
Gavlin berjalan dengan santainya menuju ke mobilnya yang diparkirnya dihalaman parkir restoran mewah tersebut.
Saat Gavlin berjalan, terdengar suara teriakan histeris dari dalam restoran mewah itu.
"Aaarggghh...toolooongg!!" teriak seseorang di dalam restoran mewah.
Gavlin tersenyum sinis, dia membuka pintu mobilnya, lalu segera masuk ke dalam mobilnya.
Orang orang terlihat berlari keluar dari dalam restoran dengan wajah panik dan ketakutan, karena melihat mayat didalam restoran tersebut.
Gavlin menyalakan mesin mobilnya, lalu, dia menjalankan mobilnya, mobil berjalan, pergi dari restoran mewah tersebut.
Gavlin menyetir mobilnya yang melaju cepat dijalan raya, raut wajahnya terlihat puas, dia senang, karena sudah membunuh pelaku yang membantai mantan presiden.
Sangat mudah bagi Gavlin membunuh Ramon, karena pengalamannya sebagai pembunuh profesional dan berdarah dingin selama ini, Gavlin sangat tahu, bagaimana cara menghadapi lawannya.
Ramon yang terlihat seperti jagoan dan sangat garang, ternyata cuma berkoar koar saja, dia tak ada apa apanya. Hanya seorang polisi militer yang bermulut besar dan suka sesumbar.
Ramon sesumbar bisa membunuh Gavlin, bagaimana bisa dia membunuh Gavlin, sementara dia tak tahu bagaimana wajah dan sosok Gavlin.
Karena kebodohan Ramon, dia pun harus mati terbunuh, dia di bunuh oleh orang yang dikatakannya akan dibunuhnya, yakni Gavlin.
Belum menunjukkan kemampuannya, dia sudah mati di tangan Gavlin.
---
Keesokan hari, terlihat para narapidana sedang bekerja membersihkan area halaman rumah tahanan yang cukup luas itu.
Tampak diantara narapidana yang bekerja, ada Chandra dan juga Wicaksono serta Gentong dan juga Pijar.
Tiba tiba, 7 narapidana tinggi besar dan berbadan kekar berjalan menghampiri Chandra yang sedang menyapu. Wicaksono melihat ke tujuh narapidana itu, dia lantas memberi isyarat pada Gentong dan Pijar, agar melindungi Chandra.
Wicaksono tahu, para narapidana itu menghampiri Chandra, untuk membunuhnya, dan mereka pastilah orang orang bayaran Samsudin, yang memang di tugaskan membunuh Chandra.
Sepertinya Jalal tak puas, karena dia sudah dua kali gagal membunuh Chandra dengan membayar narapidana. Jalal tidak memberi tahu Samsudin kegagalannya yang kedua kali, karena dia tak ingin dimarahi Samsudin.
Setelah mengetahui kegagalannya, Jalal mencari cara lain, kali ini, dia membayar sekelompok narapidana yang membentuk genk di rumah tahanan, agar mau membunuh Chandra.
Karena di iming imingi akan diberikan uang yang sangat banyak, dan juga akan diberikan keringanan dari masa tahanan, para narapidana itu pun dengan senang hati menerima tawaran Jalal untuk melakukan pembunuhan terhadap Chandra.
Gentong dan Pijar berdiri di samping Chandra, mereka berdua terlihat bersiap siaga, Chandra yang melihat Gentong dan Pijar berdiri di samping kiri dan kanannya dengan bersiap siap menjadi heran.
"Kalian mau apa?" tanya Chandra pada Gentong dan Pijar.
"Mereka akan membunuhmu, hati hatilah." ujar Gentong, dengan suara pelan kepada Chandra.
Chandra tersentak kaget mendengar perkataan Gentong, lalu, dia melihat ke arah 7 narapidana yang berjalan menuju ke arahnya.
Chandra pun lantas bersiap siap, dia melemparkan sapu lidi yang dipegangnya ke tanah. Wicaksono masih diam mengamati saja dari tempatnya berdiri saat ini.
Ke 7 narapidana berhenti tepat di depan Gentong dan Pijar yang menghalangi Chandra. Chandra yang ada dibelakang Gentong dan Pijar saat ini melihat ke 7 narapidana. Wajah wajah para narapidana itu terlihat sangat bengis dan kejam, ada juga yang terlihat sadis dari wajahnya.
"Mau apa kalian?" bentak Gentong.
"Minggir kamu!! Ini bukan urusanmu!!" Hardik Suntoko, pemimpin dari genk narapidana itu.
"Nggak !! Aku akan tetap di sini, melindungi temanku! Kalian pasti mau membunuhnya!" ujar Gentong geram menatap wajah Suntoko.
"Bajingaan !! Serang mereka!!" Ujar Suntoko memberi perintah pada anak buahnya , yang berjumlah 6 orang itu.
Lalu, dengan cepat, ke enam narapidana langsung menyerang Gentong, Pijar membantu Gentong, dia pun lantas menyerang para narapidana itu.
