VINDICTA ( BALAS DENDAM )

VINDICTA ( BALAS DENDAM )
Serangan mendadak


__ADS_3

   Gavlin menatap wajah Linda yang terlihat santai, Linda mengambil makanan ringan dalam toples yang ada di atas meja.


Linda mencicipi makanan, diam diam Gavlin masih terus mencuri pandang.


Gavlin terus menatap wajah Linda yang asyik menikmati makanan, ada kecemasan dalam raut wajahnya.


Gavlin merasa tidak nyaman dengan kehadiran Linda dirumahnya.


Dia khawatir, rahasia yang selama ini di sembunyikannya baik baik akan terbongkar.


Gavlin memperhatikan wajah Linda seksama, dia tahu, Linda gadis agresif.


Karena menganggap hubungan mereka dekat, bukan tidak mungkin suatu saat nanti Linda akan memaksa masuk ke dalam rumahnya.


Linda melirik Gavlin yang diam tercenung menatap wajah Linda yang asyik makan.


"Kamu kenapa Vlin ? Tanya Linda menatap wajah Gavlin yang tersadar dari lamunannya, Gavlin tersenyum pada Linda.


"Ah, nggak apa apa, cuma dikit pusing aja." Ujar Gavlin berbohong pada Linda.


"Oh gitu, ada obat sakit kepala buat kamu minum?" Tanya Linda.


Linda  pun menatap lekat wajah Gavlin, ada rasa khawatir pada diri Linda.


"Gak perlu minum obat, istirahat sebentar juga ntar sembuh." Ujar Gavlin tersenyum pada Linda.


Linda melirik jam tangannya, dia menghela nafas, lalu menatap wajah Gavlin.


"Aku pulang ya Vlin, udah makin malam." Ujar Linda.


Linda lalu berdiri dari duduknya, dia meletakkan tas kecilnya di bahu lengan kirinya. Gavlin ikut berdiri dari duduknya.


"Hati hati dijalan Lin." Ujar Gavlin.


Linda mengangguk, dia berjalan menuju mobilnya yang terparkir di pinggir jalan depan rumah Gavlin.


Gavlin pun mengikutinya, Linda membuka pintu depan mobilnya, saat dia hendak masuk, Linda tiba tiba berbalik dan menatap Gavlin yang berdiri di depannya.


"Oh ya Vlin, besok aku jemput ya." Ujar Linda, Gavlin heran menatapnya.


"Mau kemana ?" Tanya Gavlin.


"Besok ada acara ulang tahun papahku, kamu harus datang, biar kenal dengan papah." Ujar Linda tersenyum, Gavlin terdiam berfikir.


"Kok diam? Gak mau ya ketemu papahku?" Tanya Linda pada Gavlin.


"Bukan gitu Lin, aku khawatir, kehadiranku malah jadi buat rusak suasana." Ujar Gavlin pada Linda.


"Gak usah mikir negatif Vlin, santai aja, kamu harus banyak berfikir positif, papah pasti menyambutmu baik." Ujar Linda.


Linda tersenyum menatap lekat wajah Gavlin, dia berusaha meyakinkan Gavlin agar mau datang menghadiri acara perayaan ulang tahun papahnya.


"Tiap tahun kami biasa buat acara special buat siapa saja diantara kami yang berulang tahun." Ujar Linda.


"Gak banyak yang datang kok Vlin, hanya mengundang orang orang terdekat aja, paling cuma beberapa orang." Ujar Linda.


Linda memberikan penjelasan pada Gavlin yang lantas menghela nafasnya, dia menatap wajah Linda.


"Ya udah kalo gitu, mudah mudahan aja seperti yang kamu bilang." Ujar Gavlin pada Linda.


"Gitu doong, aku pulang ya, tunggu aku besok jemput kamu jam dua siang." Ujar Linda.


Linda senang karena Gavlin mau datang ke acara Ultah papahnya besok.


