VINDICTA ( BALAS DENDAM )

VINDICTA ( BALAS DENDAM )
Tertangkapnya Samsudin


__ADS_3

Andre tetap mengarahkan pistolnya pada Gavlin, begitu juga dengan ke empat tim penyidik kepolisian yang ikut bersama Andre.


Sementara itu, Samsudin berdiri dihadapan Gavlin dengan masih gemetar ketakutan, walau dia merasa sedikit tenang dengan kehadiran Andre, namun, karena Gavlin berada tepat didepannya memegang senapan, dia masih cemas dengan dirinya, dia takut, tiba tiba saja Gavlin menembakkan senapannya pada dirinya.


Samuel datang bersama timnya, melihat Andre bersama timnya sedang menodongkan pistol pada Gavlin, dia pun lantas cepat memberi isyarat pada anak buahnya agar bersiap siap juga. Timnya yang di izinkan membawa pistol dengan sigap mengarahkan pistol juga pada Gavlin.


"Menyerahlah, Gavlin, kamu sudah terkepung." ujar Andre, berteriak.


"Kamu ini aneh Andre, bukannya kalian datang ke bandara ini buat menangkap Samsudin, mengapa aku yang kalian tahan?" Sindir Gavlin, tersenyum sinis.


"Karena kamu juga buronan kepolisian!!" tegas Andre.


"Buronan? Kalo aku buronan, mengapa kamu dulu melepaskan aku begitu saja? Kalo kamu melepaskan aku, itu artinya kamu menolongku, dan kamu sudah menjadi kaki tanganku, Andre ! Masa kamu gak tau soal itu!!" ujar Gavlin.


Mendengar perkataan Gavlin, Andre tampak gugup , dia melirik Samuel yang menatapnya tajam, Samuel kaget dan tak menyangka, jika Andre pernah melepaskan begitu saja Gavlin sebelumnya.


Andre berusaha bersikap tenang dan tak gugup, dia menatap geram wajah Gavlin yang tersenyum sinis padanya.


"Aku gak pernah melepaskanmu, Gavlin!! Waktu itu, aku lebih mengutamakan keselamatan Chandra sebagai saksi kunci kami!!" tegas Andre, berusaha membantah omongan Gavlin.


Gavlin tertawa tawa mendengar perkataan Andre itu, dia lantas mengarahkan senapannya pada Samsudin.


"Kamu kira, aku takut mati Andre? Tidak ! Aku gak takut dengan kematian, sebab, akulah kematian itu sendiri!!" ujar Gavlin marah dan berteriak keras.


Tiba tiba saja dia melepaskan tembakan, dia memberondong peluru dari senapan mesinnya ke arah Andre dan anak buahnya, dia juga melepaskan tembakan pada Samuel dan timnya, Samsudin melompat, dia menghindar dan bersembunyi dibalik tembok, tempatnya bersembunyi sebelumnya.


Andre bersama anak buahnya bersembunyi di balik dinding pembatas ruangan, mereka menghindari tembakan Gavlin.


Melihat Andre dan timnya bersembunyi, dengan cepat Gavlin pun berlari, dia menerobos masuk ke dalam pintu darurat yang ada di belakangnya, tempat awal kedatangannya ketempat itu, Gavlin langsung melarikan diri.


Anak buah Andre mau mengejar Gavlin, namun, Andre mencegah mereka.


"Biarkan dia!! Jangan kejar, kita focus dengan Samsudin sekarang, tangkap Samsudin!" ujar Andre, memberi perintah pada anak buahnya.


"Baik, Pak." jawab salah satu anggota tim penyidik kepolisian pada Andre.


Lantas, keempat anak buah Andre keluar dari persembunyian mereka, begitu juga dengan Andre, dan juga Samuel serta timnya.


Mereka tak ada yang terbunuh, sebab, Gavlin memang tak berniat membunuh mereka, Gavlin sengaja menembakkan senapan mesinnya kearah lain, agar dia ada peluang dan waktu untuk melarikan diri.


