Misteri Jodoh (Janda Tapi Perawan )

Misteri Jodoh (Janda Tapi Perawan )
Season 2 Kabar dari kampung


__ADS_3

Keesokan harinya.


Mely dan Rival nampak berjalan bergandengan tangan dengan perasaan bahagia, menuju Mobil Mercedes BenzΒ  yang baru dibeli Pak Ali. Mobil itu merupakan hadiah pernikahan untuk mereka selain rumah megah yang mereka tempati sekarang.


Rival yang terbiasa hidup serba pas-pasan, sekarang harus bisa menyesuaikan diri dengan gaya hidup istrinya yang dari kecil sudah terbiasa hidup enak.


"Aku heran sama sikap Ayah kepada ku akhir-akhir ini." Ucap Mely membuyarkan konsentrasi Rival yang sedang serius menyetir menuju kampus Mely.


Rival menoleh ke arah Mely yang dari tadi juga selalu memandanginya. Mely seolah tak pernah bosan melihat wajah suaminya itu.


"Emang Ayah berbuat apa kepada Adek? bukannya Ayah baik. Buktinya kita diberi rumah dan mobil baru." Ucap Rival, sambil menyetir, sesekali matanya melirik istrinya itu.


"Mana baik, sejak Ayah bertemu dengan Abang Ayah selalu mengancamku." Ucapnya kesal, Mely teringat kejadian semalam.


"Itu hanya perasaan Adek. Ayah sayang banget sama Adek. Ayah seperti itu, agar Adek berubah menjadi manusia yang lebih baik lagi." Ucap Rival.


"Satria baja Hitam kali berubah. Emang Aku jahat ya?" Mely mendekat kan wajahnya ke Rival. Dan menatap Rival dengan tidak berkedip.


"Emang Abang ada bilang jahat. Abang kan hanya bilang agar Adek berubah menjadi manusia yang lebih baik lagi." Rival mengalihkan pandangan cepat kea arah badan jalan. Dia sudah mulai mewanti-wanti, sepertinya istrinya itu akan kembali merajuk.


"Iya, Aku sebenarnya juga sadar. Aku ini tidak bisa diharapkan. Selama ini yang kulakukan hanya buang-buang waktu saja, nongkrong dengan geng motor, mendaki gunung. banyak deh kegiatan yang tidak penting yang sudah kujalani." Ucapnya dengan menghela napas berat. Mely pun menyandarkan tubuhnya di kursi mobil.


Rival akhirnya legah, ternyata Mely sudah lebih bisa menguasai emosinya. "Yang Adek lakukan itu, bukan hal yang tidak penting. Kegiatan Adek itu bagus. Tapi, melakukannya jangan tiap Minggu, hingga pendidikan terganggu. Apa tidak capek apa, sebulan mau dua kali naik gunung. Apa Adek tidak takut betisnya jadi besar?" ucap Rival.


"Emangnya betis ku besar? sepertinya tidak, masih sexy koq." Ucapnya tidak terima betisnya dikatakan besar. Dia pun memegangi betisnya dan menarik rok nya sedikit ke atas. Untuk melihat betisnya.


"Mana besar, ini betis tersexy di dunia. Asal Abang tahu." Ucap Mely bangga. Rival melirik betis Mely yang dipamerkannya sekilas. Tidak dipungkiri tubuh Mely memang aduhai. Ototnya keras tapi lembut dan kenyal. Padat berisi, Rival memang sangat menyukainya.


"Iya...iya... tersexy, terkuat dan Ter hot." Ucap Rival tersenyum. Dia pun memberhentikan mobil mereka di parkiran fakultas Mely.


"Sudah sampai ya? cepat banget sih?" ucapnya malas. Dia pun melihat ke luar jendela mobil, kemudian menatap suaminya itu. Yang hendak melepas seat belt nya.


Mengetahui Rival ingin melepas seat belt, Mely diam saja sambil memandangi wajah Rival dan menghirup aroma tubuh Rival yang wangi.


"Ok, istri ku yang cantik. Selamat menjalankan kuliahnya hari ini. Semoga urusannya cepat selesai. Kalau urusan Adek cepat selesai. Telpon Abang dan Abang akan jemput Adek." Ucap Rival memandang lembut istrinya yang sekarang nampak lebih manis itu.


"Tidak usah dijemput, Adek nanti pulang sendiri aja, naik taxi atau nanti minta dijemput supir." Ucapnya sedikit grogi, karena Rival dari tadi memandanginya terus.

__ADS_1


"Baiklah, apa Abang juga yang harus Bukakan pintunya?" tanya Rival, melihat Mely yang tidak kunjung keluar dari mobil.


"Tidak usah, Adek bisa sendiri membukanya."


"Terus kenapa belum turun?" tanya Rival dengan terseyum.


"Eehhmmmm, cium Aku dong?" ucapnya dengan menahan malu. Sungguh Dia juga ingin dicium keningnya atau bibirnya sekilas.


"Itu harus ya?" tanya Rival dengan tersenyum, hatinya sungguh tergelitik dengan ucapan istrinya itu.


"Iya. Harus, Adek ingin dicium." Ucapnya dengan menahan debaran jantungnya yang kini berdetak cepat itu. Dasar Mely tidak ada malu-malunya minta dicium. Kalau Rival tidak mau mencium, kan bisa malu banget.


