
Andre mengambil map berisi berkas bukti bukti kejahatan organisasi Inside. Dia membaca semua berkas tersebut.
"Simpanlah semua bukti bukti ini. Aku percayakan semuanya pada kalian berdua." ujar Chandra, dengan wajah serius.
Chandra menyerahkan bukti rekaman percakapan Wijaya dan Sipir penjara yang merencanakan pembunuhan Sanusi, Bapaknya Gavlin. Chandra juga memberikan bukti bukti kejahatan organisasi Inside yang memanipulasi segala macam bisnis mereka dan pencucian uang/money loundry dan bisnis fiktif serta penjualan beberapa aset negara.
"Dengan bukti bukti tersebut, kalian bisa meringkus semua anggota organisasi Inside." tegas Chandra.
Andre mengambil semua berkas dan bukti bukti kejahatan organisasi Inside yang di pimpin Binsar. Andre memberikannya pada Samuel yang lantas menerimanya.
"Kita harus mengungkap satu persatu kejahatan mereka. Mungkin akan aku mulai dari menangkap Peter dan Herman." Ujar Samuel.
"Aku akan menjerat Herman dan Peter dengan kasus pembunuhan pak Sanusi, orang tua Gavlin." tegas Samuel.
"Ya. Setelah menangkap Herman dan Peter, kita bisa mulai bergerak menangkap anggota Inside lainnya." tegas Andre.
"Sebentar, Siapa Gavlin?!" tanya Chandra, heran.
"Gavlin anaknya pak Sanusi, yang di tuduh sebagai pembunuh gadis pemandu lagu dan pemerkosa itu." jelas Andre.
"Gavlin?" ujar Chandra.
"Ya." jawab Andre.
Chandra diam sesaat, dia pun lantas tercenung, Chandra mengingat masa lalunya. Saat dia bertemu pertama kalinya dengan Sanusi dan anaknya.
Flash Back.
Kembali ke masa lalu.
Saat itu, di masa silam, Syamsul Bahri datang berkunjung ke rumah Sanusi yang sudah tidak lagi bekerja di perusahaan Bramantio dan Jafar. Syamsul Bahri datang bersama anaknya yang bernama Chandra.
Chandra saat itu berusia 18 tahun, selisih 8 tahun dengan Yanto, anaknya Sanusi.
"Bagaimana kabarmu , San?" tanya Syamsul Bahri.
"Baik, Syam. Ya, biarpun aku harus kerja sebagai penyapu jalan karena gak ada yang mau memberikanku pekerjaan , tapi aku bersyukur, aku mendapatkan rejeki halal. Gak harus ikut dengan kejahatan Bramantio dan kelompoknya." jelas Sanusi, tersenyum ramah.
"Ya. Aku tau, Kelompok Bram menghalangi kamu mendapatkan pekerjaan, mereka sengaja menghubungi semua perusahaan, agar menolak kamu bekerja di perusahaan manapun." jelas Syamsul Bahri.
"Aku rasa, mereka sangat takut, kamu membeberkan dan membongkar kejahatan sindikat organisasi mereka." jelas Syamsul Bahri.
"Ya, sepertinya begitu. Hanya, aku gak habis pikir, mengapa istriku di bunuh Jafar? Apa kematiannya ada hubungannya dengan aku yang mengancam kelompok mereka?!" tanya Sanusi dengan serius dan penasaran.
"Aku rasa tidak ada hubungannya San. Dari rekaman cctv yang aku ambil dari dalam kantor Jafar, aku liat, Hasmidar, istrimu di bunuh Jafar karena dia tak sengaja masuk ke dalam kantor dan menyaksikan langsung saat Jafar membunuh pacarnya !" jelas Syamsul Bahri.
"Tega Jafar, membunuh Istriku yang gak salah apa apa." ujar Sanusi sedih.
"Jafar membunuhnya, mungkin agar Istrimu gak mengadu ke polisi!" tegas Syamsul Bahri.
"Ya, sepertinya begitu. Oh ya. Jadi, kapan rencanamu kita ke kantor kejaksaan untuk melaporkan kejahatan Bramantio dan kelompoknya?" tanya Sanusi.
"Nanti aku liat waktunya dulu San, lagi pula, aku masih mencari satu bukti keterlibatan Binsar langsung sebagai ketua organisasi Inside!" jelas Syamsul Bahri.
"Baiklah, kabari saja aku, kapan kita ke kantor kejaksaan." ujar Sanusi.
"Ya." jawab Syamsul Bahri.
Yanto, anak Sanusi yang berusia 10 tahun datang dan menghampiri Sanusi yang sedang duduk diruang tamu bersama Syamsul Bahri dan Chandra.
"Pak, Wita udah makan, terus dia sekarang tidur." ujar Yanto.
