VINDICTA ( BALAS DENDAM )

VINDICTA ( BALAS DENDAM )
Kerjasama Andre dan Gavlin


__ADS_3

Sipir Penjara membuka pintu sel tahanan tempat Chandra dan Wicaksono di kurung. Chandra dan Wicaksono saling pandang melihat kedatangan Sipir tersebut ke sel mereka.


"Saudara Chandra, ada yang datang mengunjungimu, silahkan ikut saya." ujar Sipir Penjara.


"Saya ?!!" ujar Chandra terheran heran.


Chandra kaget, karena ada yang tiba tiba mengunjunginya , selama dia berada di rumah tahanan, tak ada satu orang pun yang dia kenal datang mengunjunginya. Dan kali ini, tiba tiba saja, Sipir Penjara datang memberitahu padanya, bahwa ada yang datang berkunjung kepadanya.


Chandra dengan wajah terheran heran menoleh dan menatap wajah Wicaksono yang tersenyum duduk di hadapannya.


"Temuilah, pasti Gavlin yang datang, dia menepati janjinya untuk bertemu kamu." ucap Wicaksono, tersenyum senang menatap wajah bingung dan heran Chandra.


"Benarkah Gavlin, Pak?" ujar Chandra bertanya, dengan menatap serius wajah Wicaksono yang tersenyum senang padanya.


"Ya." Angguk Wicaksono, tersenyum pada Chandra.


Chandra lantas berdiri dari duduknya di lantai pojokan sel tahanan, dia lantas berjalan keluar dari dalam sel tahanan, Wicaksono bersama Gentong dan Pijar memandangi kepergian Chandra, Setelah Chandra keluar dari dalam sel tahanan, Sipir Penjara langsung menutup dan mengunci pintu sel tahanan dengan gembok.


Lalu, Sipir Penjara pergi bersama Chandra meninggalkan sel tahanan tersebut, wajah Chandra terlihat senang, karena akhirnya dia bisa bertemu Gavlin. Orang yang telah berjasa menyelamatkan nyawanya.


Di dalam ruang pertemuan rumah tahanan, tampak Gavlin duduk diam menunggu di bangkunya, tak berapa lama, pintu ruang pertemuan dari sebelah sisi lainnya terbuka, lalu, masuk Chandra yang ditemani Sipir Penjara.


Melihat benar yang datang mengunjunginya adalah Gavlin, Chandra sangat senang sekali, cepat dia berjalan menghampiri Gavlin. Chandra lalu duduk di bangku.


Walaupun Gavlin datang dengan menyamar, tapi Chandra masih bisa mengenali Gavlin dari gerak gerik dan mata Gavlin.


"Apa kabar Chan?" Sapa Gavlin, tersenyum ramah pada Chandra yang tampak senang dengan kedatangan Gavlin.


"Kabarku baik, Vlin. Terima kasih, kamu udah mau mengunjungiku." ujar Chandra, tersenyum senang.


"Ya, karena aku sudah berjanji, sebelum aku pergi ke Prancis, aku akan menemuimu." ucap Gavlin.


"Kapan kamu berangkat?" tanya Chandra.


"Besok pagi, Chan." ujar Gavlin.


"Oh,begitu." ujar Chandra mengangguk.


"Chan, Aku gak tau, ini pertemuan kita yang terakhir kalinya atau tidak, yang jelas, aku ingin mengucapkan terima kasih padamu, karena kamu sudah membongkar siapa orang orang yang telah menjebak dan membunuh Bapakku, sehingga aku bisa membalas dendam." ujar Gavlin menjelaskan pada Chandra.


"Ya, Vlin. Sama sama, aku juga berterima kasih, karena kamu juga sudah mempermudah jalan balas dendamku, karena selama ini, musuh kita orang orang yang sama." ujar Chandra, serius menjelaskan pada Gavlin.


"Chan, setelah aku berhasil membunuh Binsar nanti, aku gak tau, bakal kembali ke sini lagi atau menghilang selamanya. Sebab, aku masih menjadi buronan utama pihak kepolisian." ungkap Gavlin serius.


"Menghilang? Kamu mau kemana?" tanya Chandra dengan wajah yang seriusnya.


"Aku belum tau mau kemana, yang jelas, aku pasti bakal menghilang dari negara ini, selamanya." ungkap Gavlin, menatap serius wajah Chandra yang kaget mendengar kalau Gavlin akan menghilang selamanya setelah membunuh Binsar.


"Jika aku membunuh Binsar, pastilah pihak kepolisian akan memburuku terus." jelas Gavlin.

