
Wicaksono masuk ke dalam sel tahanannya, dan Sipir penjara segera menutup dan mengunci pintu sel dengan gembok.
Wicaksono menghampiri Chandra yang duduk diam di lantai pojok sel tahanan. Chandra melihat Wicaksono yang lantas duduk disampingnya.
"Gavlin kirim salam padamu, tadi." ujar Wicaksono, tersenyum menatap wajah Chandra.
"Oh, iya, terima kasih, salam balik nanti, Pak." ucap Chandra, menoleh dan melihat Wicaksono yang duduk disampingnya.
"Mengapa Gavlin gak mau menemui saya, Pak? Kenapa hanya Bapak saja yang di kunjunginya?" tanya Chandra, menatap lekat wajah Wicaksono.
"Belum saatnya kalian bertemu." ujar Wicaksono tersenyum menatap wajah Chandra.
"Gavlin tadi bilang, kamu bersabarlah, kamu gak akan lama di dalam penjara ini, Gavlin akan berusaha untuk membebaskan kamu nanti, tunggu saja katanya." ujar Wicaksono serius menjelaskan pada Chandra atas apa yang dikatakan Gavlin kepadanya tadi.
"Benarkah, Pak?" ujar Chandra bertanya, dengan menatap wajah Wicaksono yang tersenyum memandangnya.
"Iya, benar, dan Bapak yakin serta percaya, Gavlin akan membebaskan kamu nanti." tegas Wicaksono.
"Iya, Pak." Angguk Chandra.
Raut wajah Chandra sedikit senang setelah mendengar penjelasan dari Wicaksono, dia senang, karena setidaknya, Gavlin akan berusaha untuk membebaskan dirinya , agar tidak berlama lama berada di dalam rumah tahanan tersebut.
---
Andre baru saja masuk ke dalam ruang kerjanya, dan telepon di atas mejanya berdering, Andre lalu mengangkat gagang telepon, dia menerima panggilan telepon tersebut.
Andre lantas duduk di kursi meja kerjanya dan menerima panggilan telepon.
"Ya, Hallo." ujar Andre, diteleponnya.
"Aku Gavlin, ada yang mau aku sampaikan padamu." ujar Gavlin, dari seberang telepon.
"Apa mau mu?" tanya Andre, bicara serius di teleponnya.
Andre sedikit kaget karena yang menelponnya ternyata Gavlin, sudah lama Gavlin tak pernah lagi menelponnya, dan kali ini, Gavlin kembali menghubungi, Andre berfikir, pasti ada sesuatu hal yang sangat penting akan disampaikan Gavlin, karena itu dia menelpon, sebab, untuk bertemu, mereka tak mungkin, mengingat Gavlin saat ini menjadi buronan utama pihak kepolisian.
"Apa kamu tau tentang kabar Binsar?" tanya Gavlin, dari seberang teleponnya.
"Binsar? tidak. Aku melihatnya terakhir kali saat pengangkatan wakil Presiden menjadi Presiden sementara.Setelah itu, aku gak tau kabarnya." ucap Andre , bicara di teleponnya.
"Kenapa kamu tanyakan Binsar padaku?" tanya Andre, sedikit heran, bicara di teleponnya.
"Kalian kecolongan, kalian sudah di tipu Binsar!" tegas Gavlin, dari seberang telepon.
"Apa maksudmu?!" tanya Andre, dengan nada bicara tegas, diteleponnya.
Andre terlihat wajahnya tak senang, karena Gavlin terkesan menyalahkan dia dan pihak kepolisian.
"Binsar telah melarikan diri ke Luar negeri, sudah dua minggu dia ada di Perancis." tegas Gavlin, memberi tahu Andre, dari seberang telepon.
Andre terkesiap kaget mendengar penjelasan Gavlin tentang Binsar yang melarikan diri ke luar negeri.
"Kamu jangan main main dan bercanda, Vlin!" tegas Andre, sedikit marah pada Gavlin, diteleponnya.
"Aku gak ada waktu bermain main denganmu, dan aku gak pernah bercanda, aku serius !" tegas Gavlin, dari seberang telepon.
__ADS_1
"Dari mana kamu tau, kalo Binsar sudah pergi keluar negeri?" ujar Andre, bertanya di teleponnya pada Gavlin.
"Dari anak buahnya, dia bilang, Binsar sudah dua minggu gak ada dirumahnya, karena sedang pergi ke Perancis!" ungkap Gavlin, dari seberang telepon.
