
Mobil yang di tumpangi Samsudin bersama istrinya melaju cepat di jalan raya, di depan dan di belakangnya, ada mobil yang mengawal keberangkatan Samsudin dan istri ke bandara.
Dalam salah satu mobil yang mengawal, tampak Muhtadin duduk di jok depan, samping supir, dia sedang bicara ditelepon.
"Kami sedang meluncur ke bandara sekarang, Pak." ujar Muhtadin, bicara di telepon.
"Hati hati, jika ada yang mencurigakan di sekitar Bandara, segera amankan pak Samsudin dan Istrinya." ujar Binsar, dari seberang telepon.
"Baik, Pak." jawab Muhtadin, di teleponnya.
Muhtadin bicara dengan Binsar di telepon, dia memberi tahu Binsar, bahwasanya, dia sudah berangkat mengantar Samsudin dan istrinya ke Bandara.
Mobil mobil itu meluncur di jalan raya dengan kecepatan tinggi, melewati kendaraan kendaraan lainnya yang juga melaju di jalan raya. Mobil melaju cepat, agar tak terlambat tiba di bandara. Wajah Samsudin tampak tenang, dia terlihat lega, karena merasa dirinya sebentar lagi akan aman selamanya, sebab, dia sudah terbang dan tinggal di negara lain.
Samsudin merangkul erat tubuh istrinya yang duduk di sampingnya, Samsudin menenangkan diri istrinya yang terlihat raut wajahnya masih menunjukkan kecemasan dan rasa khawatir. Istri Samsudin belum bisa tenang, sebelum mereka berada di pesawat dan pergi.
---
Sementara itu, di rumah penampungan, Chandra mundar mandir di dalam ruangan, dia terlihat gelisah sekali, ada sesuatu hal yang sedang dia pikirkan saat ini.
Chandra melihat seorang penjaga duduk santai di ruang keluarga sambil menonton siaran langsung bola sore itu, pertandingan Liga bola Indonesia. Tampak penjaga itu sangat serius menonton pertandingan bola tersebut.
Chandra berdiri di belakangnya, tak jauh dari penjaga yang duduk di sofa, Chandra melihat sebuah ponsel tergeletak di atas meja, Chandra berfikir, bagaimana caranya dia bisa mengambil ponsel tersebut.
Tak berapa lama, datang seorang penjaga keamanan masuk keruangan itu, dia melihat Chandra yang berdiri di belakang temannya.
"Ngapain berdiri disini, Pak?" tanya penjaga keamanan itu.
"Ah, nggak, saya cuma liat bola sebentar di tv, tapi gak seru." ujar Chandra.
"Oh." ujar Penjaga Keamanan.
Penjaga Keamanan lantas duduk di sofa, disamping temannya yang sudah dari tadi menonton pertandingan bola di televisi.
Chandra kecewa, dia menghela nafasnya,dia gagal mendapatkan ponsel tersebut, lalu, Chandra bergegas pergi dari ruangan itu, meninggalkan kedua petugas jaga yang asyik menonton pertandingan bola.
Saat Chandra berjalan menuju ruang tamu, dia melihat sebuah ponsel tergeletak diatas meja tamu, dia melihat ke kanan ke kiri, mencari cari, namun, tak ada satu orang pun di ruang tamu tersebut.
Chandra tampak senang, dengan cepat dia mengambil ponsel itu, lalu, dia bergegas jalan ke kamarnya dengan membawa ponsel yang dia ambil di atas meja.
Chandra masuk ke dalam kamar, dia mengunci pintu kamarnya, lalu, Chandra pun duduk di tepi ranjang sambil mengamati ponsel yang ada ditangannya.
Chandra membuka layar ponsel yang tidak terkunci dan tidak menggunakan kata sandi itu, Chandra senang, dia jadi mudah memakai ponsel tersebut.
Dengan cepat Chandra menekan tombol angka angka yang ada di layar ponsel, dia pun lantas segera menelpon.
"Hallo?! Ini aku Chandra." ujar Chandra, bicara di telepon.
