VINDICTA ( BALAS DENDAM )

VINDICTA ( BALAS DENDAM )
Persiapan ke Luar Negeri


__ADS_3

Andre dan Masto datang ke lokasi kejadian pembantaian Samsudin, di rumah peristirahatan milik Binsar.


Di lokasi tersebut sudah hadir petugas paramedis dan juga ahli forensik yang memang ditugaskan oleh kepolisian untuk menyelidiki sebab kematian dan hancurnya bangunan rumah peristirahatan milik Binsar tersebut.


Sementara itu, para anggota tim penyidik kepolisian sibuk mencari para korban korban yang mati terbunuh, dan mereka juga menemukan potongan potongan tubuh serta kepala Samsudin yang terpisah dan hancur berantakan karena terkena ledakan dari bom yang di luncurkan langsung ke tubuhnya.


"Bangunan ini gak tersisa, Pak. Hancur berkeping keping." ujar Masto, menghampiri Andre yang berdiri diam ditempatnya.


"Ya. Gavlin sengaja meledakkan rumah ini dan menghancurkannya, sekali lagi, dia ingin memberi peringatan, bahwa dia gak main main, dan serius akan menghancurkan Binsar dan organisasi Inside." ujar Andre , menjelaskan pada Masto.


"Ya, Pak." Angguk Masto.


"Liat saja bagaimana Samsudin mati terbunuh. Tubuhnya hancur berkeping keping, berantakan, potongan potongan tubuh dan kepalanya tercecer di tanah. Gavlin benar benar menggila membantai Samsudin, dia melampiaskan segala macam amarahnya." tegas Andre, dengan wajahnya yang serius menjelaskan pada Masto.


"Lantas, apa yang harus kita lakukan terhadap Gavlin, Pak?" ujar Masto.


"Biarkan saja dia. Untuk sementara ini, kita focus saja kepada organisasi Inside, Saya dan Samuel akan mencoba bergerak untuk kembali menangkapi anggota anggota Inside, sebab, Samsudin sudah mati, dan Binsar melarikan diri ke luar negeri, jadi, mereka gak akan ada yang melindungi lagi." jelas Andre, serius.


"Oh, Maksud Bapak, kita lepaskan saja Gavlin, dan gak mengejarnya?!" tanya Masto, menatap tajam wajah Andre, yang berdiri dihadapannya.


"Ya. Nanti saja kita mengejarnya." ucap Andre.


"Baiklah, Pak." Jawab Masto, mengangguk hormat pada Andre.


Andre lantas melihat para tim penyidik kepolisian dan petugas medis yang sibuk mengambil potongan potongan daging tubuh Samsudin yang tercecer, seorang petugas medis membawa potongan kepala Samsudin, dia memasukkannya ke dalam kantong plastik, dan menyimpannya di dalam mobil ambulance.


Mayat mayat para penjaga yang mati terbunuh juga di bawa petugas medis ke mobil ambulance, sementara petugas forensik masih sibuk dan serius meneliti ledakan yang menghancurkan bangunan rumah peristirahatan milik Binsar.


---


Seorang Sipir penjara datang menghampiri sel tahanan Wicaksono, dia membuka pintu sel tahanan, Chandra dan Wicaksono melihat Sipir penjara membuka pintu sel tahanan, mereka saling berpandangan heran, karena tak biasanya Sipir penjara datang , lalu membuka pintu sel begitu saja, apalagi saat ini bukan jam makan atau pun jam untuk mereka bekerja.


"Ada apa sipir itu ke sini, Pak?" Bisik Chandra pada Wicaksono yang duduk di sampingnya.


Wicaksono tak menjawab pertanyaan Chandra, dia hanya menggeleng saja, mengatakan kalau dia tak tahu maksud dan tujuan Sipir datang ke sel tahanan mereka.


"Pak Wicak, ada tamu yang mengunjungi anda, silahkan keluar." ujar Sipir penjara.


Wicaksono tersenyum menoleh pada Chandra. Sementara Gentong dan Pijar terlihat sedang tidur pulas di lantai sel tahanan dengan beralaskan tikar lusuh.


"Pasti Gavlin yang datang." bisik Wicaksono , ketelinga Chandra.


"Oh." Angguk Chandra, mengerti dan paham.


"Bapak temui dia dulu, pasti dia datang membawa kabar." ujar Wicaksono, tersenyum menatap wajah Chandra.


"Ya, Pak. Salam buat Gavlin, bilang padanya, kapan kapan, aku juga mau bertemu dengannya." ujar Chandra.


"Ya, akan Bapak sampaikan salammu nanti." ujar Wicaksono tersenyum.


