
Didalam ruangan yang gelap, berdiri sosok pria misterius menatap pada photo photo yang menempel di papan tulis besar pada dinding ruang kamar.
Dia menandai photo perumahan kampung Rawas dengan tanda silang menggunakan spidol berwarna merah.
Sosok pria misterius memberikan tanda silang pada photo rumah rumah warga yang terpajang, karena dia sudah berhasil menjalankan misinya.
Membumi hanguskan perkampungan Rawas dan membantai seluruh warga yang tinggal di kampung Rawas.
Kemudian, pandangan matanya tajam menatap photo Bramantio, Wijaya dan Sumantri.
Terdengar suara gemeretak gigi beradu di mulutnya yang lantas menyeringai geram.
Setelah lama dia memandangi photo photo tersebut, kemudian sosok pria misterius itupun berbalik melangkah.
Dengan memakai jaket dan penutup kepala dia berjalan keluar dari ruang kamar yang gelap itu.
Di kantornya, Maya terlihat sedang bersiap siap hendak pulang, dia terlihat terburu buru merapikan berkas berkas catatan yang tergeletak diatas meja.
Ponselnya berbunyi, dengan cepat Maya mengambil ponsel yang ada di atas meja, menerima panggilan yang masuk pada ponselnya.
Maya melihat nama si penelpon yang menghubunginya dilayar ponsel.
"Iya...iya...ini aku otewe kesana, tunggu ya." Ujar Maya.
Maya lalu mematikan ponselnya dan memasukkan ponsel kedalam tasnya.
Maya melirik jam tangannya, waktu menunjukkan pukul 17:48 wib, sudah hampir malam.
Dia terlambat datang ke tempat janjiannya dikarenakan harus meeting mendadak dengan direksi majalahnya.
Sehingga jam kerja yang seharusnya sudah selesai dari tadi harus molor.
Setelah dirasanya semua sudah rapi dan tidak ada yang tertinggal, Maya segera pergi berlari keluar dari ruang kerjanya.
Diluar kantornya, Maya yang terlihat terburu buru berdiri menunggu di pinggir jalan.
Sebuah taksi melintas, dia melihat taksi yang melaju ke arahnya, dengan cepat Maya menghentikan taksi, lalu taksipun berhenti.
Dengan cepat Maya membuka pintu taksi lalu masuk ke dalam taksi, duduk di jok belakang.
Maya memberitahukan tujuannya pada supir yang lantas menjalankan taksinya kembali meninggalkan kantor tempat Maya bekerja.
Di Cafe langganan Maya, terlihat Linda duduk disebuah kursi meja cafe.
Linda terlihat gelisah, berkali kali dia memandang sekitar ruangan cafe, menoleh ke kanan dan ke kiri, melihat ke belakang.
Lalu melihat ke arah pintu masuk cafe, seperti sedang mencari seseorang yang ditunggu kedatangannya ke cafe.
Sesekali Linda melihat jam tangannya, wajahnya terlihat cemberut karena tak juga datang orang yang ditunggunya.
Linda lantas meminum jus yang dipesannya, tak berapa lama kemudian, datang Maya.
Maya berlari lari kecil masuk ke dalam cafe dan menghampiri Linda yang dilihatnya duduk menunggu.
"Sorri...sorri aku telat, tadi ada meting dadakan." Ujar Maya begitu dekat dengan Linda yang hanya mengangguk melihat Maya yang datang.
Maya lantas menggeser kursi, dia lalu duduk di kursi yang ada di depan Linda.
"Kamu marah ya ? Maaf ya, udah buat kamu nunggu lama." Ujar Maya merasa bersalah pada Linda.
"Nggak kok, nyantai aja May, ngapain juga aku marah ke kamu." Ujar Linda tersenyum.
Maya lega mendengarnya. Dia lalu menatap wajah Linda yang terlihat sesekali mencuri pandang melirik ke kanan dan ke kiri cafe.
"Kamu udah pesan makanan ?" Tanya Maya pada Linda yang menggelengkan kepalanya.
"Aku pesan ya." Ujar Maya, Linda mengangguk tersenyum.
Maya berdiri dari duduknya berjalan meninggalkan Linda duduk sendiri untuk memesan makanan.
Linda kembali menoleh ke belakang dirinya, melihat ke arah pintu masuk cafe.
Saat dia melihat seorang pria datang dan membuka pintu cafe, wajah Linda terlihat senang.