Tujuan Gavlin datang ke bandara untuk menangkap dan membunuh Samsudin, bukan melawan Andre, karena itu, Gavlin memilih untuk kabur dan membiarkan Samsudin ditangkap Andre.


Keempat anak buah Andre mendekati Samsudin yang bersembunyi dibalik tembok dengan tubuh yang gemetaran ketakutan.


Seorang petugas tim penyidik kepolisian memegang tangan Samsudin dan mengangkatnya, hingga Samsudin pun berdiri.


Lalu, anggota tim penyidik kepolisian memborgol kedua tangan Samsudin.


Samuel mendekati Andre yang berdiri tidak jauh dari Samsudin yang sudah di borgol tim penyidik kepolisian.


"Bawa dia!!" Perintah Andre pada anak buahnya.


"Siap, laksanakan!!" Jawab petugas penyidik kepolisian.


Lalu, ke empat penyidik kepolisian segera membawa Samsudin, tim dari kejaksaan mengikuti mereka.


"Akhirnya, Samsudin tertangkap juga." ujar Samuel senang.


"Ya, dengan susah payah, akhirnya kita bisa meringkusnya." ujar Andre, dengan wajah yang lega.


"Oh, ya. Kamu jangan percaya dengan omongan Gavlin tadi, aku gak pernah melepaskannya begitu saja." ujar Andre, mencoba meyakinkan Samuel.


"Kamu tenang saja, aku lebih percaya padamu daripada Gavlin. Jangan pikirkan itu, yang penting, Samsudin tertangkap, tangan kanan Binsar sudah ditangan kita." tegas Samuel.


"Ya, tinggal kamu mempersiapkan persidangannya, untuk memberikan hukuman yang setimpal atas kejahatan Samsudin selama ini." ujar Andre.


"Ya, itu pasti." ujar Samuel.

__ADS_1


Lalu, mereka berdua pun segera pergi meninggalkan tempat tersebut.


Di luar Bandara, Gavlin dari dalam mobilnya menatap geram pada Samsudin yang di borgol dan di masukkan ke dalam mobil polisi. Dia marah, karena rencananya di gagalkan Andre, padahal sedikit lagi dia sudah bisa membunuh Samsudin, kalau saja Andre tak datang dan menghentikannya, dia pasti sudah menghabisi Samsudin.


Gavlin geram dan marah pada Andre, karena menghalangi dan sudah merusak rencananya membunuh Samsudin.


Gavlin lantas menyalakan mesin mobilnya, lalu, dia pun menyetir mobilnya, mobil melaju cepat, pergi meninggalkan lokasi bandara.


Wajah Gavlin masih menunjukkan kekesalan dan kemarahan, dia menyetir mobilnya dengan kecepatan tinggi di jalan raya, seakan dia sedang melampiaskan segala amarahnya dengan ngebut dijalanan.


---


Di kantor kejaksaan, Samsudin akhirnya di jebloskan ke dalam penjara yang ada di kejaksaan. Dua orang petugas jaga ditempatkan, mereka bertugas untuk menjaga Samsudin yang berada di dalam sel tahanan saat ini.


Andre datang bersama Samuel, mereka mendekati Samsudin yang duduk santai di ranjang usang yang ada di dalam sel.


"Sampai bertemu di pengadilan Samsudin." ujar Samuel, tersenyum sinis.


"Jangan bermimpi, Sam. Kamu gak bakal bisa memenjarakan aku! Semua sudah di urus, dan sebentar saja, aku pasti sudah keluar dari sel ini!" ujar Samsudin, sambil duduk dengan cueknya.


"Teruslah bermimpi, Samsudin, kamu kira, kami gak tau, siapa saja hakim dan pengacara yang menjadi anggota Inside? Dan kami sudah mengurusnya, mereka semua sudah kami tangkap juga!" tegas Andre.