__ADS_1
Bersama Gentong, Pijar melawan 6 narapidana, sementara Chandra berdiri terdiam, melihat perkelahian antara 6 narapidana dengan Gentong dan Pijar.
Suntoko melihat Chandra, dia tersenyum sinis, lantas, dia mengambil pisau dari balik bajunya, lalu, dia pun berjalan mendekati Chandra.
Melihat Suntoko yang berjalan mendekatinya sambil memegang pisau ditangannya, Chandra pun bersiap siaga, Suntoko berdiri di dekat Chandra, dan Chandra sudah bersiap siap untuk menangkis serangan Suntoko.
Suntoko lantas menghujamkan pisaunya kepada Chandra, namun, tiba tiba saja, tangannya di tepis, hingga pisau terlepas dari genggaman tangannya.
Chandra melihat, ternyata, Wicaksono yang datang, sangat cepat gerakan Wicaksono, tahu tahu dia sudah ada didekat Chandra.
"Kurang ajar!!" bentak Suntoko marah pada Wicaksono yang berdiri dihadapannya.
"Kamu berani melawanku, Suntoko?" ujar Wicaksono, dengan sikap dingin dan tenangnya.
"Minggir kamu!! Aku gak ada urusan denganmu!!" bentak Suntoko.
"Tentu saja menjadi urusanku, jika ada narapidana yang sok jagoan membuat rusuh rumah tahanan ini, apalagi membuat genk narapidana, seolah olah jawara di sini!" ujar Wicaksono menyindir Suntoko.
"Diam kamu!!" bentak Suntoko marah.
"Suntoko! Harusnya kamu tau, di rumah tahanan ini, gak ada yang boleh membuat kelompok atau genk genkan. Aku pemimpin disini, dan cuma ada aku satu satunya!" tegas Wicaksono.
"Banyak omong kamu pak Tua!!" hardik Suntoko.
Lalu, Suntoko menyerang Wicaksono, Wicaksono menghindar, lalu, Wicaksono pun membalas, menyerang Suntoko.
Perkelahian terjadi antara Wicaksono dan Suntoko, sementara, Gentong dan Pijar terus melawan 6 narapidana.
Para narapidana yang juga ada di tempat itu melihat perkelahian mereka, lalu, seluruh narapidana bersorak sorai, dan ada yang bertepuk tangan, ada juga beberapa narapidana yang diam saja memperhatikan.
Mereka tahu, Jika Wicaksono sudah turun tangan, maka, tiada ampun lagi bagi narapidana yang mencoba melawannya.
Pijar melawan dua orang, dan Gentong melawan satu orang.
3 narapidana yang terjungkal jatuh ke tanah segera berdiri, lalu, ketiganya menyerang Gentong dan Pijar.
Gentong di keroyok dua, sementara, Pijar di keroyok empat narapidana, namun, Gentong dan Pijar bisa mengatasi dan menghadapi para narapidana itu.
Chandra masih terdiam, berdiri di tempatnya tak bergeming, dia melihat perkelahian antara Wicaksono dan Suntoko.
Chandra diam diam memperhatikan gerakan gerakan Wicaksono, tiba tiba saja, dia teringat dengan Gavlin. Di ingatan dan bayangannya saat ini, Wicaksono adalah Gavlin.
Gavlin yang sedang bertarung melawan Suntoko, Chandra tiba tiba mengingat Gavlin dan membayangkannya, karena dia perhatikan, gerakan gerakan Wicaksono sama persis dengan Gavlin.
"Gerakan gerakannya sama persis, tendangan dan pukulannya juga, sama seperti Gavlin." Gumam bathin Chandra, melihat Wicaksono yang mengeluarkan jurus jurus andalannya melawan Suntoko.
Para narapidana yang menonton terus bersorak sorai, para Sipir Penjara berlari lari menghampiri mereka yang sedang berkelahi.
Gentong dan Pijar terus menghajar ke 6 narapidana, lalu, seorang narapidana berhasil di tangkap Gentong, dia mencengkram leher narapidana dengan tangannya, kemudian, Gentong menggigit leher narapidana , hingga kulit dan dagingnya terkelupas, dan Gentong memakan kulit dan daging leher narapidana.
Narapidana yang berada dalam cengkraman Gentong berteriak kesakitan, karena lehernya digigit hingga berdarah darah. Gentong dengan kalap terus menggigit leher narapidana itu hingga mati.
Gentong memakan daging lehernya, lalu, dia melemparkan tubuh narapidana yang sudah mati ke tanah.
Melihat Gentong yang memakan temannya, 5 narapidana bergidik ngeri, mereka langsung ciut nyalinya, takut dengan Gentong.
"Hayo, siapa lagi diantara kalian yang mau aku makan, sini, mendekatlah, serang aku!!" ujar Gentong, sambil menyeringai menakutkan.
5 narapidana saling berpandangan, lalu, mereka pun berbalik badan, dan langsung lari , mereka menghindari Gentong , tak mau melawannya, karena takut, Gentong akan memakan mereka juga.