Dia senang, karena dia akhirnya bisa melihat dan bertemu orang yang sudah lama dinantinya.
Namun saat pria itu masuk ke dalam cafe, wajah Linda kecewa, karena ternyata yang datang bukanlah orang yang diharapkannya.
Linda terlihat cemberut, Maya yang selesai memesan makanan kembali ke meja dimana Linda duduk, dia lalu duduk di kursinya.
Tak berapa lama Pelayan cafe datang membawa makanan dan minuman yang dipesan Maya.
Pelayan meletakkannya di atas meja lalu pergi meninggalkan Maya dan Linda.
"Di makan Lin, mumpung masih panas." Ujar Maya.
Linda mengangguk, diam tak menjawab, Maya yang melihat sikap Linda yang dingin itu heran, dia menatap wajah Linda.
"Kamu kenapa Lin ? Ada masalah?" Tanya Maya pada Linda.
"Nggak kok, biasa, lagi datang bulan..." Ujar Linda berbohong pada Maya yang paham dengan perkataan Linda.
"Sebenarnya ada apa sih kamu mendadak telpon aku minta ketemuan di sini ?" Tanya Maya sambil menikmati makanan yang dipesannya.
"Kangen aja sama kamu, gak boleh aku ketemu kamu?" Tanya Linda menatap wajah Maya yang tersenyum.
"Ya bolehlaah, masa nggak, kamu kan sahabat terbaikku sejak kita sekolah dulu." Ujar Maya tersenyum pada Linda yang juga tersenyum.
Linda melirik jam tangannya, lalu dia mengambil makanan yang ada di meja, mencicipi makanannya.
Suasana sesaat hening, tidak ada pembicaraan antara Maya dan Linda, Maya melirik wajah Linda yang terlihat murung, dia berfikir.
Maya melihat sekitar ruangan cafe, kemudian dia menatap wajah Linda yang sedang menikmati makanannya.
"Lin...lihat deh ke kursi di pojokan itu." Ujar Maya pada Linda.
Maya menggerakkan kepala dan matanya memberi isyarat ke arah meja yang ada di pojokan.
Linda melihat ke arah yang dimaksud Maya, dia melihat di meja pojokan cafe duduk seorang pria yang tadi dia lihat masuk ke dalam cafe.
"Kenapa ?" Tanya Linda bingung.
"Pria itu kayak kenal..." Ujar Maya dengan wajah seriusnya.
"Kamu kenal ?" Ujar Linda menatap Maya tak percaya.
"Iya, kayak kenal." Ujar Maya dengan tatapan serius meyakinkan Linda.
__ADS_1
"Masa sih? Kenal dimana ?" Tanya Linda masih belum percaya.
"Iya, aku bilang, dia kayak kenal... kayak loh ya, kayak kenal." Ujar Maya menegaskan.
"Iya, kenal dimana?" Tanya Linda lagi dengan wajah penasaran.
"Dia itu kayak kenaall...poooottt !!" Ujar Maya dengan suara kencang dan tertawa.
Linda langsung cemberut karena dikerjain, lalu dia ikut tertawa dengan ulah Maya itu.
"Ada ada aja kamu, kirain beneran kenal! Dosa loh nyamain orang sama knalpot." Ujar Linda tertawa.
Maya menutup mulutnya menahan tawanya, dia senang karena berhasil mengerjain Linda.
"Aku sengaja, biar kamu ketawa, habisnya aku liat kamu cemberut sih, jadi iseng aja godain kamu." Ujar Maya masih tertawa melihat Linda yang tersenyum menatapnya.
"Kamu kenapa sih Lin, kok ketemu aku malah cemberut gini, gak asik ah." Ujar Maya pada Linda.
"Nggak, aku cuma sedikit kecewa aja." Ujar Linda pada Maya.
"Kecewa ? Kenapa ?" Tanya Maya heran menatap lekat wajah Linda.
"Ya kecewa aja, aku sengaja milih cafe ini buat kita ketemuan dengan harapan bisa ketemu Gavlin." Ujar Linda.
Maya tersenyum menggoda Linda saat mendengar perkataan sahabatnya itu.
"Cie...cie...cieee...! Yang lagi merindukan sang pujaan hati." Goda Maya.
Linda wajahnya mulai memerah menahan malu karena di goda Maya.
