Misteri Jodoh (Janda Tapi Perawan )

Misteri Jodoh (Janda Tapi Perawan )
Season 2 Yasir dan Rili muncul


__ADS_3

POV Rival


Empat bulan sudah Mely menghilang bak ditelan bumi. Segala upaya telah kulakukan untuk menemukannya. Tapi, semua usahaku tidak membuahkan hasil.


Sejak kepergiannya dari hidupku, Aku hanya bisa menyesalinya. Merutuki kebodohanku. Menangis meraung-raung setiap malam jikalau Aku merindukan tingkah konyolnya. Aku melakukan kesalahan yang sama lagi, sehingga orang yang begitu berarti dalam hidupku pergi meninggalkanku.


Ayah dan Mama Maryam sampai saat ini tidak mengetahui bahwa sebelum Aku pergi ke kota S. Aku sempat beradu mulut dengannya. Aku malu untuk mengatakannya. Jadi, mereka menyimpulkan kepergian Mely adalah karena sifat kaburnya kumat lagi.


Malam ini Aku kembali tidak bisa tidur, Aku sangat merindukan istriku, anak-anakku. Bagaimana kabar mereka? apakah anakku sudah lahir?


Membayangkannya sudah melahirkan tanpa ada diriku disisinya, membuat hatiku semakin hancur. Kenapa penderitaan tidak pernah berakhir dalam perjalanan hidupku.


Kenapa...? tangisku kembali pecah ditengah malam yang sunyi. Setelah Aku melaksanakan sholat tahajud. Aku memohon kepada Allah pengampunan dan kesehatan untuk Mely istriku dan anak-anakku yang tidak ku ketahui keberadaannya. Aku tidak mau anak-anakku merasakan penderitaan seperti yang ku rasakan semasa kecil.


Mely...... kamu dimana....?


Dert....dert...dert.... Ponselku berdering di atas nakas. Aku sangat malas untuk mengangkatnya. Tapi, siapa yang menelpon malam-malam begini. Tentunya itu adalah panggilan yang sangat penting.


Aku bangkit dari dudukku, tanpa melipat sajadah. Aku berjalan cepat menuju nakas tempat ponselku tergeletak. Ternyata Mama Maryam yang menghubungi.


Dengan mencoba menstabilkan jantungku yang berdetak cepat. Aku menerima panggilan itu. Pasti ada kabar yang buruk akan disampaikan oleh Mama.


"Nak Rival, cepat ke Rumah Sakit. Ayah sekarat, Dia memanggil-manggil namamu." Ucapan Mama Maryam membuat Aku semakin takut dan sedih. Aku langsung mematikan panggilan dari Mama. Mengganti pakaianku dengan cepat, berlari menuju garasi.


Seharian ini Aku di rumah sakit menemaninya, Ayah sudah nampak baikan. Bahkan Dia meminta dibelikan makanan kesukaannya yaitu kolak pisang. Baru juga Aku meninggalkannya satu jam, kondisinya sudah memprihatinkan seperti sekarang ini.


Sesampainya di ruangan Ayah di rawat. Aku langsung menghampiri Ayah dan memeluknya. Ayah memang nampak sekarat malam ini. Sudah dua bulan Ayah dirawat di Rumah Sakit. Awalnya struk ringan dan akhirnya dokter mengatakan Ayah komplikasi jantung dan paru-paru nya bermasalah dan tadi pagi, dokter mengatakan ginjal Ayah juga bermasalah. Sehingga tadi siang Ayah harus melakukan cuci darah.


"Ayah, Ayah... ini Aku Ayah. Ini Aku Rival." Ucapku dengan berderai air mata, sepertinya Ayah sudah tidak bisa fokus lagi. Ayah menatapku dengan menitikkan air mata dan tersenyum.


Melihat tanda-tanda Ayah akan sakratul maut. Aku membimbing Ayah melewatinya. Ku tuntun kepala Ayah menghadap kiblat dan ku bisikkan syahadat ditelinga Ayah dengan lembut. laa ilaaha illallah. Ayah pun berpulang ke Rahmatullah dengan tersenyum.


Raungan tangisan Mama menggema di ruangan itu. Sedangkan perawat yang kebetulan ada di ruang itu mengucapkan turut berduka cita Inalillahi Wainailaihi Rojiun.

