada koyakan-koyakan- kecil. Rambutnya dikuncir kuda. Walau pakaiannya sedikit buruk, tapi Dia kelihatan bersih. Dia sangat cantik Dimata Abang." Yasir menoleh ke arah Rili dengan tersenyum.


"Andre itu Abang sayang." Ucap Yasir. Dia mengelus lembut puncak kepala Rili yang juga berada disebelahnya.


Rili tidak menolak, sikap Yasir yang mengelus kepalanya. Dia sekarang semakin bingung dan merasa tertekan dengan informasi yang baru didengar dari Yasir.


"Kebersamaan kita selama dua Minggu, sukses membuat Abang, Cinta mati kepada gadis kecil ini." Ucap Yasir. Dia mengelus pelan foto Rili dan dirinya yang ada dibingkai itu.


"Kenapa Abang mengganti nama?"


"Hussss.... biarkan Abang bercerita, jangan ada pertanyaan." Ucap Yasir. Di mendekatkan jari telunjuk ke bibir Rili yang ranum.

__ADS_1


"Apa kamu masih menyimpan kalung yang Abang berikan?" Yasir menatap lembut ke arah Rili. Rili menganggukan kepalanya.


"Kenapa Adek tidak memakainya?" Rili tidak menjawab. Tidak mungkin Dia mengatakan bahwa. Dia sudah melupakan Andre dan menerima cinta Yasir.


"Itu kalung punya Bunda. Gelang dan cincin yang Abang kasih kenapa kamu kembalikan melalui Windi?" pertanyaan Yasir, sukses membuat Rili terkejut. Jantungnya berdetak cepat dan kuat. Duugg.....!


Rili merasa terkejut dan kecewa kepada sahabatnya itu, karena Windi menyembunyikan semua darinya, mengenai Yasir.


"Apa Abang menemui Windi?" Rili menatap lekat wajah Yasir dengan tidak sabar menunggu jawabannya. Sungguh Windi sangat tega membohonginya.


Yasir mengangguk. "Abang juga menemui Ibu, sehari setelah kamu menikah. Saat Abang mendapati kenyataannya kamu menikah. Abang hancur, penantian 16 tahun, sia-sia sudah. Gadis yang saaannnggaaatttt ku cintai. Ternyata tidak merasakan cintaku yang begitu besar." Yasir menghela napas dan menjauhkan pandangannya dari Rili dan menatap fokus ke depan.


"Tidak seperti itu. Aku juga menunggu Abang."


"Tapi, akhirnya kamu menikah juga kan?" ucap Yasir dengan suara lemah dan menyedihkan.


"Ibu sampai memohon kepada Abang, agar Abang, jangan mengganggu hidupmu. Bahkan Menelponmu tidak bisa. Abang menerima permintaan Ibu. Karena katanya kamu menikah dengan pria yang baik dan kamu mencintainya.


"Pernyataan Ibu itu, sangat menyakitkan. tajam, menghantamkan hati Abang. Perih dan sesak di dada. Abang mengikhlaskan semuanya. Karena kata Ibu, Adek sangat bahagia dengan pasangan Adek.


"Tujuan hidupku adalah membahagiakanmu. Kalau memang ada orang lain yang bisa membahagiakanmu. Maka Abang ingin mengetahui siapa pria yang beruntung itu. Abang akan mencoba mengikhlaskan Adek. Asal benar Adek bahagia. Tapi, Ibu tidak mengizinkan Abang, untuk bertemu denganmu. Bahkan Ibu memohon sampai menangis tersedu-sedu. Agar Abang memutuskan kontak denganmu. Karena, kata Ibu, Adek tidak mencintai Abang. Ibu takut, kehadiran Abang, akan membuat masalah.


"Tapi, lihatlah kita dipertemukan lagi. Abang, tidak akan melepaskan kamu lagi." Yasir memutar tubuhnya, Dia melap air mata Rili yang sudah membanjiri wajah Rili yang putih.


"Keinginan macam apa itu? itu jelas tidak akan pernah terjadi. Kita sudah punya kehidupan masing-masing. Abang sudah punya istri dan Aku juga sudah bersuami." Ucap Rili, Air mata makin deras saja bercucuran, yang membuat Yasir makin kewalahan melihat Rili yang menangis itu. Sungguh Dia tidak bisa melihat Rili bersedih.


"Istri....? Istri... ? Siapa yang sudah punya istri?" Yasir mengelus pelan rambut Rili dan kedua tangannya memegang pundak Rili.