Linda tiba tiba mengecup pipi Gavlin, Gavlin sedikit kaget, namun dia berusaha bersikap tenang dan tersenyum pada Linda yang tersenyum senang menatapnya.


Linda kemudian masuk ke dalam mobilnya, menutup pintu mobil, menyalakan mesin mobil, lalu menyetir mobilnya, pergi meninggalkan Gavlin.


Gavlin berdiri tercenung memandangi mobil Linda yang pergi menjauh dari rumahnya.


Sesaat kemudian dia menarik nafas berat, lalu berbalik dan berjalan melangkah masuk ke dalam rumahnya.


   Di dalam rumahnya, Gavlin segera mengunci pintu rumahnya, dia lalu melangkah ke ruang tengah rumahnya.


Ruangan itu dalam keadaan gelap tak ada sinar lampu yang menerangi sedikitpun ruangan itu.


Di ruangan itu, ada patung lilin sosok pria tua sedang duduk di sebuah kursi.


Gavlin menatap pada patung Lilin, dia lalu memandang ke arah patung lilin seorang wanita yang duduk di kursi, di depan mesin jahit, seolah sedang menjahit pakaian.


Gavlin diam, dia berdiri ditempatnya menatap patung patung lilin itu.


"Aku harus lebih hati hati." Ujarnya.


"Sebaiknya aku menyimpan patung patung ini di ruang khusus, ruangan yang gak kan ada yang memasukinya kecuali aku." Gumamnya berfikir.


   Keesokan harinya, terlihat Sumantri berdiri di pinggir jalan depan gedung kantor kepolisian.


Dia menatap gedung kepolisian yang luas, raut wajahnya menyimpan keresahan.


Sumantri menghela nafasnya, lalu melangkahkan kakinya menuju gedung kantor kepolisian.


Sumantri berjalan masuk ke halaman gedung kantor kepolisian dengan langkah gontai.


Sumantri melihat Gatot saat itu keluar dari dalam gedung kantor kepolisian itu, berjalan menuju ke mobilnya yang terparkir dihalaman parkir gedung kepolisian.


Sumantri yang mengenali Gatot segera mempercepat langkahnya untuk menghampiri Gatot yang berjalan menuju mobilnya.


Gatot hendak membuka pintu depan mobilnya, saat dia hendak masuk ke dalam mobil, dia terdiam karena mendengar suara yang menyapanya.


"Apa kabar Bastian ?" Ujar suara yang berasal dari Sumantri.


Gatot kaget karena dipanggil dengan nama "Bastian", nama dirinya yang sudah lama tidak ada yang menyebutnya.


Gatot menutup pintu depan mobil yang sudah dibukanya, dia cepat membalikkan tubuhnya ke belakang, menatap Sumantri yang tersenyum berdiri di belakangnya.


"Sumantri ?!" Ujar Gatot menatap lekat wajah Sumantri yang tersenyum padanya.


Gatot heran sekaligus senang, dia tak menyangka bisa bertemu lagi dengan Sumantri yang selama ini menghilang tidak ada kabar beritanya.


"Ku kira kamu lupa denganku Bas." Ujar Sumantri dengan suara datar.


Gatot senang, dia langsung memeluk erat tubuh Sumantri, kawan lamanya dahulu saat mereka sama sama satu kelas di sekolah menengah atas.


Setelah beberapa saat mereka berpelukan, Gatot melepaskan pelukannya, dia menatap lekat wajah Sumantri yang berdiri di hadapannya.


"Ada angin apa yang membawamu tiba tiba datang kesini menemuiku?" Tanya Gatot pada Sumantri.


"Aku tergerak aja, hatiku berkata, aku harus bertemu kamu." Ujar Sumantri.


Gatot lantas menatap lekat wajah Sumantri yang berdiri di depannya demgan tertunduk.


Instingnya sebagai polisi mengetahui, bahwa ada sesuatu yang terjadi dan berusaha disembunyikan dalam diri Sumantri.


"Kamu ada masalah?" Tanya Gatot pada Sumantri yang cepat menggelengkan kepala.

