Misteri Jodoh (Janda Tapi Perawan )

Misteri Jodoh (Janda Tapi Perawan )
Salah sambung


__ADS_3

Ciitttt....! Windi tiba-tiba ngerem mobilnya. Dia terkejut mendengar ucapan Rili karena mengingatkannya lagi kepada Yusuf.


"Ahhh .. Windi, koq tiba-tiba ngerem sich? Syukur kepalaku tidak terjedot ke dashboard mobil." Ucap Rili kesal.


"Kamu sich, mengingatkanku saja sama pria aneh itu." Jawabnya sambil mengambil air mineral yang berada ditempat botol minum di dalam mobil tersebut.


"Ya udah lanjut jalan, Aku tidak akan membahasnya lagi. Kamu jangan benci sama Dia, nanti jadi jodohmu baru tahu rasa!" ucap Rili sambil menyambar botol minum dari tangan Windi lalu menegaknya.


"Dia gak bakalan jadi jodohku, itu tidak akan terjadi!" Ucap Windi sambil melajukan mobilnya.


Kini Rili sudah sampai di rumahnya, Dia nampak membaringkan tubuhnya yang lelah di ranjang empuknya. Air mata nampak mengalir di wajah putihnya.


Ketika kau terus bersembunyi, Kau tak pernah nampak lagi. Tahukah kamu kalau aku begitu menantimu, mencarimu, memanggilmu dan berharap aku dapat bertemu denganmu lagi. Kau adalah harapanku, tanpamu kini hidup menjadi terkatung-katung, gelisah dan merana. Bagaimana tidak kini aku mengurai kehidupan yang hampa ini tanpamu.


Sudah hampir empat bulan ini kau tak menampakkan wujudmu, apakah aku sudah membuat salah padamu? hingga kau tak sudi lagi menemuiku, tanpa alasan yang jelas kau pergi begitu saja tanpa pamit padaku, betapa sakit hati ini ketika pencarian terhadapmu tidak membuahkan hasil sama sekali, kata hati ingin menyerah tapi hasrat tetap memaksa Β ingin segera menemuimu.


"Moga kamu bahagia dengan hidupmu Abang Yasir! Aku akan menyimpan kenangan indah kita dihatiku paling dalam. Mungkin sudah saatnya aku mendengar nasehat orang-orang disekitar yang menyayangiku, agar aku melupakanmu. Tapi, untuk menerima nama lain masuk dihatiku rasanya masih sangat berat." Gumamnya dalam hati.


🍁


🍁


🍁


Hari berganti hari, satu bulan ini Rili tidak terlalu memikirkan Yasir lagi, walau kadang setiap mau tidur Dia menyempatkan dirinya menghubungi no ponsel Yasir yang tidak pernah aktif itu sampai dirinya terlelap dengan sendirinya, karena di Nina bobokan oleh suara sang operator provider.


Tapi, kelakuannya malam ini malah membuatnya terjebak. Tanpa sengaja dia menekan log panggilan keluar di handponenya atas nama Rival. Dia tidak sengaja, karena Dia menekannya tanpa melihat ponselnya. Dia berfikir yang dipanggilnya adalah no ponsel Yasir. Karena hanya nama Yasir yang menjadi daftar pertama panggilan keluar.


Dia memanggil no itu dan memposisikan tubuhnya berbaring menatap langit-langit kamarnya tanpa melihat siapa yang terpanggil dan ponselnya tetap berada ditangan kanannya yang sejajar dengan kepalanya.


Dia sangat terkejut disaat Dia mendengar suara sambungan handphone.. Tuuut... Tuut... tuut... Rili langsung mendekatkan ponselnya ke indera penglihatannya. Awalnya Dia sangat senang dan jantungnya rasanya mau copot karena Dia merasa nervouse untuk berbicara dengan Yasir di handpone. Dia beranggapan no ponsel Yasir telah aktif. Ternyata Di layar ponsel nampak bukan nama Yasir melainkan Rival.


Dengan cepat Dia mematikan panggilannya sebelum orang yang ditelponnya mengangkat sambungan yang baru saja dilakukannya tanpa sengaja.

__ADS_1


Dia panik, "Bagaimana ini? aku tidak ada niat menelpon no Abang Rival. Aku harus menonaktifkan ponselku. Ucapnya. Belum sempat Rili mematikan handponenya, ternyata ada panggilan masuk dari no Rival.


Rili bingung sekaligus cemas. Dia sudah mengatakan bahwa Dia tidak akan pernah menghubungi Rival dan nyatanya Dia sendiri yang menghubungi no Rival.