"Ya, aku pake hape milik penjaga rumah saksi ini, aku gak bisa lama lama bicara ditelepon, takut ketauan nanti." jelas Chandra, serius bicara di telepon.
"Ada apa kamu menelponku?" tanya Gavlin, dari seberang teleponnya.
Terdengar suara berisik , dan Gavlin menerima telepon Chandra sambil menyetir mobilnya saat ini.
"Kamu dimana sekarang?" tanya Chandra, di telepon.
"Di jalan, kenapa?!" tanya Gavlin, dari seberang telepon.
__ADS_1
"Orang orangnya Andre sekarang ke Bandara, mereka mau menangkap Samsudin, rencananya, Samsudin mau melarikan diri memakai pesawat sore ini!" ujar Chandra, memberi tahu melalui teleponnya.
"Oh, ya? Kalo gitu aku segera ke bandara, aku juga mengincar Samsudin." ujar Gavlin, dari seberang telepon.
"Ya, aku tau itu, makanya aku mencari cara buat ngabari kamu agar kamu datang ke bandara dan lebih dulu menangkap Samsudin daripada Andre dan timnya!" tegas Chandra, ditelepon.
"Apa Andre dan timnya sudah berangkat?" tanya Gavlin, dari seberang telepon.
"Setauku sudah dari tadi, mungkin mereka sudah sampai di bandara sekarang." jelas Chandra, di telepon.
"Ok, terima kasih infonya, Chan. Aku akan ke bandara sekarang juga!" ujar Gavlin, dari seberang teleponnya.
"Ya.Hati hati Vlin, pasti banyak pasukan polisi yang berjaga jaga di sekitar bandara, kamu jangan sampai terluka lagi dan tertangkap. Aku mengandalkanmu!" ujar Chandra, menegaskan ditelepon.
"Ya, terima kasih udah mengingatkan." jawab Gavlin, dari seberang telepon.
Chandra lantas segera menutup telepon, dia lalu menghapus nomor telepon Gavlin yang baru saja dia hubungi, agar tidak di ketahui pemilik ponsel, kalau dia baru saja mencuri dan memakai ponsel tersebut.
Chandra cepat keluar dari dalam kamarnya membawa ponsel tersebut, dia lantas kembali keruang tamu.
Di ruang tamu kosong, tak ada siapa siapa didalamnya, cepat Chandra meletakkan kembali ponsel ke atas meja, saat dia hendak berbalik pergi, datang seorang petugas jaga mendekatinya.
"Ada apa, Pak Chandra?" tanya Petugas Jaga.
"Ah, tidak, saya cuma liat ada hape yang tergeletak di meja, saya berfikir, hape siapa yang ketinggalan." ujar Chandra, berhohong.
"Oh, itu hape saya, saya tadi ke kamar mandi sebentar, jadi sengaja saya tinggal hape saya di meja itu." Jelas Petugas Jaga.
"Oh, gitu. Kirain punya siapa." ujar Chandra, tersenyum kecil.
Lalu dia pun berjalan pergi meninggalkan petugas jaga yang lantas duduk di sofa dan mengambil ponselnya dari atas meja.
Dia berharap, Gavlin bisa lebih dulu menangkap dan membunuh Samsudin, agar terbalas dendamnya selama ini.
Dengan terpaksa, Chandra terkesan seperti sedang memanfaatkan Gavlin untuk membalaskan dendam dia, namun, itu terpaksa dia lakukan, setelah dia hilang kepercayaan pada pihak kepolisian dan kejaksaan, karena Chandra merasa, mereka sangat lambat dalam mengungkap kasus kejahatan organisasi Inside, padahal bukti bukti sudah cukup jelas dan sangat banyak dia berikan, tapi, sepertinya, Kepolisian dan kejaksaan terlalu hati hati, hingga terkesan sangat lamban menangani kasus kejahatan organisasi Inside.
Sebab itu, Chandra menaruh harapan besar hanya pada Gavlin seorang saja saat ini , dia percaya, Gavlin bisa menuntaskan dendamnya, itu sebabnya, Chandra berusaha mati matian, tak perduli dengan dirinya sendiri, dia nekat membebaskan Gavlin dan membawanya kabur dari rumah sakit, agar Gavlin tak di tahan dan bisa menjalankan misi balas dendamnya.
