
Di dalam ruang kamar mayat, terlihat Gavlin bersama Maya, ada juga Dokter bedah mayat yang menemani.
Gavlin terdiam memandangi mayat Linda yang seluruh tubuhnya tertutup dengan kain putih lebar dan panjang.
Sementara Maya tampak sedih , dia tak menyangka, sahabat baiknya akan mengalami nasib yang begitu tragis, mati terbakar dalam kecelakaan.
Pintu kamar Jenazah terbuka, Dengan langkah cepat dan wajah cemas, Wijaya berjalan masuk ke dalam ruang kamar mayat.
Wijaya berdiri tepat di depan mayat Linda, anaknya, dengan wajah sedih.
Wijaya mengangkat kain yang menutupi wajah Linda, begitu kain terangkat dan terbuka sedikit, Wijaya segera menutup kain kembali ke wajah anaknya.
Dia terenyuh, tak sanggup melihat mayat Linda, hatinya seakan tersayat melihat wajah hangus terbakar anaknya.
Wijaya berusaha menenangkan dirinya, dia menarik nafasnya berat.
Dia menatap tajam pada Gavlin yang berdiri diam memandangi mayat Linda yang terbaring di meja khusus mayat.
Dengan cepat Wijaya melangkahkan kakinya, mendekati Gavlin.
Lalu tiba tiba "Plaaak", Wijaya menampar wajah Gavlin sekuat kuatnya.
Kebencian dan kemarahan terlihat jelas di wajahnya. Maya kaget, dia menoleh pada Gavlin yang di tampar.
Dia tak menyangka, Wijaya, Papahnya Linda bisa setega itu menampar Gavlin, Gavlin tetap diam, dia tak bergeming saat di tampar Wijaya.
"Ini semua gara gara kamu !!" Bentak Wijaya menatap Gavlin dengan penuh kebencian.
"Kematian Linda bukan salah Gavlin Om !" Ujar Maya dengan nada sedikit keras, dia berusaha membela Gavlin.
"Diam kamu !" Bentak Wijaya menoleh pada Maya dengan tatapan marah.
Maya tersenyum sinis pada Wijaya, dia nyengir karena di bentak Wijaya.
Jemari tangan Gavlin menyentuh jemari tangan Maya, memberikan isyarat, agar Maya membiarkan saja Wijaya marah kepadanya.
Maya kesal melihat sikap Wijaya.
"Karena kamu pacaran dengan anakku, dia celaka, mati !" Bentak Wijaya meluapkan amarahnya.
"Apa hubungannya pacaran sama kecelakaan." Celetuk Maya nyengir.
Wijaya menoleh Maya, dia geram, Wijaya mengangkat tangannya, mau menampar Maya yang dianggapnya lancang padanya.
Namun Gavlin dengan cepat memegang tangan Wijaya, menghalanginya menampar Maya. Dokter yang berdiri di samping Gavlin hanya bisa terdiam.
"Jangan pukul dia." Ujar Gavlin dengan sikap dingin, menatap tajam wajah Wijaya.
Wijaya menatap Gavlin penuh marah dan muak, dia lantas menghempaskan tangannya.
Melepaskan tangan Gavlin yang memegang dan menahan tangannya yang mau menampar Maya.
Lalu Wijaya segera pergi keluar dari ruang kamar mayat, meninggalkan Gavlin dan Maya beserta Dokter.
"Apa ini murni kecelakaan Dok?" Ujar Gavlin menoleh dan bertanya pada Dokter tentang kematian Linda.
Ada kecurigaan yang muncul dalam diri Gavlin, dia ragu, kalau kematian Linda murni karena kecelakaan.
Namun, saat ini, dia juga tidak punya bukti untuk memastikan kematian Linda.
"Untuk saat ini begitu, Korban dinyatakan mati terbakar saat kecelakaan terjadi." Ujar Dokter.
