
Gavlin mempercepat langkahnya agar dia tidak kehilangan pria separuh baya yang dilihat dan berpapasan didepannya tadi.
Wajahnya menunjukkan rasa penasaran, dia ingin tahu kemana pria tua itu pergi.
Gavlin menjaga jarak antara dirinya dan pria tua yang jalan di depannya agar tidak diketahui pria separuh baya kalau dia mengikutinya secara diam diam.
Gavlin melihat Pria separuh baya berhenti di depan sebuah rumah, membuka pintu pagar kecil yang ada di depan rumahnya.
Gavlin berdiri menatap, melihat pria separuh baya masuk ke dalam rumah.
Sementara itu, Maya keluar dari dalam rumahnya dengan membawa bungkusan plastik besar berisi sampah, dia meletakkan bungkusan plastik ke dalam tempat sampah yang ada di pinggir jalan depan rumahnya.
Saat Maya hendak berbalik, dia melihat Gavlin sedang berdiri memandang jauh ke depan, posisi Gavlin diam berdiri dekat dengan rumah Maya.
Maya melihat ke arah Gavlin memandang, tidak dilihatnya ada apapun, dia melihat diri Gavlin yang terlihat berdiri dengan raut wajah yang sedang berfikir.
Maya tersenyum, dia berjalan mendekati Gavlin, lalu menepuk bahu Gavlin.
"Doooorrr...!! Ngapain bengong di pinggir jalan, kesambet loh." Ujar Maya tertawa melihat Gavlin yang kelihatan sedang melamun.
Gavlin seketika kaget saat melihat Maya, yang secara mendadak ada di depannya.
"Kok kamu bisa ada disini ?" Tanya Gavlin heran.
"Laaah, rumahku di situ, tadi aku habis buang sampah, eeh, liat kamu bengong disini, ya udah aku dekati aja kamu." Ujar Maya menunjuk rumahnya dengan santainya. Gavlin menatap wajah Maya.
" Itu rumahmu ? Gak jauh berarti dari rumahku, kok gak pernah tau ya, kalo selama ini kita dekatan." Ujar Gavlin senyum menatap Maya yang mencibir.
"Waaah pikun nih anak, kan kamu udah pernah kerumahku, pas ngobatin lukamu waktu itu, gak ingat ?" Ujar Maya menatap Gavlin.
"Masa sih ? Kayaknya jalannya beda." Ujar Gavlin, dia mengamati sekitar jalanan dan berfikir.
"Iya sih, karena waktu itu aku bawa kamu lewat jalan lain, motong jalan lewat samping, lagian bentuk rumahku itu unik, dua muka, depan satu, samping jalan sana satu muka lagi." Ujar Maya.
"Nah, kamu waktu itu masuk dari muka rumah yang disamping." Ujar Maya menjelaskan lagi.
Gavlin diam, dia menggaruk kepalanya, Gavlin kelihatan bingung.
"Rumahmu posisinya ditengah jalan melingkar ya ? Makanya ada dua muka jadinya." Ujar Gavlin.
"Nggak sih, persegi lima tepatnya, Ayahku sengaja yang buat model rumahnya begitu, unik kan ?" Ujar Maya.
"Bikin bingung orang sih kalo yang belum tau rumah kamu." Ujar Gavlin tersenyum.
"Sebenarnya jarak antara rumahku sama rumahmu itu jauh, rumahmu kan adanya di blok timur sana, harus mutar balik jalannya kalo dari rumahku ke rumahmu. Kan jalannya terhalang ruko ruko, emang sih dekat tinggal lurus, kalo gak ada ruko ruko." Ujar Maya.
"Iya juga ya." Ujar Gavlin nyengir lalu tersenyum.
Sebuah mobil sedan masuk ke halaman rumah Maya yang pintu pagarnya masih terbuka lebar, dari dalam mobil keluar Gatot yang baru pulang dari kerjanya di Kepolisian.
Gatot yang melihat Maya berdiri dipinggir jalan bersama seorang pemuda jadi ingin tahu, sama siapa anaknya. Gatot berdiri di jalan depan rumahnya menatap Maya.
"Ngapain kamu di situ May ?" Tanya Gatot, Maya menoleh pada Gatot.
"Ini ada temanku Yah." Ujar Maya memberitahu pada Gatot, Gavlin terdiam melihat wajah Gatot.
"Kok ngobrol dipinggir jalan, ajak ke dalam rumahlah, gak baik anak gadis ngobrol malam2 sama cowok dipinggir jalan gini." Ujar Gatot lalu berbalik jalan masuk kedalam rumahnya.
Maya lalu tersenyum, dia lantas menatap wajah Gavlin yang terdiam itu.