__ADS_1


Dengan berderai air mata Aku mengusap wajah Ayah yang nampak teduh itu. Mama Maryam Langsung memeluk erat tubuh Ayah, Dia menghadiahi banyak ciuman di wajah Ayah dan tak henti-hentinya menangis.


"Jangan tinggalkan Aku suamiku... Kenapa kalian berdua meninggalkan ku seorang diri dunia ini. Mely..... kamu dimana sayang? Ayah sudah pergi untuk selamanya. Mely... Kenapa kamu menghilang. Apa salah Mama kepadamu? sehingga Kamu pergi dan tidak kembali lagi." Ucapan Mama yang meraung-raung dengan berderai air mata itu, membuatku tidak tahan lagi. Aku pun ikut menangis dan melampiaskan kekesalan ku dengan meninju dinding ruangan itu.


Tanganku berdarah, para perawat yang ada di ruangan itu mencoba menghentikan aksi gilaku. Ya, Aku sepertinya sudah gila. Aku bisa gila, karena terus menyesali sikapku, yang salah ambil tindakan.


Orang yang begitu tulus mencintaiku pergi meninggalkanku, Dia menghilang. Ayah pergi untuk selamanya. Apa gunanya lagi Aku hidup di dunia ini. Untuk apa harta yang banyak ini?


"Pak, masih banyak yang harus anda urus. Dimohon kerjasamanya." Ucap Seorang perawat lembut. Dia memenangkan ku yang hilang kendali itu.


Jenazah Ayah pun dibawa ke rumahnya Ayah. Banyak rekan bisnis Ayah yang datang melayat mulai dari shubuh hingga saatnya Ayah akan dikebumikan, setelah sholat Dzuhur.


Aku melihat Yasir dan Rili menghampiriku yang masih duduk di dekat di sebelah kanan jenazah Ayah yang sudah dikafani itu dan akan siap di sholatkan.


"Sabar ya Bang." Ucap Yasir memelukku. Setelah itu Rili juga mendekat dan menyalami tanganku. Dia juga mengatakan kalimat seperti yang diucapkan suaminya.


Melihat mereka, dadaku semakin sesak saja terasa. Rasa sesak dan sakit yang ku rasa bukan karena cemburu melihat mereka yang nampak serasi. Tapi, Aku teringat dengan istriku Mely. Apakah Dia masih ada di dunia ini? kemana lagi Aku akan mencarinya.


Kesedihan dan penderitaan yang ku rasakan sekarang, rasanya begitu kompleks. Ayah dan istriku meninggalkanku.


Aku terduduk dengan nampak bodoh dan menyedihkan didekat jenazah Ayah. Aku merasa tidak punya semangat hidup lagi. Tapi, Aku harus bangkit. Masih ada Mama Maryam yang harus ku jaga.


Setelah Ayam dikebumikan, tiga malam berturut-turut, diadakan tahlilan di rumah besarnya Ayah. Banyak rekan bisnis Ayah yang masih terus berdatangan dan ikut dalam acara itu. Bahkan Yasir dan Rili juga ikut setiap malamnya dalam acara tahlilan itu.


Hingga hari ke empat setelah kematian Ayah. Siangnya Yasir dan Rili datang bertamu. Aku yang sedang meratapi nasibku di ruang kerja Ayah. Dikagetkan oleh Bi Ina yang menepuk punggungku. Ya, Aku tidak sadar telah tertidur di atas meja kerja Ayah. Setelah melaksanakan sholat Dzuhur.


"Tuan muda, ada tamu didepan." Ucap Bi Ina lembut. Rasanya malas sekali untuk menjumpai tamu itu. Karena Aku baru saja tertidur. Tapi, tidak mungkin Aku mengusir mereka.


Dengan malasnya, Aku masuk ke kamar mandi yang ada di ruang kerja Ayah. Setelah merasa wajahku sudah bersih dan fresh. Aku turun ke bawah, menyamperin tamu yang datang. Penampilanku masih seperti orang habis selesai sholat. Yaitu memakai baju Koko warna abu-abu dan memakai sarung.


Ternyata Mama Maryam, sudah duluan menemani tamu itu. Yang tak lain adalah Yasir dan Rili.


"Ooohh Yasir dan Rili. Maaf lama menunggu." Ucapku dengan berusaha bersikap tenang. Aku pun duduk dihadapan mereka. Aku jadi heran, kenapa pasangan ini seolah begitu prihatin kepadaku. Bahkan mereka selama tahlilan datang terus mengikuti acaranya dan hari ini untuk apa mereka datang lagi.

