
"Adek kenapa?" ucap Rival dengan penuh khawatirnya, karena melihat raut wajah Mely yang bingung serta ketakutan itu.
"Tidak apa-apa." Jawabnya dengan sedikit gugup, dan memalingkan wajahnya menghindari tatapan mata Rival. Tapi, saat Dia melihat ke arah lain tersebut. Mely seolah melihat dua pria berbadan besar. Pria itu memalingkan wajahnya, saat sepersekian detik mereka bersitatap.
Rival menatap ke arah Mely memandang, karena Rival merasa cara Mely memandang ke arah itu sedikit janggal.
"Ada apa?" tanya Rival penasaran.
"Tidak apa-apa. Aku seperti melihat orang yang pernah kulihat sebelumnya." Ucap Mely. Dia masih memalingkan wajahnya dari suaminya itu.
"Kalau ada sesuatu yang mengganjal di hati dibilang. Dari tiga hari yang lalu Adek sikapnya berubah. Sikap Adek itu membuat Abang serba salah. Abang bukan mbah dukun yang tahu isi hati Adek." Ucap Rival, mencoba meraih dagu Mely yang sedang membuang muka itu.
Mely pun dengan groginya, mengiyakan dagunya dijawir Rival, sehingga mereka bersitatap untuk persekian menit. Yang membuat Mely langsung menunduk. Karena malu melihat suaminya itu. Dia malu dengan tingkahnya sendiri, yang tidak belajar dari pengalaman. Ini kedua kalinya Dia bersikap dingin kepada Rival.
Mely meraih tangan Rival dari dagunya. Dia menghela napas dalam. "Kata orang-orang, pasangan yang saling mencintai pasti mengetahui isi hati pasangan nya walau tidak dikatakan." Akhirnya kata itu terlontar cepat dari mulut Mely.
Ucapan istrinya itu membuat Rival sedikit mengerti, bahwa Mely ingin dipahami. Tapi, bagaimana Rival mau mengetahui isi hati Mely. Dia saja belum merasa ada ikatan batin dengan istrinya itu.
Rival saja mau melanjutkan hubungan ini. Karena terjebak dengan Mely dan menikah di kantor Polisi dengan permintaan Pak Ali. Jauh dihati Rival yang terdalam, belum ada tempat Mely disudut manapun.
Walau Rival membalas sentuhan Mely, itu normal saja. Karena Rival adalah pria normal yang apabila disodorin yang enak, mana mungkin menolak.
"Kita kan baru kenal, mana mungkin ada ikatan batin. Untuk itu, kalau ada yang mengganjal di hati disampaikan. Abang serius dengan hubungan kita ini. Jadi Abang harap Adek jangan seperti bunglon yang setiap hari berubah-ubah." Ucap Rival lembut, Dia pun menarik Mely ke pelukannya dan mencium puncak kepalanya, yang membuat Mely kesemsem bahagianya dan deg deg an.
Mereka masih duduk di bangku beton dan memandang hamparan biru Danau Toba yang indah.
__ADS_1
"Haruskah Aku mengatakan kepadanya kalau Aku tidak suka, jikalau Dia menyimpan foto mantan istrinya? haruskah Aku memintanya untuk tidak terlalu dekat dan ramah kepada Sari. Tapi, jika Aku mengatkan itu. Dan Abang Rival menganggap permintaan ku itu aneh dan Dia tidak mau mengindahkannya. Jelas nanti Aku akan semakin kesal. Tapi, jika tidak ku katakan isi hatiku ini. Aku jadi tidak tenang." Gumam Mely dalam hati. Dia mendongak untuk melihat wajah Rival buang nampak teduh memandang hamparan Danau Yang biru itu.
"Abang inginnya kita rukun begini. Agar kedekatan kita makin terasa. Sudah keempat hari ini Adek membuat Abang tidak tenang."
"Maksudnya?" Mely penasaran, kenapa suaminya itu mengatakan sudah empat hari tidak tenang. Padahal Mely melihat ya Rival baik-baik saja, saat Dia merajuk.
"Sikap Adek yang dingin kepada Abang, sangat membuat Abang tertekan. Abang selalu menduga-duga. Kesalahan apa yang sudah Abang perbuat, sehingga Adek tiba-tiba berubah jadi dingin." Rival merasa sedikit legah disaat Dia mengatakan isi hatinya.
"Apakah itu artinya, Adek ini berarti dan berpengaruh dihidup Abang?" tanya Mely dengan hati-hati. Tapi, Dia merasa senang. Ternyata suaminya itu selalu memikirkan nya.
"Adek itu istri Abang. Jelaslah sikap Adek yang berubah dingin membuat Abang cemas dan takut." Rival mengapit hidung Mely dengan jari telunjuk dan jempolnya. Dia gemes dengan Mely yang sok-sok tidak mengerti itu.
"Katakan kepada Abang, apa yang membuat Adek tiba-tiba jadi dingin?"