"Jadi, kamu sendirian sekarang, Hakim yang memimpin persidangan nanti bukanlah orang Inside, bersiaplah menerima hukumanmu nanti!" lanjut Andre menegaskan.


Mendengar perkataan Andre, Samsudin terdiam, dia tampak geram dan menahan amarahnya, Andre dan Samuel lantas pergi meninggalkan Samsudin.


Setelah kepergian Andre dan Samuel, Samsudin pun lantas mengamuk, dia melampiaskan amarahnya dengan berteriak.


"Aaaarggghhhh!!" teriak Samsudin sekeras kerasnya.


"Heeeiii Diam kamu!!" bentak penjaga sel tahanan sambil memukuli besi sel tahanan.


Samsudin akhirnya diam, karena di tegur penjaga sel tahanan, dia tampak masih geram dan menahan amarahnya.


---


Sosok pria itu mendekati Chandra yang tertidur diatas kasur, lalu, dia membangunkan Chandra.


"Chan, bangun !! Bangun !!" ujar Sosok Pria itu sambil mengguncang tubuh Chandra yang tertidur itu.


Perlahan lahan Chandra akhirnya terbangun, kedua matanya mulai terbuka, saat dia melihat sosok pria memakai masker ada tepat dihadapannya, Chandra melompat kaget.


"Siapa kamu?!!" ujar Chandra, tersentak kaget.


Dengan cepat sosok pria itu memegang tubuh Chandra dan menutup mulutnya, agar Chandra diam dan tak berteriak.


"Diam, ini aku, Gavlin!!" ujar Gavlin , berbisik di telinga Chandra.


Mengetahui sosok pria yang ada dihadapannya ternyata Gavlin, Chandra pun lega dan tak kaget serta tak panik lagi.


Gavlin lalu membuka masker penutup wajahnya.


"Kenapa kamu nekat datang ke sini?" ujar Chandra, bertanya pada Gavlin.


"Aku terpaksa datang ke sini, karena sulit menghubungimu saat ini." ujar Gavlin.


"Oh, iya. Aku gak punya Hape." ujar Chandra.


Chandra lantas bangun dan duduk di atas kasurnya, dia menatap wajah Gavlin yang berdiri disamping ranjangnya.


"Bagaimana dengan Samsudin? Kamu udah menghabisinya?" tanya Chandra, ingin tahu.


"Belum, dia masih hidup." ujar Gavlin.


"Kenapa? Apa kamu gak jadi datang ķe bandara?" ujar Chandra, bertanya lagi sambil menatap tajam wajah Gavlin.


"Aku datang, dan aku hampir saja berhasil membunuh Samsudin, kalo saja mereka gak datang mencegahku." ujar Gavlin.

__ADS_1


"Mereka? Mereka siapa maksudmu?!" tanya Chandra, menatap heran wajah Gavlin.


"Andre dan timnya, juga Samuel dan timnya, mereka tiba tiba saja datang, dan menghentikanku, tepat saat aku mau membunuh Samsudin." ujar Gavlin dengan wajah kecewa dan kesalnya.


"Ah, sial. Kenapa Andre harus ada ditempat itu!" ujar Chandra kesal.


"Entahlah, aku juga gak tau." ujar Gavlin.


"Terus, Samsudin dibawa ke kantor polisi?" tanya Chandra.


"Aku gak tau, mungkin saja. Aku cuma liat, Samsudin di bawa masuk ke dalam mobil polisi, lalu aku pergi, dan segera kesini menemui kamu." ujar Gavlin, menjelaskan.


Chandra terdiam, dia terlihat sedang memikirkan sesuatu hal, lalu, dia pun lantas menatap wajah Gavlin yang berdiri disampingnya.


"Kalo ada Samuel di Bandara saat penangkapan Samsudin, aku yakin, Samsudin dibawa langsung ke kejaksaan, dan di tahan disana." ujar Chandra.


