VINDICTA ( BALAS DENDAM )

VINDICTA ( BALAS DENDAM )
Munculnya Sosok Pria Misterius


__ADS_3

Setelah berhasil melamar Indri dan Indri menerima lamarannya, Gavlin pun tidak menunda nunda waktu lagi, Dia ingin segera di langsungkan acara pernikahan sakralnya dengan Indri.


Untuk mewujudkan keinginannya itu, Gavlin pun lantas menghadap kepada Bapak Indri, untuk mendapatkan izin dan restu dari Bapak Kandung Indri, yang juga selama ini sudah dianggapnya seperti Bapaknya sendiri.


Gavlin terlihat duduk di sofa ruang keluarga rumah Pak Sarono, Dia di temani pak Sarono yang juga duduk di sofa, dihadapan Gavlin, sementara Indri terlihat juga duduk di sofa yang berada tepat di samping pak Sarono.


Pak Sarono tersenyum simpul menatap lekat wajah Gavlin yang terlihat serius menghadap dirinya itu.


"Jika Indri sudah bersedia menjadi Istri nak Gavlin, Bapak gak akan melarang atau mencegahnya, dan Bapak akan merestui kalian menjadi suami istri." ungkap Pak Sarono, memberi pernyataan pada Gavlin.


"Jujur, Bapak juga berharap, jika nak Gavlin menjadi menantu Bapak, menikah dengan Indri, dan kita benar benar menjadi sebuah keluarga, itu akan membuat bahagia Bapak. Dan sepertinya, harapan serta keinginan Bapak terwujud saat ini." ujar Pak Sarono, tersenyum senang penuh rasa bahagia menatap wajah Gavlin yang duduk di hadapannya.


"Terima kasih, Pak. Karena sudah merestui kami menikah." ucap Gavlin, serius dan bersungguh sungguh kepada Pak Sarono, yang tersenyum senang menatapnya.


"Ya, Lantas, kapan nak Gavlin akan melangsungkan pernikahan kalian berdua?!" ujar Pak Sarono, tersenyum menatap wajah Gavlin.


"Secepatnya, Pak. Jika gak ada kendala dan semuanya lancar, pernikahannya akan di laksanakan bulan depan. Karena saya harus mengurus surat surat penting dan izin menikah di negara ini terlebih dahulu." ungkap Gavlin, memberi penjelasan pada pak Sarono.


"Ya. Bapak doakan, pernikahan kalian berjalan lancar, dan dimudahkan serta tidak mendapatkan hambatan dan rintangan dalam hal apapun juga." ujar pak Sarono.


"Aamiin." Jawab Indri, tersenyum penuh kebahagiaan menatap wajah Bapaknya yang duduk disampingnya.


"Bapak tau, Indri sudah jatuh cinta pada nak Gavlin dari pertama kali kalian bertemu, saat nak Gavlin masih terluka parah. Bapak bisa merasakan dan mengetahui dari gerak gerik dan sikap Indri waktu itu." ungkap Pak Sarono, tersenyum melirik Indri.


Indri tertunduk tersipu malu mendengarkan perkataan Bapaknya yang menceritakan tentang perasaan cintanya pada Gavlin saat pandangan pertama mereka dulu awal bertemu.


"Dan Bapak menilai, nak Gavlin Pria yang pantas dan cocok mendampingi Indri, apalagi jika menjadi suaminya. Sejak itu, Bapak selalu berdoa yang terbaik buat kalian berdua, dan semoga Tuhan menyatukan kalian dalam pernikahan." ungkap Pak Sarono, tersenyum bahagia.


"Dan doa Bapak dikabulkan Tuhan sekarang." ujar Indri , tersenyum senang menatap wajah Bapaknya.


"Ya, Pak. Sebenarnya, sudah lama saya ingin menikahi Indri, namun, saya khawatir, jika saya menikah dengan Indri, sebelum saya menuntaskan balas dendam saya, Indri akan mendapatkan masalah besar, pastinya, musuh musuh saya akan berusaha menyakiti Indri, agar saya menyerah." ungkap Gavlin, memberi penjelasan.


"Itu alasan saya dulu pergi meninggalkan Indri dan Bapak, agar musuh saya gak pernah tau tentang Indri dan juga Bapak. Dengan begitu, kalian tetap aman, dan saya bisa menjalankan misi balas dendam saya dengan lancar." ujar Gavlin, serius menjelaskan.


"Ya, Vlin. Bapak paham." Ujar pak Sarono tersenyum.


"Bapak dan Indri selalu berdoa, agar kamu selamat dan bisa menuntaskan balas dendammu, dan doa kami dikabulkan, kamu kembali kepada kami sekarang." ucap pak Sarono tersenyum senang.

__ADS_1


"Gedubraaakkk, braaakk !!"


Tiba tiba, terdengar suara "Gedubrak" yang sangat keras dari arah samping rumah pak Sarono. Gavlin, Pak Sarono dan Indri terkesiap kaget mendengar suara yang cukup keras itu.


"Apa itu, Vlin?" tanya Indri cemas.


"Kamu dan Bapak tetap diam di sini, biar aku yang melihatnya." ujar Gavlin, dengan wajah seriusnya.


"Ya, Vlin." Angguk Indri dan pak Sarono menjawab secara bersamaan.


Gavlin lantas berdiri dari duduknya di sofa, dan bergegas pergi keluar ruangan meninggalkan pak Sarono dan Indri untuk melihat suara bunyi apa yang begitu keras dari samping rumah pak Sarono.


"Apa musuh Gavlin yang datang, Pak?" tanya Indri, dengan wajah khawatirnya.