"Sebenarnya kami ingin melakukan Autopsi pada korban, tapi karena orang tuanya tidak mengizinkan, kami tidak berani mengambil langkah autopsi." Ujar Dokter.
Dokter memberi penjelasan, Gavlin lantas mengangguk paham, dia mengerti.
"Baiklah, kami permisi Dok." Pamit Gavlin memberi hormat pada Dokter yang juga mengangguk tersenyum.
Maya juga pamit, Gavlin dan Maya segera keluar dari ruang kamar mayat.
Di jalan raya, terlihat supir menyetir mobil dengan kecepatan sedang, di jok belakang, Wijaya duduk dengan wajah sedih.
"Apa yang terjadi denganmu Lin? Kenapa kamu benar benar pergi meninggalkan papah selamanya?" Ujarnya menangis didalam mobil.
Supir diam diam melirik dari kaca spion depan mobil, dia melihat Wijaya menangis duduk di jok belakang, Supir lanjut menyetir mobilnya.
Dari raut wajah Wijaya terlihat penyasalan yang mendalam, dia menyesali kematian Linda, anaknya.
Wijaya mengingat pertengkaran yang terjadi antara dia dan Linda di kantor, pagi hari.
Pada saat beberapa jam sebelum kematian Linda, di pagi hari, dalam gedung perkantoran Wijaya dan Linda.
Linda melangkah mendekat keruang dimana sedang berlangsung rapat dewan direksi perusahaan dia dan papahnya.
Saat Linda mendekat dan hendak membuka pintu, Satpam yang berdiri didepan pintu berjaga mencegah Linda masuk ke dalam ruang rapat.
"Maaf bu, Ibu tidak di izinkan masuk dan mengikuti rapat dewan direksi." Ujar Satpam.
Linda tersenyum sinis mendengarnya, dia menatap tajam wajah Satpam.
"Lancang kamu, aku ini Direktur Utama perusahaan, Pewaris tunggal perusahaan ini, siapa yang berani melarangku masuk dan mengikuti rapat dewan direksi?!" Ujar Linda.
Linda teriak pada Satpam, melampiaskan kekesalannya karena dia di larang masuk Satpam.
Satpam tak bergeming, dia tetap berdiri di pintu, menghalangi Linda.
"Maaf bu, saya hanya menjalankan tugas, ini perintah pak Wijaya." Ujar Satpam.
Linda terhenyak mendengarnya, dia menatap tajam wajah Satpam, dia tak percaya, papahnya melarang dia masuk ke dalam ruangan dan ikut rapat perusahaan.
"Minggir kamu !" Linda mendorong Satpam hingga terjajar hampir jatuh.
Linda lantas dengan cepat membuka pintu, dia segera masuk ke dalam ruangan.
Di dalam ruangan, dengan penuh amarah dia melangkahkan kakinya mendekati papahnya.
"Apa maksudnya papah melarangku ikut rapat kalian ? Kenapa aku gak di izinkan, kenapa?!" Teriak Linda.
Linda berjalan cepat mendekati papahnya yang duduk di kursinya, semua dewan direksi yang hadir dan mengikuti rapat kaget melihat kedatangan Linda yang marah.
Mereka diam saling lirik satu sama lainnya. Wijaya cepat berdiri, dia mendekati Linda yang berjalan ke arahnya.
Wijaya segera menarik tangan Linda, membawanya keluar dari ruang rapat, para dewan direksi kasak kusuk saling berbisik melihat Wijaya dan Linda keluar ruangan.
Di luar ruangan, depan pintu masuk ruang rapat, Wijaya melepaskan pegangan tangannya.
Wijaya berdiri didepan Linda, menatap tajam wajah anaknya yang juga terlihat marah. Satpam bergeser dan berdiri sedikit jauh dari mereka berdua.
"Papah non aktifkan kamu sebagai Direktur Utama mulai saat ini !" Ujar Wijaya.
Linda terhenyak kaget, dia tak menyangka papahnya tega padanya.
__ADS_1
"Apa? Apa alasannya Pah?" Tanya Linda.