"Kalo kamu gak percaya denganku, silahkan datang ke rumah Binsar, kamu pasti gak akan menemukan Binsar di rumahnya." ujar Gavlin, menegaskan dari seberang telepon.
Lalu, Gavlin menutup teleponnya, Andre kaget, karena tiba tiba nada telepon terputus.
"Hallo, Vliiin...hallo?!!" ujar Andre ditelepon.
Namun, sudah tak terdengar jawaban dari Gavlin, dan telepon sudah terputus, Andre lantas meletakkan gagang telepon ke tempatnya semula.
Andre menghela nafasnya, dia tampak berfikir sesaat, Andre kepikiran dengan perkataan Gavlin tadi tentang Binsar.
Lalu, Andre mengambil ponsel dari dalam kantong celananya, kemudian, dia menelpon Masto melalui ponselnya tersebut.
"Hallo, kamu ke ruangan saya sekarang." ujar Andre, bicara di telepon.
Lalu, Andre menutup telepon dan menyimpan kembali ponselnya ke dalam kantong celananya, Andre tampak berfikir, jika benar yang dikatakan Gavlin, bahwa Binsar diam diam sudah melarikan diri ke luar negeri, berarti dia dan tim nya memang sudah kecolongan, mereka lengah dan tak menjaga serta tidak melarang Binsar untuk pergi ke luar negeri.
Selain itu, pihak kepolisian juga tidak mengawasi Binsar, padahal, Binsar juga ditetapkan sebagai salah satu tersangka dari segala macam tindak kejahatan organisasi Inside, apalagi Binsar dijadikan sebagai otak dan dalang pelaku kejahatan organisasi Inside.
Andre tampak merasa bersalah, dia mengakui, bahwa kali ini, dia sudah berbuat salah dengan membiarkan Binsar dan tidak menugaskan anak buahnya untuk selalu mengawasi Binsar kemanapun dia pergi.
Pintu di ketuk, lalu, Masto membuka pintu dan segera masuk ke dalam ruang kerja Andre, Andre melihat kedatangan Masto yang lantas berdiri disampingnya.
"Ada yang bisa saya bantu, Pak?" tanya Masto, menatap wajah Andre.
"Kamu ikut saya, dan bawa juga beberapa anggota kita." ujar Andre, menatap tajam wajah Masto yang berdiri disampingnya.
"Kita mau kemana, Pak? Apakah ada kasus?" tanya Masto.
"Oh, baiklah, saya akan meminta beberapa anggota kita untuk ikut bersama kita ke rumah pak Binsar." ujar Masto, menegaskan.
"Ya. Saya tunggu dihalaman parkir sekarang juga." ucap Andre.
Andre lantas berdiri dari duduknya di kursi meja kerjanya, dia berdiri dihadapan Masto.
"Baik, Pak. Akan saya laksanakan!" tegas Masto, memberi hormat.
Lalu, Masto berbalik badan, dan dia bergegas pergi keluar dari dalam ruang kerja Andre.
Andre lantas mengambil kunci mobilnya dari dalam laci meja kerjanya, lalu, dengan cepat, dia pun berjalan keluar dari dalam ruang kerjanya.
---
Gavlin sedang berada di suatu tempat, tepatnya di belakang Pasar Taji, dia bersembunyi dan sedang mengawasi sebuah rumah.
Di halaman depan rumah tersebut, Gavlin melihat ada 4 orang yang sedang bermain kartu, dan disamping mereka, tergeletak senapan senapan.
Gavlin tahu, bahwa mereka semua adalah para mantan tentara yang menjadi anggota pembunuh bayaran. Gavlin terus mengawasi mereka.
"Siapa pemimpin mereka? Dan yang mana Jalal diantara mereka?!" Gumam bathin Gavlin.
Gavlin berfikir sambil terus mengawasi ke empat orang yang sedang bermain kartu duduk di rusbang halaman rumah tersebut.
__ADS_1
Gavlin belum tahu bagaimana wajah Jalal sebenarnya, karena itu, dia tak mau langsung bertindak, dia harus tahu lebih dulu yang mana Jalal diantara mereka.
Jika dia langsung menyergap mereka, rencana nya akan berantakan, bisa saja Jalal akan melarikan diri, karena tahu dia datang mencarinya.
Tujuan Gavlin datang ke markas pembunuh bayaran adalah mengincar dan memburu Jalal, karena itu, dia mencoba untuk bersabar dan akan mencari tahu, siapa Jalal sebenarnya dan yang mana orangnya.