__ADS_1


"Ah, nggak, aku cuma mau ketemu kamu aja, hampir 18 tahun kita gak ketemu." Ujar Sumantri.


"Dulu aku tinggal di beberapa daerah, sekarang aku kembali ke kota ini, aku teringat kamu, jadi aku fikir, ada baiknya aku coba ketemu kamu lagi." Ujar Sumantri.


Sumantri mencoba memberikan penjelasan pada Gatot tentang dirinya yang menghilang selama ini.


"Aku mencari carimu dulu, tapi gak berhasil menemukanmu. Aku malah gak tau kalo kamu udah balik ke kota ini." Ujar Gatot.


Gatot lantas menatap lekat wajah Sumantri yang juga tersenyum padanya.


"Sebaiknya kita gak ngobrol di sini Tri, ayo ikut aku." Ujar Gatot.


Gatot pun mengajak Sumantri agar masuk ke dalam mobilnya, Sumantri lalu melangkah ke samping mobil.


Sumantri membuka pintu depan mobil, dia masuk dan duduk di jok depan samping Gatot yang menyetir mobil.


Gatot masuk ke dalam mobil, duduk di jok belakang stir, dia menyalakan mesin mobil.


Gatot lantas menoleh pada Sumantri yang duduk disampingnya.


"Kita cari tempat buat bisa ngobrol banyak dan santai, sambil makan." Ujar Gatot.


Sumantri mengangguk tersenyum, Gatot lalu menyetir mobilnya, menjalankan mobil, pergi meninggalkan kantornya.


   Di sebuah tempat, di dalam gedung terbuka, kosong, usang dan sudah bertahun tahun tak terpakai dan tidak terawat.


Terlihat Surya, Asisten Manager Bramantio sedang bertemu dengan Samsul, pemimpin gank preman yang terkenal buas.


Kelompok preman yang dinamakan "Wolf gank", Samsul menerima tas koper dari tangan Surya, dia membuka tas koper ditangannya.


Samsul melihat isi tas koper, ada tumpukan uang banyak berisi pecahan seratus ribu didalam tas, penuh dan memadati isi dalam tas koper.


Wajah Samsul terlihat senang, dia menutup dan mengunci kembali tas koper.


Lalu dia memberikan tas koper yang dipegangnya pada anak buahnya yang berdiri di sampingnya.


"Ingat, kamu harus mengerjakannya dengan rapi, jangan sampai meninggalkan jejak sedikitpun, jangan biarkan ada saksi yang melihat." Ujar Surya.


"Beres, seperti biasa, aku akan menugaskan anak buahku untuk beresin semuanya, kayak biasa, kerjaan kami pasti bersih dan rapi." Ujar Samsul.


"Setelah kalian beresin semuanya, pak Bram akan memberikan uang 100 juta lagi padamu." Ujar Surya lagi pada Samsul yang terlihat senang.


"Siaap , beres !" Ujar Samsul dengan sikap cuek dan tengilnya.


Wajah Samsul tersenyum senang, Surya lalu segera berbalik dan pergi meninggalkan Samsul yang melihat kepergiannya.


Surya, Asisten Managernya Bramantio masuk ke dalam mobil, supir yang ada di dalam mobil menjalankan mobil.


Mobil pergi membawa Surya yang terlihat duduk di jok belakang mobil.


Samsul melambaikan tangannya dengan sikap cuek pada Surya yang pergi meninggalkannya, kemudian Samsul berbalik dan menatap anak buahnya.


"Cepat kumpulkan semua anak anak, ada kerjaan buat kalian!" Ujar Samsul tegas pada anak buahnya.


"Siap bos !" Ujar anak buah Samsul yang memegang tas koper berisi uang.


Samsul lantas berjalan menuju mobilnya yang terparkir tidak jauh dari tempat mobil Asisten Manager parkir tadi.


Samsul lantas dengan langkah cepat masuk kedalam mobil, anak buahnya yang membawa tas koper berisi uang bergegas mengikutinya.