"Jangan gitu dooong, bikin malu aku aja." Ujar Linda cemberut pada Maya.
"Pantesan murung aja dari tadi, terus aku perhatiin pas mesan makanan kamu gelisah, bolak balik liat ke pintu masuk, nungguin doi ternyataa..." Ujar Maya tertawa.
Linda geregetan dan mencubit lengan Maya karena menggoda dirinya terus, Maya kesakitan.
"Aduuuh...aduuuh...sakit tau." Ujar Maya memegang lengannya yang dicubit.
"Biarin, itu hukuman buat kamu yang godain aku terus." Ujar Linda menjulurkan lidahnya meledek Maya yang tersenyum padanya.
"Eh May, kan bilangnya Gavlin sering ke cafe ini, karena cafe ini langganannya, rumah dia juga katanya dekat sama cafe ini." Ujar Linda.
"Terus kenapa?" Tanya Maya.
"Ya, terus, biasanya kan jam jam makan kayak sekarang ini dia harusnya ada ya di cafe, masa sekarang nggak sih." Ujar Linda pada Maya yang tersenyum.
"Mungkin lembur kali sama bosnya, dia kan supir pribadi, jadi mungkin aja karena belum beres urusan majikannya, mau gak mau dia nungguin." Ujar Maya pada Linda.
"Iya juga sih ya, dia kan supirnya pak Bramantio, papahnya si Mike." Ujar Linda membenarkan perkataan Maya yang tersenyum ingin menggodanya lagi.
"Ciiieee...yang nyebut nama Mike penuh perasaan mendalam." Ujar Maya tersenyum menggoda melirik wajah Linda.
"Apaan sih, iih, najis deh, aku udah gak sudi liat si Mike." Ujar Linda menunjukkan ekspresi yang tidak suka.
Maya tertawa, melihat Maya yang mentertawakan dirinya, Linda melotot menatap Maya yang lantas menutup mulutnya, menghentikan tawanya.
"Sori...sorrii." Ujar Maya tersenyum, Linda menyengir lalu tersenyum pada Maya.
Linda lantas melanjutkan makannya, karena makanannya belum habis.
"Liat Lin...Liat ke pintu masuk, yang terkasih kamu datang juga akhirnya." Ujar Maya setengah berbisik pada Linda.
"Gak ah, itu cuma akal akalanmu aja, ntar diboongin lagi kayak tadi." Ujar Linda cuek tidak menghiraukan perkataan Maya.
Linda memilih terus menikmati makanannya daripada terpengaruh dengan Maya.
"Ini beneran Gavlin yang datang Lin, serius, gak boong!" Ujar Maya menatap Linda yang juga menatap lekat wajah Maya.
"Gak, aku gak percaya." Ujar Linda tetap cuek meminum jusnya.
Maya melihat ke arah pintu masuk lagi, muncul Gavlin yang berjalan masuk ke dalam cafe, lalu melangkah ke arah kasir dan memesan makanan.
Saat dia berdiri menunggu makanan yang dipesannya, pandangannya tertuju pada Maya yang duduk dan sedang melihat ke arahnya.
Gavlin mengangguk tersenyum saat melihat Maya yang melambaikan tangannya.
Linda yang melihat Maya melambaikan tangan itu mencibirnya.
"Gak usah pura pura deh." Ujar Linda.
Linda merasa Maya pura pura melambai tangan, seolah olah melambaikan tangan pada seseorang yang dia kenal.
Maya hanya tersenyum diam saja, saat melihat Gavlin berjalan membawa makanan yang dipesannya.
Gavlin jalan ke arah mereka duduk, Maya pura pura tidak melihat, dia meminum jus yang dipesannya.
"Aku boleh gabung dengan kalian?" Sapa Gavlin ramah berdiri di samping , ditengah tengah antara Maya dan Linda yang duduk.
Mendengar suara Gavlin, Linda tersedak dari minumnya, dia kaget, lalu melirik pada Maya yang menutup mulutnya menahan tawa.
Linda jadi salah tingkah, dia melihat dari bawah kaki Gavlin lalu ke atas tubuh Gavlin.
Saat Linda melihat Gavlin yang berdiri di dekatnya, matanya terbelalak kaget.
Linda tidak menyangka jika Maya benar benar tadi memberitahu dia tentang Gavlin yang datang.
"Gavlin..." Ujar Linda menatap wajah Gavlin yang tersenyum.