"Apa aku berbuat salah yang merugikan perusahaan, sehingga papah menon aktifkan aku sebagai Direktur utama diperusahaan ini?" Ujar Linda dengan nada tinggi.
"Selama kamu masih berhubungan dengan Gavlin, kamu tidak berhak menginjakkan kakimu di kantor ini, dan duduk sebagai Direktur utama!" Tegas Wijaya.
Linda lantas tersenyum sinis mendengar perkataan papahnya itu.
"Papah akan mengembalikan posisi kamu sebagai Direktur utama diperusahaan jika kamu sudah benar benar meninggalkan Gavlin!" Ujar Wijaya membentak Linda.
Linda semakin tersenyum sinis mendengar semua perkataan papahnya.
Dia berfikir, hanya karena dia dekat dan menjalin hubungan dengan Gavlin, papahnya tega melepaskan dirinya sebagai Direktur utama diperusahaannya.
Linda tersenyum sinis, dalam hatinya dia tertawa, karena merasa lucu atas sikap dan alasan papahnya.
"Sekalipun papah berusaha menghentikanku, aku tetap akan menjalin hubungan dengan Gavlin, aku akan menikah dengan Gavlin !" Ujar Linda.
Linda menatap wajah papahnya, matanya terbuka lebar, tajam dan liar menatap papahnya.
"Linda !! Kamu berani melawan papah?! Jika kamu lebih memilih pria itu, tinggalkan papah, pergi dari rumah !!" Bentak Wijaya.
Dia meluapkan emosi marahnya, dia sudah tidak bisa mengontrol ucapannya.
"Baik, aku akan pergi dari rumah papah itu, aku akan pergi meninggalkan papah, aku gak bakal nemui papah, sampai kapanpun !" Bentak Linda.
Wijaya terhenyak kaget, dia tak menyangka Linda memilih untuk meninggalkan dia daripada melepaskan Gavlin.
Wijaya semakin benci pada Gavlin, Wijaya merasa, Linda sudah di pengaruhi dan di hasut Gavlin untuk melawannya.
Linda berbalik, dengan amarah menggebu dalam dirinya, dia segera melangkahkan kakinya dengan cepat meninggalkan papahnya.
Melihat kepergian anaknya yang begitu saja dari hadapannya, Wijaya semakin marah.
"Papah akan membatalkan hak kamu sebagai pewaris tunggal harta papah !!" Ujar Wijaya teriak menatap Linda yang melangkah menjauh darinya.
"Silahkaaan !!" Teriak Linda sambil melambaikan tangan, tanpa berbalik dan menoleh pada papahnya.
Linda terus berjalan, menjauh sambil terus melambaikan tangannya pada Wijaya, sebagai isyarat salam perpisahan darinya pada papahnya.
Wijaya melihat kepergian anaknya, kesal, dia lantas segera masuk ke dalam ruangan rapat kembali.
Satpam yang berdiri sedikit jauh dari Wijaya dan Linda kikuk, dia mendengar jelas semua pertengkaran yang terjadi antara anak dan bapaknya itu.
Satpam menggelengkan kepala, dia baru tahu, kalau orang kaya ribut, selalu membawa bawa harta kekayaan.
Satpam lalu kembali ketempatnya berjaga, berdiri di depan pintu masuk ruang rapat.
Linda pergi meninggalkan kantornya, mengendarai mobilnya keluar dari area parkir gedung perkantoran.
Untuk selanjutnya, seperti yang sudah di ceritakan pada bab sebelumnya, kemana Linda pergi dan berakhir dengan kecelakaan.
Kembali ke masa kini.
Wijaya meremas rambutnya, air mukanya menunjukkan penyesalan.
Wijaya menyesali pertengkaran yang terjadi antara dirinya dan Linda pagi itu.
Wijaya bersandar di jok belakang mobilnya, dia menghapus air mata penyesalan yang mengalir di pipinya.