__ADS_1


"Tapi, kamu jangan khawatir, Chan. Sesuai niat dan janjiku, aku akan membebaskan kamu dan pak Wicaksono dari penjara ini." ujar Gavlin, menjelaskan dengan serius pada Chandra.


"Dengan cara apa kamu bebaskan kami? Jika kamu membobol rumah tahanan ini, dan sengaja membawa kami kabur, lebih baik jangan kamu lakukan Vlin, karena, sama saja, aku dan pak Wicaksono akan menjadi buronan kepolisian karena melarikan diri dari penjara ini." ujar Chandra, mencoba menjelaskan dan mengingatkan Gavlin.


"Tidak Chan, aku gak akan melakukan hal itu, aku tau, pak Wicaksono selama ini tak bersalah, dia korban fitnah Binsar, dan kamu juga, hukumanmu gak setimpal." ungkap Gavlin serius.


"Lantas, bagaimana caranya kamu membebaskan kami?" tanya Chandra, menatap serius wajah Gavlin.


"Aku akan meminta sidang ulang atas kasus pak Wicaksono dan Kamu. Aku akan meminta Andre untuk melakukan hal itu bersama Samuel." ujar Gavlin serius.


"Apa Andre mau melakukannya?" tanya Chandra serius.


"Aku akan membuat perjanjian padanya, mudah mudahan, dengan kesepakatan perjanjian itu, Andre bersedia melakukan apa yang aku minta padanya." ucap Gavlin, menatap serius wajah Chandra.


"Oh, begitu. Mudah mudahan aja Andre setuju, Vlin." ujar Chandra.


"Ya." ujar Gavlin.


"Sekarang, organisasi Inside sudah lenyap, pihak polisi sudah menyapu bersih semua anggota Inside, tak ada yang tersisa, semuanya sudah ditangkapi, hanya tinggal Binsar seorang." ujar Gavlin.


"Ya, Vlin. Ini berkat usaha dan kerja keras kita dalam mengungkap kasus kejahatan organisasi Inside yang di pimpin Binsar." ujar Chandra.


"Ya, Chan." Angguk Gavlin.


"Baiklah, maaf, aku gak bisa lama lama di sini, aku harus menyiapkan lagi semua kebutuhan yang akan aku bawa pergi nantinya." ujar Gavlin, menjelaskan pada Chandra.


"Sama sama, Chan." ujar Gavlin, tersenyum juga pada Chandra.


Lalu, Gavlin berdiri dari duduknya di bangku, Chandra juga ikut berdiri, lalu, Gavlin bergegas pergi keluar dari ruang pertemuan tersebut, Chandra menatap kepergian Gavlin yang datang menemui dirinya dengan menyamar menjadi sosok orang lain.


Chandra tersenyum senang melihat kepergian Gavlin, lalu, dia berbalik badan , dan lalu segera keluar dari dalam ruang pertemuan rumah tahanan, Sipir Penjara yang menjaganya ikut keluar dan menutup pintu ruang pertemuan tersebut.


---


Gavlin sudah berada didalam mobilnya, dia lalu menghubungi Andre dengan Ponsel yang baru saja dia beli.


"Hallo, Ndre, ini aku Gavlin, ada yang ingin aku bicarakan denganmu." ujar Gavlin, bicara di teleponnya.


"Apa yang mau kamu bicarakan denganku?" tanya Andre, dari seberang telepon.


"Aku besok akan berangkat ke Prancis memburu Binsar disana, aku akan membunuhnya." ujar Gavlin, serius di teleponnya.


"Kamu jangan nekat, Vlin. Jika kamu membunuh Binsar di sana, kamu akan berurusan dengan pihak kepolisian Prancis." ujar Andre, serius, dari seberang telepon.


"Aku sudah memikirkan semuanya, Ndre. Dan aku tau itu, aku pasti gak akan bertindak gegabah, aku akan menghindari pihak kepolisian dalam mengejar Binsar." jelas Gavlin, bicara serius di teleponnya.


"Begini saja Vlin, kamu boleh mengejar dan memburu Binsar, tapi kamu hanya boleh menangkapnya, jangan bunuh dia di Prancis, bawa dia kembali ke negara ini, lalu bunuh." ujar Andre, menjelaskan pada Gavlin dari seberang telepon.


"Kalo aku membawa Binsar, pasti akan ketauan sama pihak kepolisian Prancis, itu gak mungkin bisa ku lakukan." jawab Gavlin, di teleponnya.

__ADS_1


"Kamu tenang saja, nanti, setelah kamu berhasil menangkap Binsar, segera kabari aku, aku akan menyediakan pesawat pribadi buatmu membawa Binsar pulang ke sini." jelas Andre, dari seberang telepon.