"Mau mampir kerumahku gak ?" Tanya Maya pada Gavlin.
"Boleh deh, aku haus." Jawab Gavlin tersenyum.
"Ayuk." Ajak Maya lalu berjalan meninggalkan Gavlin yang lantas mengikutinya.
Gavlin mengamati bentuk rumah Maya yang unik itu. Mengikuti Maya masuk ke dalam rumahnya.
Di dalam rumah, Gavlin terdiam berdiri di ruang tamu, Maya tersenyum melihatnya.
"Mulaaai lagi bengongnya. Duduk Vlin. Kayak patung aja berdiri terus." Ujar Maya meledek Gavlin yang tersenyum.
Gavlin tersadar dari lamunannya. Maya pergi masuk kedalam rumah meninggalkan Gavlin sendiri diruang tamu.
Saat Gavlin hendak duduk di sofa, dia tidak jadi duduk karena melihat sebuah photo yang ada di atas buffet diruang tamu itu.
Gavlin lalu berdiri dan berjalan mendekati photo yang terpajang diatas meja buffet.
Dia memandangi photo Gatot yang memakai seragam Kepolisian itu, Gavlin diam tercenung menatap photo Gatot.
Dari dalam kamarnya, Gatot berdiri diam mengamati Gavlin yang terlihat sedang memandang photonya yang ada di atas meja buffet.
Gatot diam diam memperhatikan Gavlin, menatap wajah Gavlin. Lalu Gatot melangkah mendekati Gavlin yang berdiri di dekat meja buffet.
__ADS_1
"Itu photo saya waktu muda, keren ya." Ujar Gatot berusaha mencairkan suasana agar Gavlin tidak kikuk dan lebih santai didalam rumahnya.
"Oh, kirain saya photo siapa, soalnya waktu saya pernah kesini, saya gak liat photo ini, mungkin karena masuknya dari pintu lain dan diruang tamu lain rumah ini." Ujar Gavlin dengan sikap ramah.
"Udah pernah kesini ternyata." Ujar Gatot.
"Udah Yah, waktu itu dia terluka lengannya karena nolongin aku yang hampir di tabrak mobil, makanya ku bawa kerumah buat diobatin." Ujar Maya yang datang dari dapur rumahnya membawa botol berisi air minum dan gelas kaca.
"Oh begitu." Jawab Gatot mengangguk paham.
Maya meletakkan botol minuman dan gelas diatas meja ruang tamu, lalu menuangkan airnya ke dalam gelas.
"Minum Vlin." Ujar Maya pada Gavlin yang mengangguk lalu berbalik jalan dan duduk di sofa, Gatot mengikuti , dia duduk di sofa, disamping Maya yang sudah duluan duduk.
"Aku minum ya ? mari Om." Ujar Gavlin.
Dia meminta izin minum pada Maya dan Gatot yang mengangguk tersenyum mempersilahkan dia minum.
Gavlin meminum sampai habis air di dalam gelas, dia memang terasa haus sekali saat ini. Maya tersenyum melihat Gavlin yang menghabisi air di gelas kaca besar.
"Nama kamu siapa ?" Tanya Gatot pada Gavlin.
"Saya Gavlin om." Jawab Gavlin mengangguk dan tersenyum pada Gatot.
Gatot memperhatikan wajah Gavlin dengan tatapan serius , Gavlin merasa kikuk karena seperti sedang diselidiki oleh Gatot yang seorang Polisi itu.
Maya melirik ayahnya yang menatap wajah Gavlin, dia menepuk paha ayahnya.
"Ayah apaan sih, grogi tuh Gavlin diliatin terus. Mana tatapannya mencurigakan lagi." Ujar Maya tertawa pada Ayahnya yang tersenyum.
"Ayah penasaran aja, kok wajahnya keliatan gak asing." Ujar Gatot, Gavlin tertunduk melirik Gatot. Dia semakin risih.
"Maaf May, Om, saya pamit pulang dulu, gak enak udah semakin malam." Ujar Gavlin, berusaha untuk pulang karena dia merasa risih diperhatikan terus oleh Gatot.
"Ya udah deh, kalo kamu mau pulang sekarang." Ujar Maya.
Maya paham, dia membiarkan Gavlin pulang karena merasa kikuk bertemu ayahnya.
Gavlin lalu berdiri dan pamit pada Gatot, dia menyalami Gatot, lalu melangkah pergi keluar rumah di ikuti Maya.
Didepan pintu rumah, Gavlin menatap Maya yang berdiri ditengah pintu.
"Trimakasih airnya ya May, lega." Ujar Gavlin memegang lehernya dan tersenyum, Maya mengangguk.