__ADS_1


"Karena Nak Rival sudah datang. Tante masuk ke kamar dulu ya!" ucap Mama Maryam dengan pelan, sambil memegangi kepalanya. Sepertinya kepala Mama Maryam sakit.


"Tante, kalau bisa Tante juga harus disini. Ada hal penting yang ingin kami sampaikan." Ucap Rili sopan dengan sedikit sungkan. Itu jelas terlihat dari bahasa tubuhnya yang duduk di sofa dengan tidak tenang.


"Oohh Iya, baiklah. Apa hal penting itu?" tanya Mama Maryam, menatap pasangan suami istri dihadapannya. Kemudian beralih menatapku yang duduk disebelahnya.


"Sebenarnya begini, maaf kalau saya sedikit lancang." Ucap Rili, Dia menjeda ucapannya. Seolah sedang mengumpulkan keberanian nya untuk bicara.


"Sebenarnya istri Abang dimana? kenapa Aku tidak melihatnya sejak hari dimakamkannya Pak Ali sampai hari ini?" ucap Yasir melanjutkan kalimat yang tidak jadi diucapkan Rili. Aku yakin Yasir mengetahui sesuatu tentang Mely.


Deg..


Mendengar ucapan Yasir, hatiku Langsung sakit, dada terasa sesak. Bagaimana Aku akan mengatakannya kalau istriku menghilang.


"Apakah tujuan kalian datang kesini, hanya untuk mencari gosip tentang rumah tanggaku?" tanyaku dengan nada negatif. Aku merasa pasangan disebelah ku ini terlalu ikut campur.


"Maaf Bang Rival, Tante. Kami datang kesini, tidak ada niat untuk ikut campur urusan rumah tangga Abang Rival. Tapi, kami yang sudah menganggap Abang adalah saudara, merasa sedikit heran dan bertanya-tanya. Kenapa dari hari kemalangan sampai sekarang saya tidak melihat istrinya Abang." Ucap Yasir tenang. Menatapku dan juga Mama Maryam. Ya, Yasir yang banyak bertanya, karena Dia memang sudah pernah bertemu dengan Mely saat resepsi pernikahan kami di Australia. Sedangkan Rili pasti tidak mengenal Mely.


Aku diam begitu juga dengan Mama Maryam. Apa maksudnya Yasir menanyakan itu. Apa Dia ingin mengorek sakit yang ku rasakan. Bukannya berita tentang hilangnya Mely sudah tersebar di media. Apa Yasir dan Rili tidak mengetahui kabar hilangnya istriku?


Ya sepertinya mereka tidak mengetahuinya.


"Seminggu yang lalu, saat kami melakukan perjalanan dari kota S ke kota M. Melalui jalur darat. Saya melihat seorang wanita mirip sekali dengan istrinya Abang di Parapat Danau Toba. Saat itu kami sedang beristirahat di salah satu Rumah makan. Wanita yang mirip istrinya Abang itu sedang hamil besar. Dia sedang membawa sesuatu dan masuk ke rumah makan itu dan berjalan kebelakang tepatnya ke dapur Rumah makan." Ucapan Yasir membuatku terkejut, dan harap-harap cemas.


"Tapi karena penampilannya yang nampak Kumal dan tidak terurus, jadi Aku merasa itu bukan istrinya Abang. Secara saat kita bertemu di Australia istri Abang sangat modis, cantik dan masih muda." Ucap Yasir, Dia melirik istrinya yang disebelahnya.


Aku langsung bergegas dari dudukku, tanpa menjawab ucapan Yasir. Aku yakin itu Mely. Aku masuk ke kamar, mengambil dompet dan kunci mobil.


Aku kembali berlari menuju garasi mengabaikan Yasir, Rili dan Mama yang masih duduk di sofa ruang tamu.


Aku memacu mobilku dengan kecepatan tinggi menuju Danau Toba. Yang kalau tidak ada halangan akan memakan waktu perjalanan dari kota M ke Danau Toba selama empat jam.


Sepanjang perjalanan hatiku tidak tenang. Bahkan Aku belum sempat mengganti pakaianku. Dan bodohnya Aku tidak menanyakan detail lokasi dimana Yasir melihat Mely Istriku.

__ADS_1


__ADS_2