
"Yachay... " panggil Rili mesra kepada Yasir.
"Apa Richay..!" Jawab Yasir lembut dan tersenyum kepada Rili. Kemudian Dia kembali fokus menyetir.
Ya, sejak Rili hamil. Yasir punya panggilan sayang untuk mereka. Rili harus memanggil Yasir dengan sebutan Yachay (Yasir chayang). Sedangkan panggilan untuk Rili adalah Richay ( Rili Chayang).
Sebenarnya Rili kurang suka panggilan lebay itu. Tapi, Yasir akan cemberut jika Rili tidak memanggil dengan panggilan sayang itu saat-saat tertentu.
"Yachay, kenapa masih baik sama Abang Rival? padahal empat bulan yang lalu di rumah dan diwarteg sempat bersitegang urat leher." Tanya Rili, menatap wajah Yasir yang fokus menyetir.
Yasir menoleh sebentar, kemudian Kembali fokus menyetir. " Abang Rival pernah menolong Abang. Kalau Abang Rival tidak menolong suamimu ini waktu itu. Mungkin kita tidak akan bersama lagi seperti ini. Terus Abang Rival kan rekan bisnis kita." Jawab Yasir yang sesekali melirik istrinya dan sesekali menatap badan jalan.
Rili manggut-manggut, Ia baru ingat, bahwa Rival memang pernah menolong Yasir. Dan Yasir langsung membuat Rival jadi asistennya dengan gaji uang muka 25 juta.
"Kenapa ya? istrinya itu lari, bahkan menghilang sampai empat bulan." Ucap Rili penasaran sekaligus bingung. Rili pun menatap Yasir, yang menanggapinya dengan bergidik bahu.
"Mana Abang tahu Sayang." Jawab Yasir tersenyum. Rili pun kini mengubah posisi duduknya jadi tegak lurus menghadap badan jalan.
"Sayang, sebaiknya malam ini kita menginap disini saja ya? anggap saja kita lagi bulan muda di Danau Toba." Ucap Yasir tersenyum mesum. Rili melirik suaminya itu dengan malas.
Apanya bulan madu, Yasir saja menganggap setiap hari adalah bulan madu. Sehingga istilahnya berubah jadi Hari madu.
"Terserah Yachay saja." Ucap Rili dengan menguap.
"Adek menkantuk?" tanya Yasir. Dia memegang sekilas perut Rili yang sudah kelihatan buncit. Ya kandungan Rili sudah genap empat bulan.
"Iya, padahal masih magrib." Jawab Rili kembali menguap.
"Padahal tadi Adek baru berwudhu, harusnya kembali segar."
"Harusnya begitu, Rili menstel jok nya agar sejajar, Dia ingin berbaring. Dia kantuk dan lelah." Setelah sholat magrib, mereka kembali melanjutkan mencari makanan. Yang terlebih dahulu tadi, mereka membeli pakaian untuk mereka dan juga untuk Rival.
__ADS_1
"Iya Richay, tidur saja. Nanti kalau sudah sampai Abang bangunin." Ucap Yasir, mengelus pipi Rili dengan tangan kanannya. Sedangkan tangan kirinya fokus menyetir
"Lihat jalan, jangan ganggu, Adek mau tidur." Ucap Rili lembut. Kalau tidak ditegur, maka Yasir akan terus mengelus-elus pipinya yang menurut Yasir sangat halus dan lembut.
"Iya Richay.!" Jawab Yasir dengan terseyum bahagia. Dia kembali fokus menyetir.
Empat bulan menikah dengan Rili, membuat Yasir begitu bahagia. Rili juga sudah berhenti bekerja. Kerjaan Rili saat ini adalah sebagai nyonya Yasir, yang selalu ada, dimanapun Yasir berada. Sehari pun mereka tidak pernah berpisah. Kemanapun Yasir pergi, Dia akan selalu membawa Rili.
Yasir tidak akan bisa tidur apabila Dia tidak memeluk Rili. Semoga selamanya begitu. Jangan awal-awal nya saja bucin, eehh nantinya jadi bosan. Atau istilahnya panas-panas taik ayam.
Yasir menepikan mobilnya di sebuah restoran mewah. Dia pun membeli banyak makanan mulai dari sup daging sapi, seafood dan jenis makanan luar negeri lainnya.
Setelah membeli makanan berat, Dia pun berhenti di Market, Dia membeli banyak buah dan biskuit serta air meineral. Dia belanja sendiri, sedangkan Rili sudah tertidur lelap didalam mobil.