Dia lantas berdiri dan berjalan meninggalkan Chandra yang duduk diam sendirian di lantai pojok sel tahanan, Wicaksono lalu keluar dari dalam sel tahanan, lantas, Sipir penjara segera menutup pintu sel dan menguncinya dengan gembok besar.

__ADS_1


Chandra dari dalam sel tahanan melihat kepergian wicaksono bersama Sipir penjara tersebut.


---


Andre bertemu dengan Samuel, tampak mereka sedang terlibat pembicaraan yang sangat serius, menyusun rencana yang akan mereka jalani.


"Baik, karena semua sudah lengkap, kita akan bergerak sekarang juga. Aku dan tim ku akan mendatangi para pejabat pejabat negara, dan para pengusaha pengusaha yang menjadi anggota Inside dan menyita barang barang mereka. Tugasmu, menangkap mereka semua, jangan ada yang tersisa." ujar Samuel.


"Baik." Jawab Andre.


"Kita harus bergerak cepat, kali ini, kita harus berhasil, dan jangan gagal lagi, atau kalah lagi dengan organisasi Inside." tegas Samuel.


"Ya, Sam. Kita harus membersihkan negara ini dari orang orang yang telah menggerogoti dana negara dan mau menghancurkan negara ini, seperti yang dilakukan organisasi Inside." tegas Andre, dengan wajahnya yang serius.


"Ya." Angguk Samuel.


"Lantas, bagaimana dengan Binsar? Apa kamu sudah menghubungi pihak kepolisian di Perancis, untuk bekerja sama menjadikan Binsar buronan , agar mereka disana melacak dan mengejar Binsar?" ujar Samuel, bertanya pada Andre.


"Sudah, tapi belum ada kabar lanjutnya." ungkap Andre .


"Gak apa apa. Aku percaya, pihak kepolisian negara Prancis itu pasti bisa menangkap Binsar dan memulangkannya kepada kita." tegas Samuel.


"Ya, mudah mudahan saja." ujar Andre, menatap wajah Samuel yang berdiri di hadapannya.


"Baiklah, kita bersiap siap sekarang." ujar Samuel.


"Ya, Baik Sam." Angguk Andre .


---


Wicaksono mendekati Gavlin, lalu dia duduk di bangkunya dan menatap lekat wajah Gavlin yang berpenampilan menyamar seperti biasanya jika dia datang berkunjung ke rumah tahanan bertemu Wicaksono.


"Bagaimana kabar Bapak?" tanya Gavlin, menatap lekat wajah Wicaksono yang tersenyum padanya.


"Bapak sehat dan baik baik aja." ujar Wicaksono, tersenyum lembut pada Gavlin.


"Syukurlah, Pak." ujar Gavlin, tersenyum juga menatap wajah tua Wicaksono.


Gavlin sangat perhatian dan perduli pada Wicaksono, dia sudah menganggap Wicaksono sebagai Bapaknya sendiri.


"Bagaimana kabarmu, Vlin?" tanya Wicaksono.


"Baik, Pak." ujar Gavlin.


"Lantas, bagaimana dengan misimu? Apa sudah kamu jalani lagi?!" tanya Wicaksono, menatap serius wajah Gavlin.


Wicaksono bertanya karena dia ingin tahu, sudah sejauh mana Gavlin menjalani misi balas dendamnya itu.


"Aku sudah membunuh Samsudin, Pak, Dia langsung aku ledakkan dengan bom roket." ungkap Gavlin.


"Waah, hancur berceceran tubuhnya, Vlin." ujar Wicaksono, tertawa senang.

__ADS_1


"Ya, Pak Karena aku geram dan marah sekali padanya, beberapa kali dia bebas dan seperti gak tersentuh hukum, dengan cara meledakkannya, itu jalan satu satunya menghukumnya!" ujar Gavlin, menegaskan dengan wajah yang serius.


"Ya, Vlin. Samsudin memang pantas mendapatkan hukuman seperti itu atas semua kejahatan yang sudah dia lakukan selama hidupnya, terutama kepada almarhum Bapakmu dan juga almarhum Bapaknya Chandra." ujar Wicaksono, menjelaskan dengan serius pada Gavlin.


"Ya, Pak." Angguk Gavlin.


"Oh, ya. Chandra kirim salam tadi, katanya, kapan kapan, dia juga mau bertemu kamu, dia berharap, kamu datang khusus mengunjunginya." ucap Wicaksono, memberi tahu Gavlin.


"Ya, Pak. Nanti aku datang ke sini, khusus bertemu Chandra, sudah lama juga aku gak ketemu dia. Chandra sehat kan Pak?" ujar Gavlin, bertanya pada Wicaksono.