"Maafin papah nak, papah gak bermaksud mengusirmu." Gumam Wijaya penuh penyesalan.
Linda benar benar pergi, selama lamanya, dan Wijaya tidak bisa lagi bertemu dengan anaknya itu.
Karena Linda, anaknya sudah meninggal dunia. air mata penyesalan kembali jatuh membasahi pipi Wijaya.
Sepanjang jalan, didalam mobilnya, Wijaya tak henti hentinya menyesali segala keputusan dan perbuatannya pada anaknya.
Dia menyesal, jika saja tidak terjadi pertengkaran pagi itu, tentu Linda masih hidup, karena dia tak kan pergi meninggalkan dirinya.
Linda pasti tetap berada di kantor, memimpin rapat dewan direksi perusahaannya.
Wijaya sangat menyesali semua langkah yang dipilihnya, dia merasa dirinya sudah menyakiti anaknya.
Di pinggir jalan, terlihat Gavlin duduk di bangku taman yang ada di trotoar jalanan.
Maya duduk disampingnya. Maya menggenggam jemari tangan Gavlin yang terlihat sedih itu.
Maya mencoba memberi kenyamanan untuk Gavlin yang saat ini menurutnya sedang sedih atas kematian Linda, pacarnya.
Gavlin menarik nafas berat, dia mengangkat kepalanya, menatap jauh kedepan. Maya memandangi wajah Gavlin, memberikan Gavlin senyum manisnya.
"Biar aku gak pernah mencintai Linda sedikitpun, tapi aku gak bisa cuek dengan apa yang terjadi pada Linda." Ujar Gavlin dengan lirih dan getir.
"Apa yang dibilang Linda terakhir kali kamu bicara dengannya di telpon?" Tanya Maya menatap wajah Gavlin.
"Dia cuma mau ketemu aku, bilang ada yang mau dibahas, suaranya terlihat seperti habis menangis, seperti orang baru bertengkar, sedikit serak." Ujar Gavlin.
"Aku yakin dia ribut dengan papahnya, makanya langsung mau ketemu aku." Ujar Gavlin menghela nafasnya.
"Saat terakhirnya, aku masih bisa mengingat dengan jelas perkataan Linda." Ujar Gavlin.
"Dia merintih kesakitan, meminta tolong, bilang dia kecelakaan, aku kaget saat itu, tanpa mikir aku langsung pergi untuk menolongnya." Ujar Gavlin terdiam.
Maya diam, dia terus menatap wajah Gavlin, mendengarkan perkataan Gavlin.
"Saat aku tiba di lokasi, aku liat Linda didalam mobil, terjepit diantara sela sela mobil, aku gak sempat menolongnya, mobil meledak, dan..." Gavlin diam.
Gavlin tak sanggup bercerita lagi, Maya menggenggam lembut jemari tangan Gavlin, dia tersenyum menatap wajah Gavlin.
"Andai aku datang lebih awal, aku pasti bisa menyelamatkan Linda." Ujar Gavlin menatap wajah Maya, tatapan matanya lirih.
"Bukan salahmu Vlin, ini sudah kehendak Allah, sudah takdir Linda." Ujar Maya tersenyum, dia mencoba menenangkan Gavlin yang terlihat sedih.
"Tapi aku masih gak bisa menerima kematian Linda, aku gak yakin dia meninggal karena kecelakaan, mengingat, Linda itu mahir menyetir mobil." Ujar Gavlin.
"Dia selalu focus jika menyetir, dalam kondisi marah sekalipun, dia tetap menyetir dengan baik." Ujar Gavlin sambil menoleh pada Maya.
Maya menghela nafasnya, dia tak membantah ucapan Gavlin, dalam hatinya dia mengatakan, "Kalau yang namanya ajal, sejago apapun orang nyetir mobil, ya mati juga."
Gavlin terdiam, Maya juga terdiam, mereka sama sama terdiam duduk di kursi taman diatas trotoar jalanan.