"Hanya kamu yang akan menjadi istri Abang." Yasir menjulurkan tangan kanannya dan melap air mata yang membasahi pipi Rili.


Deg.... Jantung Rili berdetak kuat, mendengar ucapan Yasir. Dia menatap lekat kedua bola mata Yasir yang menurut Rili Sangat indah itu. Bola Mata Yasir tidak besar dan tidak sipit. Bulu mata Yasir juga sangat lentik. Rili menemukan jawaban yang jujur dari tatapan Yasir.


"Selamanya. Kalau kamu tidak bisa Abang miliki. Mungkin hati ini tidak bisa mencintai lagi." Ucap Yasir. Dia pun menarik tubuh Rili dan memeluknya, masih dalam posisi terduduk. Rili diam saja, menerima perlakuan Yasir yang memeluknya sambil mengelus-elus lembut lengan Rili.


"Tapi, saat acara ulang tahun perusahaan yang diadakan di Jakarta. Adek melihat sendiri. Abang dan seorang wanita. bergelayut manja di lengan Abang." Ucap Rili masih menangis dengan tersedu-tersedu dalam pelukan Yasir.


"Adek melihatnya dimana?"


"Disiaran langsung, yang ditayangkan di Hotel milik Abang yang dikota S. Waktu itu, Aku sangat merindukan Abang. Tapi, Abang tidak pernah ada kabarnya. Saat sedih-sedihnya. Aku dan Windi menenangkan pikiran ke pantai. Aku menceritakan kepada Windi, Abang meninggalkanku tanpa pesan. Abang jahat." Ucap Rili, Dia sedikit berontak. Sehingga Dia menjauhkan tubuhnya dari pelukan Yasir.


"Itu Maura, putri angkat rekan bisnis Ayah yang dari dulu selalu dijodohkan kepada Abang. Tapi, Abang menolaknya. Saat acara ulang tahun perusahaan, Ayah menyusun siasat. Untuk mengumumkan pertunangan Abang di acara itu. Tapi, dengan tegas. Abang menolaknya di hadapan para undangan. Yang membuat Ayah kecewa. Sesampai di rumah. Abang dan Ayah bertengkar hebat.


"Ayah mengancam, akan mengeluarkan nama Abang dari daftar keluarga. Abang tidak takut dengan ancaman Ayah. Abang begitu kecewa kepada Ayah. Karena, Ayah mempermainkan perasaan Abang.


"Ayah akan merestui hubungan kita. Dengan syarat, selama 3 bulan penuh Abang tidak boleh berkomunikasi dengan Adek. Ayah ingin Abang fokus mengurus perusahaan di kota Pekanba*ru yang saat itu sedang banyak masalah.


"Sekali saja, jikalau Abang melanggar syarat Ayah. Maka Dia tidak akan merestui kita. Tiga bulan tidak bisa mendengar suaramu, tidak bisa melihatmu. Membuat Abang sangat Frustasi. Makanya, setiap satu bulan sekali. Abang mengambil kesempatan, untuk mengunjungi Hotel di kota S. Padahal, Ayah sudah menjadwal. Bahwa untuk mengevaluasi kinerja Hotel sudah diserahkan tanggung jawabnya kepada Asisten Yusuf.


"Abang selalu berusaha mengintaimu sayang. Tapi, tidak diketahui Ayah. Kamu tahu, Abang mau menerima syarat konyol dari Ayah itu. Supaya Ayah merestui hubungan kita. Tapi, ternyata Ayah mempermainkan Abang.


"Ayo.... !" Ucap Yasir. Dia berdiri, dan membantu Rili untuk bangkit. Rili mengikuti langkah Yasir, yang mengajaknya ke suatu ruangan. Yang terhubung dengan kamarnya.


Ceklek....


Yasir dan Rili memasuki suatu ruangan tersebut. Betapa terkejutnya Rili melihat. Fotonya begitu banyak menempel di dinding ruangan tersebut. Di ruangan itu juga ada, layar monitor dan pemutar video.


Yasir menghidupkan layar monitor. Air mata kembali mengalir deras dipipi Rili saat Dia melihat tontonan dihadapannya.


Bersambung


Mohon beri like, coment positif. Rate bintang 5 dan jadikan novel ini sebagai favorit.


Jangan lupa VOTE nya kak!


Terima kasih.

__ADS_1


__ADS_2