Anak buah samsul lalu membuka pintu depan mobil, dia duduk di depan mobil.


Sementara Samsul duduk di jok belakang mobil, anak buah Samsul memberikan tas koper berisi uang pada Samsul.


Mereka pergi meninggalkan tempat pertemuan rahasia Samsul dan Asisten Manager.


Wajah Samsul terlihat begitu senang saat membuka tas koper yang berisi uang.


Samsul mengambil segepok uang dari dalam koper, mencium uang yang dipegangnya.


Dia terlihat begitu bahagia karena mendapatkan uang yang begitu banyak dari Bramantio.


Melalui Surya, Asisten Managernya bramantio, Samsul mendapatkan tugas untuk melakukan sesuatu hal yang sangat penting dan juga berbahaya.


Samsul, pemimpin preman dari kelompok "Wolf gank" sangat terkenal dengan kebengisannya.


Kelompok preman manapun takut jika berhadapan dengan Samsul dan anak buahnya yang nekat, gila dan bengis semuanya.


Samsul cs berdarah dingin, mereka tidak akan segan segan dan berfikir lama lama untuk menghabisi nyawa seseorang yang bermasalah dengan kelompok mereka.


Hal itu yang dimanfaatkan Bramantio untuk memanfaatkan Samsul menyelesaikan masalahnya.


Bramantio yang mengenal baik Samsul, menjadikan Samsul orang kepercayaannya sebagai tukang pukul.


Bramantio sudah bertahun tahun menggunakan jasa Samsul, jika ada masalah dengan lawan bisnisnya, Samsul yang akan menyelesaikan semua urusan Bramantio.


Dan sepak terjang Bramantio tidak ada yang tahu, hanya orang tertentu dan dekat dengannya yang mengetahuinya.


Bramantio, seorang pejabat daerah yang di segani, tokoh masyarakat, pengusaha yang banyak memiliki anak cabang perusahaan, adalah seorang yang licik.


Bramantio selalu menggunakan cara cara ilegal, dia menghalalkan segala cara demi kepuasan ambisinya mendapatkan semua yang di inginkannya.


Wijaya, yang menjadi musuhnya tahu sepak terjang Bramantio, dulu dia yang berteman baik dengan Bramantio.


Wijaya juga selalu mendapatkan bantuan dari Bramantio melalui jasa Samsul cs.


Dan Linda, anaknya Wijaya sekarang juga tau kelicikan dan kejahatan Bramantio.


Karena Linda pernah mendengar langsung dari Mike, anak Bramantio.


Mike menceritakan sepak terjang bapaknya, menceritakan bagaimana bapaknya bisa menjadi sukses besar dan disegani banyak orang kepada Linda dulu. 


   Di sebuah hotel megah, dalam ruangan, tampak sedang digelar sebuah acara yang terlihat mewah dan meriah.


Para undangan sudah hadir dalam ruangan, terlihat Wijaya sudah berada dalam ruangan bersama Linda dan juga Gavlin yang berdiri disamping Linda.


Gavlin hadir karena dijemput Linda seperti yang sudah dijanjikan. Para Undangan terlihat menyambut dan memberikan selamat pada Wijaya.


Terlihat kebahagiaan terpancar di wajah Wijaya, mereka bersorak, bertepuk tangan meriah.


Mereka merayakan acara ulang tahun Wijaya, suasana yang sangat meriah.


Kebahagiaan Wijaya terpancar saat ini, wajahnya berseri seri, dia bahagia.


Pestanya semakin meriah karena di iringi oleh musik yang di mainkan sekelompok Band yang di sewa Linda untuk menambah meriah suasana.


Linda memeluk mesra papahnya, Wijaya mengecup kening Linda, rona kebahagiaan terpancar dari wajah Linda dan Wijaya.


Gavlin hanya diam berdiri di tempatnya, tidak bereaksi apapun, Wijaya melirik pada Gavlin, dia memperhatikan sikap Gavlin yang hanya diam berdiri ditempatnya.