"Oh, begitu?" ujar Gavlin.


"Ya, dengan ditahannya Samsudin di kejaksaan, sepertinya, sidang akan segera di laksanakan pada Samsudin." tegas Chandra.


"Kalo begitu, biar aku ke sana membunuh Samsudin malam ini juga!" ujar Gavlin.


Gavlin hendak pergi, namun, dengan cepat Chandra memegang tangannya, mencegah Gavlin pergi.


"Jangan ke sana, biar saja, Vlin." ujar Chandra.


"Kenapa? Bukankah kita sama sama ingin Samsudin mati, bukan di adili lalu di penjara?!" tegas Gavlin.


"Kenapa kamu malah mencegahku untuk membunuh Samsudin?" ujar Gavlin kesal, menatap tajam wajah Chandra.


"Bukan begitu maksudku, Vlin, di sana penjagaannya pasti ketat, dan aku gak mau kamu bertindak gegabah sepertj dulu, membantai semua orang, hanya mendapatkan Samsudin seorang." jelas Chandra.


"Serahkan padaku, tugasmu sudah selesai memburu Samsudin, sekarang giliranku, biarkan aku yang menyelesaikannya." ujar Chandra, menatap serius wajah Gavlin.


"Maksudmu?" Gavlin menatap heran Chandra.


"Serahkan padaku, aku sudah punya rencana buat membunuh Samsudin, dan aku yakin, rencanaku sempurna, dan kita akan berhasil membunuh Samsudin!" tegas Chandra dengan serius dan bersungguh sungguh.


"Dengan cara apa kamu membunuhnya?" tanya Gavlin heran.


"Ada, kamu tenang saja, nanti kamu juga akan mendapatkan kabar tentang rencanaku. tunggu saja aksiku nanti." ungkap Chandra tersenyum.


"Kamu jangan nekat, Chan. Kalo kamu gak hati hati, bisa bisa kamu yang terbunuh nantinya." ujar Gavlin mengingatkan.


"Kamu tenang saja, aku gak akan mati, aku pasti baik baik saja. Dan rencana aku pasti berhasil, kita gak akan gagal lagi, percayalah padaku!" ujar Chandra, meyakinkan diri Gavlin.


Gavlin menatap tajam wajah Chandra yang terlihat serius dengan semua perkataannya tadi, akhirnya, Gavlin pun mengalah, dan menuruti perkataan Chandra.


"Baiklah, aku serahkan padamu." ujar Gavlin.


"Tapi ingat, aku tetap akan mengawasimu diam diam, jika ada hal yang membahayakan bagi dirimu, aku akan segera bertindak!" ujar Gavlin.


"Ya." Angguk Chandra, tersenyum.


"Kalo begitu, aku pergi dulu, nanti kita ketemu lagi. Aku gak mau berlama lama disini dan ketauan oleh Andre atau Masto." ujar Gavlin.


"Ya, pergilah. Oh ya, bagaimana bisa kamu dengan mudahnya masuk ke kamarku ini? Bukannya seluruh ruangan di jaga ketat?" tanya Chandra.


"Aku membuat para penjaga tertidur pulas dalam beberapa jam kedepan, aku menebar asap beracun pada mereka , sehingga semuanya jatuh pingsan sekarang." jelas Gavlin.


"Gas beracun itu pernah aku lakukan saat dulu membantai seluruh warga kampung rawas." jelas Gavlin.


"Oh, begitu." ujar Chandra, baru tahu dan paham tentang kematian penduduk kampung rawas.


"Ya sudah, aku pergi." ujar Gavlin.


"Ya." Angguk Chandra.

__ADS_1


Lalu, Gavlin bergegas pergi, dia melompat dari jendela kamar , Chandra segera turun dari ranjang dan menutup rapat jendela kamarnya lagi, agar tak ada yang curiga dengan kehadiran Gavlin menemuinya di dalam kamar.


__ADS_2