Gavlin mendorong pintu pagar dan menutupnya, Maya memberikan kode ucapan terima kasih karena Gavlin menutup pintu pagar rumahnya.
Lalu setelah Gavlin menghilang dari pandanganya, Maya segera menutup pintu rumahnya dan melangkah mengambil botol minuman dan gelas diatas meja.
Lalu dia berjalan mendekati ayahnya yang sudah berada diruang kerjanya, disamping ruang tamu rumah.
Maya melangkah hendak ke dapur, namun langkahnya terhenti saat Gatot bertanya padanya.
"Anak itu, siapa namanya tadi ?" Tanya Gatot pada Maya.
"Gavlin Yah." Jawab Maya.
"Iya, si Gavlin itu satu kerjaan sama kamu ?" Tanya Gatot lagi ingin tahu lebih banyak tentang Gavlin dari Maya.
"Nggak, dia supir pribadinya keluarga pak Bramantio, pejabat dan pengusaha hebat itu loh Yah." Ujar Maya menjelaskan.
"Oh, supir pribadi, Ayah kira satu kerjaan sama kamu." Ujar Gatot.
"Terus, tinggal dimana dia ?" Tanya Gatot lagi.
"Rumahnya gak jauh sih dari sini Yah, adanya di belakang jalan blok timur sana itu loh, tepatnya belakang cafe Seruni." Ujar Maya memberitahu pada Gatot.
"Tinggal sama orang tuanya apa sendiri ?" Gatot bertanya lagi, Maya nyengir mendengar Ayahnya terus bertanya tentang Gavlin.
"Ayah apaan sih, terus terusan nanyain Gavlin, kepo banget deh." Ujar Maya tertawa melihat Gatot yang tersenyum.
"Bukan begitu maksud Ayah, dia kan teman kamu, jadi Ayah cuma mau tau aja tentang dirinya." Ujar Gatot.
"Mana tau, diam diam kamu pacaran sama dia." Ujar Gatot menatap Maya, dia menggoda anaknya, Maya terlihat tersipu malu.
"Diiih Ayah apaan sih, nggak lah, dia cuma teman Maya. Udah ah. Ayah kepo." Ujar Maya dengan suara manja.
Maya pergi meninggalkan Gatot yang tertawa melihat sikap anaknya yang grogi saat membahas tentang pacaran dengan Gavlin.
Setelah Maya pergi ke dapur, Gatot melanjutkan pekerjaannya, dia terlihat serius membaca laporan dari Forensik tentang kasus pembunuhan massal dikampung Rawas.
Gatot melihat photo rumah rumah warga yang terbakar habis, dia sengaja selalu membawa pulang berkas berkas kasus kerumahnya, agar bisa dia pelajari dengan tenang.
Agar tidak ada yang terlewat dari hasil yang dia pelajari dari berkas laporan kasus itu saat dikantor.
__ADS_1
Maya mendekati Gatot yang terlihat serius itu, dia berdiri disamping Gatot.
Maya mengambil sebuah photo berisi gambar mayat hangus terbakar.
Lalu dia mengambil photo rumah warga yang terbakar, dia amati photo photo itu, wajahnya bergidik takut melihat sosok tubuh hangus terbakar di dalam photo.
"Iiih serem gini photonya Yah." Ujar Maya meletakkan photo sosok tubuh yang hangus terbakar.
"Kayaknya banyak banget kasus yang ayah kerjain, yang kemaren kasus pembunuhan di kampung Rawas belum beres , ini udah ada lagi kasus baru." Ujar Maya pada Gatot.
"Ini kelanjutan dari kasus pembunuhan sebelumnya dikampung itu." Ujar Gatot cuek tidak menatap wajah Maya, dia sibuk membaca berkas laporan kasus.
"Masa sih Yah ? Serem ah." Ujar Maya kaget.
"Pelakunya kambuh lagi, bukan satu dua warga yang dibunuhnya, kali ini seluruh warga kampung Rawas dibantainya, mati diracun, rumah rumah warga dibakar habis, cuma tersisa puing puing kayak di photo photo itu." Ujar Gatot menjelaskan.
Maya bergidik, dia berfikir, begitu menyeramkan pelaku yang sudah berbuat sekeji itu.
"Ayah mau tanya, kalo kamu misalnya nih jadi pelakunya, apa yang mendasari kamu membunuh dan membakar seluruh rumah warga kampung Rawas?" Tanya Gatot, dia ingin mendengar pendapat anaknya.
Maya diam berfikir mendapatkan pertanyaan dari ayahnya itu, lalu menatap wajah ayahnya.
"Ya gak ada alasan lain , karena dendam pastinya." Ujar Maya.
"Apa sebab dia dendam ?" Tanya Gatot lagi pada Maya yang lantas berfikir kembali.