__ADS_1
Wita adalah adiknya Yanto yang mengalami sakit komplikasi dan Sanusi tidak bisa mengobati dan membawanya ke rumah sakit, karena tak punya biaya.
Setelah dia tidak lagi bekerja dengan Bramantio, hidupnya sangat susah, ruang geraknya benar benar dibatasi oleh organisasi Inside, sehingga dia tak bisa berbuat apapun.
Bekerja sebagai penyapu jalanan hanya cukup untuk biaya hidup mereka sehari hari saja, tidak bisa untuk membawa anaknya kerumah sakit dan di rawat.
"Ini anakmu, San?" tanya Syamsul Bahri.
"Ya, namanya Yanto, anak pertamaku, dan yang bungsu Wita namanya." jelas Sanusi.
"Oh, Chan, ayo kenalan sama Yanto." ujar Syamsul Bahri kepada anaknya, Chandra.
Chandra lantas berkenalan dengan Yanto, mereka bersalaman.
"Berapa usia Yanto sekarang?!" tanya Syamsul Bahri.
"10 tahun. Anakmu usia berapa?" tanya Sanusi.
"Chandra ini udah remaja , sebentar lagi dewasa, dia umur 18 tahun, dan baru lulus SMA, dan akan melanjutkan sekolah di akademi polisi, katanya mau jadi polisi!" ujar Syamsul Bahri, tersenyum.
"Oh, bagus, kalo jadi polisi, harus jadi polisi jujur dan adil ya Chan, tangkap orang orang jahat dan lindungi masyarakat!" jelas Sanusi, tersenyum.
"Ya, Om." ujar Chandra, mengangguk.
Chandra melirik pada Yanto, Yanto juga meliriknya, mereka saling bertatapan, lalu tersenyum dan tertawa.
Flash Back Berakhir.
Kita kembali ke masa sekarang.
Chandra menghela nafasnya, dia lalu menatap wajah Andre yang masih membaca berkas bersama Samuel.
"Kamu kenal dengan anaknya?" tanya Andre, serius.
"Ya, dulu aku dibawa Papah kerumah Om Sanusi, lalu dikenalkan dengan anaknya yang bernama Yanto, saat itu Yanto berumur 10 tahun, dan Aku 18 tahun." jelas Chandra.
"Dua hari setelah aku bertemu Yanto dan Om Sanusi, Om Sanusi ditangkap polisi, lalu, tiga hari setelah Om Sanusi di penjara, rumahnya di bakar." jelas Chandra, dengan raut wajahnya yang menunjukkan kesedihan dan prihatin pada keluarga Gavlin, atau yang dikenal bernama Yanto saat masih kecil dulu.
"Ya, Gavlin itu Yanto, dia mengganti namanya menjadi Gavlin saat di adopsi oleh orang tua angkatnya di luar negeri dulu." jelas Andre.
"Oh, begitu. Pantas saja, aku gak tau menau siapa Gavlin itu." ujar Chandra, serius.
"Aku masih ingat jelas, bagaimana hancurnya rumah Om Sanusi yang habis di bakar, Papah mengajakku melihat rumah Om Sanusi yang terbakar, dan Papah tau, rumahnya sengaja di bakar oleh organisasi Inside." jelas Chandra.
"Papah nekat masuk kedalam rumah yang sudah habis terbakar, Papah mencari berkas bukti keuangan perusahaan Bramantio dan kelompoknya." jelas Chandra.
"Apa berkas itu ketemu?" tanya Andre, penasaran.
"Ya, Papah berhasil menemukan berkas bukti tersebut, karena Papah sebelumnya sudah dikasih tau Om Sanusi, kalo dia menyimpan bukti di dalam tanah, di lantai rumahnya, tepat di dalam kamar tidurnya." jelas Chandra.
"Oh, begitu. Kami kira, semua bukti yang di miliki pak Sanusi ikut terbakar bersama rumahnya yang dibakar." ujar Samuel.
"Tidak, Papah menyelamatkannya." jelas Chandra.
"Lalu, dimana berkas bukti itu?" tanya Samuel, dengan wajah seriusnya.
"Ada dalam berkas berkas itu juga, sudah aku lampirkan semuanya di situ." ujar Chandra, memberi tahu.
"Oh, baguslah." ujar Andre.
Lantas, Andre dan Samuel membuka lembaran berkas berkas tersebut, satu persatu berkas berkas mereka baca, lalu, mereka menemukan berkas bukti bukti keuangan perusahaan Bramantio, Wijaya, Herman dan lainnya.
__ADS_1
"Ini berkasnya, semua lengkap tertulis di sini!" tegas Andre.
"Ya. Kita beruntung, mendapatkan banyak bukti, sehingga mudah bagi kita menangkap anggota anggota Inside!" tegas Samuel.
"Ya, kamu benar!" ujar Andre.