5 narapidana yang lari dengan wajah takut itu langsung di tangkap Sipir Sipir penjara. Pijar mendekati Gentong.
__ADS_1
"Enak dagingnya?" tanya Pijar.
"Pahit dan alot!" ujar Gentong, sambil menghapus darah yang ada di mulutnya. Darah itu milik narapidana yang dimakan Gentong hingga mati.
Sementara itu, Suntoko mulai kewalahan menghadapi Wicaksono. Ternyata, walau sudah tua, Wicaksono masih lincah bertarung, berkali kali Suntoko harus jatuh bangun, melawan Wicaksono.
Dan pada satu kesempatan, Wicaksono melihat Suntoko lengah pertahanannya, lalu, dengan gerakannya yang sangat cepat, Wicaksono menghantam ulu hati Suntoko, hingga dia tersentak, lalu tersungkur dan jatuh ke tanah.
Wicaksono langsung menghampiri Suntoko yang terjerembab di tanah, terkena hantaman pukulan bertenaga Wicaksono.
Lalu, Wicaksono mencengkram leher Suntoko, satu tangannya meremas rambut Suntoko. Chandra terbelalak melihat hal itu.
"Jangan...jangan patahkan lehernya!!" teriak Chandra pada Wicaksono.
Namun terlambat, Wicaksono sudah duluan mematahkan leher Suntoko hingga mati. Chandra menghela nafasnya, melihat Wicaksono membunuh Suntoko.
Wicaksono membuang tubuh Suntoko ke tanah, lalu, dia berdiri dengan tenangnya, dia berjalan mendekati Chandra, melihat Wicaksono sudah menghabisi Suntoko, Gentong dan Pijar pun mendekati Chandra serta Wicaksono.
Para Sipir Penjara yang mau menangkap Gentong mengurungkan niatnya, mereka tak jadi menangkap, karena melihat, ternyata yang berkelahi ada Wicaksono, sang penguasa rumah tahanan, yang sangat ditakuti dan di segani para sipir penjara.
Para sipir penjara itu takut pada Wicaksono, tak ada yang berani diantara mereka menangkap Wicaksono.
Para Sipir penjara itu berbalik badan, lalu berlari kembali ke pos jaga mereka, sementara para sipir lainnya sudah membawa 5 narapidana yang berhasil mereka tangkap.
Ke Lima narapidana itulah yang diberikan hukuman yang sangat berat, dimasukkan ke dalam tahanan yang lembab dan tertutup tak ada udara serta dingin. Sama seperti narapidana sebelumnya, yang mau membunuh Chandra, namun di gagalkan Pijar saat itu. Mereka mendapat hukuman, dengan dijebloskan ke dalam sel tahanan khusus bagi narapidana yang berbuat masalah di rumah tahanan, selama satu bulan penuh.
Wicaksono menepuk nepuk bahu Chandra, dan Chandra hanya diam saja, berdiri dihadapan Wicaksono.
"Hampir saja kamu mati ditangan Suntoko kali ini." ujar Wicaksono.
"Terima kasih, Pak. Bapak lagi lagi menyelamatkan saya., Terima kasih juga Gentong, Pijar." ujar Chandra
"Santai aja, kita teman baik. Jadi harus tolong menolong." ucap Gentong.
Chandra tersenyum senang mendengar perkataan Gentong, dia melirik Pijar, Pijar hanya diam saja, berdiri disamping Gentong.
"Sepertinya, orang Samsudin gak akan berhenti, jika tau, kalo kali ini pun usaha mereka gagal membunuhmu." ujar Wicaksono.
"Harus di hentikan." ujar Gentong.
"Caranya?" tanya Pijar.
"Ya, habisi orang yang membayar narapidana itu, jadi Chandra aman, dan gak ada lagi narapidana yang mau bunuh Chandra." ujar Gentong menjelaskan.
"Oh, begitu toh." ujar Pijar, mengangguk angguk.
Begitulah Pijar, kadang dia normal, kadang muncul stressnya, dan menjadi orang yang diam saja tak bicara.
"Yang di bilang Gentong ada benarnya, cuma masalahnya, siapa yang bisa menghabisi orang yang sudah membayar dan menyuruh para narapidana membunuhku?" ujar Chandra, menatap lekat wajah Wicaksono.
Wicaksono mengangguk angguk , dia setuju dengan apa yang dikatakan Chandra.
"Kamu gak usah pikirkan itu, biar aku yang urus nanti." ujar Wicaksono.
"Ya, Pak." Angguk Chandra.
"Sepertinya, pekerjaan kita sudah selesai, para narapidana sudah pada masuk, ayo, kita masuk juga ke dalam." ujar Wicaksono.
Chandra mengangguk, begitu juga dengan Gentong dan Pijar, mereka lalu berjalan meninggalkan tempat itu.
Beberapa orang sipir penjara terlihat sedang mengangkat mayat Suntoko dan juga mayat seorang narapidana yang dibunuh Gentong, dan dagingnya di makan Gentong.
__ADS_1