"Vlin, percaya padaku, demi almarhum teguh, saudaramu yang mati di bunuh oleh anggota Inside, aku gak akan mengkhianatimu." jelas Andre, serius bicara dari seberang telepon.


"Aku juga menginginkan kematian Binsar, karena aku tau, dia gak akan bisa tersentuh oleh hukum yang ada di negara ini, bagaimana pun juga usaha kami untuk menjebloskannya ke penjara dengan memberi hukuman seumur hidup atau hukuman mati, Binsar pasti akan dinyatakan bebas. Karena kami gak tau, apakah masih ada yang tersisa di departemen kehakiman dan kejaksaan orang orangnya Binsar." ujar Andre, memberi penjelasan dan pengertian pada Gavlin dari seberang telepon.


"Baiklah, aku setuju dengan saran dan idemu, tapi, aku ada syarat dan permintaan juga padamu." ucap Gavlin serius di telepon.


"Apa itu? Katakan saja." ujar Andre, dari seberang telepon.


"Tolong, kamu sampaikan pada Samuel, untuk melakukan sidang ulang kepada terpidana seumur hidup yang bernama Wicaksono." ujar Gavlin ditelepon.


"Wicaksono? Apa hubunganmu dengannya?" tanya Andre, dari seberang telepon.


"Dia Bapak angkatku, saat aku pertama kali datang ke negara ini, dialah yang menerimaku tinggal dirumahnya." jelas Gavlin, ditelepon.


"Dan beliau di jebloskan ke penjara karena di fitnah Binsar, dia di tuduh menyerang markas Inside dan membantai puluhan anak buah Binsar, padahal, Pak Wicaksono gak pernah menyerang markas Inside, malah dia yang di serang anak buah Binsar saat baru di bebaskan dari rumah tahanan dulu." ungkap Gavlin, memberi penjelasan pada Chandra.


"Oh, begitu. Baiklah, nanti akan aku usahakan bicara pada Samuel, agar Samuel melihat kasusnya terlebih dulu sebelum menggelar sidang ulang." ujar Andre, dari seberang telepon.


"Selain itu, kami akan mencarikan pengacara buat pak Wicaksono saat menjalani sidang ulang nantinya." ujar Andre, dari seberang telepon.


"Ya, aku tunggu kabar baiknya, aku hanya ingin membersihkan nama baik pak Wicaksono." jelas Gavlin, di telepon.


"Ya, aku paham." Jawab Andre, dari seberang telepon.


"Dan satu lagi, Ndre. Tolong bebaskan Chandra, dia gak pantas mendapatkan hukuman penjara selama bertahun tahun, aku minta, agar kamu membebaskan Chandra, dia gak bersalah." ujar Gavlin, serius di teleponnya.


"Okay, akan aku bebaskan Chandra, toh Samsudin juga sudah mati." ujar Andre, dari seberang telepon.


"Terima kasih, Ndre." ujar Gavlin diteleponnya.


"Tunggu, Vlin. Jangan tutup dulu teleponmu." ujar Andre, dari seberang telepon.


"Ya, ada apa?" tanya Gavlin, di teleponnya.


"Apa ini nomor telepon tetapmu saat ini? Apa kita bisa berkomunikasi melalui nomor teleponmu ini selama kamu dinegara Prancis nantinya?" ujar Andre, bertanya serius dari seberang telepon.


"Jangan, nomor ini hanya sekali pakai, setelah ini akan aku buang." ujar Gavlin, di telepon.


"Lantas, bagaimana kita berkomunikasi nanti?" tanya Andre, dari seberang telepon.


"Aku yang akan menghubungimu nanti setelah berhasil menangkap Binsar di Prancis, kamu tunggu saja kabar dariku, dan siapkan saja pesawat pribadi yang kamu bilang tadi, buat membawaku dan Binsar." ujar Gavlin, ditelepon.


"Oh, begitu. Baiklah, aku tunggu kabar darimu." Jawab Andre, dari seberang telepon.


Lalu, terdengar nada suara telepon terputus, Gavlin menutup dan mematikan ponselnya, lalu, dia membuka ponselnya, dan mengambil sim card dari dalam ponsel , lalu Gavlin mematahkan sim card tersebut dan membuangnya. Selain itu, dia juga membuang ponsel yang dipakainya tadi menelpon Andre.


Setelah itu, Gavlin pun menyalakan mesin mobilnya, lalu segera menjalankan mobilnya dan pergi meninggalkan halaman parkir khusus tamu pengunjung rumah tahanan.

__ADS_1


__ADS_2