Orang orang berlalu lalang lewat di hadapan mereka berdua, Gavlin dan Maya tetap diam di kursi taman.
Pandangan mereka sama sama jauh kedepan, tercenung, mengenang Linda.
Terlintas dalam ingatan Maya, bagaimana keceriaan Linda saat bertemu dengannya.
Bagaimana wajah Linda yang energik itu bersinar cerah saat cerita kalau dia berpacaran dengan Gavlin.
Maya mengenang semua kebaikan dan keceriaan Linda, sahabat baiknya itu.
__ADS_1
Gavlin dalam diamnya juga mengenang kembali Linda, dia mengingat bagaimana Linda yang selalu bersikap manja dengannya.
Bagaimana wajah Linda yang saat sedang ngambek dan kesal padanya.
Gavlin juga mengenang kebersamaan mereka saat bersama sama didalam mobil dan pergi ke Villa Linda, menghabiskan waktu di Villa.
Gavlin dan Linda sama sama mengenang Linda, mengingat semua tentang Linda.
Saat ini, yang terlintas dalam lamunan Maya dan Gavlin hanya Linda, semua tentang dia.
Mike menerima telepon di dalam ruang kerjanya, wajahnya terlihat senang, dia puas dengan hasil yang dia terima.
"Bagus, kamu udah menjalankan tugasmu dengan rapi dan bersih, tunggu aku di tempat biasa, aku akan datang sore nanti membawa sisa uang upahmu." Ujar Mike.
Dia tertawa puas, lantas menutup teleponnya.
Mike mengantongi ponselnya di dalam kantong celana, dia menghempaskan tubuhnya di kursi kerja, tersenyum puas.
"Selamat tinggal Linda...Itu balasan dariku karena kamu sudah berani menghinaku." Ujarnya menyeringai licik, tatapan matanya tajam kedepan.
"Gavlin...tinggal kamu...tunggu saja, waktunya akan segera tiba buatmu Vlin." Ujar Mike geram.
"Kamu pasti mati, aku akan mengantarkanmu ke neraka, bertemu dengan Linda di neraka." Ujar Mike menyeringai.
Dia lalu tertawa senang, wajahnya terlihat sangat bahagia, dia puas sekali karena berhasil membunuh Linda.
Linda, wanita yang sudah melecehkan, merendahkan, dan menolak lamarannya.
Mike tertawa lepas, dia terlihat bahagia, tertawa sendiri didalam ruang kerjanya.
Teguh terlihat berlari lari keluar dari dalam gedung kantor kepolisian.
Dia lari mengejar Gatot yang tengah berjalan menuju halaman parkir. Ditangannya Teguh membawa selembar berkas sebuah kasus baru.
Saat Gatot mau membuka pintu mobilnya, Teguh yang berlari lari mendekatinya.
"Tunggu Pak, ada yang mau saya sampaikan." Ujar Teguh terengah engah karena habis lari.
Gatot tak jadi membuka pintu depan mobilnya, dia menatap Teguh yang sedang mengatur nafasnya yang terengah engah.
Gatot lantas berdiri didepan Teguh yang terengah engah, menunggu Teguh tenang kembali.
Teguh memberikan kertas berkas kasus baru yang dia bawa pada Teguh, Gatot mengambil kertas berkas dari tangan Teguh.
"Kasus apa ini?" Tanya Gatot heran.
"Korban kecelakaan yang terjadi di jalan Kartini Pa." Ujar Teguh menatap wajah Gatot yang heran.
Gatot tak paham maksud Teguh memberikan berkas kasus kecelakaan padanya.
"Kenapa kamu kasih ke saya? Ini kan bagian polantas, bukan kita, divisi pembunuhan dan kriminal." Ujar Gatot semakin heran.
"Awalnya begitu Pak, kecelakaan yang menyebabkan kematian seorang wanita ditetapkan murni sebagai kecelakaan." Ujar Teguh.
"Terus?" Tanya Gatot.