"Kamu jangan berfikir yang bukan bukan , tetap tenang, biar Gavlin yang melihatnya. Kalo benar ada yang mau berbuat jahat, Gavlin pasti bisa menangkapnya. Bapak yakin itu." ujar pak Sarono, mencoba menenangkan Indri yang terlihat wajahnya cemas dan penuh rasa khawatir itu.


Di luar rumah, Gavlin bergegas jalan ke samping rumah pak Sarono, dia memegang pisau belati ditangannya. Kemana mana, Gavlin selalu membawa pisau belati, Dia tak pernah meninggalkannya, sekali pun sekarang Dia sudah tidak lagi menjalankan misi balas dendamnya, karena semua musuhnya sudah mati terbunuh olehnya.


Namun, untuk menjaga dirinya, dia selalu membawa pisau belati, karena dia sadar, bahwa Dia banyak musuhnya, dan hal itu untuk melindungi dirinya, jika sewaktu waktu ada musuh yang menyerangnya secara tiba tiba.


Sosok Pria terlihat berlari pergi dari samping rumah Pak Sarono, Gavlin melihat sosok Pria yang berlari itu.


"Heeeii!! Jangan lari kamu!!" Ujar Gavlin berteriak pada sosok Pria itu.


Namun, Sosok Pria itu terus berlari menjauh dan menghindar dari Gavlin, Gavlin tidak mengejarnya, karena sosok Pria itu sudah menjauh pergi berlari.


Apalagi Gavlin khawatir, terjadi apa apa dengan pak Sarono dan Indri jika dia mengejar Pria misterius itu.


Gavlin melihat, Dua tong besar terjatuh di tanah, dari gentong besar itulah asal bunyi suara 'Gedubrak' keras tadi.


Sepertinya Sosok Pria itu terjatuh dan terpeleset dan menjatuhkan dua gentong besar berisi air itu.


Gavlin juga melihat, bekas jejak kaki sosok Pria yang terpeleset ditanah dan air yang tumpah dari dua gentong besar yang terjatuh, dan air menggenang di tanah.


Gavlin lantas mengangkat dua gentong dan meletakkannya ketempat semula, Gavlin berdiri dan tercenung sesaat.


"Siapa orang itu? Apa maunya datang ke sini? Apa anak buah Binsar masih ada yang tersisa dan mengincarku?!" Gumam bathin Gavlin.

__ADS_1


Gavlin sesaat berfikir, Bertanya tanya tentang kehadiran sosok Pria yang datang tiba tiba ke rumah pak Sarono.


Gavlin lantas berbalik badan, Dia lalu pergi meninggalkan samping rumah karena sudah di anggapnya aman dan tak ada lagi yang mencurigakan.


Pak Sarono dan Indri masih duduk diam di sofa ruang keluarga menunggu Gavlin dengan wajah Indri yang tegang dan cemas.


Tak berapa lama, Gavlin datang dan masuk ke ruang keluarga serta menghampiri Pak Sarono dan Indri. Melihat kedatangan Gavlin, Indri tampak lega dan tidak khawatir lagi.


""Bagaimana nak Gavlin?" tanya pak Sarono, menatap serius wajah Gavlin.


"Saya melihat ada sosok Pria tadi, Pak. Tapi Dia berhasil kabur." ujar Gavlin, memberi tahu Pak Sarono.


"Oh, siapa orang itu, Vlin?" tanya Indri, menatap tajam wajah Gavlin.


Gavlin duduk di sofa yang ada di hadapan pak Sarono dan juga Indri, lalu Dia menghela nafasnya, dan menatap lekat wajah Indri juga pak Sarono.


"Entahlah, Aku juga gak tau, siapa orang itu, In." Ujar Gavlin, menatap lekat wajah Indri.


"Apa musuhmu masih ada ?" tanya Indri lagi, ingin memastikan.


"Entahlah, In. Setauku, semua anggota organisasi Inside sudah aku habisi, dan sisanya sudah di jebloskan ke dalam penjara, Binsar sebagai pemimpinnya juga sudah mati terbunuh, Aku sendiri yang melihat mayatnya." Ujar Gavlin, menjelaskan dengan serius pada Indri dan juga Pak Sarono.


"Lantas, siapa orang itu? Apa tujuannya datang ke rumah ini?" Ujar pak Sarono berfikir.


"Bapak dan indri tenang saja, saya akan menyelidikinya, dan mencari tau, siapa orang itu. Saya akan meminta bantuan teman teman saya untuk mencari keberadaan orang tersebut." ujar Gavlin, serius menjelaskan pada pak Sarono.


"Kamu mau minta bantuan dengan gank mafia 'Seira Costa' itu?" tanya Indri.


"Ya, In. Mereka semua keluargaku juga. Sama sepertimu dan Bapak. Bagiku, pak Aamauri, pimpinan gank mafia adalah Bapakku sendiri." ujar Gavlin, menegaskan pada Indri.


"Ya, Vlin. Aku tau, kamu pernah cerita padaku." ucap Indri, tersenyum.


"Apa pak Aamauri sudah tau tentang Malik yang menghilang?" tanya pak Sarono pada Gavlin.


"Sudah, Pak. Saya yang memberi kabar padanya langsung." ujar Gavlin, menatap lekat wajah pak Sarono.


Pak Sarono mengangguk angguk mengerti dan paham, Indri hanya diam saja menatap lekat wajah Gavlin, Dia perhatikan raut wajah Gavlin yang terlihat sedang berfikir keras, Dia tahu, jika Gavlin sedang memikirkan sosok Pria yang datang ke rumahnya tadi.

__ADS_1


__ADS_2