"Ayo katakan, kita harus saling terbuka. Untuk kedepannya, Abang tidak ingin Adek berubah jadi dingin dan merendahkan harga diri Abang. Adek pikir, hati Abang tidak sakit. Adek bilang Abang miskin dan kampungan. Ucapan Adek itu, membuat Abang jadi pesimis. Dan ingin rasanya pergi meninggalkan rumah dan Adek juga." Ucap Rival dengan sedih, hatinya masih terasa sakit, mengingat ucapan istrinya itu.
Mely melonggarkan pelukan Rival. Sehingga mereka bersitatap. Ada rasa bersalah dan menyesal mendalam dihati Mely, karena ucapannya itu melukai pria yang dicintainya itu. Tapi, mau gimana lagi. Sikap Mely yang ekstrovert dan blak-blakan serta mulut setajam silet itu. Tidak bisa dikontrolnya disaat Dia emosi.
Mely yang merasa bersalah itu akhirnya diam seribu bahasa. Ucapan Rival membuatnya malu.
"Apa Adek ingin diposisi Abang? biar Abang lakukan. Dan Abang akan menghina Adek." Ucap Rival tegas menatap Mely, yang membuat Mely terkejut, takut dan sekaligus bingung dengan ucapan suaminya itu.
"Maksud Abang apa?" nyali Mely menciut.
"Abang akan menerima tawaran Ayah, dengan mewariskan semua hartanya kepada Abang. Auto Abang jadi konglemerat dong. Nah, disaat itu, Abang campakkan Adek. Jadinya Adek konglomelarat dong. Alias ME....LA...RAT..!" ucap Rival dengan intonasi tegas, yang diikuti oleh gerakan tangannya di udara menuliskan kata Melarat.
__ADS_1
Duuuarrr..... Mely merasa seperti disambar petir di siang bolong yang cuacanya cerah itu. Tega sekali suaminya itu mengatakan itu. Apa benar Rival akan mencampakkannya.
Mata Mely langsung berkaca-kaca menatap Rival, jantungnya juga berdetak lebih cepat. Dia terkejut mendengar ucapan suaminya itu. Dengan kesalnya Dia pun menjauhkan tubuhnya dari Rival dan berjalan cepat meninggalkan Rival.
Rival yang masih bingung, akhirnya berlari mengejar istrinya itu. Dia pun menghentikan langkah Mely dengan menahan lengannya.
"Lepaskan, lepaskan...!" ucap Mely histeris dengan berurai air mata. Rival dibuat bingung dengan sikap istrinya itu. Ditambah Orang-orang yang ada di lokasi sekitar makam Raja Sibutarbutar, menonton adegan yang diperlihatkan mereka.
Rival Panik dan kalut, Karena Mely semakin mengencangkan tangisannya. Dia pun berusaha memeluk Mely agar tenang dan diam. Tapi, sikap Rival malah ditepis Mely. Dia menangis sejadi-jadinya dan tak tahu malunya dilihatin orang-orang.
Untuk kali ini, Rival sangat geram dengan tingkah Mely. Sungguh Mely seperti anak TK saja, yang menangis di pusat perbelanjaan, karena Ibunya tidak mau membelikan mainan.
"Aduuh Pak, jangan berantem di sini. Ini tempat suci dan keramat. Diamkan dulu Adeknya itu." Ucap seorang pria yang berada di makam itu. Sontak pengunjung lainnya membuli Rival. Banyak suara-suara sumbang yang didengarnya, yang menyalahkan Dia.
"Iya Pak, Ibu, saudara semuanya telah mengganggu kenyaman kalian di sini." Ucap Rival dengan sopannya sambil menundukkan kepalanya. Dia sangat malu dengan tingkah Mely.
"Jangan menangis lagi, Ayo kita selesaikan di tempat lain. Sungguh Abang sangat geram dengan sikapmu Mely. Semuanya salah di mata mu. Abang jadi bingung, bagaimana caranya memahamimu." Ucap Rival dengan kesal, Dia menggaret paksa tangan Mely. Tapi Mely berontak. Dan akhirnya Rival menggotong Mely di pundaknya. Yang membuat Mely berontak dan memukul-mukuli punggung Rival dengan kuat.
Merasa kewalahan dengan tingkah Mely, ditambah punggungnya juga terasa sakit, karena pukulan Mely. Rival pun menurunkan Mely dengan kasar. Setelah Mely turun, Rival menarik napas panjang dan mengusap wajahnya kasar Samapi ke belakang kepalanya. Dia juga berbalik badan, Dia eneg melihat istrinya itu.
Melihat sikap Rival seolah membencinya, dengan cepat Mely berlari, berbaur dengan kerumunan pengunjung pasar Tomok. Rival berputar, dan melihat Mely tidak ada lagi di tempat itu. Rival pun mengejar Mely, karena Dia melihat bayangan tubuh Mely berlari ke pusat pasar. Tapi sungguh sayang, Rival kehilangan jejak Mely.
TBC.
Tinggalkan jejak dengan like coment positif dan Vote ya kak.🤗🙏
__ADS_1