Seorang tamu udangan mendekati Wijaya, mengulurkan tangan, Wijaya akhirnya mengurungkan niatnya untuk mendekati Gavlin.


Karena kedatangan tamu undangan yang sudah berdiri didepannya, Wijaya tak jadi mendekati Gavlin.


Wijaya cepat menyambut uluran tangan tamu undangan, mereka bersalaman.

__ADS_1


Tamu undangan memberikan ucapan dan doa pada Wijaya atas perayaan ulang tahunnya yang ke 57 tahun.


Linda yang berdiri di samping Wijaya tersenyum senang dan ikut berterima kasih pada tamu undangan yang memberi selamat serta mendoakan papahnya.


   Sementara itu, di lokasi proyek pembangunan milik Wijaya, terlihat 5 mobil berhenti di depan lokasi proyek.


Puluhan pria berseragam hitam hitam datang ke lokasi Proyek.


Lengkap dengan tongkat pemukul, clurit, palu ditangan masing masing.


Mereka segera berlari masuk ke dalam proyek, menendang pagar masuk ke proyek hingga hancur.


Samsul keluar dari dalam mobilnya, dia berdiri di depan mobilnya menatap pada tanah kosong yang sangat luas itu.


Samsul memandang pada bangunan bangunan yang belum selesai di kerjakan.


Samsul mengangkat tangannya, memberi isyarat pada anak buahnya agar segera bergerak.


Melihat isyarat dari Samsul, segera anak buahnya berhamburan lari masuk ke dalam proyek.


Para pekerja bangunan yang melihat puluhan orang berlari mendekati mereka dengan memegang senjata sontak kaget dan ketakutan.


Mereka berlarian berhamburan menyelamatkan diri, anak buah Samsul menyerang para pekerja bangunan.


Anak buah Samsul memukuli mereka tanpa ada rasa belas kasihan.


Banyak pekerja bangunan yang terluka karena dihantam tongkat pemukul.


Ada juga yang terluka, terkena sabetan clurit dan palu yang dihujamkan ketubuh pekerja bangunan yang mencoba memberi perlawanan.


Melihat sekelompok orang datang menyerang, Kepala Proyek segera lari menyelamatkan diri dengan wajah ketakutan.


Dia lari dengan cepat, menjauh dari arena perkelahian, bersembunyi di dalam lubang tanah yang ada dibelakang wc umum.


Lantas dia menutupinya dengan drum besar diatas tanah berlubang tempatnya bersembunyi, agar tidak ada yang tahu keberadaannya.


Samsul terlihat tersenyum senang dan puas melihat anak buahnya memporak porandakan proyek milik Wijaya.


Samsul tertawa senang , dia menyeringai kejam melihat para pekerja bangunan yang banyak terluka dan terkapar di tanah.


"Hancurkan semua bangunannya !" Teriak Samsul sekeras kerasnya pada anak buahnya.


Anak buahnya mengikuti perintah Samsul yang lantas berjalan masuk ke area proyek.


Dia mendekati anak buahnya yang terus beraksi merusak dan menghancurkan kerangka bangunan proyek Wijaya.


Dari tempat persembunyiannya, Kepala Proyek mengintip dari celah drum besar yang menutupi lubang tanah persembunyiannya.


Dia melihat Samsul berdiri ditengah tengah para pekerja bangunan yang dihajar oleh puluhan anak buah Samsul.


Kepala Proyek menegaskan padangannya pada Samsul, agar dia bisa melihat jelas wajah Samsul dan mengingat sosoknya.


Bangunan bangunan yang belum jadi hancur dan rusak parah akibat perbuatan Samsul dan anak buahnya.


Sementara para pekerja bangunan yang terluka, tampak merintih menahan sakitnya terkapar di tanah.


Mereka yang tidak tahu apa apa menjadi korban keganasan Samsul dan anak buahnya.


Setelah dirasanya semua sudah beres, Samsul menyuruh anak buahnya untuk segera pergi meninggalkan lokasi proyek.