"Maaf, apa kalian tau, dimana Gavlin, atau Yanto, anaknya Om Sanusi tinggal saat ini?!" tanya Chandra serius.
"Kami gak tau, Gavlin menjadi buronan kepolisian akibat tindakannya menghancurkan dan membunuh para polisi dan gedung kantor kepolisian pusat, serta kantor kejaksaan! Dia juga tersangka pembunuhan Jafar, Wijaya, dan lainnya, semua kelompok Bramantio dan Herman, yang berperan menjebak serta menjebloskan dan memvonis bersalah serta memberikan hukuman mati pada Bapaknya di pengadilan!" jelas Andre.
"Oh, begitu. Aku malah baru tau, ternyata diam diam, Yanto membalas dendam pada kelompok Bramantio." ujar Chandra.
"Ya, begitulah, Gavlin sangat lihai dan licin, dia tak bisa ditebak, keberadaannya pun gak bisa diketahui, sudah lama kami mencoba mengejar dan melacaknya, tapi kami gak juga menemukan persembunyiannya." jelas Andre.
"Oh, begitu." ujar Chandra, mengangguk mengerti dan paham.
"Maaf, kenapa kamu tiba tiba bertanya soal Gavlin? Sepertinya kamu tertarik ingin mengetahui tentang Gavlin, atau Yanto itu?" tanya Samuel.
"Ya, aku ingin bertemu dengannya, ada amanah Papah yang harus aku sampaikan pada Yanto, anaknya Om Sanusi, dan itu ada hubungannya dengan kematian Bapaknya." jelas Chandra, serius.
"Oh, begitu. Mungkin aku bisa bantu nanti, jika Gavlin kami temukan, kamu akan aku kabari." jelas Andre.
"Ya." Angguk Chandra.
"Atau, jika Gavlin nanti menghubungi aku lagi di telepon, akan aku katakan, kalo kamu mau ketemu dia." tegas Andre.
"Memang Gavlin sering telpon kamu?" tanya Samuel heran.
"Gak sering, hanya beberapa kali saja, waktu itu, dia hubungi aku, memberitahu, kalo Pak Richard ada dirumah Herman, dan disana aku temui mayat pak Richard, selain itu, dia juga memberikan flash disk berisi rekaman tentang rencana kejahatan pak Richard padaku." jelas Andre.
"Aku juga pernah bertemu dengannya secara langsung, saat Herman dan komplotannya mau menjebak dan membunuhku, Gavlin menyelamatkan nyawaku saat itu." jelas Andre.
"Oh ya?" ujar Samuel kaget.
Chandra dan Edo juga kaget mendengar penjelasan dan pengakuan Andre.
"Ya, dia menolongku, karena tau, kalo Herman mau membunuhku, lalu, kami berpisah, aku katakan, jika kami bertemu lagi, aku terpaksa menangkapnya." ungkap Andre.
"Oh, begitu. Mengapa Gavlin menolongmu?" tanya Chandra, serius ingin tahu.
"Mungkin dia tau, kalo aku sedang mengusut kasus Bapaknya dulu, jadi, dia mungkin saja gak mau aku mati terbunuh, agar aku bisa mengungkap kejahatan Herman dan komplotannya." jelas Andre.
"Oh, begitu." Angguk Chandra mengerti dan paham.
"Baiklah, karena semuanya sudah aku serahkan pada kalian, sekarang, tinggal bagaimana kalian akan menghadapi organisasi Inside tersebut, dan aku, akan tetap membantu dan mendukung kalian secara diam diam." ujar Chandra.
"Ya, dan sebaiknya, kamu berhati hati, jika kami nanti sudah bergerak dan mulai menangkapi satu persatu anggota Inside, bisa saja Binsar curiga, bahwa ada kebocoran dari dalam, dan dia pasti akan menyelidikinya, Jangan sampai kamu ketauan!" tegas Samuel, mengingatkan Chandra.
"Ya, selama ini aku berhati hati, dan berusaha agar penyamaranku gak ada yang mengetahuinya, sejauh ini aman saja, tapi aku gak tau, bagaimana kedepannya." ujar Chandra.
"Untuk itu aku percayakan pada kalian, agar meringkus semua anggota Inside, sebelum mereka mengetahui, bahwa aku lah dalang dibalik terungkapnya kejahatan masa lalu mereka!" tegas Chandra menjelaskan.
"Ya." Angguk Samuel dan Andre bersamaan.
"Baiklah, aku pulang sekarang, kita tetap berkomunikasi." ujar Chandra.
"Ya, baiklah. Edo, antar sampai kerumah Mas Chandra, hati hati dijalanan." ujar Andre.
"Baik, Pak." jawab Edo.
Lantas, Chandra berjabatan tangan dengan Samuel dan Andre, lalu, dia bergegas pergi keluar dari dalam rumah aman bersama edo.
__ADS_1