❤️❤️❤️
Rival membopong tubuh Mely dari bed dorong dan menempatkannya di bed yang menjadi ruang rawat inapnya.
"Hatiku masih sakit..!" Mely membathin.
Mama Maryam mendekat kepada Mely, karena putrinya itu memanggilnya.
"Ma, Aku merasa darah nipasku merembes. Tidak tertampung pembalutnya." Ucap Rili dengan raut kesal. Dia risih dengan darahnya yang banyak keluar. "Mau diganti?" tanya Mama Maryam. Rival hanya mendengar interaksi Mama dan Anak itu.
"Iya Ma," Jawab Mely.
Mama Maryam pun mengambil kain sarung dari tas Mely serta pembalut kain seperti handuk. Mely sudah menyiapkan semua keperluannya. Karena saat Speksi ke Bidannya. Bidan tersebut meminta Mely menyiapkan semuanya. Mulai dari dup bahkan stagen dan kurito atau kemben sudah Mely siapkan.
"Ada apa Ma, ada yang bisa Rival kerjakan?" tanya Rival sedih kepada Mama Maryam. Hatinya sakit mendapat perlakuan dingin dari istrinya itu.
"Saat ini tidak ada." Ucap Mama Maryam. Mengganti pembalut Mely.
__ADS_1
"Rival, sepertinya kita memerlukan banyak sarung atau kain panjang. Mely hanya menyiapkannya sedikit. Kamu harus membeli lagi perlangkapan untuk anak dan istrimu." Ucap Mama Maryam, mulai membersihkan Mely. Rival memperhatikan Mama Maryam mengganti pembalut Mely. Ingin Dia membantu Mama Maryam. Tapi Dia enggan, karena melihat tatapan Mely yang masih kesal kepadanya.
"Iya Ma. Kalau begitu Rival akan belikan sekarang." Rival pun hendak keluar dengan penampilannya yang masih aneh itu.
"Apa kamu yakin pergi belanja dengan pakaian seperti itu?" tanya Mama Maryam, memperhatikan penampilan Rival seperti Bli, pemuda Bali yang pakai sarung bercorak.
"Iya juga ya Ma. Jadi bagaimana dong Ma?" tanya Rival bingung. Mama Maryam tidak mengubris ucapan Rival. Mama Maryam malah bingung, bagaimana mencuci pakaian Mely yang kena darah.
"Ini juga kain kotor bercampur, darah mana ada orang yang mau nyucinya." Keluh Mama Mely. Tukang loundrry mana mau mencuci darah.
"Rival yang akan mencucinya Ma." Jawabnya sendu.
Seorang perawat masuk ke ruangan ingin mengecek keadaan Mely dan membawa makan malam untuk Mely. Perawat itu meletakkan makanan itu di atas meja dekat bed Mely berbaring.
"Semuanya baik, Syukurlah, Ibu memang hebat." Puji perawat tersenyum setelah memeriksa keadaan Mely. Dia kembali menekan-nekan perut Mely dengan pelan. Saat perawat menekannya. Maka keluar darah banyak.
"Sus, Aku merasakan darah banyak keluar." Ucap Mely panik dan sekaligus bingung. Dia yang baru pertama kali punya pengalaman melahirkan, selalu penasaran dengan keadaan yang dialami dirinya.
"Sus, kenapa darah banyak keluar?" tanya Rival bingung, karena mendengar keluhan istrinya itu. Dia jadi panik, takut istrinya itu kenapa-kenapa. Secara anak keduanya plasentanya tidak mau keluar.
"Bapak jangan khawatir. Wanita yang baru saja melahirkan memang seperti itu." Jelas Perawat.
Rival manggut-manggut. "Mengenai plasentanya anak Bapak sudah kami kuburkan dengan baik. Kalau Bapak dan Ibu ada keperluan atau keluhan bisa memanggil kami." Ucap perawat ramah.
Perawat itupun keluar dari ruangan dan berpapasan dengan pasangan suami istri Yasir dan Rili. Yasir nampak membawa banyak tentengan. Begitu juga dengan Rili banyak menenteng kresek dan paperbag.
Sesaat penghuni ruangan itu terheran-heran, melihat Yasir dan Rili yang banyak membawa tentengan.
"Maaf lama menunggu." Ucap Yasir tersenyum ramah. Dia pun meletakkan barang belanjaannya di atas meja yang ada di ruangan itu. Rili juga melakukan hal yang sama.
"Ini Bang," Yasir menyodorkan dua paper bag kepada Rival. "Semoga ukurannya cocok dan Abang suka." Yasir kembali tersenyum ramah.
__ADS_1