"Chandra sehat, dia baik baik saja. Sekarang dia aman, gak ada lagi napi napi yang berani mengganggu dan mencoba untuk membunuhnya." jelas Wicaksono.


"Bapak udah mengancam para napi juga, jika ada diantara mereka mau menerima bayaran untuk membunuh Chandra, akan Bapak bunuh. Mereka takut sama Bapak di sini." ujar Wicaksono, tertawa menatap wajah Gavlin yang juga ikut tertawa.


"Lantas, setelah Samsudin terbunuh, berikutnya, apa yang akan kamu lakukan?" tanya Wicaksono, menatap lekat wajah Gavlin yang duduk di bangkunya.


"Aku berniat memburu Binsar, Pak." ujar Gavlin.


"Apa kamu tau, dimana Binsar bersembunyi?" tanya Wicaksono.


"Binsar melarikan diri ke luar negeri, Pak. Kata anak buahnya yang aku paksa bicara, dia berada di negara Prancis saat ini." ujar Gavlin, memberi tahu Wicaksono.


"Binsar lari ke luar negeri?!" Wicaksono tersentak kaget mendengar penjelasan Gavlin tersebut.


"Ya, Pak. Sudah lama dia melarikan diri ke sana. Dan Bapak baru aku kasih tau sekarang." ucap Gavlin, menatap lekat wajah Wicaksono.


"Apa kamu bisa mengejar dan menangkapnya di Prancis sana, Vlin?" ujar Wicaksono menatap serius wajah Gavlin.


"Akan aku usahakan, Pak. Sebelumnya, aku pernah tinggal di Prancis selama hampir dua tahun, jadi, aku tau sedikit seluk beluk lokasi lokasi disana." ujar Gavlin serius.


"Selain itu, aku juga sudah minta tolong dengan temanku disana untuk melacak Binsar, aku sudah berikan photo Binsar kepada temanku. Dia orang malaysia yang tinggal lama di sana dan menjadi anggota genk mafia disana, Pak." ujar Gavlin menatap wajah Wicaksono.


"Gank Mafia Prancis? Kamu kenal?" ujar Wicaksono, menatap serius wajah Gavlin.


Wicaksono kaget, dia tak menyangka, jika Gavlin selama tinggal di negara Prancis berteman dengan anggota gank mafia di sana.


"Ya, Pak. Selama di Prancis, saya juga sempat menjadi anggota gank mafia teman saya itu. Tapi saya mengundurkan diri, karena saya kembali ke Belanda, sebelum datang ke negara ini dulu." ungkap Gavlin, menjelaskan pada Wicaksono.


"Oh, begitu rupanya." ujar Wicaksono, mengangguk mengerti dan paham.


"Bapak doakan, mudah mudahan, kamu berhasil menangkap Binsar di sana, dan hati hati Vlin, jangan main bunuh Binsar di sana, apalagi membunuhnya di tempat umum, kamu nanti malah ditangkap pihak polisi Prancis atau menjadi buronan mereka." ujar Wicaksono, memberi peringatan pada Gavlin.


"Ya, Pak. Aku akan berhati hati. Rencananya nanti, jika aku berhasil menangkap Binsar, aku akan membantainya di markas gank mafia temanku, jadi, gak ada yang tau, kalo aku membunuh Binsar nantinya." ungkap Gavlin.


"Ya, Vlin." Angguk Wicaksono.


"Baiklah, Pak. Aku pulang dulu, aku mau mempersiapkan segala macam keperluanku sebelum berangkat ke negara Prancis." ujar Gavlin, menatap serius wajah Wicaksono.


"Ya. Usahakan, sebelum kamu berangkat, ketemu dulu dengan Chandra, ya." ujar Wicaksono, tersenyum senang menatap wajah Gavlin.


"Ya, Pak." Angguk Gavlin tersenyum juga pada Wicaksono.

__ADS_1


Lalu, Gavlin berdiri dari duduknya di bangku, Wicaksono juga ikut berdiri, lalu, Gavlin memberi hormat pada Wicaksono yang tersenyum menatap wajahnya, Gavlin lantas berjalan keluar dari dalam ruang pertemuan itu, setelah kepergian Gavlin, Wicaksono pun lantas berbalik badan dan berjalan juga keluar dari dalam ruang pertemuan, Sipir Penjara yang mengawal Wicaksono selama bertemu Gavlin ikut keluar, dia menutup pintu ruang pertemuan dan mengantarkan Wicaksono kembali ke ruang sel tahanannya.


__ADS_2