Wajah Linda berubah cerah menatap senyum manis Gavlin, dia lega , akhirnya penungguannya berakhir dengan bahagia.
Akhirnya dia bertemu dengan pria yang di harapkannya datang, Maya tersenyum melirik Linda.
"Duduk Vlin, sini." Ujar Maya menggeser kursi di sampingnya agar Gavlin duduk di kursi itu.
Gavlin tersenyum, dia meletakkan makanan yang dibawanya di meja, lalu duduk di kursi yang berada disamping Maya.
"Tadi nanyain, ni orangnya udah datang malah diam aja." Ujar Maya menggoda Linda yang melotot memberi isyarat pada Maya agar diam.
Gavlin cuek, dia diam, lalu Gavlin menikmati makanan yang dipesannya.
"Kayaknya lapar banget Vlin." Ujar Maya melihat Gavlin yang cuek dan santai makan tanpa menghiraukan Maya dan Linda.
"Iyaa...capek, laper banget, tadi habis muter muter nemuin beberapa klien bos." Ujar Gavlin sambil mengunyah makanannya.
Linda memperhatikan wajah Gavlin yang sedang menikmati makanannya itu, ada kerinduan yang begitu besar dihatinya pada Gavlin.
"Linda nanyain kamu tuh Vlin, kayaknya mau ngomong banyak sama kamu." Ujar Maya memecahkan keheningan suasana.
__ADS_1
"Mau ngomong apa Lin ?" Ujar Gavlin dengan sikap cuek menikmati makanannya.
"Ah nggak, aku cuma pengen ketemu kamu aja." Ujar Linda menahan groginya dihadapan Gavlin, pria yang sangat disukainya.
"Ini kita udah ketemu, terus ?" Tanya Gavlin menghentikan makanannya, lalu meminum air soda yang dipesannya, dia menatap wajah Linda yang tersipu.
"Sebenarnya, aku mau..." Linda ragu melanjutkan bicaranya.
Maya paham, Linda merasa tidak enak karena ada dia di situ, Maya melirik jam tangannya.
"Eeh, kalo gitu, aku pulang duluan ya, udah kemalaman, ntar ayahku nyariin lagi." Ujar Maya berdiri dari duduknya, Gavlin mengangguk cuek.
"Jangan dulu dong May, masa aku di tinggal sendiri." Ujar Linda menahan Maya agar tidak pergi.
"Kan gak sendiri, ada Gavlin nemani kamu." Ujar Maya tersenyum pada Linda.
"Udah ya, aku duluan, Lin, ntar telpon aku ya." Ujar Maya.
Maya lalu segera pergi meninggalkan Linda yang hanya mengangguk.
Linda senang Maya mengerti perasaannya saat itu yang hanya ingin berduaan dengan Gavlin.
"Kamu udah lama di sini ?" Tanya Gavlin pada Linda.
"Ya lumayan juga sih." Ujar Linda.
"Kayaknya kamu udah kenal lama banget sama Maya ya Lin ?" Tanya Gavlin menatap wajah Linda.
"Ya lama juga, dari SMP sampe lulus kami selalu satu kelas dan satu sekolahan." Ujar Linda.
"Pisahnya ya cuma pas kuliah karena milih beda jurusan, tapi tetap komunikasi terus sampe sekarang." Ujar Linda menjelaskan pada Gavlin.
"Pantesan akrab banget, kayak udah bertahun tahun temanan." Ujar Gavlin.
Gavlin lantas melap tangannya dengan tisu yang diambilnya di meja.
Gavlin membersihkan sisa makanan yang menempel di telapak tangan dan jarinya, lalu meminum habis air soda yang dipesannya.
"Habis dari sini, kamu mau kemana?" Tanya Gavlin.
"Gak ada rencana kemana mana sih, kenapa ?" Tanya Linda pada Gavlin.
"Ya nggak apa apa, aku mau pulang, capek, mau istirahat, jadi gak bisa lama nemani kamu." Ujar Gavlin.
Gavlin menatap wajah Linda yang sedikit kecewa, namun berusaha disembunyikannya rasa kecewanya itu pada Gavlin.
"Ya gak apa sih kalo kamu mau pulang, aku juga mau pulang kok." Ujar Linda tersenyum.
"Okay, yuk." Ajak Gavlin berdiri dari duduknya.