Dia tidak mengangkat panggilan Rival untuk yang kedua kalinya. No itu terus saja memanggil. Rili menjadi panik Dia mau menolak panggilan itu, malah Dia menekan tombol menerima.


"Assalamualaikum...!" terdengar suara Rival dari sana.


Rili diam, otaknya sedang berfikir keras mencari alasan yang masuk akal untuk menjelaskan bahwa Dia memang salah tekan no.


"Assalamualaikum Dek Rili?" suara Rival yang kedua kalinya akhirnya menyadarkan Rili.


Dia mengubah posisinya dari berbaring menjadi duduk bersila.


"Wa....Waalaikumus sa...lam....!" jawabnya dengan gugup dan terbata-bata.


"Syukurlah salam Abang di jawab juga." Ucap Rival dengan suara yang begitu lembut dan menyejukkan.


"Lamaran? lamaran apa Bang?" tanya Rili dengan bingungnya.


"Jangan ngerjain Abang lah, jawabnya jangan malu-malu gitu," ucap Rival menggoda Rili dari sambungan telpon.


"Maksud Abang apa?" Rili makin bingung. Setahu Dia. Rili sudah menolak Rival yang dikatakannya langsung kepada mamanya.


"Kalau adek sudah menghubungi Abang, itu artinya adek setuju untuk menikah dengan Abang!" ucap Rival dengan tegas dari sana.


"Apa...?" Rili terkejut dan langsung mematikan panggilan dari Rival. "Aduhh,. kenapa jadi begini ceritanya?" Rili bicara sendiri sambil mondar-mandir di dalam kamarnya. "Sudah sangat jelas aku menolak perjodohan dengannya. Kenapa Dia malah mengatakan jika aku setuju maka aku yang akan menghubunginya. Terus, tadi kenapa aku menelponnya. Ini tangan kenapa salah pencet." Rili menampar tangan kanannya dengan tangan kiri. "Auuww.... sakit juga." Ringisnya.


Ponselnya kembali berdering, ternyata Rival kembali menghubunginya.


"Angkat gak ya? angkat gak ya? Rili bicara sendiri sambil menghitung kancing piyamanya. Dan kancing terakhir mengatakan Dia harus mengangkatnya.


"Assalamualaikum...!" ucap Rival sopan.

__ADS_1


"Walaikumsalam...!" jawab Rili dengan lemas.


"Kenapa telponnya dimatikan tadi dek?" tanya Rival.


Rili bingung mau cari alasan apa, otaknya masih berfikir keras, untuk mendapatkan jawaban yang logis.


"Maaf bang, bukan maksud mematikannya. Tapi, tiba-tiba baterai handphoneku habis. Ya, jadinya mati sendiri." Jawabnya dengan sedikit santai. Jawabannya memang masuk akal.


"Oohh... kirain adek sengaja. Jadi, sekarang adek ngomong sambil ngecas handponenya?" tanya Rival.


"Iya bang. Boleh Rili matikan dulu handponenya bang? nanti kalau sudah penuh daya baterainya, Rili telpon lagi." Ucap Rili mengakhiri panggilan itu. ucapan Dia itu hanya basa-basi. Dia tidak berniat untuk menghubungi Rival lagi. Malah sekarang di otaknya terpikir niat untuk mengganti no ponselnya. Agar Rival tidak bisa menghubunginya lagi.


Rili tidak tahu, Bahwa Rival sudah meminta no handphone orang tua nya.


"Besok pagi, aku harus menanyakan Masalah ini kepada mama, Kenapa Abang Rival berbicara seperti itu? mama menjanjikan apa kepada Rival?" Rili berbicara sendiri sambil duduk dikursi meja Riasnya sambil jarinya kelingkingnya mengetok-ngetok meja riasnya tersebut.


Rili membaringkan tubuhnya, Matanya sudah mengantuk sekali karena jam dinding di kamarnya sudah menunjukkan angka pukul 23.00Wib. Tapi, Dia tidak bisa tertidur. Banyak sekali yang dipikirkan wanita itu.


🍁


🍁


🍁


Disebuah perkampungan yang sepi tepatnya dipelosok kota G. Seorang Pria nampak terbaring menikmati angin malam. Rival tiduran di atas bale-bale yang terbuat dari bambu yang terdapat di halaman rumahnya di bawah pohon mangga Arum manis.


Tidak disangka, lamaran Dia diterima Rili. Besok Dia akan menghubungi orang tua Rili, untuk membicarakan mengenai seserahan serta hal-hal yang perlu dibahas untuk persiapan pernikahannya dengan Rili.


Bersambung


Mohon beri like,coment, vote dan jadikan novel ini favorit ya kak.


Terima kasih

__ADS_1


__ADS_2