Chandra masuk ke dalam kamarnya, dia duduk ditepi ranjangnya, wajahnya terlihat tersenyum senang.
"Mudah mudahan, Gavlin membantai Samsudin di Bandara." Gumam Chandra, bicara pada dirinya sendiri.
---
Pasukan kepolisian dan pihak kejaksaan sudah tiba di sekitar bandara, tim penyidik dan anti teror berbaur dengan para penumpang yang akan berangkat menggunakan pesawat, mereka menyamar sebagai penumpang pesawat, agar tak di ketahui keberadaannya oleh Samsudin dan juga Muhtadin dan anak buahnya.
Andre dan Masto serta Samuel juga ada diantara penumpang pesawat yang duduk di bangku tunggu ruang bandara. Mereka mengintai sambil menyamar, mengamati sekitarnya, mencari tahu, apakah Samsudin sudah datang atau belum.
Beberapa saat kemudian, tampak Samsudin datang ke bandara, dia berjalan berdampingan dengan istrinya, di depan dan di belakangnya, ada para pengawal yang melindungi dia dan istrinya.
Dari tempat duduknya, Andre melihat kedatangan Samsudin, Andre pun memberi isyarat pada tim nya agar bersiap siap untuk menyergap Samsudin.
Mata Muhtadin jelalatan kesana kemari, sambil berjalan, dia mengamati orang orang sekitarnya, dia tampak menaruh curiga, ada beberapa orang penumpang yang gerakannya membuat Muhtadin curiga.
Dengan instingnya sebagai pengawal dan penjaga keamanan, dia tahu, bahwa situasi saat ini tak aman buat Samsudin dan Istrinya. Lalu, dengan cepat, Muhtadin berjalan mendekati Samsudin.
Muhtadin berjalan disamping Samsudin, Samsudin kaget melihat Muhtadin yang tiba tiba berjalan disampingnya.
"Jangan menoleh, dan terus aja jalan seperti biasa ,Pak." ujar Muhtadin, pelan sambil berjalan.
__ADS_1
"Ada apa?" tanya Samsudin, pelan sambil berjalan juga.
"Situasi gak aman, sepertinya banyak polisi di sekitar sini, kayaknya mereka sudah tau, Bapak akan pergi menggunakan pesawat."jelas Muhtadin.
"Wah, gawat, kenapa mereka bisa tau? Bukannya pak Binsar diam diam mengatur semuanya?" ujar Samsudin kaget.
"Bapak tenang aja, tetap jalan biasa, pura pura gak tau, serahkan sama saya, biar saya yang mengurusnya." ujar Muhtadin.
"Ya, baiklah." jawab Samsudin, berjalan dengan wajah tegang dan cemasnya.
Muhtadin lantas bergegas pergi jalan lebih dulu meninggalkan Samsudin, dia mendekati empat penjaga keamanan yang berjalan di depan Samsudin dan istrinya, Muhtadin sambil berjalan terlihat berbisik.
"Ada apa Pah?" tanya Istri Samsudin, yang berjalan disampingnya.
"Gak ada apa apa, kamu tenang saja." ujar Samsudin, berusaha menenangkan Istrinya agar tak cemas dan panik.
Lalu, tiba tiba saja, empat penjaga keamanan yang berjalan mengawal di depan Samsudin menghampiri Samsudin dan Istrinya. Mereka memegang tangan Samsudin dan istrinya.
"Bersikap biasa aja, Pak, Bu. Ikuti kami." bisik Penjaga keamanan.
Samsudin diam dan mengangguk, dia dan istrinya menurut saja pada petugas yang mengawal dirinya, Petugas Penjaga keamanan segera membawa Samsudin dan Istrinya keruang lain, dengan cepat mereka menyelinap ke dalam ruangan membawa Samsudin.
Samuel melihat Samsudin dan istrinya di bawa orang orang ke arah ruangan lain, dengan cepat dia mengejar, beberapa orang mengikuti Samuel yang mengejar Samsudin.