Linda kaget, dia tidak menyangka kalau saat itu juga Gavlin mau pulang, mau tidak mau akhirnya dia juga berdiri, mengikuti Gavlin yang sudah berjalan keluar cafe.
Diluar cafe, Gavlin berdiri menunggu Linda, Linda keluar dari dalam cafe mendekati Gavlin yang berdiri menunggunya di halaman depan cafe.
"Kamu naik apa ke sini?" Tanya Gavlin.
"Mobil, tuh mobilku." Ujar Linda menunjuk ke mobilnya yang terparkir dihalaman parkir cafe itu, Gavlin melihat mobil Linda dan mengangguk.
"Okay, kalo gitu gak perlu aku antar ya." Ujar Gavlin.
"Bareng aku aja Vlin pulangnya. Aku antar sampe kerumahmu." Ujar Linda, dia berharap ada tambahan waktu berduaan bersama Gavlin. Gavlin tersenyum menatap Linda.
"Aku jalan kaki aja, rumahku kan dekat, ada dijalan belakang cafe ini." Ujar Gavlin.
"Tapi, aku boleh gak ke rumahmu?" Tanya Linda menatap wajah Gavlin.
"Jangan malam ini ya, kapan kapan aja aku ajak kerumahku." Ujar Gavlin tersenyum.
"Okay, ohya Vlin, aku boleh minta nomor hape kamu gak ? Biar kita bisa saling telponan." Ujar Linda.
Gavlin diam menatap wajah Linda lekat, Linda menggigit bibirnya, merasa sedikit canggung melihat reaksi Gavlin yang hanya diam saat dia minta nomor ponselnya.
"Gak boleh ya?" Tanya Linda menatap lekat wajah Gavlin.
Gavlin masih diam menatap wajah Linda, sesaat kemudian, tangannya menengadah.
"Mana hapemu?" Tanya Gavlin.
Linda buru buru mengeluarkan ponsel dari dalam tas, membuka kunci pasword ponselnya.
Linda lalu memberikannya pada Gavlin, Gavlin mencari kontak telepon.
Kemudian dia mengetik nomor teleponnya, memberikannya nama, kemudian menyimpan nomor telepon miliknya di kontak telepon Linda.
"Udah ku simpan nomor hapeku, miscall aja nomor kamu." Ujar Gavlin memberikan ponsel pada Linda yang menerimanya.
Linda lalu melihat nama Gavlin yang ada di kontak teleponnya, lalu dia menekan nomor telepon itu, terdengar ponsel Gavlin berbunyi.
Gavlin mengambil ponsel dari kantong celananya, melihat nomor telepon Linda lalu menyimpannya.
"Udah aku save, thanks ya." Ujar Gavlin. Linda mengangguk.
"Aku duluan ya, sampe ketemu." Ujar Gavlin tersenyum, Linda mengangguk.
Gavlin lalu pergi meninggalkan Linda yang terlihat wajahnya bahagia karena berhasil mendapatkan nomor telepon Gavlin.
Linda lalu cepat masuk kedalam mobilnya, menyalakan mesin mobil, lalu segera menjalankan mobilnya, pergi dari lokasi cafe.
Gavlin berjalan santai di trotoar jalanan, terdengar bunyi klakson mobil.
Gavlin melihat ke arah mobil yang membunyikan klakson, melihat ke dalam mobil, ada Linda yang menyetir.
Gavlin tersenyum melambaikan tangannya, Linda melambaikan tangannya juga.
Lalu, segera mobilnya melaju pergi meninggalkan Gavlin yang melanjutkan jalannya.
Saat dipersimpangan ruko, Langkah Gavlin terhenti, dia berpapasan dengan seorang Prria separuh baya.
Pria itu baru saja keluar dari rumah makan padang, berjalan melangkah menenteng bungkus makanan, lewat disamping Gavlin.
Saat melihat sosok Pria separuh baya itu langkah Gavlin terhenti, dia menoleh ke arah pria tua yang berjalan menjauh darinya.
Gavlin berfikir, dia mengingat ingat sosok Pria separuh baya itu, dia ingat.
Lalu wajahnya berubah menjadi marah, menahan geram, menatap tajam pada Pria separuh baya yang berjalan menjauh darinya.
Gavlin tersadar, dia mengenal Pria separuh baya itu, lalu dengan cepat dia berjalan mengejar Pria separuh baya dan segera mengikutinya.
__ADS_1