"Baiklah, sekarang tutup mata Adek." Ucap Rival menahan tawa. Dia ingin mengerjai istrinya itu.


"Kenapa harus ditutup." Ucap Mely heran.


"Biar lebih menikmati." Ucap Rival terseyum. Sungguh, tingkah Mely selalu bisa membuat Rival mati gaya.


"Baiklah." Mely menutup matanya dan mencondongkan wajahnya ke arah suaminya itu.


Rival mendekatkan jari telunjuknya ke bibir Mely yang dimonyongkan itu. Dia ingin mendaratkan jarinya itu di bibir yang warna peach itu yang bagian atasnya lebih tipis dari bibir bawahnya itu. Tapi, Dia berfikir sejenak. Kalau Dia melakukan itu dan Mely marah, bisa panjang urusannya.


Akhirnya Rival menarik napas sedalam-dalamnya. Entah kenapa jantungnya tidak bisa normal kali ini. Padahal ini bukan pertama kalinya mereka berciuman.


"Lama.... sekali....!" omel Mely masih menutup mata.


Ucapan Mely itu membuat Rival terkejut. Dia langsung memegangi dadanya. Jantungnya seolah kini melompat dari tempatnya. Tapi sukur kembali lagi.


"Eehhmmm..!" Rival kembali menghela napas berat, dengan debaran jantung yang tidak berirama itu, Dia pun memiringkan wajahnya, kemudian menempelkan bibirnya yang warnanya sedikit pucat ke bibir ranumnya Mely.


Merasa bibirnya sudah bersentuhan dengan bibir suaminya itu. Mely pun membuka matanya, tangannya dengan cepat menahan tengkuk Rival. Dia tidak mau ciuman itu hanya sekilas saja. Sehingga terjadilah ciuman panas, sekaligus pijitan-pijitan plus-plus di dalam mobil baru itu.


🌻🌻🌻


Sepanjang perjalanan menuju kantornya, senyuman selalu menghiasi wajah Rival. Bahkan Dia sampai tertawa, mengingat kelakuan istri liarnya itu. Sungguh Mely Selalu bisa membuat sensasi baru, yang membuat Rival kepikiran dan jadi ingin lebih. Rival seperti orang yang kutuan saja. Semua gatal, ingin di garuk dan digesek-gesek.


Rival seolah candu ingin terus melakukan itu dengan istrinya yang agresif itu. Apalagi tadi malam, Mely mendominasi permainan. Seolah Mely tidak ada capeknya. Padahal Rival setelah dua ronde. Matanya sudah sangat berat dan ingin sekali tidur. Tapi, Mely masih seolah ingin melakukannya.

__ADS_1


Rival yang sedang senyum-senyum sambil menyetir itu dikejutkan oleh ponselnya yang berdering di dalam saku celananya. Dia merogohnya dan melihat Adiknya Sekar menelpon.


Dengan cepat Rival menerima panggilan itu.


"Assalamualaikum Abang," terdengar suara Sekar pelan dari ujung sana.


"Walaikumsalam Dek. Kamu apa kabar?" ucapnya lembut.


"Baik bang." Jawab Sekar datar.


"Ayah dan Ibu apa kabar?" ucapnya sedih. Rival sangat merindukan keluarganya itu. Tapi, entah kenapa Dia belum sanggup untuk pulang. Kalau Dia menginjakkan kaki di kampungnya itu. Bayangan Rili Selalu melintas dipikirannya.


"Ayah dan Ibu kurang sehat. Aku sekarang pulang ke rumah, izin tidak kuliah. Karena lagi menjenguk Ayah dan Ibu." Ucapnya sedih. Rival sangat tidak tahan mendengar suara Sekar, yang seolah menahan tangis itu. Dia pun akhirnya terdiam lama.


"Halo...!" ucap Sekar.


"I...ya Halo Sekar." Jawab Rival sedikit gugup.


"Abang tidak ingin pulang kah? Ayah cerita, Abang sekarang tinggal dengan orang kaya. Sekar baru tahu ceritanya. Kata Ayah, tiga bulan yang lalu, ada orang kaya yang datang ke rumah. Kasih uang dan bebaskan Ibu juga." Ucap Sekar sedih, air mata pun jatuh di pipi putihnya.


"Iya. Abang usahakan Akan pulang dalam Minggu ini." Ucapnya masih fokus menyetir.


"Iya, sekalian Sekar ingin memberikan kartu ponsel yang Sekar dapatkan di kolong rumah kita.


"Kartu?" tanya Rival heran.


"Iya. Sepertinya ini kartu ponsel kak Rili." Ucapnya sedih.


Deg.


Rival yang mendengar nama Rili disebut, membuat perasaannya jadi kacau. Dia merasa sangat bersalah kepada mantan istrinya itu. Ada sesuatu yang belum tuntas antara mereka. Walau Rili sudah bahagia bersama Yasir. Begitulah pemikiran Rival saat ini.


"Iya Dek, simpan ya kartu kak Rili. Abang usahakan pulang dalam Minggu ini." Ucapnya sedih, itu jelas terlihat dari kedua bola mata Rival yang berkabut.


Walau Dia sudah membuka hati kepada Mely. Tapi, jikalau teringat Rili. Dia akan merasa sedih dan merindukan wanita itu.


TBC

__ADS_1


__ADS_2