"Tapi, ternyata, pihak Polantas menemukan kejanggalan saat melihat rekaman cctv yang ada di sekitar jalanan tempat terjadinya kecelakaan." Ujar Teguh.
"Maksudnya?" Tanya Gatot.
"Ada satu cctv yang aktif merekam saat kejadian." Ujar Teguh.
"Terus?" Tanya Gatot menatap wajah Teguh.
"Dari cctv terekam saat kejadian, mobil truck yang datang tiba tiba dengan kecepatan tinggi langsung menabrak mobil korban hingga hancur." Ujar Teguh.
"Terus?" Tanya Gatot.
"Sebelumnya mobil Truck terekam kamera cctv sedang menunggu di jalanan, jauh jarak waktunya sebelum datang mobil korban." Ujar Teguh menjelaskan detil .
"Dan yang membuat tim Polantas menetapkan itu bukan kasus biasa kecelakaan dijalan raya, karena mereka menemukan bukti." Ujar Teguh.
"Bukti apa ?" Tanya Gatot ingin tahu.
"Bukti pembunuhan !" Ujar Teguh.
Gatot terhenyak kaget, dia menatap lekat wajah Teguh.
"Kamu yang jelas kalo cerita ke saya, biar saya paham, jangan bertele tele." Ujar Gatot kesal pada Teguh.
"Dari rekaman cctv terlihat seorang pria keluar dari mobil truck mendekati mobil dan korban." Ujar Teguh.
"Ohya?" Ujar Gatot.
"Iya, wajahnya terlihat jelas dari cctv, tersenyum puas memandangi korban yang sudah tak berdaya didalam mobil yang terbalik." Ujar Teguh.
"Kamu sudah lihat langsung rekaman cctv nya?" Tanya Gatot pada Teguh.
"Sudah Pak, saat pihak Polantas melaporkan pada saya, bahwa kecelakaan itu kasus pembunuhan." Ujar Teguh.
"Saya juga sudah minta bukti atas pernyataan mereka, terus mereka tunjukkan rekaman cctv sebagai bukti, saya melihat semuanya." Ujar Teguh.
Terlihat wajah Gatot yang diam sedang berfikir keras memikirkan penjelasan Teguh .
"Jadi ada unsur kesengajaan dalam kecelakaan itu? Pelaku sengaja merencanakannya, menyamarkan pembunuhan dengan kecelakaan?" Ujar Gatot.
"Iya Pak." Jawab Teguh.
"Tapi menurut Saya, pelakunya gak cukup pintar, karena ceroboh, gak tau kalo jalanan itu ada cctv." Ujar Gatot.
Dia mengambil kesimpulan dari kejadian kecelakaan, Teguh mengangguk, setuju dengan perkataan Gatot .
"Siapa nama korban yang meninggal dalam kecelakaan itu?" Tanya Gatot.
Gatot menatap lekat wajah Teguh. Teguh menarik nafasnya, dia menatap wajah Gatot.
"Korban kecelakaan yang meninggal itu bernama Linda, Anak dari Pengusaha Properti dan Konstruksi, Pak Wijaya." Ujar Teguh.
Begitu mendengar nama yang disebut Teguh, Gatot terperanjat kaget.
"Linda ?! Wijaya ?!" Ujar Gatot dengan wajah kaget.
"Iya Pak." Jawab Teguh.
Gatot seketika terdiam, berdiri dan berfikir, dia mereka reka, apakah kematian Linda ada hubungannya dengan masalah yang terjadi antara Wijaya dan Bramantio ?
Gatot berfikir keras, satu kasus belum bisa dia pecahkan, sudah datang lagi kasus baru yang harus segera dia pecahkan.
Gatot terlihat bersemangat, dia merasa kasus kasus yang sedang dia selidiki cukup menantang.
Memacu adrenalinnya sebagai Polisi yang gesit, tanggap, tangkas, kuat dan cerdas, terkenal di seluruh jajaran kepolisian.
__ADS_1