"Ya motifnya balas dendam, mungkin dulunya dia pernah sakit hati karena perbuatan warga warga kampung Rawas." Ujar Maya mencoba memberikan alasan motif membunuh si pelaku.
Gatot tersenyum mengangguk.
"Kalau seperti yang kamu katakan, artinya pelaku warga asli kampung Rawas dulunya, ada sesuatu yang membuatnya begitu sakit hati dan dendam hingga nekat menghabisi warga kampung Rawas semuanya." Ujar Gatot.
"Kayaknya gitu deh Yah, tapi apa iya semua warga dikampung Rawas udah berbuat hal buruk pada pelaku, yang membuatnya nekat berbuat keji ?" Ujar Maya.
"Ya, belum tau, harus ayah dalami lagi motifnya, agar bisa diketahui siapa pelakunya, dan apa tujuannya membantai warga kampung Rawas itu." Ujar Gatot pada Maya.
"Hehe, kayaknya aku lebih pantas kerja di majalah kriminal dan pembunuhan deh daripada dimajalah bisnis." Ujar Maya tersenyum bangga.
Maya bangga, karena pendapatnya diterima dengan baik oleh Ayahnya. Gatot tersenyum menatap wajah Maya.
"Kamu mau pindah kerja ? Memangnya siap kamu kalo tiap hari harus meliput korban korban pembunuhan, harus ketemu mayat mayat, wawancarai pembunuh yang bisa saja psikopat, sakit jiwa?"
Ujar Gatot menatap lekat wajah Maya yang terdiam berfikir.
"Serem juga sih yah kalo harus begitu kerjaannya, belum siap Maya kalo ngadepin yang gituan." Ujar Maya nyengir.
"Ah payah, anak Ayah gak berani. Kalo kamu berani, ayah minta teman ayah yang kerja di majalah kriminal buat nerima kamu kerja." Ujar Gatot pada Maya.
"Jangan deh Yah, jangan sekarang, nanti Maya pikirin dulu, kalo Maya siap, pasti Maya bilang." Ujar Maya.
"Kalo orang itu teman baik ayah, pasti kapan aja ayah minta tolong dibantunya kan?" Tanya Maya pada Gatot.
"Iya. Kapan kamu siap bilang aja ayah." Ujar Gatot pada Maya yang tersenyum.
"Ya udah deh, Maya mau tidur, ayah jangan begadang sampe pagi loh. Jaga kesehatan." Ujar Maya melotot menatap wajah Gatot yang tersenyum padanya.
"Oke bos, siap ! Sebentar lagi ayah tidur." Ujar Gatot tersenyum beri hormat pada Maya yang membalas beri hormat padanya.
Maya lalu pergi meninggalkan Gatot yang lantas melanjutkan pekerjaannya mempelajari kasus pembunuhan massal kampung Rawas.
Gatot memang sering bertukar fikiran dengan Maya tentang kasus yang sedang dia selidiki, dia tidak pernah melarang dan merahasiakannya dari anaknya itu.
Sebab dia tahu, anaknya bisa memberikan masukan pada dia untuk mengungkap kasus kasus yang diselidikinya.
Dan Maya tidak pernah membahas kasus ayahnya kepada siapapun diluaran.
Sementara itu, didalam kamarnya, Gavlin terlihat tercenung, dia mengingat kembali pertemuan antara dirinya dengan pria separuh baya.
Dalam ingatannya, terlintas kembali saat dirinya berpapasan dengan pria paruh baya yang keluar dari rumah makan padang.
Wajah Gavlin menyiratkan suatu amarah yang lama tersimpan dalam dirinya.
"Akhirnya aku bisa ketemu juga denganmu, setelah lama mencari keberadaanmu, ternyata kita berdekatan selama ini." Ujar Gavlin bergumam pada dirinya dengan sorot mata tajamnya.
Lalu, terlintas dalam ingatannya saat dia bertemu dengan Gatot dirumahnya.
Ada sesuatu hal yang muncul dihatinya, perasaan yang aneh dia rasa saat pertama melihat photo muda Gatot diatas meja buffet rumahnya.
Lalu, ada getaran yang dia rasa aneh dijantungnya saat dirinya bertemu dan bertatap muka dengan Gatot. Gavlin berfikir keras.
"Seperti kenal dengan ayahnya Maya, tapi aku gak tau dimana dan kapan." Ujar Gavlin kembali, bicara pada dirinya sendiri.
Gavlin menghela nafasnya, lalu merebahkan tubuhnya di kasur, menatap langit langit kamar.
__ADS_1
Gavlin berfikir, lalu lama kelamaan matanya terpejam, dia terlelap tidur karena rasa lelahnya.