Anak buahnya segera mengikuti perintah isyarat Samsul, mereka cepat pergi keluar dari lokasi proyek.


Samsul berjalan dengan sikap cuek dan angkuhnya menuju mobilnya, lalu dia masuk ke dalam mobilnya.


Mobil Samsul kemudian pergi meninggalkan lokasi proyek Wijaya, di ikuti mobil mobil anak buahnya yang berjalan di belakang mobil Samsul.


Suasana hening seketika, hanya ada erangan kesakitan dari para pekerja bangunan yang terkena pukulan dan terluka karena senjata anak buah Samsul.


Dari tempat persembunyiannya, Kepala Proyek segera keluar, dia berdiri diam ditempatnya.


Dia menatap dengan reaksi syok pada kerangka bangunan proyek yang sudah hancur berantakan.


Dia menarik nafasnya, Kepala Proyek melangkah mendekati para pekerja bangunan yang tergeletak ditanah dengan penuh luka.


Satu persatu para pekerja dibantu Kepala Proyek untuk dapat berdiri kembali.


Lalu dengan berat hati dan wajah sedihnya karena melihat pekerjaan mereka dihancurkan, dia mengambil ponsel dari kantong celananya.


Lantas, Kepala Proyek segera menghubungi Wijaya. Mengabarkan tentang kejadian di Proyek.


"Maaf saya ganggu pak, ada yang penting." Ujar Kepala Proyek menelepon Wijaya.


Di gedung hotel tempat acara perayaan ulang tahunnya, Wijaya sedang menerima telepon dari Kepala Proyek.


"Ada apa pak?" Tanya Wijaya dengan suara pelan di telepon.


Lalu Wijaya berjalan kesudut ruangan agar tidak terganggu dengan suara berisik orang orang di dalam ruangan.


Linda melirik papahnya yang terlihat wajahnya serius menerima telepon.


"Sekelompok orang menyerang dan menghancurkan seluruh bangunan proyek, para pekerja banyak yang terluka." Ujar Kepala Proyek.


Kepala proyek memberitahu kejadian yang menimpa mereka pada Wijaya.


Mendengar itu, Wijaya kaget, dia syock mendengar kabar dari Kepala Proyek.


"Apa ?!!" Teriak Wijaya tak sadar jika saat itu dalam ruangan ramai orang.


"Biadaaab !! Ini pasti perbuatan dia!!" Ujar Wijaya dengan suara keras.


Suaranya menggelegar, menggaung keras dalam ruangan, membuat orang orang di dalam ruangan seketika diam tak bersuara.


Mereka serentak menatap Wijaya yang terlihat wajahnya memerah karena marah.


Wijaya karena kaget dan marah tak menyadari jika saat ini ada banyak orang yang mendengar dan melihat dirinya.


Linda yang melihat papahnya marah ditelepon segera berjalan mendekatinya.


"Ada masalah apa pah?" Tanya Linda pada Wijaya, sementara Gavlin ditempatnya hanya diam memperhatikan wajah Wijaya yang memendam amarah.


"Proyek kita dihancurkan, Para pekerja di pukuli dan luka luka, Papah harus cepat kesana, papah harus liat proyek sekarang juga !" Ujar Wijaya.


Wajah Wijaya cemas, dia tak perduli lagi dengan semua acara ulang tahunnya.


Kebahagiaannya telah dirusak dengan penyerangan proyek miliknya.


Wijaya cepat berjalan meninggalkan Linda yang terlihat bingung.


Linda lantas mengikuti Wijaya, meninggalkan Gavlin sendiri berdiri ditempatnya.


Para tamu undangan yang terdiam saling melirik satu sama lainnya, mereka melihat Wijaya dan Linda pergi begitu saja keluar ruangan meninggalkan mereka.


Mereka bingung, apa yang terjadi dengan Wijaya hingga dia terlihat marah dan terburu buru pergi.


Gavlin hanya diam ditempatnya, tanpa ada reaksi apapun juga menyaksikan semua itu.

__ADS_1


__ADS_2