Lalu, Muhtadin segera memberikan aba aba pada anak buahnya yang lain, agar bersiap siap menyerang. Andre dari tempat persembunyian melihat pergerakan Muhtadin yang mencurigakan, apalagi dia melihat Samsudin dan Istrinya juga di bawa lari oleh empat orang.
"Sial !! Mereka tau kita ada disini!!" ujar Andre geram.
Muhtadin melepaskan tembakan, begitu juga anak buahnya, mereka menembaki tim kepolisian yang berjaga dan menyamar, para tim kepolisian pun berhamburan melindungi diri mereka dari tembakan anak buah Muhtadin.
Aksi tembak menembak membuat para penumpang pesawat yang menunggu duduk diruang tunggu bandara menjadi panik dan kaget, mereka semua lantas berhamburan lari ketakutan dan berteriak teriak.
Petugas Keamanan bandara dan polisi militer datang ke tempat tersebut, melihat aksi tembak menembak, mereka juga ikut dalam pertempuran.
Para penjaga keamanan bandara dan polisi militer bergabung dengan pasukan kepolisian dan kejaksaan yang di pimpin Andre dan juga Samuel, mereka menembaki Muhtadin dan anak buahnya.
Aksi tembak menembak di dalam ruang tunggu bandara itu memakan banyak korban, diantara kedua belah pihak, baik dari pihak kepolisian dan kejaksaan mau pun anak buah Muhtadin banyak yang tewas terkena tembakan.
Muhtadin dan anak buahnya mulai terpojok, mereka kalah jumlah orang dan senjata, pihak kepolisian dan kejaksaan terlalu banyak, apalagi mereka di bantu polisi militer yang ada di bandara dan juga penjaga keamanan bandara.
Muhtadin mulai terpojok, dia pun segera melarikan diri, menyelamatkan dirinya sendiri, anak buahnya juga kocar kacir melarikan diri, ada juga diantaranya membuang pistol dan lantas menyerahkan diri mereka, mereka menyerah ,agar tidak tewas terbunuh.
Masto melihat Muhtadin yang berusaha melarikan diri, dengan cepat dia mengejarnya, Andre melihat Masto yang mengejar Muhtadin, Andre pun lantas cepat berlari mengejar Masto.
Aksi kejar kejaran pun terjadi antara Masto dan juga Muhtadin, sambil berlari terus dan kencang, Muhtadin menembaki Masto, Masto yang berlari mengejarnya berusaha menghindari tembakan Muhtadin, lantas dia juga melepaskan tembakan ke arah Muhtadin.
Tembakan Masto meleset dan tidak mengenai Muhtadin, Muhtadin terus berlari kencang, Masto pun juga mengikutinya, dia berlari cepat mengejar Muhtadin.
Tiba tiba saja, dari arah lain muncul Andre sambil mengarahkan pistolnya pada Muhtadin yang berlari ke arahnya.
"Berhentiii!!" teriak Andre, sambil menembakkan pistolnya ke atas sebagai tanda peringatan pada Muhtadin yang lari.
Muhtadin kaget mendengar letusan pistol yang dilepaskan Andre, dia segera menghentikan larinya, di belakang , tak jauh darinya, Masto yang juga kaget ikut berhenti, dia melihat di kejauhan, Andre, atasannya sedang berdiri sambil mengarahkan pistol pada Muhtadin.
"Buang pistolmu, cepat!!" bentak Andre pada Muhtadin.
Muhtadin tampak geram, dia menatap tajam wajah Andre yang menodongkan pistol padanya, lalu, dia menoleh ke belakang, dia melihat ada Masto yang berdiri menghadangnya di belakang, tak jauh darinya.
Muhtadin tersenyum sinis, dia tahu, dirinya terkepung saat ini oleh Andre dan Masto, dan dia berfikir, bahwa tak ada celah bagi dirinya saat ini untuk melarikan diri. Andre tetap mengarahkan pistolnya pada Muhtadin, begitu juga Masto, dia juga bersiap siap dengan pistolnya.
__ADS_1