Gavlin terus mengawasi, dia mengintai dari tempat persembunyiannya.
---
Beberapa unit mobil kepolisian tindak kejahatan dan anti teror masuk ke area halaman rumah Binsar yang sangat luas itu.
Para Penjaga yang mengawal rumah Binsar langsung berdiri berbaris menghadang, ada 12 orang yang berdiri menghadang di depan teras rumah Binsar.
Andre keluar dari dalam mobilnya, dan di susul Masto yang juga ikut keluar, Masto keluar dari dalam mobil Andre, dia ikut dengan Andre tadinya dan tak membawa mobilnya sendiri.
Lalu, 12 petugas kepolisian juga segera keluar dari dalam mobil mereka masing masing. Andre yang melihat 12 penjaga berdiri berbaris di depan teras hanya tersenyum kecil.
Dengan santai Andre berjalan mendekati para penjaga penjaga tersebut dengan di ikuti Masto dan para petugas kepolisian.
"Mau apa kalian?" bentak salah seorang Penjaga, dengan tatapan mata tajam dan raut wajah yang galak.
"Kalian minggir, jangan halangi kami. Jika kalian gak memberi jalan, kalian akan kami tangkap, karena sudah menghalangi tugas kami sebagai Polisi !!" tegas Andre, menatap tajam wajah Penjaga yang bertanya dengan membentak tadi.
Para Penjaga itu diam, mereka tak bergeming, dan tak bergerak dari tempat mereka berdiri, mereka masih menghalangi jalan Andre dan tim nya untuk masuk ke dalam rumah Binsar.
"Sekali lagi saya minta kalian minggir, Kami datang ke sini untuk bertemu pak Binsar, dan jangan halangi kami." ucap Andre, menegaskan.
"Pak Binsar gak ada dirumah, beliau sedang pergi bersama keluarganya." ujar salah satu Penjaga yang berdiri dihadapan Andre.
"Oh, ya? Kemana perginya?" tanya Andre, menatap tajam wajah Penjaga itu.
"Keluar negeri." jawab salah satu Penjaga lainnya lagi. Penjaga ini Pimpinan para penjaga yang menghadang Andre.
"Keluar negeri? Kalian gak berbohong kan?" ujar Andre, menatap tajam wajah wajah para penjaga yang berbaris itu.
"Kalo gak percaya, silahkan cari saja, Bapak pasti gak ada di dalam rumah." jawab Pimpinan Penjaga.
"Oh, Baiklah. Boleh kan kami masuk ke dalam rumah, untuk memastikan kebenaran dari perkataan kalian tadi?" tanya Andre menatap seorang Penjaga.
Andre tahu, Penjaga itu pimpinan mereka, karena dia yang berani mengatakan keberadaan Binsar dimana saat ini.
"Ya, silahkan." ucap Penjaga.
"Beri jalan mereka." lanjut Penjaga memberi perintah.
Memang benar dugaan Andre, Penjaga tersebut pimpinan mereka, sebab, para penjaga lainnya langsung mematuhi perintahnya, para penjaga lantas bubar, mereka memberi jalan pada Andre dan timnya, agar masuk ke dalam rumah Binsar.
Andre tersenyum senang, usahanya berhasil, dengan hanya bicara baik baik dia akhirnya mendapatkan izin untuk mencari tahu keberadaan Binsar, dengan begitu, tak terjadi keributan diantara pihaknya dan pihak para penjaga, yang bertugas sebagai pengawal Binsar.
"Terima kasih." ucap Andre, tersenyum senang pada Pimpinan Penjaga Keamanan.
"Ayo, cepat kalian masuk, dan geledah seluruh ruangan didalam rumah, cari Pak Binsar, apakah dia bersembunyi didalam rumahnya, atau memang dia sudah pergi ke luar negeri." ujar Andre, memberi perintah pada tim nya.
"Siap, Laksanakan!" ujar Masto dan para petugas kepolisian serentak.
__ADS_1
Lalu, Masto pun memberi aba aba kepada para anggota kepolisian yang berjumlah 12 orang tersebut, lalu, mereka semua bergerak masuk ke dalam rumah Binsar untuk memulai penggeledahan didalam rumah.
Andre lantas berjalan dengan tenang, dia juga masuk ke dalam rumah Binsar. Sementara 12 Pengawal yang menjaga rumah Binsar hanya bisa berdiri diam melihat para polisi masuk ke dalam rumah Binsar, majikan mereka.